Teman Palsu

Teman Palsu
Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Sungguh membuatku tersipu malu dan entahlah di perutku bagai berterbangan kupu-kupu cantik yang menemaniku ketika aku sedang dirayu dan terbuai akan sikap romantisnya.


Kami tiba di taman yang indah, letaknya tepat berada di belakang rumah Kak Gilang. Aku dan Kak Gilang mengambil duduk di bawah pohon yang rindang. Tempat yang asri dan sangat sejuk, begitu banyak bunga bermekaran dan pepohonan yang lagi berbuah lebat di sana.


Angin bertiup membuat diriku sedikit mengantuk, sayup-sayup terdengar suara azan Zuhur, menandakan bahwa waktu sudah semakin siang. Aku Libur satu minggu ini tidak bisa melaksanakan shalat. Biasalah rutinitas wanita setiap bulannya.


" Apakah kamu suka dengan tempatnya Dek?," Tanya Kak Gilang kepadaku yang menikmati suasana taman di belakang rumah dengan pandangan masih mengelilingi kawasan taman.


" Iya di sini nyaman sekali...," jawabku yang sangat nyaman merentangkan kedua tanganku merasakan tiupan angin yang menyapu wajahku. Membuatku ingin memejamkan mata ketika merasakannya.


" Benar Dek, nyaman banget malah, apalagi dekat kamu gini, makin nyaman rasanya," ucapnya yang menyandarkan kepalanya di pundakku. Hembusan napasnya sampai mengenai wajahku.


" Gombal," ucapku bergeser agar tidak terlalu menempel dan ingin mengurangi kegugupanku.


" Benaran lho sayang...," ucap Gilang dengan tersenyum manis, melihat aku gugup yang menjauhi dirinya.


" Kalau Adek mau, Kakak akan membuatkan taman seperti ini untukmu, jika nanti kita sudah punya rumah sendiri," ucap Gilang yang sudah mengatakan impiannya ketika sudah menikah.


Keningku sedikit berkerut mencerna perkataan Kak Gilang.


" Emangnya beli rumah seperti beli kacang goreng," ucapku yang menyela perkataan Gilang.


"Kamu meragukan Kakak, Honey," ucap Kak Gilang yang tersenyum manis menatap wajahku yang sangat dekat dengan wajahnya.


Aku terperanjat mendengar kata romantisnya, sungguh mendebarkan jantungku. Wajahnya kembali mendekat sampai kami bagai bertukar oksigen dengannya. Wangi mint dari tubuhnya membius urat sarapku. Persekian detik aku terpejam, ingin merasakan kelanjutan yang ku rasakan. Lama aku memejamkan mata tidak ada benda kenyal yang menempel di bibirku.


" Ehemm, Kamu ngarep Dek udah gak sabar ya," ucap Kak Gilang menjaili diriku.


Ha! apes deh, yang nyosor duluan biasanya kan Kak Gilang. Loh Aku yang di bilang ngarep.


" Ih, sebel deh, makanya jangan deket -deket," ucapku yang sudah merajuk.


" Adek merajuk ya karena kakak tidak jadi cium," ucap Kembali Gilang yang ingin tahu jawaban dari mulutku.


"Siapa juga yang merajuk," ucapku dengan tenang.


" Kakaklah yang bilang dan hati Kakak mengatakan kalau Adek juga pingin" ucap Gilang seenaknya aja berbicara dengan wajah manisnya.


" Pingin apaan???," Tanyaku penasaran.


"Pingin di ciumlah ," ucap Gilang dengan santainya.


Aku mengerucutkan kembali bibirku yang seperti ikan lumba-lumba.

__ADS_1


" Jangan menggodaku Dek, bibir kamu itu sepertinya enak banget dan manis kalau di cicipi," Ujar Gilang menggoda diriku.


" Jangan Macam-macam," ujarku sudah memasang kuda-kuda untuk menendang Kak Gilang bila macam-macam.


" Ih siapa juga yang mau macam-macam ," elak Gilang karena takut malu tapi mau.


" Kakaklah," ucapku asal dan sedikit membelakanginya.


" Aku masih memasang wajah jutekku dan masih mengerucutkan bibirku. Dengan gerakan cepat Kakak Gilang mendekat.


