
"Kakak pamit ya Dek, harinya sudah sore, kamu sana mandi, bau iler..."
" He..he...iya ini bentar lagi mandi, nunggu kakak pulang dulu,"
"Besok adek pergi ujian naik apa?"ucap Kak Gilang.
" Pakai motor Bang Raga, semalam pagi motornya di antar orang bengkel ke rumah,"ucapku
" Ehmm..naik motor Bang Raga, motor trail? apa Adek bisa, itukan susah bawanya," ucap Kak Gilang merasa heran.
" Bisalah, Nisa gitu lho..."ucapku sambil tersenyum.
" Bangga"ucap Kak Gilang sambil menoel hidungku.
" Gak bangga, memang bisa, kalau pakai mobil Adek baru gak bisa," ucapku kepada Kak Gilang.
" Mau...., biar kakak ajari" ucap gilang menaikkan alisnya.
" Males ah, nunggu adek punya mobil sendiri baru belajar"ucapku sambil berjalan membuka pintu.
" Oke, kakak pulang ya," ucap Kak Gilang berpamitan.
" Iya, hati-hati ya Kak,"ucapku dengan menyalami tangannya.
" Iya, Jangan lupa belajar, Assalamualaikum,"ucap Kak gilang mengusap kepalaku.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam," ucapku melihat kak Gilang masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya.
Sampai didalam rumah terasa baru merdeka dari penjajahan, langsung masuk ke kamar mandi dan mandi sepuasnya. Satu jam ku habiskan waktu di kamar mandi. Setelah itu shalat Ashar yang hampir habis waktunya. Kemudian mengambil buku pelajaran untuk mengulang pelajaranku berharap besok bisa ku jawab semua soal ujiannya.
Ku rebahkan tubuhku menunggu shalat Maghrib tiba, membayangkan kejadian tadi siang di rumah Tante Dewi. Sungguh perhatian Kak Gilang membuat aku tersipu malu. Ada apa dengan diriku, bila teringat Kak Gilang, dak dik duk jantungku. Apa aku mulai suka ya.
Ting
satu chat dari Bang Raga
' Dek, besok siang ayah sudah bisa pulang, ayah maksa mau pulang ,gak betah katanya dirumah sakit. Pulang dari sekolah langsung ke rumah sakitnya Dek? hati-hati dirumah jangan buka pintu kalau ada yang mengetuk pintu tengah malam' isi chat Bang Raga.
' Iya Bang' ku balas dan langsung meneliti semua pintu dan jendela.
Selesai shalat aku ke dapur berharap ada yang bisa di masak cepat. Kulihat mie instan rasa soto ayam, kalau hanya masak mie bisalah. Tidak butuh waktu lama mie pun sudah masak. Langsung kulahap dan kenyang itu yang kurasa. lanjut duduk di depan TV sambil membaca buku pelajaran menunggu sampai waktu malam.
Ku dengar ada yang mengetuk pintu beberapa kali di luar, mengintai dari jendela, ternyata yang mengetuk mbok Siti, orang yang sering bantu-bantu ibu membersihkan rumah setiap pagi. Kubukakan pintu untuk mbok Siti dan dipersilakan masuk, si mbok membawa kue hasil buatannya sendiri.
Tanpa sengaja ku lihat dari depan pintu ada sebuah mobil berhenti di depan rumah, mobil yang sama seperti tadi sore, ngapain sih selalu berhenti di situ itu bukan mobil Kak Gilang. Ku tawarkan kepada mbok siti untuk tidur di rumah untuk menemaniku malam ini saja, aku takut ada teror orang Yang menakutiku ditengah malam.
*****
Keesokkan Harinya di pagi hari setelah shalat subuh, mbok Siti cepat berpamitan pulang karena ingin memasakkan sarapan untuk anaknya yang di rumah. Aku pun bergegas ke kamar mandi dan mengambil wudu' untuk melaksanakan kewajiban. selesai memakai seragam dan bersiap ingin berangkat ke sekolah ku lihat ada sebuah mobil berhenti lagi di depan rumahku tanpa membuka kaca mobilnya.
