Teman Palsu

Teman Palsu
Pulang ke Rumah


__ADS_3

Pagi pun menjelang, matahari juga sudah terlihat bersinar terang, sinarnya menunjukkan bahwa hari ini cuaca akan sangat cerah. Penduduk desa terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Begitu juga dengan Ibu dan Pak Surya yang sudah siap-siap ingin pergi bertugas. Sebelum ibu pergi ke sawah, aku terlebih dahulu berpamitan ingin pulang ke rumah. Sungguh Ibu Wati sangat menghargai seorang tamu, dia bisa percaya kepada diriku yang baru beberapa menit saja di kenalnya.


Ibu terlihat bersedih dan terlihat dari wajahnya sangat berat untuk melepasku. Begitu juga dengan Rangga, terlihat diam terpaku menatapku ketika akan melangkah pergi. Rangga merasa aku adalah wanita yang tepat bila di ajak curhat, padahal selama ini dia tidak pernah menceritakan kisah cintanya yang pahit kepada orang lain. Ku salam Ibu dengan kasih sayangnya memeluk diriku dan mengatakan datanglah ke rumahnya lain kali dan menginap lebih lama lagi. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan melepaskan pelukannya kembali. Aku tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan, membuatku pusing dan terasa cengeng kalau terus menangis.


Giliran sekarang Rangga yang ku salam, dia sedikit tersenyum dengan gigi putihnya membuat dirinya terlihat manis seperti gula aren, biar pun berwarna hitam tapi terasa manis. Dia berpesan hati-hati di jalan dan sering-seringlah datang ke desanya. Dan jika aku datang, dia memintaku untuk segera menghubunginya, agar dia bisa pulang dan bertemu denganku kembali. Aku pun melangkah menuju motor besarku yang sudah terparkir sedari pagi, memakai helm dan jaket yang keren.


Membuat beberapa pasang mata pemuda yang melintas di depan rumah Pak Surya terpukau akan dandananku yang seperti pembalap. Motor melaju dengan kencang seperti pembalap Rossi, menembus jalanan yang masih sepi ketika di pagi hari. Tanpa rasa takut terus melajukan motor dan beberapa jam kemudian sampailah aku di rumah.


Ibu yang melihatku pulang, segera memelukku karena sehari semalam tidak bertemu. Sungguh aku juga kangen kepada ibu, ayah juga menyusulku ke depan, melihat tubuhku yang baik-baik saja, dia merasa tenang. Aku masuk ke dalam rumah ingin beristirahat melepaskan lelah selama diperjalanan. Ku rebahkan tubuh ini di kasur empukku dan bantal guling kesayanganku yang semalaman tidak berjumpa, kangen aku tidak memeluknya. Mencium baunya saja sudah membuatku langsung tertidur.


Rupanya kepulanganku di ketahui oleh keluarga Gilang. Entah siapa yang memberitahu kepulanganku, sampai mereka langsung datang. 1 jam setelah aku beristirahat, Mamanya datang bersama Kak Andre. Mereka membawa oleh-olehyang sangat banyak, yang aku tidak tahu apa isinya.


Aku yang masih tertidur, di bangunkan ibu. dengan masih mengantuk terpaksa bangun dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Keluar dari kamar terdengar perbincangan antar Ibu dan Mama Gilang yang terdengar bahagia. Mama Gilang yang melihatku langsung tersenyum dan melangkah mendekatinya. Dimintanya agar duduk di samping dirinya.


" Nisa, bisakah kita bicara hanya berdua saja," ucap Mama Gilang kepada diriku, Yasudah terlebih dahulu mengatakan kepada Ibu.


" Mengapa Tante, apakah ada hal yang penting," tanyaku yang merasa curiga akan kedatangan tante ada hubungannya dengan telepon dari keponakannya semalam pagi.


" Iya Sa, bisa...," ucap Mama Gilang sambil memohon.


" Di mana Tante? tanyaku yang melihat sekeliling ruangan rumahku yangbtidak mempunyai ruangan khusus seperti ruang kerja.


" Sebaiknya kita di tamanmu yang ada di belakang saja,"ucap Tante mengatakan tempat yang nyaman untuk berdua.


Ku lihat ibu memperhatikan kami berdua. Ku tatap Ibu ingin meminta persetujuannya, dan ibu menganggukkan kepalanya. Akhirnya kuturuti kemauan Tante Dewi. Kami berdua berjalan ke taman belakang rumah.


Kupersilahkan tante duduk.


" Ada apa Tan???,"tanyaku kepada Mama Gilang


" Ada yang ingin Tante sampaikan," ucap Mama Gilangbyang duduk di salah satu kursi taman.


" Iya,mengenai apa Tan...,"tanyak kepada Tante


" Tentang Gilang, apakah kamubmengira Gilang selingkuh? ucap Tante Dewi yang langsung ke inti permasalahannya.


Aku menggelengkan kepalaku, mendengarkan pertanyaan Tante Dewi. Hati kecilku juga menyangkal bahwa dia tidak selingkuh.


"Alhamdulillah, tante bahagia kamu masih percaya kepada Gilang. Sherly adalah Keponakan tante, dia baru saja kuliah di sana. Selama dia di sana, Shetly selalu menjaili Gilang sehingga teman wanita Gilang tidak ada yang berani dekat kepadanya. Itu adalah bentuk pengawasannya untuk Gilang," ucap Mama Gilang menjelaskan.

