SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 33: Kamu Sudah Tidak Ada Gunanya Lagi Bagiku


__ADS_3

"mas Ringgo nasib baikmu sudah berakhir, aku akan memulai babak baru kehidupanku. Mulai sekarang, aku tidak akan memberikan kesempatan kepadamu untuk menyakiti." Aku berkata dalam hati dengan tatapan penuh dendam.


Aku merasa sudah saatnya pengkhianatan mas ringgo aku akhiri, dia harus menerima balasan dari setiap perbuatannya. Aku tidak akan membiarkan mereka terus mempermainkan hidupku, mereka harus merasakan betapa perih dan sakitnya dilukai oleh orang yang sangat dicintai.


Aku segera meninggalkan toko mas, sebaiknya aku cepat kembali ke rumah. Aku harus mencari tempat yang aman, untuk menyembunyikan uang dan emas yang baru aku beli. Aku harus menyembunyikan semuanya dari mas ringgo, jangan sampai dia mencurigai dan menyelidiku.


Aku bergegas mencari keberadaan mas Roland ternyata dia parkir tidak jauh dari sana. Dia terlihat tengah asyik memainkan ponselnya,aku segera berteriak memanggilnya. Tapi, mas Roland tidak mendengar aku memanggilnya terpaksa aku berjalan mendekatinya.


"mas Roland" Aku berkata seraya menepuk punggungnya, dia terlihat terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba.


"apakah urusannya sudah selesai dik? mas Roland berkata seraya memandang tajam ke arahku kemudian bangkit dari duduknya.


"sudah, mas tolong antarkan aku pulang." Aku berkata pada mas Roland , ingin rasanya segera tiba di rumah. Aku harus sampai di rumah sebelum mas ringgo bangun.


"baiklah dik." mas Roland menjawab singkat, dia kemudian memberikan helm kepadaku. Aku segera memakai helm dan bergegas naik motornya. Mas Roland segera menghidupkan dan mengendarai motornya, aku berpegangan pada motor mas ringgo supaya tidak jatuh.


"dik pegangan yang kuat ya. di depan jalannya banyak yang rusak." mas Roland berkata memperingatkan, aku semakin menguatkan peganganku pada motornya.


Tiba-tiba, mas Roland menghentikan motornya secara mendadak. Aku sangat terkejut dan tanpa sadar memeluk pinggang mas Roland. Aku merasa tubuhku gemetaran karena kaget.


"kenapa berhenti mas? Aku bertanya kepada mas ringgo, tubuhku masih gemetaran tanpa sadar aku semakin memeluk erat tubuh mas Roland.


"maaf dik, tadi ada kucing lewat mas hampir saja menabraknya." kata mas Roland menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


"oh begitu, mas sebaiknya kita pelan saja. Aku takut kita nanti mengalami kecelakaan, kalau laju motonya terlalu kencang." aku berkata kepada mas roland memberi nasehat kepadanya.


"baiklah." katanya singkat.


Selama diperjalanan,aku lebih banyak diam dari pada berbicara. Aku takut mengganggu konsentrasi mas Roland, yang tengah mengendarai motornya. Aku tidak mau kecelakaan nanti menimpa kami berdua.


"kita sudah sampai dik." Mas Roland berkata setelah sampai di depan rumahku. Aku tidak menyadari kalau kami sudah sampai, karena aku melamun selama di perjalanan.


"I-ya mas." Aku tergagap sadar dari lamunan, kemudian aku segera turun dari motor mas Roland.


Setelah turun dari motor, aku segera membuka helm dan memberikan helm tersebut kepada mas roland. Aku melihat mas roland memandang dan tersenyum aneh kepadaku.


"besok-besok, dik Rianti harus berpegangan lebih erat dari pada tadi." mas Roland berkata seraya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. Dia begitu tengil, membuatku merasa malu dan salah tingkah di depannya.


"bukan buaya buntung dik , tapi mas beruntung dapat pelukan di bayar pula" Mas Roland berkata seraya tertawa kecil, aku melambaikan tangan tanpa menoleh kepadanya.