Ku lihat tidak ada satu orang pun turun dari mobil, aku penasaran siapakah yang punya mobil itu, seperti mengintai rumahku. Ku langkahkan kakiku ingin mendatangi mobil itu, Baru beberapa langkah, mobil itu langsung pergi. Mobil yang tidak aku kenali dan mobil yang sama berhenti ketika aku semalam di antar kak gilang pulang ke rumah, siapa kah yang punya mobil itu. Ah, masa bodoh.
__ADS_1
Kupakai helm pembalap milik Bang Raga dan jaket kulitnya. Ku lihat dari kaca jendela rumahku, Wow, keren... . Kulajukan sepeda motor Trail milik Bang Raga dengan kecepatan sedang. Tanpa ku sadari mobil yang terlihat di depan rumahku tadi membututiku dari belakang. Pagi hari belum banyak pengendara yang lalu lalang di jalanan yang ku lalui.
Sampai ditengah perjalanan yang sunyi sebuah mobil ingin menyerempet motorku. Ku lihat ke samping sebuah mobil yang sama kulihat tadi. Siapa sebetulnya pemilik mobil ini, cari gara-gara ini orang. Belum tahu dia siapa Annisa. Ku tancapkan motorku seperti pembalap Rossi dan semakin laju berlenggak lenggok mengejek mobil yang di belakang.
Begitu juga mobil itu terus melaju mengikuti motorku dan hampir menabrakku. Bunyi klakson terus kuhidupkan menyuruh pengendara lain untuk minggir. Sumpah serapah pengendara yang lewat mengatai aku entah apa sajalah, Aku tidak perduli yang penting aku selamat.
Aku punya ide, biasa sering ngumpul bareng dengan teman Bang Raga yang selalu memakai jalan tikus bila ingin menghindari kejaran polisi. Akhirnya pas di ujung jalan terdapat gang kecil segera ku belokkan stang sepeda motor ku menuju jalan tikus itu. Yes, akhirnya selamat, ku tancapkan gasku langsung menuju ke sekolah. Aman...
Sampai di sekolah semua teman sekolah yang cowok segera melihat ke arahku, penasaran mereka siapa gerangan dengan sepeda motor yang berbeda. Semua cowok mendekat, ku buka helmnya dan senyum kuberikan kepada mereka. Suara riuh terdengar dari mulut mereka dan bersiul mengidolakan diriku. Sang primadona kelas.
Arif menyapa dengan panggilan Zaki, mendekat dan menepuk bahuku mengajak masuk ke dalam kelas karna ujian sebentar lagi akan di mulai.
Bel masuk pun berbunyi, dengan semangat, semua siswa masuk ke kelas, duduk tenang dengan nomor ujiannya masing-masing. Yes, ternyata ujiannya mudah dan semangat aku mengerjakan.
Berharap mendapat nilai yang bagus ketika lulus nanti, semoga aku di terima di Perguruan Tinggi Negeri Bandung. Cita-cita yang ku mimpikan semoga menjadi kenyataan.
Dua jam sudah ku jalani mengahadapi ujian yang pertama, tanpa rasa lelah langsung ku langkahkan kakiku ke parkiran. Ketika akan ku hidupkan motor yang akan kunaiki ternyata Candra sudah di sampingku mengambil kunci motor. Ditarik paksa tanganku oleh Candra ke belakang kelas.
Dilemparkannya beberapa lembar foto tentang aku dan Kak Gilang ketika menggendongku karena ketiduran di mobil.
Aku terkejut kenapa dia bisa tahu, pasti ada yang tidak beres ini. Jangan-jangan mobil yang semalam mengikuti itu mobil Candra. Tapi masa Candra ingin menabrakku. Kalau begitu aku harus waspada.
" Kenapa kamu cepatnya berpindah kelain hati Nisa, Segitu tidak pantasnyakah aku untukmu,"
" Aku tidak mengerti Can, aku juga tidak sadar kalau waktu itu digendong, tapi untuk foto yang ini, itu tidak benar Can, Kak Gilang sama sekali tidak ada menciumku," ucapku tidak terima dengan satu foto yang bagi melihatnya seperti melakukan adegan berciuman.
__ADS_1