
"kenapa kalian masih disini? bukankah, aku sudah mengusir kalian."
"dek, aku tidak mau pergi dari sini. Mas mohon maaf karena telah membuat kamu terluka, mas sangat menyesal." mas Ringgo memohon maaf padaku, entah berapa kali dia memohon kepadaku. Tapi aku sudah tidak peduli kepadanya.
"jangan banyak bicara lagi mas, aku sudah bosan mendengarnya. Aku telah mengusir kalian dari tadi, sebaiknya kamu pergi membawa wanita tidak punya otak ini dari hadapanku."
"dek,....
"kalau masih punya harga diri, sebaiknya kamu pergi dari sini mas. Apapun yang akan kamu katakan, aku tetap ingin berpisah darimu." Aku tidak mau mendengar apapun darinya, dia harus segera pergi dari rumahku.
Aku sudah tidak tahan lagi, dia tetap saja tidak mau pergi. Karena perutku sudah lapar sekali, mungkin harus bersikap lebih kasar lagi pada mereka. Aku pergi ke kamar, kemudian mengeluarkan semua baju mas Ringgo dari dalam lemari dan segera melemparkan kepadanya.
"ini bajumu mas, silahkan angkat kaki dari sini. mulai sekarang, kamu tidak boleh kembali ke rumah ini."
"Hei Ratu ular sialan, kamu sangat menginginkan mas Ringgo bukan. Sekarang, kamu boleh memiliki mas Ringgo seutuhnya, aku memberikan dia kepadamu. Silahkan, kamu bawa dia dari sini."
Seketika mas Ringgo menatap ke arahku, saat aku mengatakan akan memberikannya kepada Ratu. Dia mungkin tidak menyangka, aku sanggup berkata begitu kasar kepadanya.
Mas Ringgo memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, dia terlihat terluka aku perlakukan begitu. Dia mengemasi bajunya dengan pelan, seraya memandang ke arahku. Dia terlihat sedikit meringis, mungkin luka bekas pukulan mas Aldo masih terasa sakit.
Mas Ringgo terlihat sedih, air matanya tampak berlinang. Aku melihat ada penyesalan di matanya, tapi aku tidak mungkin memaafkan dia. Biar saja, dia merasakan betapa sakitnya di sia-siakan.
Ratu mencoba membantu mas Ringgo bangkit, tapi mas Ringgo malah menepis tangannya. Sepertinya, mas Ringgo merasa kesal kepada Ratu.
"mas, kita mau kemana sekarang? Sekarang, aku tidak punya uang untuk menyewa kontrakan" Ratu bertanya, kelihatan dia bingung hendak kemana.
"menyesal aku mengenalmu, kamu cuma bisa menyusahkan saja. Kenapa kamu langsung kemari? Seharusnya kamu menghubungiku terlebih dahulu, sebelum ke sini." Aku mendengar mas Ringgo memarahi Ratu, mereka sekarang terlihat sudah keluar dari pintu rumahku.
__ADS_1
Aneh sekali, sekarang mereka malah bertengkar di hadapanku. Aku tidak mengerti pada mas Ringgo, entah apa yang ingin dia perlihatkan kepadaku. Tapi, aku serasa menikmati pertengkaran dia antara mereka.
"benarkah ini keputusan final kamu dek?" mas Ringgo bertanya, suaranya terdengar serak. Dia menoleh ke arahku, sebelum benar-benar keluar dari pintu. ini
"iya mas, aku sudah yakin dengan keputusanku. Aku sudah tidak membutuhkan laki-laki tidak berguna sepertimu, aku jijik melihat kelakuanmu."
"apakah aku begitu buruk di matamu, dek? mas Ringgo makin terlihat sedih, suaranya serak. Aku melihat ada bulir air mata menetes di pipinya. Karena saking seringnya dibohongi, aku tidak bisa membedakan dia bener-benar sedih atau cuma bersandiwara di depanku.
"kamu pasti bisa menjawab sendiri sendiri, aku tidak perlu menjawab pertanyaan kamu. Kamu silahkan pergi dari sini, jangan lupa Ratu ular ini kamu bawa juga bersamamu."
Mas Ringgo kemudian pergi, dia kelihatan enggan melangkahkan kakinya. Dia berjalan dengan sedikit lamban, mungkin tubuhnya masih terasa sakit karena kemaren mas Aldo menghajar menghajarnya.
