
"apa yang dilakukan mas Roland di sini?' Aku bertanya di dalam hati, ketika melihat mas Roland berada diruang dokter. Aku penasaran ingin mengetahuinya, segera aku mendekat seraya bersembunyi di balik pintu untuk mencari tahu.
Aku melihat mas Roland sedang berkonsultasi dengan dokter yang ada di hadapannya. Dia terlihat serius sekali, aku semakin penasaran ingin mengetahui apa yang dia lakukan di sini.
'apa mas Roland sakit?' Aku bertanya di dalam hati, sedikit heran melihatnya. Aku perhatikan mas Roland terlihat baik-baik saja, dia seakan sehat-sehat saja.
Aku kembali menatap seraya memperhatikan mas Roland, ada yang beda dengan penampilannya. Mas Roland berpakaian rapi, tidak seperti tukang ojek pada umumnya. Dia memakai jas dan celana dasar khas orang yang bekerja di kantoran. Penampilannya sekarang jauh berbeda, dia sekarang lebih berkharisma.
'Siapa mas Roland sebenarnya, melihat penampilannya sekarang aku tidak yakin dia seorang tukang ojek. Kalau benar dia bukan tukang ojek, kenapa mas Ringgo berpura-pura menjadi tukang ojek di hadapanku?" Aku bertanya dalam hati, penasaran luar biasa terhadap mas Roland
Aku terus memandang dan mengamati mas Roland, semakin lama di perhatikan aku semakin melihat keanehan dalam diri mas Roland. Ketika melihat mas Roland akan keluar ruangan, aku segera berlari menjauhi pintu dan berusaha bersembunyi jangan sampai mas roland mengetahui kalau aku sedang memperhatikannya.
Setelah sampai di pintu salah satu ruangan, aku melihat mas Roland segera masuk keruangan itu. Aku bergegas menuju ruangan yang dituju mas roland, sesampai di pintu aku kemudian aku menatap ke dalam ruangan melalui pintu yang tidak terkunci sempurna.
Aku melihat mas Roland sedang berbicara dengan seorang wanita separuh baya, wanita itu masih terlihat cantik walaupun usianya kelihatan tidak muda lagi. Mas Roland terlihat berbicara dengan penuh kehangatan dengan senyuman memenuhi wajahnya.
Melihat kehangatan yang terjalin antara mas roland dengan wanita itu, bisa aku simpulkan kalau wanita itu adalah ibunya. Aku melihat mas Roland berbicara dengan sopan kepada ibunya, seketika muncul rasa iri di dalam hatiku.
'mas Roland beruntung masih memiliki orang tua sedangkan aku jangankan orangtuaku sanak saudara juga tak punya.' aku berkata dalam hati, sejenak aku merasa sangat sedih. aku sekarang hidup sebatang kara, keluargaku sudah meninggalkanku sedangkan suamiku selingkuh diambil orang.
Aku iri kepada mas Roland karena dia mempunyai ibu yang kelihatan sangat menyayanginya, sedangkan aku tidak mempunyai satupun orang yang dia anggap keluarga.Ayahku meninggalkan sejak aku baru berumur satu tahun, begitulah ibuku mengatakan. Sedangkan, ibuku pergi meninggalkanku untuk selamanya ketika aku berumur delapan belas tahun enam bulan setelah pernikahan mas Ringgo.
__ADS_1
Karena penasaran, aku memutuskan untuk masuk keruangan tempat mas Roland berada. Aku pura-pura melihat ke kiri dan ke kanan, seakan sedang mencari seseorang.
"cari siapa mbak?" seorang perawat bertanya kepadaku, seketika aku terkejut mendengar pertanyaannya karena dia datang tiba-tiba.
"say-saya mencari teman saya yang sedang dirawat , namanya ratu mustika, apakah dia dirawat di ruangan ini suster." Aku menjawab pertanyaan perawat tersebut dengan sedikit gugup.
"tidak ada pasien bernama Ratu Mustika yang dirawat di ruangan ini mbak. Memangnya dia dirawat karena penyakit apa ya, mbak?"
perawat itu bertanya lagi, dia menanyakan kenapa sampai Ratu dirawat di rumah sakit ini.
