SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 93: Aku Ingin Setanggu Dan Sehebat Ibuku


__ADS_3

"dik, kamu ngapain. Kenapa masih belum tidur juga?" mas Roland mengejutkanku, dia tiba-tiba saja sudah berada di sampingku.


Aku menoleh dan menatapnya seraya tanganku terus mengumpul semua yang berserakan di lantai. Dia terlihat tersenyum lebar, kemudian berjalan santai ke arah sofa.


Aku memasukkan semua uang dan berkas ke dalam tas, setelah semuanya beres aku kemudian bangkit dan mengikuti mas Roland. Aku kemudian duduk dekat mas Roland yang terlebih dahulu duduk di sana.


"dek, kamu membawa semua uangmu?


"iya mas, aku berpikir sebaiknya aku bawa semua barang berharga yang aku miliki ke sini. Aku merasa tidak aman menyimpannya di rumahku."


" Sebenarnya, mas mau mengatakan itu kepadamu sejak kemaren tapi mas takut kamu akan salah paham."


"begini mas, aku akan menitipkan uang ini padamu sampai transaksi jual beli tanah itu berhasil kita lakukan. Kamu yang nanti akan memberikan uang ini kepada pak Roman, sebagai pembayarannya." Aku menyodorkan semua uang pada mas Roland.


"baiklah kalau begitu." Mas Roland menerima tanpa menyentuhnya, uang di biarkan terletak begitu saja di atas meja.


"apa tidak akan dihitung dulu mas."


" tidak perlu dik, mas kan sudah tahu kok uang itu sudah pasti kurang, untuk apa dihitung lagi."


"he he iya juga ya mas." Aku tertawa sedikit sumbang mendengar penuturan mas Roland.


"Apa uang kamu masih ada dik?" mas Roland bertanya seketika aku teringat uang yang ku miliki tinggal sedikit. Tapi, aku merasa uang itu masih cukup untuk satu sampai dua bulan kedepan.


"ada mas, aku masih punya kira-kira lima juta lagi."


"kalau begitu, kamu simpan kartu kredit mas ini." mas Roland memberikan sebuah kartu kredit kepadaku.


Sesaat aku memandang kartu kredit tersebut, rasanya sungkan sekali menerimanya. Aku menggelengkan kepala hendak menolaknya.


"tidak usah mas,"


"terima saja dik, kamu harus belajar menggunakan kartu bank seperti ini. Dengan menggunakan kartu ini, kamu tidak usah membawa uang cash ke mana-mana."


"tapi mas, aku merasa tidak begitu membutuhkannya."


"mas ingin kamu belajar dari sekarang dik, mas juga mau kamu menikmati semua fasilitas yang ada. Pokoknya mulai saat ini, mas akan berusaha memberikan apa yang seharusnya kamu dapatkan.

__ADS_1


"tapi mas, aku sedikit takut bagaimana kalau seandainya nanti terbukti aku bukanlah adik kandung mas. Aku takut suatu saat muncul orang yang mengaku dia adik kandung kamu, apa kamu akan membuang aku dari kehidupan kalian?" aku menatap mas Roland dengan wajah sendu, tak terbayangkan olehku andai kekhawatiran aku menjadi kenyataan.


" mas sudah mengatakan padamu dik, mas sangat yakin kalau kamu adalah Rianti, adikku yang pernah hilang. Sekarang, kamu hilangkan semua keraguan yang ada di dalam hatimu.


Aku hanya mampu mengangguk pelan, tanpa menatap wajah mas Roland. Aku tidak mau dia melihat semua kegalauan yang aku simpan di mataku.


"oh ya dik, kamu membawa serta semua berkas-berkas penting kamu ya."


"iya mas, aku merasa khawatir kalau aku tinggalkan di rumah sementara aku menginap di sini. Aku tidak ingin mengambil resiko, aku putuskan membawa semuanya ke sini supaya aman.


"kalau tidak salah, ibumu namanya Rahayu ya dik?"


"iya mas, kenapa memangnya?"