__ADS_1


" Tapi apakah dia tidak melihat nama Nisa di layar ponsel Gilang sewaktu Nisa menelepon? tanyakubkepada Tante Dewi yang merasa heran akan sikap Sherly yang di ceritakan Mama Kak Gilang barusan.


" Dia melihatnya, cuma dia orangnya memang suka jail, dan sekarang jadi kerjaan Tante harus membujukmu," ucap Mama Gilang yang dengan lembut berbicara menjelaskan masalahnya.


Aku tersenyum mendengar perkataan Tante Dewi. Ternyata Mama Kak gilang sangat perduli pada Calon mantunya tapi bagaimana dengan anaknya, apakah anaknya masih perduli padaku?


"Apakah kamu ingin bicara dengan Gilang?," tanya Mama Gilang kepadaku.


Akupun menganggukkan kepalaku, terlihat Tante Dewi mengambil ponselnya di dalam Tas, ingin menghubungi seseorang, yidak butuh lama terhubung melalui VC. Terlihat wajah Kak Gilang di seberang sana dengan tersenyum sambil mengerjakan Tugas kuliahnya.


Ya Allah di hari libur begini saja, dia masih bergelut dengan kuliahnya, bagaima dihari kerja.


Tante Dewi mengarahkan ponselnya kearah dirinya, dia ingin mengerjai puteranya.


" Assalamu'alaikum Ma...," ucap Gilang menatap Mamanya sebentar yang menurut perkiaraanya, hanya Mamanya saja yang menelepon dirinya.


" Wa'alaikum Salam Nak,"


" Ma, Mama Sehat Ma..,"


" Sehat Nak, apakah Mama mengganggu Nak.. ,"ucap Mama Gilang yang melihat anaknya begitu sibuk akan aktivitasnya.


" Nisa susah di bujuk Lang.., Dia masih marah sama kamu, dia tidak mau memaafkanmu Lang, " ucap Tante Dewi yang menjaili Gilang agar Gilang benar-benar tulus.


" Ma..., Gilang pulang aja ya Ma, Gilang gak sanggup kalau pisah dengan Nisa,"


"Kamu harus lebih keras lagi usahanya,"


"Harus bagaimana lagi Ma, kalau Gilang sampai Putus dengan Nisa, lebih baik Gilang Bunuh diri saja Ma...,"


"Eh apa kamu bilang, jangan Coba-coba kamu bilang seperti itu,"


"Habis, harus dengan apa Gilang meminta maaf dengan Nisa, kalau Gilang di rumah mungkin Gilang akan korbankan semuanya, ini Gilang di negeri orang, Gilang pusing Ma, ini semua gara-gara Sherly, si ulet keket,"


"Enak saja kamu menggelar orang,"


"Dia orangnya suka jail Ma..., Gilang kesal sama dia,"


Asik Gilang mengomel tentang Sherly, tiba-tiba Tante Dewi memberikan ponselnya kepadaku dan dia meninggalkan diriku di taman, dengan Keadaan ponsel masih terhubung dengan Gilang. Ku hadapkan kamera ponsel ke hadapanku, tanpa sepengetahuan Gilang yang masih asik dengan tugas kuliahnya.

__ADS_1


" Assalamualaikum," ucapku dengan lembut dan membuat orang yang di seberang sana langsung menatap mendengar suara lembutku.


" Wa...wa'alaikum Salam," ucap Gilang Gugup tidak percaya melihat Wajahku di kamera ponselnya.


" Yang, apa kabar..., ya Allah Yang.... Kakak gak mimpikan Yang..., Kakak kangen banget Yang...., ingin Kakak segera Pulang dan memeluk dirimu di sana. Mana makin cantik lagi kamu, ih...gemes deh pingin cubit pipi kamu,"


Aku tersenyum mendengar suara cerewet Gilang yang di lontarkannya karena baru melihat wajahku setelah sekian lama kami tidak berkomunikasi.


"Nisa sehat Kak, bahkan lebih sehat sampai berat badan Nisa naik,"


" Beneran Yang..., jangan gemuk-gemuk Yang..., nanti Kakak gak kuat,"


" Gak kuat ngapai,"


" Gak Kuat ngasih makan kamu,"


" Ah, ada saja Kakak ini,"


" Yang,"


"Ehmm,"


"Maaf kakak ya..., kakak Jarang ngasih kabar ke kamu, bukan kakak Gak sayang lagi sama kamu, tapi Kakak gak konsentrasi kalau sudah telpon kamu, bawaannya mau pulang...aja,"


"Ya sudah, Nisa tutup ya...,"


" Ja...jangan Yang, tanggung belum puas, masih rindu Kakak Yang...,"


" Manja banget sih, mana Kak Gilang yang dulu, si pelatih karate yang dingin dan Cool, malah jadi bucin,"


"Berani kamu ya ngatain Kakak, Kakak Nikahi sekarang baru tahu rasa kamu,"


" Emang berani,"


"Berani!, nantang kamu ya Dek,"


" Gak Kak, Nisa becanda Kak,"


Tidak terasa sudah satu jam kami masih berbicara di telpon. Mama Kak Gilang lebih memilih Bergabung dengan Ibu dan Tante Dewi di Toko Kue. Hari ini Annisa ZS bakery kupercayakan kepada Citra, dia sudah mengerti tentang bisnis, jadi aman di tangan dia.

__ADS_1


Obrolan kami pun selesai, aku mencari Mama Kak Gilang yang tidak aku temukan, tetapi kak Andre masih setia menunggu di depan. Ku hampiri Kak Andre yang memainkan Game Onlinenya dan duduk tepat di sampingnya.


__ADS_2