Sesampai di depan pintu, aku segera membuka pintu dan gegas masuk ke dalam rumah. Aku berjalan dengan sedikit perlahan, berusaha mengamati suasana di dalam rumah. Aku merasa lega ternyata mas Ringgo masih tertidup pulas. Dia masih dalam pengaruh obat tidur yang diminum, bersamaan dengan teh yang aku suguhkan tadi.


Aku memandang mas Ringgo yang tertidur lelap di sofa dengan pandangan penuh kebencian. Aku merasa perasaan benci telah membakar habis rasa cinta yang selama ini tumbuh di hatiku. Sekarang, aku merasa tidak ada gunanya dia bagiku.


Mas Ringgo telah merenggut surgaku, yang aku bangun dengan penuh pengorbanan. Dia telah menghancurkan kepercayaan yang aku berikan kepadanya, hingga membuat rumah tanggaku diambang kehancuran.


"aku akan membuat kamu menyesal telah memperlakukanku sedemikian buruk, mas. Mulai hari ini, aku akan membuat perhitungan dengan kalian berdua. Aku bersumpah tidak akan berhenti, sebelum kalian benar-benar hancur" Aku berkata sendiri seraya mengepalkan tangan, seketika keinginan untuk balas dendam menyala di hatiku.

__ADS_1


Aku segera berlalu menuju kamar belakang, akan aku menyembunyikan uang dan emas ini di sana untuk sementara. Aku akan memasukkan uang tersebut ke tabunganku setelah seminggu berlalu, setelah keadaan benar-benar aman.


Aku membungkus uang yang kubawa, dengan menggunakan baju daster paling jelek penuh robekan. Aku kemudian memasukkan bungkusan itu kedalam kardus, bersamaan dengan beberapa baju bekas yang sudah tidak mungkin bisa dipakai lagi.


Setelah selesai, aku kemudian menumpuk kardus itu dengan beberapa kardus berisi barang bekas lainnya. Aku merasa di sini tempat yang paling aman, karena selain tempatnya gelap juga berdebu.


'aku telah mendapatkan uang mas ringgo, sekarang mas ringgo sudah tidak memiliki apapun. Dia sekarang sudah tidak ada gunanya lagi bagiku' aku berkata di dalam hati seraya keluar kamar dan mengunci pintu.


Aku segera menuju ke kamar untuk mengambil beberapa butir obat tidur yang masih tersisa. Aku harus segera memusnahkan dan menghapus jejak yang akan menyusahkanku nanti. Mas Ringgo tidak akan bisa menuduhku, andai nanti dia mengetahui uangnya telah raib.


Aku membawa beberapa baju daster bekas, yang tidak bisa aku pakai lagi ke halaman belakang. Setiba disana, aku segera menyalakan api untuk membakar daster-daster bekas tersebut.


Setelah api menyala membakar baju bekas tersebut, aku segera melemparkan obat tidur beserta kartu kredit dan Kartu ATM mas ringgo kedalam kobaran api. Aku melihat semua barang tadi telah hangus menjadi abu.


Aku menyaksikan sendiri semua benda itu, habis terbakar menjadi abu. Setelah memastikan semua benar-benar telah terbakar, aku sekarang merasa lega akhirnya semua bukti yang akan menyusahkanku nanti telah lenyap.


"mas ringgo, kamu telah kehilangan semuanya. Kamu sudah tidak memiliki apa-apa, aku sudah tidak membutuhkan kamu lagi." Aku berkata sendiri seraya masuk kembali ke dalam rumah.


Aku melihat mas ringgo masih tertidur karena masih dalam pengaruh obat tidur yang aku berikan. Aku melirik jam yang tergantung di dinding ternyata jam telah menunjukkan pukul tiga sore.


"Mas bangun." aku menggoyangkan tubuh mas ringgo bermaksud hendak membangunkannya. Setelah beberapa lama, mas Ringgo akhirnya bisa aku bangunkan.


Mas ringgo terlihat kebingungan, dia kelihatan heran. Aku kemudian beranjak bangkit meninggalkannya, sekarang aku benar-benar sudah tidak peduli kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2