
"dek tolong bantu mas mencari kedua kartu itu dek?" mas Ringgo berkata seraya meminta tolong kepadaku, agar membantunya mencari kartu kredit dan kartu ATM miliknya.
"sejak kapan kamu mempunyai kartu kredit mas, aku merasa tidak pernah tahu?" Aku bertanya kepada mas Ringgo, sebaiknya aku pura-pura tidak tahu.
Aku merasa ada bagusnya mas Ringgo menjaga privasinya dariku selama ini, sekarang aku bisa memanfaatkan semua itu. Aku akan pura-pura tidak mengetahui jika mas Ringgo mempunyai kartu kredit dan kartu ATM ganda.
Aku akan menggunakan semua privasinya, untuk menghindar dari segala kecurigaan dan tuduhan mas Ringgo. Mas Ringgo tidak akan bisa membuktikan aku bersalah, karena semua bukti yang mengarah kepadaku telah aku musnahkan.
"mas aku tidak bisa menemukannya, karena selama ini aku tidak pernah melihat kedua kartu itu. Seperti apakah bentuk dan rupa kedua kartu itu aku juga tidak tahu? aku berkata berlagak benar-benar tidak mengetahui sama sekali.
"Kartunya seperti ini dek?" mas Ringgo berkata seraya memperlihat kartu kredit Dan kartu ATMnya yang masih ada.
"oh seperti ini ya mas, aku merasa tidak melihatnya sejak tadi. Apa mungkin ketinggalan di tempat lain, kamu seharian kemana saja mas? Aku bertanya sengaja mengacaukan pikirannya.
Sebenarnya, aku mengetahui kemana dia pergi tadi. Aku melihatnya pergi ke Bank bersama Ratu untuk mengambil uang, untuk membeli tas mahal impiannya.
Sejenak, aku melihat mas Ringgo berhenti mencari dia duduk seakan mencoba untuk mengingat. Aku melihat sekilas mas Ringgo mengacak rambutnya, dia kelihatan frustasi. Aku menyaksikan dia begitu gelisah, aku sangat menikmati kesusahannya.
'mas Ringgo, kamu begitu pandai menutupi kebusukan dan kebohongan dariku. Tapi, Aku lebih lihai darimu pembalasan lebih menyakitkan mas.' aku bergumam sambil menatap mas Ringgo yang kelihatannya sangat frustasi.
Aku kemudian memeriksa sofa, pura-pura mencari kedua benda itu, tapi tetap tidak menemukannya. Aku akhirnya duduk di samping mas ringgo, aku pura-pura lelah memperlihatkan ekspresi menyerah.
Tidak beberapa lama, aku mendengar ponsel mas Ringgo berbunyi. Mas Ringgo segera mengambil ponsel itu dari dalam saku dan membukanya. Dia kelihatan terkejut membaca isi pesan masuk yang di terimanya.
__ADS_1
"ada apa mas?" Aku bertanya seraya memandang dengan memperlihatkan wajah tegang kepadanya, aku hanya berpura-pura saja.
"tidak ada apa-apa dek, klien mas meminta cepat kembali." mas Ringgo berkata dengan sangat pelan, terlihat jelas kalau sekarang dia sedang frustasi. aku tahu dia berbohong kepadaku, tapi aku tidak peduli lagi sekarang kepadanya.
Aku merasa tidak perlu memikirkan mas Ringgo sekarang, itu hanya akan membuang-buang waktuku saja. Lebih baik sekarang, aku memikirkan masa depanku.
"sebaiknya, kamu segera menemuinya sekarang, mas. Aku khawatir dia akan tersinggung dan marah sama kamu jika kamu terlambat menemuinya." Aku berkata dengan nada serius, sebaiknya dia cepat menyingkir dari hadapanku.
Aku semakin muak melihatnya, dia sekarang makin pintar membohongiku. Aku sekarang makin yakin dengan keputusanku untuk secepatnya membuangnya dari hidupku.
"dek, mas boleh pinjam uangmu tidak?" mas Ringgo bertanya, tak pelak aku aku terkejut mendengarkannya. Aku tidak percaya mas Ringgo berani menanyakan perihal uang, padahal dia memberi uang sangat sedikit kepadaku.
