
"dek, kamu... !"seru tertahan mas Ringgo memandang terpana memandang ke arahku. Aku tersenyum penuh keyakinan bisa memenangkan permainan ini.
Mas Ringgo mungkin merasa pintar menyimpan kebohongannya dariku, tapi aku akan tunjukkan kepadanya bahwa aku lebih lihai darinya. Dia tidak akan menyadari kalau aku sedang mencari tahu kebenaran yang sekarang ditutupi dariku.
"kenapa dengan aku, mas? tanyaku nakal, mulai menikmati perubahan ekspresi di wajah mas Ringgo. Tidak tahu mengapa, aku sekarang merasa tidak segan lagi bertingkah begitu di depannya. Biasanya, aku selalu menjaga tingkah laku tidak mau dianggap wanita binal.
"aku seperti tidak percaya dengan apa yang sekarang aku lihat, kamu beda " kata mas Ringgo dengan tatapan tak beralih dari tubuh indah yang sedang aku pamerkan saat ini. Aku akan memperlihatkan kepada mas Ringgo kalau aku tak kalah cantik dan seksi dari wanita penggoda diluar sana.
"aku tidak mengerti, maksud kamu apa ya mas?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"iya dek, Rianti yang dulu penampilannya biasa saja tapi yang ini sangat menggiurkan" katanya dengan senyum menggoda. Aku tersenyum memandang penuh ***** kearahnya, birahi yang aku buat begitu tampak sempurna.
Mas Ringgo harus merasa kalau aku benar-benar menginginkan semua ini. Dia harus masuk dalam jebakan yang aku buat, rencana yang aku buat harus berjalan sesuai dengan yang aku inginkan.
"aku masih Rianti yang dulu kok, tapi bedanya sekarang sedikit nakal mas" kataku sambil mendekati mas Ringgo yang terbaring dengan tatapan mata terus tertuju ke tubuhku.
"Abang tak menyangka, kamu seksi sekali kalau lagi memakai pakaian ini" katanya memuji dengan nafas tertahan, ketika jarak di antara kami sudah hampir tidak ada.
'ini belum seberapa mas. Andai saja kamu mau memberikan aku sedikit perhatian dan uang untuk aku perawatan, mungkin aku lebih menarik dari sekarang' aku membatin dalam hati yang terasa sesak di penuhi rasa sakit hati.
__ADS_1
Aku merasa sangat diabaikan oleh mas Ringgo selama ini. Aku sangat berharap mas Ringgo dapat memberikan nafkah baik lahir maupun batin. Tapi,mas Ringgo tak bisa memenuhi semua harapanku. Jangankan nafkah lahir, mas Ringgo seakan tak peduli akan kebutuhan batinku. Selain uang, aku juga membutuhkan perhatian darinya.
"makanya mas, mulai sekarang kamu harus memodali aku supaya bisa tampil cantik dan seksi di depanmu." kataku mantap, aku puas sekali bisa mengatakan hal. Selama ini aku tak bisa mengatakannya karena merasa tidak mampu untuk mengutarakannya.Tapi hari ini, aku mempunyai keberanian untuk mengatakan semua itu.
Mas Ringgo terlihat mengernyitkan keningnya mendengarkan apa yang aku katakan. Dia kelihatan seperti tidak percaya aku mampu mengatakan hal itu kepadanya. Aku bisa melihat ekspresi heran di wajahnya. Tapi aku tak peduli, aku harus teruskan semua kegilaan ini. Sekali melangkah, aku tidak bisa mundur lagi.
Melihat ekspresinya seperti itu, aku segera mencari kata-kata yang tepat untuk bisa mempengaruhinya. Aku tidak akan memberikan waktu mas Ringgo berfikir, aku harus bisa mengendalikannya kali ini. Aku akan memenangkan permainan ini, akan aku buat dia menuruti permintaanku.
"mulai sekarang, aku akan selalu memuaskan mata dan hasrat kamu mas" aku berbisik lembut ditelinga mas, kemudian mengecup mesra daun telinganya. Aku menghembuskan nafas penuh birahi, mengajaknya masuk ke alam khayal yang indah.
