
Aku merasa ada sesuatu diantara mereka berdua. Mereka tersipu malu ketika aku dan Kak Gilang menatap mereka. Wajah Kak Andre juga tidak seperti biasanya. Biasanya selalu memasang wajah kaku. Saking kakunya ku gelar Manusia Batu. Tumben, manusia batu bisa mencair. Mencair di buat wanita jadi-jadian. Falling in love itulah bahasa kerennya.
" Udah lama Bro...," tanya Gilang kepada Andre yang mencoba masih curi-curi pandang menatap Citra.
" Baru... aja nyampek," ucap Andre yang membuat Gilang penasaran baru nyampek kok udah sangat dekat dengan Citra.
Gilang menyipitkan matanya, pandangan matanya ke arah Citra sungguh tidak biasa. Seperti tatapan seorang laki-laki kepada teman wanitanya.
"Kena tulah kan Bro, makanya jangan mengatai Citra yang enggak-enggak, benci jadinya cinta kan...," ledek Gilang kepada Andre yang membuat Andre malu dan salah tingkah.
" Emang Bang Andre ngatai Citra Apa Bang?," tanya Citra penasaran.
" Tanya aja tuh sama Manusia batu," ucap Gilang ikut menyela.
" Gak...gak ada siapa juga yang ngatai kamu," ucap Andre yang gugup dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Kalian pacaran ya..., bagus kalau begitu, berarti angka pemuda yang jomblo di kota kita ini sudah berkurang. Akhirnya teman gue ini gak jomblo lagi, suka juga ya sama yang onces masih bau kencur lagi,"Gilang menepuk pundak Andre dan asik mengoceh yang sudah seperti emak-emak rempong di kampung di tempat tinggalku.
Andre memelototi Gilang yang cengengesan menyelanya. Andre tidak bisa berkata-kata. Dia takut salah kata yang akan kehilangan pekerjaannya.
" Cit, Hati-hati ya, diam-diam dia buas lho...,"ucap Gilang yang memberitahu Citra agar waspada.
Citra tersipu malu, dia teringat di saat Andre mengambil ciuman pertamanya. Tanpa ada permisi dan langsung nyosor aja. Pikirannya mengatakan bahwa yang di katakan Gilang adalah benar adanya.
" Ingat Dre..., Citra belum tamat SMA, jangan sampai dia putus sekolah karena terlalu gila dengan pesonamu yang sudah hampir tua," ucap Gilang yang masih usil dengan urusan Andre.
" Belum tua kali gue Lang, baru berapa umur gue, Kita itu hanya beda 2 tahun. Penampilan gue aja masih sangat tampan, Iya kan Citra... "ucap Andre kepada gadai di sampingnya. Sedangkan Citra sudah malu-malu akibat kejujuran Andre sangat terlalu tinggi melambung ke angkasa.
" Ih, narsis...," ucap diriku mendengar pujian Kak Andre terhadap dirinya sendiri.
" Walaupun kita beda 2 tahun yang pasti Tuaan lo...," ucap Gilang yang tidak mau kalah.
" Terserah...," ucap Andre ketus dan duduk kembali ke kursinya.
" Ibu kemana Cit???," tanyaku kepada Citra yang merasa heran kenapa rumah begitu sepi.
" Buk De dan Pak De tadi ke pasar, katanya ada yang mau pesan kue basah, Buk De minta temani Pak De belanja bahan-bahan membuat kue," ucap Citra menerangkan.
__ADS_1
" Oooo," jawabku singkat.
" Kak, Nisa ke dalam dulu ya, mau mandi gerah banget," ucapku kepada Kak Gilang. "Oh ya Kakak mau minum apa biar Nisa ambilkan," ucapku kembali ketika akan masuk kedalam rumah.
" Kakak Ikut ya mandinya Dek...," Ucap Gilang yang sedikit manja.
"Ayo, tapi mandi di kolam ikan ya...," ucap Diriku yang sedikit tidak terima akan kemanjaannya, karena takut orang salah tapsir akan perkataannya.
" Emangnya kamar mandi di rumah ini gak ada ya, masa Kakak harus mandi di kolam ikan," ucap Gilang yang kesal karena mendengar kata diriku yang di suruh mandi di kolam ikan.
"Bukan gak ada Kak, di rumah lagi gak ada orang, nanti ada setan. Udah deh sebaiknya Kakak mandi rumah Kakak aja ya....," jawab diriku dengan baik-baik takut Gilang salah paham.
" Kamu ngusir kakak, Sayang...," Gilang dengan santainy menyebut kata Sayang, membuat Andre merasa panas dengan telinganya.
"Ehemm" andre berdehem ketika mendengar Gilang memanggil kata Sayang, membuat Andre merasa gatal tenggorokannya.
" Kamu kenapa Dre...," tanya Gilang yang merasa Andre seperti pengganggu.
" Enggak Ada, rada kering batang leher gue," ucap andre mengalihkan pembicaraan, padahal tadi dia berdehem karena merasa sakit saja telinganya mendengar kebucinan sahabatnya sekalian majikannya itu.
"Cit..., itu pacar kamu haus tuh, pengertian kek, kasih minum, punya toko coffe bukan di ajak Pacarnya minum ,malah di angguri. Pacaran juga perlu makan dan minum," ucap diriku memberitahu Citra.
