
"dek, kamu di rumah saja bersama mama sementara mas ke kantor. Mas ada meeting hari ini, kita ke tempat Pak Roman sore saja nanti." mas Roland berkata setelah menghabiskan sarapannya.
"baik mas, kita kira-kira jam berapa ke sana mas? Aku akan siap-siap sebelum kamu datang menjemputku."
"mas akan menjemput kamu jam empat nanti sore, kamu harus sudah siap kalau mas pulang nanti. Kita akan langsung berangkat kesana begitu mas menjemput kamu dik?"
"baiklah mas."
"kalau begitu, mas berangkat dulu ya dik. Mas titip mama ya."
Aku menaggukkan kepala, mas Roland berlalu mendekati mama. Aku melihat mas Roland menyalami mama dengan santun dan penuh hormat.
Aku bisa melihat mas Roland begitu sayang pada mama, dia benar-benar terlihat sebagai figur yang sempurna sebagai seorang kakak dan seorang anak.
Setelah berpamitan pada mama, mas Roland segera berangkat ke kantor. Aku kemudian bangkit hendak membersihkan meja makan.
"Rianti biarkan saja bibi nanti yang membersihkan, kita ke ruang keluarga yuk."
"iya ma,"
Aku dan mama kemudian beranjak ke ruang keluarga, kami berbincang apa saja. Mama terlihat begitu bahagia, aku bisa melihat binar bahagia terpancar dari mata beliau.
Tidak bisa dipungkiri, aku sungguh merasa bahagia. Aku merasa ada kehangatan yang mengalir dalam lubuk terdalam di hatiku.
Mama juga terlihat bahagia sekali, itu terlihat jelas dari ekspresi wajah beliau yang terlihat sering tersenyum bahkan sampai tertawa.
Kebahagian yang selama ini hilang kembali menaungi hatiku, semoga kebahagian itu tidak akan pergi lagi. Aku ingin merasakan kebahagiaan ini selamanya.
Aku sudah kehilangan ibuku untuk selamanya, beliau sudah berpulang kepada pemilik yang sesungguhnya. Sekarang, aku tidak mau kehilangan mama juga. Aku ingin meretas kebersamaan bersama beliau.
"Rianti kita keluar yuk, mama sudah lama tidak keluar rumah."
"kemana ma?" Aku bertanya dengan sedikit bingung.
"kita pergi ke taman dekat rumah yuk."
__ADS_1
"apa tidak apa-apa ma? Rianti tidak berani membawa mama ke sana. Rianti takut ada apa-apa dengan mama nanti, lagi pula kita tidak minta izin kepada mas Roland."
Mama diam sejenak, terlihat sedang memikirkan kata-kataku. Kemudian, beliau mengangguk seperti mengerti apa yang sedang aku fikirkan saat ini.
"bagaimana kalau kita telpon dan minta izin pada mas Roland dulu, tapi nanti mama yang ngomong ya."
"iya baiklah, sekarang teleponlah Roland. biar mama yang minta izin sama dia."
Aku segera mencari nomor kontak mas Roland, setelah menemukan aku langsung menekan tanda panggil. Setelah tersambung aku memberikan ponsel kepada mama, biarlah mama yang minta izin kepada mas Roland.
Ternyata, mama pintar juga merayu mas Roland terbukti, mas Roland mengizin kami pergi ke taman. Aku dan mama berangkat menuju taman, ternyata tidak jauh dari rumah.
Sepuluh menit perjalanan yang cukup santai, kami akhirnya sampai di taman. Aku melihat banyak juga pengunjung taman itu, ternyata ramai juga.
Aku mengajak mama duduk dikursi, aku mencari kursi yang berada di pojok. Aku melihat wajah mama bersinar bahagia. Dalam hati aku berdoaa, semoga beliau akan terus bahagia seperti sekarang.
Aku dan mama terus meretas kebersamaan, hingga tidak terasa sudah hampir sore. Aku melihat mama sudah terlihat letih, akhirnya aku putuskan membawa mama pulang.
"ma kita pulang yuk."
Aku berdiri dan membimbing mama meninggalkan taman. Tidak berapa lama, kami sudah sampai dirumah.
Aku membawa mama ke kamar supaya beliau bisa istirahat. Mama harus banyak istirahat, supaya lekas sembuh.
