
Tiga puluh menit kemudian
Hujan mulai reda, tinggal rintik-rintik hujan yang tersisa. Kak Raga melepas jaketnya dan di letakkan ke pundakku. Aduh, meleleh hatiku kalau terus di perhatikan seperti ini. Aku terpaku melihat perhatian Kak Gilang. Ditarik tanganku berlari menuju parkiran.
Aku terkejut melihat tanganku dipegang seseorang. seperti tersengat listrik dan tidak bisa dilepaskan. Ditepuknya pipiku karena terpaku melihat Kak gilang.
" Elap ilernya Dek "ucap Kak Gilang bercanda.
Ku elap mulutku dengan jilbabku tanpa sadar bahwa Kak gilang telah mengerjaiku. Beberapa detik kemudian baru aku tersadar, iler dari mana tidur juga tidak. Ku tinju lengan Kak Gilang karena sudah mengerjaiku.
" Aduh Dek babak belur Kakak nanti di sini kamu buat Dek. Lembut sedikit kenapa sih. Nanti cowok pada takut sama kamu," ucap Kak Gilang mengingatkan.
" Biarin " ucapku sambil naik ke sepeda motor.
" Yang bonceng siapa ini, kok Adek naik duluan," ucap kak Gilang mengambil sepeda motornya sedangkan aku sudah di atasnya.
" Terserah " ucapku tapi tetap naik di atas sepeda motor.
" Kita langsung pulang kan...? " ucap Kak gilang dengan sabar.
"Iya Kak," ucapku semangat.
Di jalan raya ramai pengendara menikmati malam minggu mereka. Terlebih lagi para muda-mudi yang hobby nongkrong. Walaupun rintik-rintik hujan tapi tidak menyurutkan semangat mereka untuk menikmati malam minggu.
Motor Kak Gilang dilajukan dengan kecepatan sedang. Aku lebih mudah melihat para muda-mudi yang lagi ada cafe, sebahagian lagi nongkrong di emperan toko dan ada yang nongkrong di taman. Eh, tunggu dulu, sepertinya aku melihat Candra tadi di taman.
" Bang , bisa mutar balik gak, kita balik ke taman " ucap ku kepada Kak Gilang.
" Ada apa Dek, apa Adek mau kita kencan ke taman," ucap Kak Gilang masih bercanda.
" Jangan bercanda Kak, seperti Adek kenal dengan orang tadi yang Adek lihat di taman, putar ya Kak, please..." ucapku memohon kepada Kak gilang.
__ADS_1
" Udah ini Kak putar balik, kalau salah orang langsung pulang ya jangan diladeni..." ucap Gilang memutarkan sepeda motornya tapi Gilang menaruh curiga, pirasatnya mengatakan kalau orang yang dilihat Annisa adalah Candra.
" Iya Kak, " ucapku sambil menoleh ke arah taman.
Sampailah aku dan kak Gilang di pintu gerbang taman. Kak Gilang memarkirkan sepeda motornya. Aku turun dan langsung ku langkahkan kakiku menuju kursi taman yang jauh dari parkiran. Perlahan Kak gilang mengikutiku dari belakang. Aku terus berjalan menuju tempat dimana aku melihat seorang yang ku kenal tadi.
Hatiku berdebar-debar semoga pirasatku salah. Kupakai topi jaket Kak Gilang agar orang yang ku lihat tadi tidak mengenaliku. Jauh sudah aku berjalan tidak memperdulikan Kak gilang yang sedang mengikutiku dari belakang.
Sampailah aku di tempat orang yang ku lihat.
Sekitar berjarak lima meter dari kursi taman, ku lihat orang yang ku kenal itu duduk berdua di kursi taman sedang bermesraan. Yah, Candra orang yang ku kenal sedang berduaan dengan sahabatku sendiri.
Beberapa menit kemudian aku masih terpaku melihat mereka berdua sudah tidak terkontrol lagi. Mereka berciuman di depan umum tidak memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
Hatiku hancur melihat Sahabatku yang sudah ku anggap saudara sendiri tega mengkhianati ku. Rini bercumbu dengan kekasihku. Mereka berciuman layaknya suami istri. Dandanan Rini sudah acak-acakan. Kancing baju sudah terbuka dan rok pendek yang di pakainya sudah naik ke atas.