" Iya, kemarau kali ya, di sini gak ada air, kasihan...," ledek Gilang yang tersenyum lebar.
" Diem lo Lang...," emosi Andre kepada Gilang yang selalu di meledek dirinya.
" Males gue diam. Sayangku..., kakak pulang dulu ya..., nanti habis Zuhur kakak datang lagi. Sayangku mau pesan apa..., biar Kakak bawakan...," ucap Gilang mengatakan ucapan yang manis, membuat yang mendengarnya akan meleleh.
"Oh, so sweet, bener nih kakak mau belikan Nisa..., Nisa mau es cream, Panas-panas enaknya kan makan es cream....,"jawabku yang mendapat tatapan dari Kak Gilang.
"Kenapa harus es cream," tanya Gilang kepadaku.
" Karena rasanya manis Kak, udah gitu seger banget di leher," ucapku menjelaskan kepada Kak Andre.
" Jadi Kesel kakak kalau kamu suka es Cream," ujar Gilang yang berwajah sendu.
" Kenapa Kak," tanya diriku merasa heran.
__ADS_1
" Soalnya yang bisa nyegeri hati kamu itu cuma kakak, jangan ada yang lain," ucap Gilang yang mengeluarkan kata-kata gombalannya.
" Lebay," ucap Andre menatap malas Gilang dan suaranya terdengar oleh Gilang
" Syirik Lo, ngiri aja bilang," ucap Gilang yang sudah bersiap ingin pulang.
"Dek, Kakak pulang ya, ingat habis Zuhur jangan lupa," ucap Gilang Kembali mengingatkan.
" Iya Kak," jawabku sambil mengangguk .
" Dek, Kakak bawa ya sepeda motornya," Ucap Gilang yang langsung naik ke motor, dan melajukan motornya di jalan raya.
Diriku menggangguk dan sedikit berpikir, ketika datang tadi, sebenarnya Kak Gilang naik apa? Tapi di pakai sepeda motornya juga tidak apa-apa, jelas-jelas itu kan memang sepeda motor Kak Gilang, aku tidak berhak melarang. Dan bila kami nanti sudah menikah, toh sama-sam memiliki. Dikasih pinjam aja sudah syukur.
Ku tinggalkan mereka berdua di teras. Terlihat mesra bagai baru pertama kali di mabuk cinta.
" Kak, Nisa tinggal ke dalam ya... ," ucapku pamit ke dalam ingin membersihkan tubuhku yang sudah lengket terkena keringat.
" Ya Dek, masuk lah," ucap Andre mempersilahkan.
Aku masuk kedalam dan merapatkan kembali pintu. Kalau aku egois tetap bersama mereka merasa menjadi pengganggu dan menjadi umpan nyamuk. Jadi umpan nyamuk, merasa aku jadi jomblo padahal sebentar lagi statusku juga akan berubah menjadi seorang istri.
Aku masuk ke kamar dan segera berlari ke kamar mandi. Butuh waktu sedikit lama menyegarkan tubuhku dengan sabun aroma terapi. harumnya sangat semerbak. Seperti anak kecil yang asik bermain busa sabun. Sungguh ini adalah suatu hiburan bagiku ketika sedang mandi. Teringat ke masa kecilku yang terulang kembali.
Selesai sudah membersihkan tubuh, sungguh sangat menyegarkan. Ku pakai pakaian rumahan dan menaburkan bedak baby ke permukaan wajahku, agar tubuhku semakin wangi. Wangi sabun dan bedak menyeruak ruangan kamarku. Syukurny tidak pakai minyak telon. Kalau ku pakai persis baunya seperti bayi yang baru lahir.
Memanjakan diri dengan rebahan dan menyalakan drama korea di kamar. Sayangnya tidak ada cemilan, sudah lama Mama Kak Gilang tidak membawakan aku cemilan yang banyak. Jadi rindu sama cemilannya.
Drama pun berbutar, Cinta seorang Ceo kepada Wanita Kampung. Sangat menarik ceritanya, sebentar-bentar aku tertawa, kemudian menangis, dan lama kelamaan malah tertidur. Mimpi yang sangat indah. Mimpi tentang diriku dengan Kak Gilang yang berada di taman yang begitu indah. Cerita kami bagai dalam drama, aku jadi gadis kampungnya, dan Kak Gilang jadi CEO nya. Perasaan kami berdua sangat bahagia, bermain ayunan dan berlari-lari di taman yang banyak bunganya. kami berdua terlkau asik mengejar kupu-kupu. Tanpa ku sadari ada batu yang sedikit besar yang menghalangi langkahku.
" Ah..., " jeritku.
Aku terjatuh, tapi sakitnya terasa nyata. Mataku susah untuk dibuka, tapi lutut dan kepalaku sangat sakit membuatku ingin melihat luka kakiku. Kutunggu Kak Gilang membangunkan diriku. Tapi aku merasa ini bukan mimpi dan sangat nyata. Lama aku menormalkan pandanganku, akhirnya terlihat jelas aku sedang ada dimana.
Aku berada di bawah tempat tidur yang sedang tertelungkup seperti buaya. Mencium lantai kamar berharap jatuh di taman malah jatuh dari tempat tidur.
******
__ADS_1
Jangan lupa Like, komen dan Votenya ya...