
"bukan begitu dek, kamu jangan salah paham dulu. Mas cuma bertanya, siapa tahu kamu mengetahui perihal uang tabungan mas yang hilang."
"kamu kalau kere ya kere saja, jangan terlalu banyak bermimpi mas. Aku tersinggung kamu bertanya begitu, seharusnya kamu berpikir sebelum berkata-kata. Kamu pikir bisa seenaknya saja bertanya begitu, aku sakit hati mas."
"maaf dek, mas tidak bermaksud begitu. Mas tidak menyangka akan kehilangan uang sebanyak itu, sekarang mas tidak memiliki simpanan lagi dek."
"itu masalah kamu mas, mulai sekarang kamu jangan pernah melibatkan aku dalam masalahmu. Mengenai uangmu yang hilang, sebaiknya, kamu terima saja mungkin itu hukuman atas dosa kamu kepadaku. Kamu harus ingat ucapan itu adalah doa mas, Selama ini kamu selalu berkata tidak memiliki uang. Kamu terlalu pelit kepadaku yang seharusnya kamu nafkahi dan perlakukan dengan dengan baik. Tapi semua itu tidak kamu lakukan, kamu malah memilih menafkahi dan royal pada wanita lain. Lagian, aku tidak percaya kamu memiliki simpanan sebanyak itu mas."
"kenapa kamu tidak percaya dek?"
"bagaimana bisa aku percaya padamu, mas? Setelah apa yang kamu lakukan selama ini, aku rasa aku tidak bisa lagi mempercayaimu mas. Maaf mas, sebaiknya kamu pergi dari rumahku."
Mas Ringgo hanya diam mendengar kata-kataku, dia menatap lesu ke arahku. Mas Ringgo sudah terlalu banyak menyakiti hatiku selama ini, sekarang aku tidak lagi merasa kasihan padanya karena dia memang pantas menuai hasil dari perbuatannya.
"dek, kenapa kamu sekarang berubah?"
"dulu, aku bertahan menunggu kamu berubah mas tapi kamu tidak kunjung memperbaiki kesalahanmu, kamu malah semakin jauh dari jangkauanku. Aku bosan menunggu perubahan sikapmu mas, makanya sekarang akulah yang akan berubah."
"maafkan mas dek, mas tidak menyangka telah menyakiti hatimu."
"aku pasti akan memaafkan kamu mas tapi tidak sekarang, biarlah waktu menghapus semua jejak luka di hatiku. Aku mohon kamu secepatnya pergi dari hidupku."
"apakah kamu yakin akan berpisah dariku dek?" mas Ringgo bertanya, apa maksudnya bertanya begitu aku juga tidak tahu
__ADS_1
"tentu saja mas, aku sangat yakin dan mantap berpisah darimu mas. Aku malah berharap semua prosesnya dapat berjalan lancar agar secepatnya bisa bercerai darimu mas." Aku menjawab tegas, mas Ringgo makin menatap tajam kepadaku.
"apa keputusanmu ini karena pria itu dek?" mas Ringgo bertanya, aku heran dengan pertanyaan demi mas Ringgo. Aku tidak mengerti cara berpikirnya mas Ringgo, bisa-bisanya dia menyangkut pautkan keputusanku dengan kehadiran mas Roland.
"mas Roland maksudmu?"
"iya, siapa lagi dek?"
"oh kenapa kamu bisa berpikiran begitu, mas? Kamu jangan pernah berpikir kalau mas Roland penyebab kehancuran rumah tangga kita. Apa kamu tidak pernah menyadari, semua ini terjadi karena perbuatan busuk kamu dengan wanita selingkuhan kamu mas."
"apa kamu mencintai dia, dek? Secepat itukah kamu melupakan mas, dek?"
Mas Ringgo masih saja mempertanyakan tentang cintaku, ternyata dia juga sudah kehilangan akal sehatnya. Aku merasa jenuh dan muak berurusan dengannya, dia sekarang sudah tidak ada artinya bagiku.
"mas tidak suka kamu terlalu dekat dengan pak Roland dek, bagaimanapun juga kamu masih istri mas. Salahkah mas merasa cemburu pada dia?"