"bukan apa-apa dik, Ibu Rahayu itu merupakan rekan bisnis di perusahaan yamg kakak kelola sekarang. Walaupun beliau seorang wanita tapi beliau adalah pebisnis handal dan ambisius. Setiap proyek yang beliau tangani jarang yang mengalami kegagalan."


" Apakah segitu hebatnya ibuku mas?" Aku bertanya seraya menatap bangga pada mas Roland, ternyata mas Roland mengagumi ibuku.


"iya dek, beliau memang hebat dan jujur dalam berbisnis sehingga beliau di hargai di dunia bisnis."


Mulai saat ini, aku berjanji akan belajr menjadi seperti ibuku. Wanita tangguh yang di segani dan mampu membuktikan kemampuan di dalam dirinya.


"apa mas boleh melihat berkas-berkas yang kamu bawa."


"tentu saja mas." Aku memudian menngambil dan menyodorkan semua berkas yang aku bawa pada mas Roland.


" ini sertifikat rumah siapa dik?"


"ini sertifikat rumah yang aku tempati sekarang, rumah itu adalah rumah peninggalan ibuku."


" jadi bukan rumah milik mantan duami kamu dik?"


"bukan mas."


"ooooh." Mas Roland bergumam seraya tersenyum simpul, dia kemudian meletakkan kembali di atas meja.


Setelah melihat berkas yang lainnya, mas Roland kembali memberikan kepadaku. Aku kembali memasukkan semuanya ke dalam tas.

__ADS_1


"Mas akan membantu kamu Dik, secepatnya kita akan mengurus dan mencari tahu status perusahaan yang ibumu miliki. Mas merasa tisak akan terlalu sulit mengirusnya karena kamu memiliki surat- suratnya."


"iya mas, aku sangat membutuhkan bantuan kamu mas karena dunia bisnis tergolong baru bagiku. Aku masih harus banyak belajar supaya aku mampu menjalankan perusahaan itu nantinya."


"mas pasti akan membantu kamu dik, Sekarang sebaiknya kamu tidur karena kita besok akan menyelesaikan transaksi jual beli tanah itu dengan pak Roman"


"baiklah kalau begitu mas, aku akan tidur dulu."


Aku segera kembali ke kamar mama dntidur di sana. Sebelum tidur, aku mengamati wajah mama yang tertidur pulas. Wajah mama yang begitu mirip denganku, membuat rasa risau yang menaungi hatiku, sedikit terpinggirkan. Aku memiliki keyakinan kalau beliau memang ibu kandungku.


"Azan subuh berkumandang di mesjid membuat aku tersentak dari tidur nyenyakku rupanya subuh sudah mjelang. Aku bangun dan segera kamar mandi dan mengambil wudhu, aku segera menunaikan kewajibanku."


Setelah selesai Shalat subuh, aku tidak lupa memanjatkan doa kepadanya. Ak bersyukur atas apada yang telah di anugrahkan kepadaku.


Sewaktu melipat mukena dan sadajah, aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke kamar mama. Tidak berapa lama pintu kamar mama terbuka, ternyata mas Roland yaang datang.


"kamu sudah bangun dik?"


"sudah mas. aku baru saja selesai sholat subuh."


"apa sudah bangun?"


"belum mas, beliau masih tidur."


"siapa bilang masih tidur? mama sudah bangun kok." tiba-tiba mama sudah berdiri di belakangku, beliau berdiri dengan dengan senyum terkembang di bibirnya.


"mama sudah sholat?"


"belum, mama sholat dulu ya. kalian tunggu mama di luar."


Aku dan mas Roland saling pandang, kami melihat perubahan sangat besar diperlihatkan mama pagi ini. Beliau terlihat jauh lebih sehat dan ceria, seperti orang yang tidak pernah sakit parah sebelumnya.


Aku dan mas Roland menunggu mama di kamar, tidak ingin sesuatu terjadi pada beliau.


"kenapa kalian masih disini?" mama berkata ketika melihat kami masih berada di kamar.


Mama benar-benar terlihat berbeda, kata-kata beliau terdengar tegas. Aku tidak pernah melihat beliau sesegar itu selama ini.

__ADS_1


__ADS_2