
"kamu sudah selesai makan mas, apa kamu sudah kenyang? Aku bertanya pada mas Ringgo, Aku yakin dia belum kenyang karena makanan yang kuberikan tidak sebanyak makannya yang biasa.
"aku belum kenyang, bisa tambah dikit ngak, dek?"
"tidak ada tambahannya mas, kamu cukup makan segitu.
"tapi itu sedikit sekali, mas masih merasa lapar dek."
"asal kamu tahu mas, aku sering kurang makan seperti ini selama hidup bersamamu. Aku sering makan satu kali dalam sehari, kalau pas bulan tua seperti ini, tapi aku tidak pernah mengeluh sama sekali kepadamu." Aku menjelaskan kepadanya, sejenak hatiku sedih saat mengenang saat-saat itu.
"kenapa kamu baru katakan sekarang dek?"
"dulu aku memang naif mas, selalu memikirkan perasaanmu. Aku menyesal telah menjadi istri yang baik buatmu. seharusnya, aku lebih mementingkan diriku sendiri ketimbang memikirkan perasaanmu."
"dek, tolong maaf....
"mas, tahukah kamu apa yang paling menyakitkan dari semua ini? Aku mati-matian berhemat bahkan sering makan satu kali sehari sedangkan kamu asik foya-foya dengan perempuan rakus ini." Aku berkata, semua kebencian aku tumpahkan dalam kata-kataku.
"Aku ikhlas menerima semua, karena aku menganggap memang itulah kemampuanmu. Terus terang sekarang aku sangat membencimu, ketika aku mengetahui kamu memberikan Ratu ular ini uang sepuluh juta hanya untuk membeli tas mahal." aku berkata, dia harus tahu betapa menderitanya aku saat bersamanya.
"maaf dek, aku memang bersalah padamu. Mas janji akan memperbaiki semua kesalahan yang telah terjadi, andai kamu mau membatalkan gugatan cerai kamu.
"sudah terlambat mas, aku sudah memutuskan untuk berpisah darimu. Kamu mungkin menganggap aku kejam, karena membiarkan kamu kelaparan, sedangkan aku masih memiliki makanan. Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu, betapa pedihnya di perlakukan begini. Betapa sakit hatiku saat mengetahuinya, mas. Aku yang menjadi istrimu tapi kamu malah menafkahi orang lain.
Mas Ringgo hanya diam mendengar kata-kataku, mungkin dia mulai menyadari kesalahannya. Aku melihat Ratu yang berada di rumahku sekarang, membuat hatiku semakin pilu. Tidak disangka, orang yang telah merusak rumah tanggaku sekarang makan di rumahku.
"kalau sudah selesai makan, sebaiknya kamu dan calon istrimu segera pergi dari rumahku. Aku tidak ingin melihat kalian, lebih lama lagi di sini."
"bolehkah, mas tinggal disini sampai hari Senin dek. Mas sudah tidak punya uang untuk mencari kontrakan."
__ADS_1
"tidak bisa mas, aku tidak mau melihat kamu di sini lagi. Cukup aku bersabar, aku sudah muak melihat kalian berdua. Kalian segera pergi dari sini, aku lelah ingin istirahat. Aku berharap kamu tidak kembali lagi, kalau perlu pergi sejauh mungkin dariku mas.
"tapi sekarang mas benar-benar tidak memiliki uang dek,"
"itu bukan urusanku, salah sendiri cari masalah denganku. Buat bayar kontrakan, kamu gadaikan saja si ratu ular, mana tahu laku." Aku menjawab dengan sedikit menyindir Ratu, dia melotot memandang ke arahku.
Aku tidak peduli apapun alasan mas Ringgo, sekarang dia harus pergi membawa wanita sialan itu dari rumahku. Aku sangat membenci mas Ringgo tapi kebencian ku pada Ratu lebih besar.
Aku sangat membenci Ratu karena dialah yang menyebabkan rumah tanggaku dengan mas Ringgo hancur. Aku tidak tahu, Ratu mempunyai dendam apa padaku hingga dia selalu merebut kebahagiaanku.
Setelah mereka pergi, aku segera mengunci pintu. Kemudian, aku menuju kamar untuk segera istirahat. Aku sudah merasa sangat lelah, masalah ini seakan sangat berat menghimpit dadaku.
Aku merebahkan tubuhku di ranjang, aku mencoba melupakan segala yang terjadi. Aku merasa tidak mudah melupakan, pikiranku terus mengingat segala yang telah terjadi.
