
Kring...
Alarmku berbunyi nyaring, menunjukkan pukul 04.30 subuh, suara lantunan suci Alquran yang terdengar dari pengeras suara yang berasal dari Mesjid sekitar lingkungan perumahan Kak Gilang, membuatku lebih semangat untuk menyambut pagi hari ini. Ku bersihkan badanku dan berwudu untuk melaksanakan shalat subuh. Ingin membaca Al qur'an tetapi tidak membawa Alqur'an, ku buka Ponselku yang terdapat aplikasi murottal Alqur'an untuk membaca ayat-ayat suci Alqur'an yang sudah ku download sebelumnya.
Selesai sudah kewajiban yang sudah aku kerjakan. Membuka mukenaku dan merapikannya kembali, terdengar ketukan pintu di luar. Segera kupakai jilbab instanku, takut-takut di luar Kak Gilang yang mengetuk pintu.
Ceklek!
Terlihat Mama Kak Gilang sudah rapi dan terlihat cantik dengan riasannya.
" Nisa, apakah kamu sudah siap? tanya Mama Kak Gilang kepada diriku.
" Belum Tan, apakah kita akan pergi sekarang Tan? inikan masih terlalu pagi...," ucapku kepada Tante, yang merasa bingung karena tidak pernah mengantar orang ke bandara.
"Iya, Tante takut jalanan macet, jadi kita harus cepat berangkat. Bersiaplah, kita akan segera sarapan dan setelah itu akan mengantar Gilang ke Bandara," ucap Tante yang meminta diriku untuk bersiap-siap.
" Iya Tan.., Nisa akan Siap- siap," ucapku dengan perasaan takut.
" Ya sudah, Tante tunggu di meja makan ya, karena mereka sudah di sana semua," ucap tante menjelaskan dan berlalu pergi meninggalkan kamar yang ku tempati.
" Iya Tan," ucapku yang menunduk, takut Tante marah kepada diriku.
Aku terkejut, begitu cepatkah Kak Gilang pergi? Ya Allah beberapa jam lagi orang yang sering melindungiku akan pergi. Tanpa menunda, aku langsung mengeluarkan baju yang menurutku menarik, tidak jauh-jauh fashionnya. Masih menggunakan fashion santai. Baju kemeja dan Celana kain dengan warna lembut dan jilbab pasmina yang senada. Ku poles wajahku menggunakan bedak tabur dan sedikit liptin di bibirku. Terlihat sempurna....
Ku ambil Tas selempangku untuk tempat Gawai dan dompet, mana tahu ingin membeli es cream. Mau minta belikan aku kan malu. Oh, iya aku baru ingat tadi malam, akukan dikasih Atm Black Card sama Kak Gilang. Nanti aku coba cek, berapa sih isinya? membuat aku penasaran.
Aku keluar dari kamar dan menutup rapat pintu kamar yang ku tempati malam tadi. Terdengar pembicaraan dari meja makan. Mereka terdengar bercanda ria.
"Ehemm,"
Dehemanku membuat mereka melihat kearahku. Grogi, itulah perasaan yang kurasakan saat ini. Aku berjalan seperti di atas duri, terasa tajam lantai yang ku lalui membuatku terlalu lambat untuk sampai di meja makan.
Ah bodoh aku, kenapa juga aku berdehem, jadi kikuk kan...
Kak Gilang berdiri menarik kursi untukku, yang bersebelahan dengan kursinya. Kak andre dan Arif juga ikut makan bersama, mereka terlihat menikmati sarapan yang di buatkan pelayan. Aku duduk dengan canggung, dan menarik piring yang sudah di sediakan di depanku.
" Sayang mau sarapan pakai apa? tanya Kak Gilang di depan Kak Andre dan Arif.
" Ehem...hemm...," deheman Kak Andre di meja makan mendengar perkataan manis dari mulut Kak Gilang.
"Aduh, masih pagi udah dengar kata sayang-sayangan, budeg telinga gue...," Ucap arif berkomentar mendengar perkataan Kak Gilang kepadaku.
