
"Ehemm, Sudah gak sabar kakak Dek, beberapa hari lagi saja, terasa sangat lama waktu berputar," Gilang merasa frustasi, hasratnya sudah menggebu. Kalau tidak mikiri anak orang harus pulang dengan utuh. Sudah di sikatnya malam ini juga.
"Kak, Sebaiknya besok selesai acara, Nisa langsung pulang saja ya Kakak," Nisa sedikit memohon memegang tangan Gilang dengan matanya masih.saling menatap.
" Kenapa Yang..., kamu gak kepingin jalan-jalan dulu?," Gilang heran melihat Sikap tunangannya yang memohon seperti anak kecil.
" Gak Kak, Nisa bungung, waktu pernikahan kita kan tinggal 5 hari lagi, Nisa takut, soalnya belum ada persiapan sama sekali di rumah Kak," aku sedikit galau.
"Kenapa harus kamu pikirkan, kamu tinggal duduk manis saja, semua sudah ada yang ngaturnya, Kamu percayalah saja sama Kakak,"Gilang sedikit menenangkan calon istrinya.
" Jadi Nisa duduk aja gitu!,"
" Ya benar, mulai sekarang kamu harus sering minum susu, biar kuat dan sehat," Gilang mengedipkan sebelah matanya yang memiliki sebuah maksud tertentu.
" Ih, jangan aneh-aneh deh Kak, udah pegel ini bibir Nisa," Aku merasa berdebar mendengar sifat mesum Kak Gilang.
"Siapa yang aneh-aneh, belum juga malam pertama udah pegel, sini kakak ajari biar biasa," Gilang semakin mendekat, tapi langsung kuhentikan.
"Stop, udah keluar sana, ngeladeni Kak Gilang terus, Nisa bisa gak waras,"
"He...he..., Selamat tidur, mimpi yang indah Sayang...," Gilang melangkah ingin keluar tetapi berbalik kembali.
" Oh iya, besok pagi dandan yang cantik ya...," Gilang melangkah keluar kamar
Aku menutup pintu, tapi terdengar ketukan lagi dari luar.
Ceklek
" Ada apa lagi Kak," aku sedikit heran, baru aja keluar udah balik lagi.
" Ada yang ketinggalan Sayang...," Gilang berbicara sangat meyakinkan, membuatku penasaran.
Aku memperhatikan sekeliling kamar, merasa tidak ada yang ketinggalan
"Apa yang tertinggal???," tanyaku yang tidak menemukan barang Kak Gilang yang ketinggalan.
" Ini," Gilang menunjuk bibirnya.
" Tadi kan udah Kak....," Wajah Gilang terus menatap bibirku.
" Lagi Dek....," Gilang memohon dengan tidak ada malunya.
" Ih, sebel," Kau kesal akan tingkahnya yang memaksa.
" Cepatan Yang," Gilang sedikit memaksa tetapi tanpa di sangka diriku menyetujuinya.
" Iya," Aku menoleh ke kanan kiri, takut ada yang melihat aksiku. Aku langsung mencium bibirnya sekilas.
Cup
Kak Gilang yang mendapat ciuman seperti mendapat kesempatan. Dia menekan tengkukku dan akhirnya ciumannya semakin dalam. Saling me ***** dan membelit. Aku mendorong dada Kak Gilang karena tidak bisa bernapas. Pasokan udara terasa sudah menipis. Napasku terengah-engah. Tak dapat ku bohongi hatiku, aku juga menikmati ciumannya. Cuma sedikit gengsi, takut di bilang malu-malu kucing. Pura-pura malu tapi di kasih mau.
__ADS_1
" Udah, Sana pergi Kak," ku dorong tubuh Kak Gilang agar segera keluar.
" Oke," kedipan matanya membuatku geleng kepala.
" I Love You," ucapan Gilang di sertai senyuman manis yang sangat menawan dan kepalanya masih mengintip dari pintu.
" Hem," jawabku dingin, menunggu dia agar segera pergi.
" Isss...., gemes deh, kakak ngucapin I Love You, kamu malah gak jawab," Gilang memegang mencubit pipiku yang tidak menjawab ucapannya.