Setelah lama berkelana di dalam pikiran, akhirnya aku terlelap Juga. Aku terjaga dari tidurku jam tiga sore, tenaga terasa sedikit segar.
'kenapa hatiku merasa sepi sekali saat ini? Apa yang terjadi padaku?' Aku bertanya seraya mengedarkan pandangan ke semua penjuru rumah, terasa sepi sekali.
'kenapa semua terasa menyakitkan? Setelah bercerai dari mas Ringgo, aku akan hidup sebatang kara. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Aku berkata sendiri di dalam hati, bingung dengan kesendirian yang segera menjadi menjadi milikku.
Aku kemudian beranjak ke dapur, ingin rasanya membuat teh. Setelah selesai, aku duduk dimeja makan menikmati teh buatan ku. selagi minum teh, aku kembali termenung memikirkan semua yang terjadi. Aku terus memikirkan apa yang akan aku lakukan nanti, setelah resmi menyandang status janda.
Aku semakin bingung memikirkan semua itu, perasaanku menjadi gelisah.
'dari pada suntuk di rumah, sebaiknya aku jalan-jalan keluar rumah.' aku bergumam di dalam hati, aku berharap pikiran dan perasaanku akan lebih tenang nanti.
Aku segera menghabiskan tehku, kemudian bergegas mandi dan merias diri. Setelah merasa cukup rapi, aku kemudian segera meninggalkan rumahku. Aku tidak tahu harus mengarahkan kemana langkahku, aku hanya berjalan santai tanpa tujuan.
Setelah kira-kira tiga puluh menit berjalan, aku kemudian berhenti sejenak memperhatikan keadaan di sekitarku. Aku mengedarkan pandangan sekeliling, di ujung jalan aku melihat ada sebuah salon kecantikan.
__ADS_1
"sejak kecil sampai sekarang, aku belum pernah merasakan perawatan di salon. Aku ingin mencoba perawatan di sana, mana tahu setelah perawatan tubuhku dan pikiranku bisa lebih segar." Aku berkata sendiri, setelah berpikir sejenak akhirnya aku memutuskan untuk perawatan di salon kecantikan itu.
"selamat sore mbak, ada yang bisa kami bantu." seorang pekerja salon mendekati ketika melihatku masuk.
"begini mbak saya ingin perawatan lengkap disini kira-kira butuh waktu lama?"
"tidak akan lama, sebenarnya mbak itu sangat cantik. wajah mbak itu cantik natural, belum pernah perawatan ya mbak?"
"iya mbak, saya ingin melakukan perawatan kali ini. Saya merasa wajah kusam, akhir-akhir ini saya banyak pikiran.
"baiklah kalau begitu, saya akan melayani mbak dengan layanan terbaik. Setelah perawatan nanti, saya yakin mbak akan terlihat jauh lebih cantik dari sekarang. Saya pastikan mbak pasti puas melihat hasil perawatan kami nantinya."
Pegawai salon kecantikan itu memulai perawatan padaku, dia begitu cekatan dan sangat ramah, aku sangat menyukai kepribadiannya. Selama perawatan, dia banyak bercerita kepadaku ternyata dia juga korban perselingkuhan sama sepertiku.
Aku merasa kagum kepadanya, dia begitu kuat dan tegar menjalani hidup yang penuh cobaan. Dia harus menghidupi dua anaknya yang masih kecil, tanpa dibantu oleh siapapun bahkan mantan suaminya tidak memberikan nafkah sedikitpun untuk anak-anaknya.
Aku sadar sekarang, aku tidak sendirian di dunia ini. Aku bukanlah satu-satu wanita korban perselingkuhan, tidak ada alasan bagiku untuk menangisi perceraian ku. aku harus tegar dan kuat seperti pegawai salon ini.
Setelah satu jam, akhirnya aku selesai melakukan perawatan. Aku merasa tubuhku menjadi ringan dan pikiranku sedikit lebih tenang.
"mbak perawatannya sudah selesai, sekarang coba lihat penampilan mbak di cermin." pegawai salon berkata,dia memberi tahu bahwa perawatan telah selesai.
Aku segera melihat penampilanku di cermin, aku tidak percaya dengan perubahan yang terjadi.
"benarkah, ini aku mbak? aku bertanya, tidak percaya melihat pantulan wajahku di cermin.
"bagaimana, mbak puas dengan hasilnya."
"saya sangat puas Mbak, hasilnya melebihi ekspektasi ku"
__ADS_1
-