Teman Palsu

Teman Palsu
Surat Dari Rini


__ADS_3

Ku buka tas ranselku pemberian dari Kak Gilang di hari ulang tahunku yang ke 17 tahun.



Tas berwarna biru yang biasa selalu ku kenakan ketika ke kampus. Tetapi sudah beberapa hari, tas ini tidak ku pakai kembali semenjak kejadian Arif mengalami kecelakaan.


Ku buka tasnya, ingin mengetahui apa isi didalamnya. Ketika ku bongkar isinya, Sepucuk surat, kulihat di sampulnya atas nama Rini.


Ya Allah..., aku lupa, Arif telah memberiku sepucuk surat dari Rini tentang permintaan maafnya. Ku buka lipatan suratnya dan ku baca.


Teruntuk Annisa Zakira sahabatku,


Bertahun-tahun Bersama dengan dirimu telah menjadi salah satu hal paling menakjubkan yang terjadi pada hidupku. Kamu tidak lain adalah seseorang sahabat yang baik hati, perhatian, peduli, dan sayang padaku. Kamu seperti saudara perempuanku, tempat ku mencurahkan keluh kesah dan kesedihanku. Terlepas dari semua itu, aku meragukan niat dan ketulusanmu berteman denganku. Biasanya aku bukan orang yang terlalu perduli, tetapi kali ini, aku tahu bahwa ketakutanku atau kecemasanku menjadi lebih menguasai diriku. Aku menjadi sedikit gelisah tentang akan kemungkinan kehilangan hubungan persahabatan ini.


Aku sadar, jauh di lubuk hatimu, kamu 100 persen masih membenciku dan sangat membenciku. Aku sangat menyesal karena sudah menjebakmu sehingga membuat trauma yang terlalu dalam dan membuat keluargamu terluka. Sehingga masyarakat juga membencimu. Sampai-sampai mampu membuat mereka percaya bahwa kamu adalah wanita seperti yang dipikirkan mereka. Maafkan aku Annisa..., Apakah masih adakah lagi maafmu untukku...? Aku ingin kita menghabis kan waktu bersama seperti dulu lagi Annisa...


Aku ingin berubah dan akan berusaha agar kamu lebih percaya dan memberikan aku kesempatan satu kali lagi untuk bersahabat denganmu. Aku ingin ketika kau sudah memaafkan diriku, kau menungguku di depan pintu gerbang ketika aku akan bebas nanti. Aku mohon Sa, Maafkanlah aku...


Annisa friend best forever


Salam rindu Rini Sakira Nugraha


Aku menangis membaca surat dari Rini, teringat akan kebersamaan kami semenjak sekolah. Belum sembuh luka yang di berikan Rini kepadaku, Papanya juga sering meneror diriku, menaruh dendam dan aku berharap penderitaan ini sudah berakhir. Kupeluk surat darinya mencurahkan semua kerinduanku pada dirinya, penyesalan datang di belakang hari.


Ku simpan surat dari Rini di dalam Diaryku. sebuah diary yang sudah lama tidak kubuka dari seseorang berinisial GP, Ku buka kembali diary yang selalu menemani di hari-hari aku mengalami keterpurukan. Hanya dialah tempatku mengadu dan mencurahkan keluh kesahku. Jam menunjukkan sudah pagi sehabis salat subuh aku tidak membantu ibu didapur. Ku langkahkah kakiku yang tertatih-tatih menuju meja ingin meletakkan Diaryku di atas meja.


Ketika ibu memanggil, diary yang ingin ku letakkan di atas meja terlepas dari tanganku dan terjatuh ke lantai.


"Iya buk, bentar," ucapku dari dalam kamar kepada ibu yang memanggilku untuk sarapan. Kuambil diaryku yang terjatuh dilantai, ku lihat ada sebuah foto yang hampir keluar dari dalamnya dan aku penasaran foto siapakah itu?


Alangkah terkejutnya diriku, foto yang ku lihat adalah foto Kak Gilang. Apakah diary ini adalah pemberian darinya?

__ADS_1


Ya Allah..., apakah Kak Gilang memang jodohku, kalau memang Kak Gilang adalah jodohku, jagalah hati kami berdua yang Allah...


Aku melangkah menemui ibu untuk sarapan. membayangkan betapa repotnya ibu menata hidangan di pagi ini, kenapa ku bisa lupa membantu ibu. Ayah, Ibu dan Bang Raga sudah menyantap menu di meja makan. Makan dalam diam tanpa ada yang bersuara.


Selesai sarapan ayah segera bersiap akan berangkat ke sekolah. Aku yang melihat ayah akan pergi segera menghampiri ayah karena ada yang ingin aku sampaikan.