CUP


" Kak!!!.," jeritku ketika baru merasakan benda kenyal yang menyentuh bibirku. Walaupun Kak Gilang mencuri ciuman, tapi sudah membuat jantungku mau copot.


" Ha...ha..., kejar kakak kalau bisa, makanya jangan menggoda Kakak Dek...," aksi kejar-kejaran pun terjadi. Aku letih mengejarnya seperti anak kecil. Peluh bercucuran di tubuhku. Kurebahkan tubuhku di pendopo taman yang lumayan lebar. Kak gilang merebahkan tubuhnya juga di sampingku. Tangannya memegang erat tanganku. Dan kami saling tatap dan berpegangan tangan.


Dari balik jendela seorang wanita paruh baya melihat aksi kejar-kejaran kami. Kami berdua bercanda dan tertawa bersama. Sungguh membuat hatinya bahagia. Hal itu dapat menghilangkan rasa sakit kepalanya akan masalah yang baru di hadapinya. Dia pun pergi kekamar mandi ingin mengambil Wudu dan melaksanakan shalat zuhur. Memohon kepada Allah mencurahkan segala keluh kesah dan meminta agar selalu dimudahkan segala urusan dan dijauhkan dari marabahaya.


"Kakak mesum.....," ucapku kepadanya.


" Cuma sama kamu mesumnya, cicil sedikit kan boleh sebelum sah," ucap Gilang dengan entengnya.


" Ih dosa tau," jawabku mengingatkannya."Nanti Nisa batali nikahinya lho," ucapku yang sedikit mengancam dan membuatmu terkejut.


" ih..., rasai," cubitan kecil di paha Kak Gilang membuatnya meringis.


" Aduh!!!! sakit???, Mama, Annisa jahat Ma...., " adu Gilang memanggil Mamanya yang lumayan kuat.


" Rasain, ngadu terus gak takut Nisa..,"ucapku yang terlalu berani padahal kalau benaran Mama Kak Gilang datang pasti aku langsung menciut. Kalau bisa bersembunyi di lubang semut.


" Sudah berani kamu ya..," gemas Gilang memegang daguku.


" Biarin, ternodakan bibir aku, gimana ni...," ucapku yang polos.


"Sini Kakak hapus ciumannya," Ucap Gilang menjalani dan ujung-ujungnya mesum kembali.


" Ha, berani macam-macam Lagi, mau kakak hapus pakai apa? pakai bibir juga," emosiku meledak karena Gilang terus bercerita tentang ciuman.


"Iya, kamu mau tidak" tanya Gilang mengedipkan sebelah matanya.


" Mau, tapi rasai bogeman Nisa dulu," Aku mengepalakan tanganku dan ku tujukan marah wajahnya.


"Ih...serem Dek, ampun..."ucap Gilang yang menghindar melihat kepalan tanganku.

__ADS_1


" Kak shalat sono, nanti lewat lho waktunya," terangku kepadanya.


" Ih solehanya... calon istriku telah mengingatkan Calon suaminya shalat," puji ksk Gilang membuat aku tersipu malu.


" Ih, ini ngejek aja," ucapku yang sedikit melenceng.


" Kok ngejek sih..., kan emang benar, ayo kita jamaah saja ya Dek," ajak Gilang memegang tanganku.


" He...he..., Aku gak bisa shalat," ucapku mengatankannya sedikit malu.


" Kenapa?," tanya Kak Gilang yang pura bodoh.


" Biasalah, kedatangan tamu," kujelaskan tapi sedikit malu.


" Ayo temani kakak," Gilang menarik tanganku masuk kembali kedalam rumahnya. Para pelayan yang mengintip kemesraan Golang dan Annisa mengigit jari mereka, ada perasaan iri dan rasa bahagia melanda hati mereka. Karena selama ini Gilang yang mereka kenal sangat pendiam dan Belum pernah sama sekali membawa seorang wanita bertamu ke rumah.


Aku mengganggukkan kepalaku mengiyakan ajakan Kak Gilang. Sungguh indahnya bila bermesraan. Tidak sabar menunggu waktunya sampai kami resmi menjadi suami istri. berharap rumah tangga kami nantinya akan harmonis. Semoga Allah membahagiakan kami berdua dan selalu bersama sampai maut memisahkan.