__ADS_1
" Iri aja bilang, sana cari cewek, tapi dengar ya..., yang di cari itu cewek bukan cowok. Biar gak kepo sama orang lain," ucap Kak gilang merasa bangga sudah mempunyai pasangan.
"Iyalah yang udah punya gandengan, pamer...,tenang aja gue juga bisa, nanti waktu abang Pulang, gue pasti bawa gandengan, jangan ngiri ya sama Arif...," ucap Arif yang yang tidak mau kalah dengan Gilang.
"Bukan pamer..., dasarnya aja gue udah laku berarti gue lebih tampan dari kalian. Tunangan gue juga lebih cantik, iya kan Sayang...? ucap Gilang membanggakan dirinya kepada orang-orang yang ada di meja makan.
"Udah makan, jangan beradu mulut, bentar lagi kita berangkat, Gilang bisa ketinggalan pesawat," ucap Papa Gilang menengahi pertikaian antara Gilang dan arif.
Kami semua terdiam mendengar ucapan Papa Kak Gilang, ternyata kalau sudah Papa Gilang yang bersuara, semua tidak berani membantah. Seperti kambing congek. Hanya suara dentingan sendok yang terdengar sampai sarapan yang ada di piring habis tidak tersisa.
Kak Gilang mengambil koper yang akan di bawanya pergi. Belum apa-apa aku udah mewek, gak rela di tinggalkan. Aduh kenapa aku sudah seperti aktris india yang menangis ditinggal pergi oleh sang kekasih sambil bernyanyi di bawah guyuran air hujan dan berlari-lari di tanah lapang.
Mang Amir sudah siaga memasukkan koper-koper Kak Gilang ke dalam bagasi mobil. Tante Dewi terlihat tegar melihat puteranya akan pergi. Kami pun bersiap masuk ke mobil. Tangan Kak Gilang menggenggam jemariku, di tariknya ke mobil Kak Andre yang sudah siap di belakang stir. Di sampingnya Arif, sedangkan di bangku belakang diriku dan Kak Gilang. Mama dan Papa Kak Gilang bersama Mang Amir.
Mobil melaju meninggalkan rumah mewah yang sebentar lagi salah satu penghuninya akan pergi sampai 3 tahun baru kembali.
Suara musik romantis di putar Kak Andre untuk mengisi keheningan di dalam mobil.
" Adek, hari ini libur kuliah, sudah izin apa belum? tanya Kak Gilang kepadaku.
" Sudah Kak, Komisarisnya kan Arif, gampang itu, tenang aja Kak," ucapku dengan santainya dan menikmati suara musik yang di putar Kak Andre.
" Sip," ucap Arif sambil mengacungkan jempolnya yang asik memainkan game onlinenya.
"Jangan menganggap suatu masalah gampang Sayang, Kakak ingin Adek cepat lulus, supaya kita cepat nikah," ucap Kak Gilang menasehatiku dan menggenggam erat tanganku.
"Adek bisa cepat menyelesaikan, sekarang kuncinya dari Kakak. Kalau Kakak cepat selesai maka keinginan Kakak akan cepat terwujud,"
ucapku mencoba menjelaskan kepada Kak Gilang.
" Iya Sayang... tentu Kakak akan cepat menyelesaikan S2 kakak, tunggu kakak ya....," ucap Gilang dimobil membuat telinga Arif risih mendengarnya.
"Ehem...ehem...gak di meja makan, gak di mobil, pakai sayang-sayangan melulu. Ngertiin kita dong yang jomblo," ujar Arif yang sudah kesal mendengar perkataan abang sepupunya.
" Emang gue pikiri...," ucap Gilang menyindir Arif.
" Dasar bucin akut, bentar lagi juga berpisah, emang enak berpisah sama pujaan hati. Gue sumpahi lho bang, kalau kangen sama calon istri loe, loenya susah tidur," ucap Arif yang masih kesal akan tingkah bucin Abang sepupunya.
" Entar kualat lho nyumpahi Abangnya," ujar Gilang menasehati Arif.
"Biarin, abangnya juga tegaan sama Adiknya, iya kan Kak Andre," ucap Arif berkata dengan Andre yang asik mendengarkan sebuah lagu.