Aku termenung mengingat semua yang barusan terjadi, akhirnya mas Ringgo mendapatkan balasan atas perbuatannya. Dia yang selalu membohongi dan menyakiti hatiku sekarang mendapatkan karma atas perbuatannya kepadaku. Sekarang, dia merasakan betapa sakitnya di bohongi oleh wanita simpanannya.
'sekarang, kamu baru merasakan sebagian kecil balasan dariku mas. bersiaplah mas, karma yang lebih besar sudah menantimu." Aku bergumam dalam hati.
Aku tidak sabar menunggu ketika mas Ringgo mengetahui uang yang disimpannya di bank
'sekarang kamu rasakan akibat dari perbuatan kamu, mas.' Aku berkata dalam hati, mas Ringgo Ringgo sekarang harus lebih menderita dariku.
Aku segera keluar hendak mencari makan, perutku terasa lapar sekali. Setelah keluar pagar, aku melihat Mas Ringgo masih berada tidak jauh dari rumahku. Akhirnya, aku memesan makanan secara online saja.
Aku khawatir mas Ringgo akan kembali ke rumah, takutnya dia berbuat nekad nantinya. Aku harus memastikan rumahku aman, karena semua rahasiaku tersimpan di sana.
Tidak beberapa lama makananku sampai, aku segera menerimanya. Aku benar-benar lapar sekali, hari ini aku mau perbaikan gizi. sudah beberapa hari ini, aku tidak makan menurut yang semestinya karena terganggu oleh masalahku dengan mas ringgo
"dek." Aku terkejut mendengar suara yang sangat yang baru saja menyapaku, ternyata mas Ringgo dan Si Ratu ular yang kembali.
__ADS_1
"kenapa kamu kembali mas, bukankah aku sudahi mengusir kalian?"
"mas sangat lapar, bisakah kamu membagi sedikit makananmu dengan mas dek?" mas Ringgo berkata dengan wajah memelas, dia terlihat lapar sekali. Aku tahu dia pasti lapar, karena sejak pagi dia belum makan
"tidak bisa mas, aku juga masih sangat lapar. Kalau kamu lapar, kenapa tidak minta pada dia? bukankah kamu selama ini telah memberikan uang lebih banyak padanya dibandingkan kepadaku."
Aku meneruskan makan, tidak peduli dengan kehadiran mas Ringgo. Aku makan dengan lahap, tanpa menawari mereka. aku menghidangkan semua makan di atas meja, makanan itu terlihat begitu menggugah selera
Karena makanan yang dibeli sangat banyak porsinya, aku tidak bisa menghabiskan semuanya. Mas Ringgo dan Ratu hanya berdiri memperhatikanku makan, aku merasa senang melihat mereka begitu.
"dek bolehkah minta sisa makananmu, mas benar-benar lapar sekali."
"apa aku tidak salah dengar mas? Belum apa-apa, kamu sudah mau makan makanan sisa. Seharusnya, kamu memesan makanan sendiri."
"kartu ATM mas Dan kartu kredit mas hilang, bukankah kamu tahu juga dek?"
"Maksudku, kamu minta pesan makanan sama Ratu, minta dia membayarnya. Bukankah dia juga bekerja di tempat kamu bekerja mas, kalau cuma untuk membeli makanan dia pasti punya uang."
"aku tidak mempunyai uang mas, uangku habis untuk perawatan ke salon." Ratu berkata, ternyata dia juga tidak memiliki uang. Aku menatap mereka berdua, mereka terlihat begitu menyedihkan.
Aku senang menyaksikan situasi ini, mereka sekarang benar-benar kelaparan dan tidak berdaya. Akhirnya, aku kembali bisa membalaskan sakit hatiku kepada mereka.
"baiklah, aku akan membagi sedikit makanan dengan kalian." Aku berkata dengan menyunggingkan senyum kepada mereka, seketika muncul ide di kepalaku
Aku memberikan nasi tanpa lauk kepada mereka, nasinya hanya aku beri kuah dan sambal saja. Aku memberikan mereka makan seperti memberi makan kucing. Aku bersorak dalam hati, bahagia bisa memberi pelajaran kepada mereka.
Mas Ringgo hanya melongo melihatku menyerahkan makanan kepadanya.
__ADS_1
"dek lauknya kok tidak ada?"
"kamu mau makan enak, ya silahkan beli sendiri mas." Aku berkata, sekarang kemenangan menjadi milikku.