"dia di rawat disini karena kemaren dia luka-luka akibat berkelahi di rumah makan Padang kemaren mbak? Aku berkata seraya menjelaskan kepada perawat itu, seketika dia tersenyum mendengarkan jawabanku.
"oh, dia dirawat di ruangan empat belas A mbak, tidak jauh dari sini." perawat itu menjelaskan.
"mas Roland kok ada di sini, lagi nungguin siapa?" aku pura-pura terkejut seraya bertanya, terlihat mas Roland memandang ke arahku dengan senyuman terkembang di bibirnya.
"saya sedang nungguin ibu saya dik, beliau sedang di rawat karena diabetes." mas roland berkata, memberi tahu kalau wanita yang lagi bersamanya adalah ibunya dan sedang mengidap penyakit diabetes.
"sudah berapa lama, beliau mengidap diabetes mas?" Aku bertanya seraya memandang wajah wanita yang sekarang tertidur di hadapan kami. Aku merasa ada ikatan batin diantara kami, seakan kami sudah mengenal lama walau kenyataannya aku baru pertama ini bertemu beliau. Aku merasa aneh dengan apa yang aku rasakan saat ini.
"ibu menderita diabetes sejak lima tahun yang lalu dek, tapi sekarang makin parah saya mera risau melihat keadaan beliau." mas Roland berkata dengan raut muka sedih, terlihat dia sangat mencemaskan ibunya.
__ADS_1
Sekarang, ibunya mas Roland terlihat sedang tidur pulas. Aku berbicara dengan mas Roland dengan suara yang pelan. supaya tidak mengganggu tidur beliau
Ibu mas Roland ternyata mengidap penyakit diabetes, beliau terlihat kurus karena penyakit yang sedang diderita. Aku melihat pemandangan itu menjadi sedih seketika, aku juga tidak tahu penyebabnya apa.
"mas roland, gak ngojek hari ini? Aku bertanya seraya menatap kearahnya, dia hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala. Aku perhatikan penampilannya sekarang, aku tidak yakin kalau dia tukang ojek.
Aku merasa menyembunyikan pekerjaan dia yang sebenarnya kepadaku, aku sangat yakin akan hal itu. Melihat pakaiannya yang rapi begini, aku curiga dia bukanlah tukang ojek beneran. kenapa mas Roland melakukan hal itu aku pun tak tahu apa sebabnya.
"tidak dek, hari ini keadaan ibu menurun. saya tidak tega meninggalkan beliau sendiri di rumah sakit." mas roland berkata seraya memandang ke arah ibunya.
Entah mengapa, hatiku terasa berat meninggalkan ibunya mas Roland. Aku merasa ingin menjaga beliau, tapi tak mungkin mengingat aku bukanlah siapa-siapa bagi mereka.
Setelah lama berbicara, aku kemudian pamit undur diri kepada mas Roland. Aku merasa ingin segera pulang ke rumah. Aku merasa tujuanku datang kesini sudah terlaksana, sekarang aku hanya menunggu kabar dari mas Aldo, semoga mas Aldo berhasil memaksa Ratu.
'sebaiknya, aku segera pulang ke rumah tubuhku terasa lelah sekali.' aku berkata sendiri dalam hati, ingin istirahat sejenak.
Sesampai di parkiran, Aku teringat lupa memberikan nomor ponselku kepada mas Aldo. Aku kepikiran kalau nomor ponselku tidak ada, bagaimana mas Aldo mengabari aku andai Ratu telah mencabut kembali laporannya.
Mengingat hal itu, aku segera bergegas kembali keruangan di mana Ratu dirawat. Aku ingin memberikan nomor ponselku kepada mas Aldo.
Setiba aku di kamar tempat Ratu di rawat, aku sangat terkejut melihat mas Aldo sedang menampar wajah Ratu dengan kerasnya. Aku melihat wajah Ratu karena bekas tamparan mas Aldo
__ADS_1
.