Hatiku seakan menjerit, inikah sifat Candra selama ini. Aku membatasinya ketika pacaran denganku. Jangan pernah ada kontak fisik ketika berpacaran dengan ku, ternyata nafsunya di salurkan kepada temanku sendiri. Memang biadap, Candra brengsek...
Kulangkah kan kakiku menuju dua insan yang sudah dilanda ***** bejat, seakan tidak mau mereka terjerumus semakin jauh lagi dan melakukan zina. Ku tarik Rini dari pangkuan Candra. Candra merasa tidak terima, kalau aku mengusik mereka. Diangkatnya tangannya ingin mendorongku, tapi terlebih dahulu ke pegang tangannya dan ku plintir tangannya ke arah belakang kemudian ku buka topi jaket yang menutup wajahku. Candra seakan terkejut melihat aku ada di depannya.
Plak
Plak
"Dasar manusia laknat, apakah kamu tidak takut dosa. Inikah sifat kalian berdua, dasar bermuka dua, perbaiki bajumu Rini," ucapku kepada Rini dan Candra.
" Nisa ini tidak seperti yang kau lihat, kau salah paham Nisa ". ucap Candra menerangkan.
Air mataku mengalir melihat sahabatku yang ku sayang tega mengkhianatiku.
Plak
__ADS_1
" aku menyesal kau menjadi sahabatku " ucapku kepada Rini setelah menampar wajahnya yang kedua kali.
Plak
Satu tamparan lagi di tujukan untuk Candra.
" Kamu yang mengemis-ngemis supaya aku terima kamu kan, kamu tega berkhianat dengan temanku sendiri, mulai sekarang kita putus, jangan pernah temuiku lagi, " ucapku dengan emosi.
" Nisa, maaf kan aku Nisa, ini salah paham. Aku mencintaimu Nisa, Aku ..aku...terpaksa dekat sama Rini, Nisa..., " ucap Candra berteriak sambil menarik tanganku.
Kuhempaskan tangannya dan kubalikkan badanku berlari mengejar Kak Gilang yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua. Di peluknya tubuhku dan di usapnya airmataku yang mengalir dipipi. Rahangnya mengeras melihat Candra menyakiti gadis yang di sayangnya.
Airmataku seakan Tidak berhenti dan terus mengalir mengingat pengkhianatan teman dan kekasihku. Kak Gilang merasa sakit hatinya melihat aku terus bersedih. Dilangkahkan kakinya dan mendatangi si Candra brengsek.
" Dasar sampah " ucap Kak Gilang marah.
Buk
Buk
Dua hantaman ditujukan di bagian perut dan wajah Candra. Tampak di bibir candra sedikit robek dan membiru. Candra tidak melawan, karena lawan yang dihadapannya juga tidak sebanding dengan dirinya.
" Cukup sekali ini kau sakiti Nisa jikalau sampai kau menyakiti Annisa kembali, maka kau akan berurusan dengan ku, camkan itu. " ucap Gilang langsung meninggalkan sampah dan merangkul bahu Annisa menuju parkiran.
Candra yang terkena pukulan dari Gilang meringis dan menahan sakit. Sedangkan Rini tersenyum sinis melihat Candra dan Annisa putus.
" Kamu tidak apa-apa Can..." ucap Rini kepada Candra.
" Tidak apa-apa, ini semua gara-gara kamu, kamunya menggoda aku duluan. Kamu bilangnya minta ditemani jalan-jalan karena kamu pusing mikiri perjodohan ini, ternyata kamu mengambil kesempatan kan?"ucap Candra menjelaskan.
" Tapi kamu menikmatinya kan, apa yang kamu dapatkan dariku tidak pernah kamu dapatkan dari si Zaki, iya kan..." ucap Rini santai.
__ADS_1
" Iya memang, selama berpacaran dengan Nisa kami tidak pernah ada kontak fisik sekali pun. Lantas kamu mau seenaknya saja memberikan tubuhmu kepadaku. Ingat Rin, kita masih muda. Ingat masa depan kita. Aku laki-laki normal Rin, jangan pancing-pancing aku, Aku takut aku khilaf ?" ucap Candra kepada Rini.
* * * * *