"Ayah, nanti pulang dari sekolah ayah langsung pulangkan? ucap Nisa kepada ayahnya.


" Iya ayah akan pulang cepat, ada apa Dek, kamu seperti gelisah,"ucap ayah meneliti raut wajahku.


" Ayah, hari ini di depan Ayah dan Ibu Nisa ingin memberikan jawaban untuk Kak Gilang Yah.., Kak Gilang akan datang sehabis Zuhur, Nisa harap Ayah sebelum Zuhur sudah sampai di rumah,"ucap Annisa kepada ayahnya.


" Iya, Ayah akan cepat pulang untuk kamu, untuk puteri Ayah," ucap Ayah membelai kepalaku.


" Ayah janji...," ucapku memeluk ayah.


"Iya janji, Ayah pergi dulu ya, kamu tidak kuliah Dek ?" ucap Ayah berjalan keluar ingin mengambil motornya.


" Ya sudah sana bantu ibumu di toko, Assalamualaikum," ucap Ayah kepadaku.


" Wa'alaikum salam, hati-hati yah," ucapku melambaikan tangan kepada ayah.


****


Hari ini adalah hari yang di nanti Gilang, karena di hari ini Annisa akan menjawab keputusannya. Gilang berharap keputusan yang diambil Annisa adalah keputusan yang terbaik, dia tidak ingin memaksa kehendaknya kepada Annisa karena cinta itu tidak bisa di paksakan.


Ting


satu chat masuk ke ponsel Gilang, atas nama pujaan hati.


'Kak nanti siang sehabis salat zuhur, Kakak datang ke rumah ya, ada yang akan Annisa sampaikan.'

__ADS_1


'Oke, kakak akan datang, 'balasan Gilang pun terkirim segera.


Gilang tampak semangat menunggu siang hari kalau perlu jam cepat berjalan supaya secepatnya datang ke rumah Annisa. Mamanya memperhatikan tingkah anaknya yang tidak seperti biasanya merasa senang, hari-hari anaknya menjadi lebih dewasa.


"Lang, kamu hari ini tidak ke rumah Annisa, Lang...?ucap mama Gilang.


" Iya Ma, ke rumahnya, nanti siang Sehabis Zuhur,"ucap Gilang sambil melahap sarapannya.


" Mama ikut ya, mama kangen sama Nisa, Mama ingin ajak Nisa belanja bareng, boleh kan Pa?ucap Mama Gilang.


" Boleh, tapi Papa ikut," ucap Papa antusias


" Papa kok ikut sih..., nanti Mama gak bisa jalan bareng sama calon mantu Mama,"


ucap Mama Gilang.


" Papa mau minum Kopi kesukaan Papa di Coffe shop milik Tantenya Annisa, sekalian mau ngobrol bareng sama Yudi suami si Devi," ucap Papa Gilang.


" Papa dan Mama mengganggu saja, Gilang kan mau berduaan sama Nisa," ucap Gilang manja kepada Mamanya.


" Eh...jangan sering berduaan, ingat batasan," ucap Mama Gilang mengingatkan.


" Iya ma, Gilang juga sudah dewasa, Gilang ingat, mana yang baik dan yang buruk Ma," jawab Gilang kepada mamanya.


" Bagus," ucap Mama Gilang.


*****


Seorang gadis melantunkan lagu dengan diiringi musik gitarnya duduk menghibur para pengunjung coffe shop milik Tante Devi. Lantunan lagu yang di bawakan Annisa sangat merdu, membuat para pengunjung semakin menikmati kopi mereka. Bima, seorang perwira yang ditugaskan Gilang ikut mengawasi Annisa terpaksa hanya bisa mengagumi Annisa, Tetapi tidak bisa untuk memilikinya. Tugas dan asmara tidak bisa di satukan, harus ada salah satu yang diperjuangkan.


Aku menghayati lagu yang ku bawakan, lagu yang sering kunyanyikan dengan Teman Bang Raga dulu. Sungguh menyentuh siapa saja yang mendengarnya. Inilah ungkapan hatiku pada seseorang yang selama ini aku sukai. Kenyamanan bersamanya selama ini membuat diriku jatuh cinta kepadanya.

__ADS_1


Alunan demi alunan yang terdengar dari petikan gitar yang kubawakan, dilihat Kak Bima terus dari jauh. Dia terlihat senang dengan lagu yang ku nyanyikan sambil menikmati secangkir kopi dan sepiring kue. Duduk sendiri di pojokan membuat dia leluasa memandang sekeliling ruangan dan pelanggan yang minum di tempat itu.


__ADS_2