" Is ,sakit, kebiasaan suka nyubit," wajahku kesal dan cemberut di depannya.
" Habis gemes deh sama kamu, sama ininya iya juga," Gilang menempelkan jarinya ke bibirku yang bengkak karena ulahnya.
" Udah ya Kak, Nisa ngantuk," Aku sedikit takut, kak Gilang akan masuk lagi ke dalam kamar.
Gilang mengusak kepalaku, tapi seakan mengharapkan sesuatu, dan dia pun belum juga keluar.
" I Love You Too," jawabku singkat.
" Yes..., Da...da...," Gilang merasa senang, karena cintanya mendapatkan balasan.
Aku geleng kepala melihat kelakuan Kak Gilang yang seperti baru dapat lotre. Aku mengunci pintu dan segera ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi. Selepas itu merebahkan tubuh yang sangat lelah di kasur empuk dan wangi.
Menatap langit kamar yang bersih dan tidak berapa lama mataku terpejam.
Keesokan paginya aku sudah bersiap dan dandan yang cantik. Para Mua di tempah khusus hanya untuk merias wajahku dan Mama Gilang berbicara menggunakan bahasa inggris, membuatku sulit untuk menjawabnya.
Syukurnya Mama Gilang selalu menemani, jadi aku tidak merasa canggung saat mereka mengajakku ngobrol. Acara wisuda akan di mulai. Waktunya telah di nanti telah tiba, Kak Gilang sudah memakai toga masternya. Sungguh sangat tampan. Dan mendapat Predikat cumlaude, patut di beri acungan jempol. Otaknya ternyata sangat cerdas. Berbanding terbalik dengan diriku yang mempunyai kecerdasan di bawah rata-rata.
Bertepatan berakhirnya acara, aku sampai tidak bisa berfoto berduaan dengannya. Aku hanya berdiri menatapnya dan beberapa kali jadi tukang foto.
Nasib-nasib Jauh-jauh datang dari indonesia hanya menjadi fotografer. Kalau di bayar sih untung, ini gratis, pakai pegel lagi. Membuatku bosan berlama-lama berdesakan di antara mereka. Apa mereka gak sadar diriku primadona kampus, malah jadi bahan suruhan. Sungguh menyedihkan. Tapi kesedihanku di ketahui oleh Mama Gilang.
Mama Gilang menarikku dan puteranya, lalu membawa kami berdua foto di studio. Dengan senyum mengembang kami berdua berhasil di foto. Satu buah jepretan yang membuatku hampir jatuh tapi wajahku dengan wajah Kak Gilang sangat dekat dengan bibirku hampir menempel. Bila orang yang melihat bisa salah paham. Alhasil Kak Gilang seperti ingin menciumku dengan memelukku begitu erat. Foto yang sangat intim Seperti foto prewedding.
" Sungguh sangat romantis," Ucap Mam Gilang melihat diriku di peluk puteranya.
" Ma.., jam berapa kita pulang??," aku malu dan mengalihkan topik pembicaraan.
" Kenapa Sa...," Mama Gilang sedikit merasa heran melihat diriku lesu.
Melihat Kak Gilang yang di tarik teman-temannya yang wanita membuatku sesak dan bertambah lelah. Lelah badan dan lelah perasaan.
" Nisa, lelah Ma...," Ucapku yang Merasakan badanku mulai tidak baik-baik saja. Rasanya pegal-pegal dan hatiku perih melihatmu di gandeng cewek lain.
" Baiklah kita pulang sekarang tapi sebelumnya kita isi perut dulu," ajak Mama Gilang yang sudah kelaparan.
" Apakah Nisa tidak ingin jalan-jalan?? rugi lho kalau tidak jalan-jalan, walaupun hanya sebentar," Ucap Papa Gilang berantusias ingin mengajak calon menantunya.
" Emm, Pa...," Nisa terlibat bingung ketika akan mengungkapkan sesuatu. Dia ingin egois pulang sendiri, tapi pulang sendiri juga tidak akan berani. Bisa nyasar ditengah jalan dan tidak akan kembali sampai ke rumah.
