SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 37: Aku Akan Membuka Usaha Sendiri


__ADS_3

"aku mungkin akan lama pergi, jangan tunggu aku pulang. Mas kalau mau pergi jangan lupa kunci pintu." aku berkata setelah sampai di pintu. Aku melihat mas Ringgo menatap seakan akan mengatakan sesuatu, tapi aku segera berlalu.


Aku tahu dia pasti akan melarang atau mungkin akan mengeluhkan sesuatu. Tapi, aku segera pergi seraya tersenyum puas. Aku tidak memberikan kesempatan baginya untuk mengutarakan perkataannya, aku juga tidak mau tahu apa yang akan dia katakan.


Setelah agak jauh dari rumah, aku tertawa lepas mengenang kejadian pagi ini mas Ringgo jelas sekali kelihatan bingung. Entah apa yang dia pikirkan, aku semakin bersemangat untuk balas dendam kepadanya. Aku merasa semua ini begitu menyenangkan.


'mas rasakan pembalasan kecil dariku, rasa pahit yang kamu rasakan belum seberapa dibanding rasa pahit yang kamu berikan kepadaku selama ini.' Aku berkata dengan menyunggingkan senyuman sinis di bibirku, aku puas sekali rasanya.


Kalau mengingat perlakuannya kepadaku, aku ingin rasanya segera menggugat cerai dia. Mas ringgo telah terlalu dalam melukai perasaanku, dia harus aku buang dari hidupku. Tapi setelah berpikir lebih jauh lagi, aku merasa itu bukan lah tindakan yang tepat karena akan terlalu mudah baginya.


Aku berpikir kalau aku menggugat cerai dia sekarang, aku akan kehilangan kesempatan untuk balas dendam kepadanya. Aku akan kesulitan membalaskan dendam setelah bercerai, sebaiknya aku bertahan sedikit lagi.


'aku membuat kamu menderita secara perlahan-lahan, mas. Aku rasa itu akan terasa lebih menyenangkan' aku bergumam dalam hati.


Aku berjalan menyusuri jalanan di komplek perumahanku, aku bingung harus memulai dari mana. "Aku akan mencari pekerjaan dimana?


Setelah berpikir sejenak, aku akhirnya memutuskan pergi ke pasar mungkin aku bisa mencari pekerjaan di sana . Setiba di pasar, aku langsung masuk keluar toko mencoba melamar pekerjaan ternyata sulit mencari pekerjaan yang cocok dengan kondisiku yang sekarang.


Pemilik toko kebanyakan mencari karyawan yang belum menikah, sedangkan statusku sekarang telah menikah. Mereka menolak karena beranggapan menerima karyawan yang telah menikah akan banyak gangguan nantinya.


Setelah puas berkeliling, aku belum juga mendapatkan pekerjaan yang cocok. Aku mulai lelah dan juga lapar, ternyata memang susah mendapatkan pekerjaan di jaman sekarang.


'sebaiknya aku istirahat dulu sebentar di warung makan itu' aku berkata didalam hati ketika melihat sebuah warung makan yang berada tidak jauh dariku. Aku kemudian menuju warung makan itu dan memesan seporsi makanan.

__ADS_1


Seraya menyantap makananku, aku terus memutar otak dan berpikir apa yang bisa aku lakukan untuk memulai usahaku. Aku terus memandang sekeliling berharap suatu ide muncul di kepalaku.


Aku memandang sekeliling, seketika pandangan mataku tertuju pada toko elektronik yang berada di seberang jalan tidak jauh dari warung tempatku makam. Aku melihat jejeran mesin cuci terpajang di sana, tiba- tiba sebuah ide muncul di kepalaku.


'kalau aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan, kenapa aku tidak membuka usaha sendiri,' aku berkata dalam hati, seketika terpikirkan olehku untuk membuka usaha laundry kiloan.


Aku merasa usaha itu sangat cocok untukku saat ini, karena aku akan membuka usaha itu di rumah. Andaikan usahaku tidak berkembang sebagaimana mestinya, aku bisa memakai mesin cuci itu untuk mencuci pakaianku sendiri..