__ADS_1
"Entah ya... gue gak ikutan..,"ucap Kak Andre yang asik menyetir mencoba cuek akan keributan Arif dan Gilang.
" Sialan loe bang, gak ngedukung Adiknya," ucap Arif dengan wajah cemberutnya dan berpaling melihat keluar jendela.
Tanpa terasa kami sudah sampai di parkiran, bandara yang luas membuatku merasa kampungan karena tidak pernah menngantar orang ke bandara. Aku mencoba tenang, untuk menutupi kegugupanku. Keberangkatan Kak Gilang sekitar pukul 07.00 pagi, ini masih pukul 06.30, masih ada waktu untuk berbicara dengan Kak Gilang.
Mang Amir membawakan koper-koper yang akan di bawa kak Gilang ke tempat penungguan. Kak Gilang menghampiri dan menatap tajam wajahku. Tanpa sadar aku menitikkan air mata, air mataku terus menetes entah mengapa aku jadi melow karena akan di tinggal Kak Gilang. Kak Gilang mendekat dan memeluk tubuhku, di usapny kepalaku, membuatku nyaman berada di depannya. Bibirku terasa kelu untuk mengatakan Aku akan bersabar untuk menanti kepulangan Kak Gilang kembali.
" Sudah yang jangan nangis Yang..., malu dilihat orang," ucap Kak Gilang menenangkan diriku.
" Biarin, Adek aja gak malu," ucapkunyang masih menangis, tanpa di sadari air dari hidungku mengalir mengenai kemejanya.
" Ih, ingusnya jorok kena ke baju Kakak kan..., aduh...hilang deh ganteng kakak, ganteng-ganteng gini bau ingus," ucap Kak Gilang melihat cairan yang menempel di baju kemejanya.
" Ha! iya kak..., ma...maaf ya Kak, sini Nisa elap pakai tisu," ucapku yang tidak enak kepada Kak Gilang mencari selembar tisu yang sudah kumasukkan tadi ke dalam tas.
" Udah gak usah, ini kenangan-kenangan dari kamu, ingus kamu akan kakak bawa ke Australia," ucap Kak Gilang yang mencoba mencandai diriku.
" He..he...kakak jorok," aku tertawa mendengar perkataan Kak Gilang.
" Gitu kan bagus tertawa, cantik... lagi," ucap Kak Gilang memuji diriku.
" Ih, kakak ini," ucapku yang memukul dada bidangnya.
" Doakan kakak cepat menyelesaikan kuliah kakak, supaya kakak bisa cepat menepati janji kakak," ucap Gilang kepada calon istrinya yang membuat diriku merasa berat untuk di tinggalkan.
"Iya Kak, hati-hati Kakak di sana," ucapku memberikan pesan agar di ingat Kak Gilang.
Kak Gilang menganggukkan kepalanya dan mengusap kepalaku. Kak gilang mendekati Mamanya. Tante Dewi menangis mendapat pelukan dari puteranya. Cukup lama mereka berpelukandan menyusul merangkul Papanya. Papanya memberikan semangat kepada puteranya dan mereka tersenyum kepada diriku. Aku tidak tahu arti dari senyuman Mereka.
Suara panggilan penumpang terdengar, Kak Andre mendekati Kak Gilang mencoba memberikan salam sebelum ke berangkat sepupunya
" Bro, jaga calon istri gue ya, jangan sampai dia terluka sedikit pun," ucap Kak Gilang kepada Kak Andre.
" Aman itu Bro," ucap Kak Andre mantap dan memeluk Kak Gilang.
" Rif, awasi Annisa dan urus bengkel Abang," ucap Gilang memberi amanat kepada orang kepercayaannya.
" Iya Bang, aman Itu Bang,"ucap Arif yang juga merangkul Abang sepupunya.
Panggilan penumpang berulang kali terdengar, Kak Gilang pun membawa kopernya dan berjalan meninggalkan kami semua. Tante Dewi memelukku dan mengelus pundakku, aku mengerti akan maksudnya. Dia memberikan semangat kepada diriku untuk tetap menanti Kak Gilang kembali. Kami pun kembali keparkiran untuk kembali pulang ke rumah.
__ADS_1