"Salah besar, apa masih sanggup kamu bertanya begitu kepadaku mas?" Seharusnya kamu tidak menanyakan hal itu padaku mas? Apakah kamu sudah tidak punya rasa malu? Aku merasa tidak perlu menjawab pertanyaan kamu mas, sebaiknya kamu cepat pergi mas." Aku sakit hati, seketika emosiku tersulut oleh kata-kata sampah yang keluar dari mulutnya.
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan mas Ringgo, ternyata dia egois sekali. Tapi sekarang, aku sudah peduli apapun dengan yang di pikirannya. Mas Ringgo tidak lagi memiliki hak mengatur diriku, sekarang aku bebas melakukan sesuatu sesuai dengan keinginanku.
Mas Ringgo hanya menatap nanar kepadaku, Raut wajahnya terlihat lesu. Dia hanya terdiam mendengar pertanyaan dan perkataan ku, walau sedikit terasa kasar tapi aku harus berkata seperti itu kepadanya. Mas Ringgo harus paham, aku tidak mau memberi kesempatan kepadanya.
"dek, kenapa begitu keras hatimu? Apa yang bisa aku lakukan agar hatimu kembali baik seperti dulu kepadaku?"
__ADS_1
"kamu tidak perlu melakukan apa-apa mas, sekarang aku tidak menginginkan apapun dari kamu mas. Seharusnya kamu bersyukur dan berterima kasih padaku, aku mempermudah jalanmu untuk menikmati kebahagian bersama Ratu mas. Sekarang kamu bisa leluasa bersama dia, aku tidak lagi menjadi penghalang bagimu ." Aku menyindir mas Ringgo, dia harus tahu semua ini berawal dari ulahnya.
Mas Ringgo tertunduk lemah ,dia tidak berani membantah kata-kataku karena yang aku katakan kenyataan yang sebenarnya. Walau hatiku sedikit perih, aku berusaha terlihat tegar .Aku menganggap perpisahan ini takdir, aku tidak perlu menangisinya.
Aku tidak boleh larut dalam kesedihan dan luka, aku harus kuat menjalani semua ini. Mungkin perpisahan ini harus terjadi, aku berharap perpisahan ini awal dari kebahagiaanku. Aku harus bangkit masa depanku masih panjang.
"dek,......
"sudahlah mas, pembicaraan ini tidak usah dilanjutkan. Aku tidak mau berurusan denganmu lagi, kamu harus menerima semua keputusanku. Keputusanku sudah bulat mas, aku ingin segera bebas darimu." Aku berkata dengan nada mantap dan tegas, mas Ringgo tidak berkata apa-apa lagi.
Aku menatap wajah mas Ringgo, dia terlihat pasrah mendengar kata-kataku. Aku tidak akan memberikan kesempatan mas Ringgo untuk mempengaruhi keputusanku, apapun yang dia katakan aku tetap dengan keputusanku.
"sebaiknya kamu segera pergi mas, aku sangat lelah. Kamu jangan pernah menanyakan perihal uang tabunganmu yang hilang kepadaku karena itu bukan urusanku sekarang" Aku berkata dengan nada ketus kepada mas Ringgo.
Aku bersorak girang dalam hati, akhirnya aku bisa melepaskan diri dari tuduhan mas Ringgo. Aku merasa puas sekarang, aku telah berhasil membalaskan dendam kepadanya.
'mas Ringgo rasakan pembalasan dariku, kamu sekarang benar-benar tidak punya uang seperti yang kamu ucapkan ketika aku meminta uang darimu.". Aku tertawa puas di dalam hati, ini merupakan kabar baik bagiku walaupun kabar buruk bagi mas Ringgo.
""kamu mau kemana dek?" mas Roland bertanya ketika aku hendak menutup pintu kembali.
"aku mau tidur, lelah sekali rasanya hati dan tubuhku mendengar ocehan tak berguna kamu mas." Aku kemudian menutup pintu, meninggalkan mas Ringgo yang masih berada di luar memandang ke arahku.
'Aku bahagia melihat kamu menderita mas' Aku berkata dalam hati seraya melangkah menuju kamar tidur, semoga saja mimpiku kali ini lebih indah dari kenyataan yang baru saja aku alami.
__ADS_1