Satu minggu kemudian


Di Hotel bintang lima telah di adakan resepsi pernikahan seorang pengusaha Kaya nomor 2 di kota itu. Siapa lagi kalau bukan resepsi pernikahan Dirga Guntara dengan Rini Sakira Nugraha.


Tamu-tamu terlihat antusias melihat pengantin wanita yang menurut khalayak ramai masih sangat muda dan sangat cantik. Keburukan Dirga belumlah terlihat. Karena acara puncak akan di lakukan satu jam mendatang. Musisi band sengaja di undang untuk menghibur sepasang pengantin yang sudah basi dan bau. Maksudnya Bau-bau kebusukan.


Yang laki-laki sudah karatan. Dan Yang pengantin wanita sudah kegatelan. Sangkin gatelnya rela menjadi selingkuhan.


Hari ini diriku memakai gaun yang indah ingin menghadiri perta pernikahan Sahabatku Rini. Sudah satu bulan lebih mereka Menikah tapi baru mengadakan resepsi sekarang. Aku sebenarnya tidak mendapatkan undangan, taapi aku diajak keluarga Gilanguntuk wmnghadiri acara itu. Resepsi diadakan karena Dirga baru mengetahui kalau Rini telah mengandung anaknya. Sehingga Dirga dengan sukarela membuat pesta yang besar untuk menyambut calon buah hatinya.


Para MUA sudah selesai mendandani pengantin Wanita. Kemudian MC meminta agar pengantin wanita segera turun untuk menyambut para tamu. Dirga berjalan menaiki tangga menyambut istrinya berbalut gaun yang indah tersenyum manis memperlihat gigi putihnya, begitu pun dengan Dirga. Dia memakai tuxedo berwarna hitam yang memperlihatkan dirinya sangat gagah dengan menebarkan senyumannya kepada para undangan.


Aku dan Kak Gilang melihat mereka sangat bahagia. Sebentar lagi giliranku yang akan bersandar di pelaminan seperti mereka. Oh kutunggu waktu itu sampai tiba. Setiap hari ku lingkari kalenderku yang ada di rumah.


Tibalah acara yang di nanti-nanti mempelai di minta duduk bersanding di pelaminan dan diminta memberikan kata sambutan untuk para undangan.


Lampu tiba-tiba padam, hanya memperlihatkan lampu sorot yang menyorot sepasang pengantin yang sedang berdiri di pelaminan. Dirga dengan gagahnya memberikan Ucapan terima kasih kepada Para undangan. Para undangan begitu antusias ingin menyalami permaisuri dan Raja sehari yang sangat tampan dan juga cantik. Tetapi MC dengan keahliannya berbicara menyebutkan sesuatu yang membuat para tamu dan sepasang pengantin baru bertanya-tanya.


"Inilah acara puncak malam hari ini, sebuah surprise dari pengusaha nomor 1 di kota ini. Dia berharap surprise ini bisa menjadi sebuah kado terindah yang sangat berharga dan akan di kenang sampai maut memisahkan. para hadirin semua, mari kita lihat surprise yang telah diberikan, dan kita hitung mundur sama-sama, 3...., 2...., 1....," teriak MC dengan semangatnya dan suara keras menggelegar memenuhi ruangan. MC yang sudah di bayar mahal oleh Yuda untuk memeriahkan acara resepsi pernikahan Dirga dan Rini, sepasang suami istri yang licik.


Surprise ini membuat Dirga bertanya-tanya, hati kecilnya merasa tidak enak. Dirga mempunyai pirasat bahwa hadiah ini adalah berita ingin menjatuhkan dirinya. Tangannya terasa dingin. Keringat bercucuran dari dahinya. Rini dengan gaya pongahnya membusungkan dadanya seolah dirinya berhak mendapat surprise yang sangat berharga dari kalangan bisnisnya. Dia membayangkan hadiah itu adalah Sebongkah berlian atau permata atau intan yang sangat berkilau. Dia tidak sadar pengusaha nomor 1 itu adalah Keluarga Yuda, saingan berat suaminya.


* * * * * * *


Apa ya... surprise yang di berikan Keluarga Yuda untuk sepasang pengantin itu? ikuti kelanjutan ceritanya.

__ADS_1


Jangan lupa Like, komen, Vote dan Hadiahnya yang banyak ya...


__ADS_2