Setelah mama terlihat tertidur pulas, aku segera ke kamar tamu tempat aku meletakkan semua baju dan barang-barangku. Aku harus segera bersiap-siap karena sebentar lagi mas Roland akan menjemputku.
Sedang bersiap-siap, aku mendengar suara mobil datang masuk ke pekarangan rumah. Aku bisa memastikan itu suara mobil mas Roland, karena sudah begitu hapal suara mobil itu di telingaku.
Aku harus segera menyelesaikan dandanan dan riasan wajahku karena tidak ingin mas Roland menunggu terlalu lama. Aku memakai baju dan riasan terbaikku, tidak peduli mau pergi kemana.
Aku harus terbiasa tampil sempurna, sudah waktunya bagiku memanjakan diriku sendiri. Aku ingin orang lain memandangku dengan perasaan kagum bukannya karena kasihan.
Tok! Tok! Tok!
Aku mendengar ketokan pintu dari luar, pasti itu mas Roland. Aku memandang kembali riasan dan dandanku yang sekarang tampak mengagumkan. Aku merasa sangat cantik berbeda sekali dengan aku yang dahulu.
__ADS_1
Aku sekarang kembali ke penampakan wajahku yang seharusnya. Dulu wajahku terlihat kusam dan jauh lebih tua dari umurku yang sebenarnya karena tidak ada waktu dan uang untuk merawatnya, padahal aku memiliki suami.
Aku menyangka suamiku hanyalah karyawan rendahan dengan gaji kecil hingga mengharuskan aku untuk pandai-pandai berhemat dan mengatur keuangan yang sangat sedikit jumlahnya. Tapi, aku sangat kecewa dan terluka mengetahui kebusukannya setelah penghianatnya padaku terbongkar.
Tapi itu sekarang sudah berlalu, aku sekarang sudah tidak memikirkan semua itu lagi karena apa yang aku dapatkan sekarang jauh lebih besar dan berharga dari apa yang telah hilang.
Tok! Tok! Tok!
"apa kamu di dalam dik?"
"ya mas, aku akan segera keluar tunggu sebentar lagi." Aku menjawab pertanyaan mas Roland dengan suara yang sedikit keras.
"mas tunggu di ruang keluarga ya, jangan terlalu lama dandann yakamu sudah cantik kok." terdengar suara mas Roland entah dengan maksud memuji atau meledekku.
"kamu sudah cantik Rianti, sekarang saatnya untuk pergi." Aku berkata kepada pantulan diriku yang ada di dalam cermin dengan mengacungkan jempol.
"ayok mas, aku sudah siap." Aku berkata setelah berada di samping mas Roland yang sedang duduk di kursi sofa.
Mas Roland kemudian berdiri dan mendaratkan pandangannya ke arahku. Sesaat, aku melihat mas Roland terdiam dan terpaku melihat penampilanku.
Aku pikir mas Roland akan memuji penampilanku, tapi siapa sangka dia malah tersenyum. Aku heran sekali melihatnya.
"masnl kenapa kamu senyum tidak jelas begitu? Apa ada yang aneh dengan penampilanku?"
"penampilanmu benar-benar aneh dik, kamu mau pergi ke pesta apa mau menyelsaikan transaksi jual beli tanah?"
"maksud mas apa?"
"penampilan kamu itu sangat cantik sekali Rianti, tidak seperti orang mau membeli tanah. Apa kamu mau menggoda pak Roman? ingat dik, pak Roman itu masih punya istri, lagi pula kamu itu terlalu muda untuk beliau." Mas Roland bukannya memuji tapi malah meledekku.
"bagaimana lagi mas, aku memang sudah terlahir dengan wajah cantik." aku balas ledekannya dengan sedikit membanggakan diriku.
" oh ya dik. mama dimana?"
"mama tidur di kamar mas, mungkin beliau lelah habis dari taman tadi." Aku bercerita pada mas Roland, terlihat senyum di bibir mas Roland kembali terkembang.
__ADS_1
Aku melihat ada yang sedikit berbeda dari sikap mas Roland, dia terlihat begitu bahagia karena aku melihat dia selalu tersenyum. Apakah sebnarnya yang membuat mas Roland begitu bahagia....