"i-iya dek, mas akan memberikan uang itu pas gajian bulan depan ya sayang" katanya lirih dengan nafas memburu penuh kemesraan, mulai terbawa dalam permainan birahi yang aku suguhkan untuknya.
Walaupun tak Sejago wanita lainnya, aku berusaha memberikan layanan terbaik untuk mas Ringgo. aku melayaninya dengan permainan yang sungguh liar. Aku akan memuaskan syahwatnya dengan permainan yang selama ini tidak pernah aku lakukan.
Terus terang ini sangat melelahkan, walau aku juga menikmatinya. Aku harus memuaskan mas Ringgo sampai dia puas dan merasakan lelah yang mencapai puncaknya, karena ini adalah bagian dari rencana ku. Aku harus melakukannya senatural mungkin, agar nanti hasilnya juga sempurna.
"dek, kamu jadi hebat begini sayang" kata mas Ringgo di sela-sela birahinya. Aku merasa senang mendengarnya, akhirnya mas Ringgo mengakui kebolehan yang aku miliki.
'inikan yang kamu cari mas, kau tega mengkhianati ku dengan selingkuh dengan wanita lain. Aku memberikan madu kepadamu tapi kamu malah memberi racun kepadaku' aku berucap dalam hati, mengenang yang dilakukannya kepadaku.
__ADS_1
Selama ini, aku selalu menjaga kemurnian cintaku untuk mas Ringgo. Aku tak menyangka cinta suci yang aku semai tega di khianati oleh mas Ringgo. Mas Ringgo telah menaburkan benih kebencian di hatiku, hingga membuat aku nekad melakukan semua ini.
"ini belum seberapa mas, kalau kamu mau aku bisa melakukan lebih dari ini." kataku seraya berbisik manja. Aku terus memainkan ***** birahi mas Ringgo, hingga dia tidak mampu mengendalikan syahwatnya lagi.
Aku benar-benar berusaha keras membuat mas Ringgo puas. Tak terasa telah dua jam kami bergulat. Aku mengeluarkan segala kemampuan yang aku miliki. Segala yang ada di benakku aku terapkan, tidak peduli dengan rasa lelah mulai mendera.
"mas lagi yuk" Aku mengajak mas Ringgo bermain lagi. Aku tak peduli dengan rasa letih yang aku rasakan saat ini, di kepalaku saat ini yang ada hanyalah tekad yang kuat untuk menjalankan rencana yang telah aku susun.
Aku melihat dan merasakan bulir-bulir keringat memenuhi tubuh mas Ringgo. Aku terus memancing ***** mas Ringgo, tapi kali ini dia mulai tidak meresponnya. Dia terlihat memandang sayu ke arahku.
"mas tidak kuat lagi dek, capek sekali rasanya." katanya lirih tersirat jelas kalau dia sangat lelah kehabisan tenaga. Mendengar hal itu, aku merasa sangat puas sekali. Aku yakin rencana ku akan berhasil.
"tapi aku masih mau mas," kataku merayunya dengan tatapan manja. Aku terus menggodanya, tanganku terus meraba-raba tubuhnya. Tapi sekarang, mas Ringgo benar-benar sudah tidak berdaya. Mas Ringgo tidak memberikan perlawanan lagi, dia hanya diam tidak berdaya.
Sebenarnya aku juga merasa lelah, tapi aku harus terlihat masih bersemangat. Aku harus bertahan demi rencana ku agar berjalan mulus. Mendengar mas Ringgo berkata demikian, aku merasa puas. Aku terus melayangkan pandangan ke arah mas Ringgo, senyum manis tak lupa aku berikan untuknya.
"maaf dek, mas sudah tak sanggup mas sangat lelah. Mas haus tolong ambilkan air minum." pinta mas Ringgo kepadaku.
Akhirnya saat yang aku tunggu tiba, aku siap menjalankan semua yang telah aku rencanakan....
__ADS_1