Setelah berpikir-pikir sejenak, aku merasa tidak ada ruginya aku membeli mesin cuci tersebut. Akhirnya, aku mutuskan untuk membelinya. Setelah selesai makan, aku bergegas menuju ke toko elektronik itu.


"selamat datang mbak, ada yang bisa saya bantu?" seorang karyawan menyapa dan menghampiri, setelah melihat kedatanganku.


"begini mas, saya mau membeli mesin cuci untuk usaha laundry kiloan, kira-kira merek apakah yang bagus ya mas?" aku bertanya kepada karyawan itu.


"berapa harganya mas?" aku kembali bertanya, aku merasa sangat menyukai mesin cuci yang di tawarkan oleh karyawan tersebut


"harganya empat juta lima ratus mbak." karyawan itu berkata seraya menyebutkan harga mesin cuci tersebut.


"mas mahal benar harganya, bisa kurang tidak?" aku mencoba menawar harganya, diapun tersenyum kepadaku.


"mbak itu sudah harga pas, tidak bisa dikurangi lagi?" karyawan itu berkata dengan nada serius, aku tidak bisa berkata-kata tidak mungkin rasanya menawar lagi.


"ya sudah mas, saya akan mengambil mesin cuci ini dan tolong antar ke rumah secepatnya." aku berkata kepada karyawan tadi.

__ADS_1


"baiklah mbak, kami akan langsung mengantarkan sekarang." Karyawan itu berkata seraya bergegas menuju meja kasir untuk membuat nota pembelian.


Aku segera menyelesaikan pembayaran setelah karyawan itu menyerahkan nota pembelian kepadaku. Dia terlihat senang sekali karena transaksi yang kami lakukan berhasil dilakukan.


"terima kasih ya, mbak." karyawan itu berkata setelah menerima uang dariku.


"sama-sama mas, saya akan langsung pulang saya tunggu anda di rumah" aku berkata seraya berlalu meninggalkan karyawan itu.


Aku segera pulang ke rumah, sebaiknya aku sudah ada di rumah sebelum mesin cuci itu sampai. Aku ingin mengetahui tanggapan mas Ringgo, ketika mengetahui aku membeli mesin cuci itu. Mas Ringgo pasti akan terkejut dan bertanya bagaimana aku bisa mendapatkan mesin cuci itu.


Aku membayangkan semuanya sembari tersenyum, akhirnya aku kembali menemukan cara untuk balas perbuatan mas Ringgo kepadaku. Aku akan mengatakan kalau aku membeli mesin cuci itu secara kredit, dengan begitu aku bisa meminta uang kepadanya untuk membayar cicilan mesin cuci tersebut.


Aku sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti. Andaikan mas Ringgo marah dan akhirnya dia menceraikan aku karena membeli mesin cuci itu, aku tidak keberatan karena memang itulah yang aku harapkan. Tapi jika dia diam saja, berarti aku masih mempunyai waktu bermain-main dengannya


'ternyata, mesin cuci yang aku beli belum sampai di rumah' Aku berkata di dalam hati, setelah mengetahui kalau mesin cuci tersebut belum datang.


Aku segera masuk ke dalam rumah, aku melihat mas Ringgo sedang tiduran di sofa. Aku melihat dia tengah asyik memainkan ponselnya, rupanya dia tidak keluar padahal sekarang hari Minggu. Aku mengerti kenapa dia masih berada di rumah, pasti karena dia tidak memiliki uang untuk pergi.


Biasanya kalau hari Minggu, dia pasti keluar tanpa pernah aku ketahui kemana dia pergi. Aku semakin senang melihat dia seperti ini, aku puas membuat dia menderita. Aku tidak sabar menunggu mesin cuci yang aku beli sampai ke rumah, mas Ringgo pasti makin sesak napas mengetahui hal ini.


tok! tok! tok!


Aku mendengar suara ketukan pintu dari luar, aku bergegas menuju ke pintu dan segera membuka.

__ADS_1


__ADS_2