__ADS_1
" Ayo Ma..., Kita ajak Nisa dulu jalan-jalan,"ajak Papa Gilang yang langsung menjalan mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Nisa.
" Tapi Pa...," Jawabku gugup
" Tidak ada tapi-tapian, kalau Gilang masih perduli padamu, dia akan menyusul, kalau tidak maka tinggalkan saja dia," Papa Gilang memberikan penekanan, dia juga sedikit jengkel dengan tingkah puteranya.
Mobil melaju membelah jalanan, aku sedikit canggung dengan Mama yang ada di samping diriku. Satu jam perjalanan di mobil membuatku sangat takjub akan keindahan kota itu.
Beberapa jam kemudian
Kak Gilang bolak balik menelepon mamanya tetapi tidak juga diangkat. Begitu juga dengan ponselku, yang berulang kali di hubungi tetapi tidak aktif. Ponselku kehabisan daya. Aku lupa membawa carger sampai tidak ingat mengisi daya pada ponselku.
" Ayo Nisa..., angkat telponku," Gilang prustasi karena panggilannya berulang kali tidak ada yang terhubung.
Mama Gilang yang melihat Nisa yang tidur seperti orang mati sedikit risih mendengar ponsel miliknya berulang kali berbunyi, dia takut tidurku terusik. Dengan sedikit penasaran melihat layar ponsel dan langsung membuatnya kesal. Raut wajahnya dapat di baca suaminya.
" Siapa Ma...?," tanya Papa Gilang yang pirasatnya mengatakan itu puteranya.
" Siapa lagi, anak nakalmu, sudah ada calon istri masih suka aja di tempeli wanita-wanita seksi," jawab Mama Gilang yang sangat kesal mengingat tingkah puteranya di depan calon menantunya.
" Anakku, anak kamu juga kan Ma..." Papa Gilang menoleh kepada istrinya yang masih kesal.
" Tapi nakalnya meniru kamu itu Pa...,"ucap Mama Gilang ketus.
" Iya deh, kalau yang jelek-jelek pasti di bilang niru aku, coba yang baik-baik pasti kamu bilang niru kamu, iya kan..," Papa Gilang menyindir istrinya.
Mama Gilang menunduk, dia merasa bersalah telah memojokkan suaminya. Walaupun dalam hatinya tidak berpikir demikian tetapi ucapannya sedikit menyinggung perasaan suaminya.
" Maafi mama ya Pa..," Mama Gilang mengelus lengan suaminya dan tersenyum.
" Iya, udah angkat telponnya, Gilang pasti sangat khawatir ," Mama Gilang segera menerima panggilan dan di jawab Gilang dengan sedikit keras.
" Ma! Di mana Nisa Ma...," Gilang langsung ngegas tanpa mengucapkan salam.
"Dasar bocah edan, pakai salam gitu kek, jangan langsung nyerocos," Kesal Mama Gilang mendengar ucapan anaknya.
" Maaf Ma..,"
" Nisa sama Mama, bentar lagi kami sampai hotel,"
" Alhamdulillah, Nisa gak kenapa-kenapa kan Ma...,"
" Kamu itu bawa calon istri tidak diperdulikan, dasar bocah gemblung, syukur Nisa gak ngambek, kalau ngambek bisa bahaya kamu gak jadi nikah," Mama Gilang sedikit menggertak agar anaknya menyadari kesalahannya.
" Jangan Ma..., Gilang mau minta maaf sama Nisa Ma...," Gilang merendahkan suaranya dan terdengar manja.
" Iya nanti kalau sampai hotel. Ya udah Mama matikan," Mama Gilang mematikan panggilan sepihak. Dia tidak mau lebih lama menerima panggilan dari anaknya yang sudah bucin.
Tut..
Panggilan berakhir, membuat Gilang kesal. Gilang langsung menunggu di lobi. Dia ingin segera meminta maaf kepada calon istrinya. Sedikit menunggu tidak apalah yang penting perjuangannya.
__ADS_1
********
Jangan lupa Like, Komen ,Vote dan hadiahnya.