"apa mas, apa aku tidak salah dengar?" kamu mau meminjam uang kepadaku, memangnya kamu memberiku uang belanja setiap bulannya berapa? Aku bertanya dengan nada kesal kepadanya, beraninya dia berkata begitu. Mas Ringgo benar-benar tidak tahu malu.
Aku tidak akan mau meminjamkan uang kepada mas Ringgo, biar saja dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia memberi uang belanja sangat sedikit kepadaku selama ini.
"tapi, aku benar-benar tidak punya uang untuk dipinjamkan kepadamu mas. Kamu juga pasti mengetahui sekarang akhir bulan, uang belanja yang kamu berikan sekarang sudah habis semua." Aku berkata kepada mas Ringgo, aku melihat wajah mas Ringgo lesu dan kecewa.
"bagaimana ini dek, mas belum membayar makanan yang mas makan di restoran tadi. mas tidak memilik uang untuk membayarnya." mas Ringgo berkata dengan nada memelas seraya menatap ke arahku
"aku juga tidak tahu mas," Aku menjawab kata mas Ringgo, tidak ingin membantunya. Biar saja, dia meminta bantuan kepada pacar gelapnya si ratu ular berbisa itu.
Aku merasa terluka saat mengetahui mas Ringgo memberi wanita ular sebanyak sepuluh juta, itu uang yang sangat banyak bagiku. selam menikah dengan mas Ringgo, dia tidak pernah memberiku uang belanja sebanyak itu kepadaku.
__ADS_1
Aku mendapat uang belanja hanya sebesar satu juta lima ratus setiap bulannya. Aku menerima uang yang di berikan mas Ringgo dengan penuh rasa syukur karena aku mengira memang segitu kemampuannya.
Tapi sekarang apa yang terjadi, dia memberikan uang kepada Ratu sebesar sepuluh juta hanya untuk membeli tas mahal. Aku merasa semua perlakuan mas Ringgo terlalu menyakiti perasaanku. Dia telah benar-benar merusak kepercayaan yang aku berikan kepadanya.
"mas pergi dulu ya dek, kalau kamu menemukan kartu itu segera hubungi mas ya," mas Ringgo berkata, dia hendak pergi menemui orang yang tadi mengirim pesan kepadanya.
"ya mas," Aku menjawab singkat seraya memandang ke arahnya. Aku tersenyum melihat dan memandangi kepergiannya.
'kamu tidak akan menemukan kartu-kartu itu mas, karena aku telah membakarnya.' aku bergumam sendiri seraya tersenyum puas, pembalasanku berhasil sempurna.
Aku berhasil menguras seluruh uang mas Ringgo yang berada di dalam ATMnya. Sekarang, dia juga harus membayar hutang yang tidak sedikit karena aku belanja berbagai kebutuhan pribadiku dengan menggunakan kartu kreditnya.
'kamu pantas mendapatkan semua kesulitan ini mas karena telah memperlakukanku begitu buruk,' aku berkata dalam hati. Dia telah membuat masalah untuk dirinya sendiri
Setelah kepergiannya, aku segera mengunci pintu dan kembali ke kamar. Aku ingin kembali melanjutkan tidurku yang terganggu karena kepulangan mas Ringgo tadi.
Sebelum memejamkan mata, aku membuka ponsel ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.Aku ingin tahu siap yang telah mengirim pesan kepada mas Ringgo tadi.
Aku mengecek percakapan mas Ringgo di aplikasi Facebooknya yang berhasil aku sadap beberapa hari yang lalu. Ternyata, mas Ringgo baru saja mendapatkan pesan dari si wanita ular itu. Dia menunggu mas Ringgo untuk menemuinya di restoran di dekat kantor mereka .
Aku tersenyum melihat pesan dari wanita kadal itu, ternyata dia menunggu karena mas Ringgo belum membayar makan yang mereka pesan.
"pantas saja mas Ringgo panik, sekarang dia tidak bisa membayar semua tagihannya," Aku berkata sendiri seraya tertawa puas, aku bahagia menyaksikan penderitaan mereka.
__ADS_1
Setelah mengetahui percakapan mereka, aku kembali menutup ponselku. Aku kemudian memejamkan mata, bahagia sekali rasanya bisa membuat mereka menderita.