
Hari sudah sore, bang Raga Mengajakku jalan-jalan ke Taman Kota sambil naik sepeda motornya. Aku terheran, tumben Bang Raga mau ngajakku jalan sore-sore, biasanya ogah. Ku turuti saja kemauannya dan duduk tenang di motornya dengan perasaan bahagia. Di sore minggu begini, Taman Kota sangat ramai, banyak jajanan pasar dan permainan yang menjadi iri diriku karena di waktu kecil tidak pernah menaikinya.
Aku berjalan berdampingan dengan Abangku, banyak pasangan muda-mudi yang lagi makan bersama tepat di salah satu warung bakso itu. Bang Raga menghentikan langkahnya di depan warung bakso dan mengeluarkan ponselnya. Aku bingung mau beli bakso kenapa harus nelpon dulu sih, apa sekarang pesan baksonya sudah canggih ya, pakai telpon saja baksonya, dalam waktu sebentar langsung datang. Jadi bakso online gitu, padahal berjalan 5 langkah juga sudah sampai langsung duduk di warungnya.
Mungkin diriku yang terlalu polos, di suruh nunggu ya nunggu, disuruh berhenti berjalan ya berhenti, tapi sudah setengah jam tidak ada juga makanan atau minuman yang lewat ke leherku. Ah, Bang Raga terlalu pelit. Pelit atau bakhil ya..., sama saja itu.
Ternyata, eh ternyata Bang Raga janjian dengan seorang gadis, dan aku hanya dijadikan umpan disitu, supaya si gadis ini mau di ajak kencan bersamanya. Sial, jadi umpan nyamuk sore-sore begini. Belum malam juga, nyamuk saja belum muncul, tetapi aku sudah ngasih umpan duluan.
Aku merasa kenal dengan gadis ini tapi di mana ya.., seperti gak asing wajahnya. Gadis itu tersenyum tulus dan terlihat sangat menghormatiku seperti dia menghormati seorang majikan. Siapa dirinya? kepalaku pusing memikirkannya. Gadis itu duduk tepat di hadapan Bang Raga. Bang Raga langsung memesan bakso 3 mangkuk. Ah, begini rasanya jadi jomblo ya, gak ada pasangan terasa sepi. Ku lirik kembali gadis yang membuat aku penasaran, tapi memori kepalaku rasanya penuh, gak ingat lagi siapa gadis di sebelahku ini.
Mereka asik berbincang berdua, sedangkan aku hanya menguping di sebelah mereka. Ah, panas telingaku, rasanya gendang telingaku seperti terbakar. Ditengah -tengah makan, mereka mengucapkan kata-kata romantis, dan saling berpegangan tangan. Aku yang mendengar pembicaraan dan melihat tingkah malu-malu mereka, langsung tersedak.
Uhuk
Uhuk
Mata Bang Raga sudah mau keluar dari sarangnya, melihat diriku yang mengganggu momen romantisnya. Apes diriku hari ini, di cueki, di pelototi, tersedak pula lagi. Nasib...nasib...
Emak...jemput Nisa mak..., Nisa gak kuat di panasi...
Ku habiskan cepat baksoku, ingin rasanya menjauh dari tempat ini. Kurang ajar Bang Raga, sengaja ngajak aku, apa mau mengerjai atau bagaimana.
Kulangkahkan kakiku ingin ke toilet, tapi berbelok ke tempat lain, tempat permainan Pancing-pancingan ikan lele benaran. Walaupun permainan anak-anak tapi aku suka, menguji kesabaran untuk mendapatkan sesuatu.
Aku duduk di pinggir tempat pancingan tersebut, meminta sebuah pancing dan yang punya permainan mengatakan,
" Anaknya mana Mbak?," ucap pemilik permainan pancingan yang heran melihatku tidak membawa seorang anak, tetapi malah memesan alat pancing.
" Anak gundulmu, aku aja belum nikah Bang, kok nanya anak," ucapku yang kesal dengan perkataan si Abang pancing.
" Emang untuk siapa pancingnya mbak," tanya Abang itu kembali.
" Ya untuk akulah, untuk siapa lagi," ucapku dengan dingin.
" Ha...ha..., gak ada pasangannya ya Mbak, kesepian dong," ucap Si Abang yang mengejek diriku, tetapi ketika matanya tidak sengaja melihat cincin di jari manisku, abang itu langsung terdiam.
" Pasangan saya lagi di ujung dunia Bang,"ucapku menjelaskan.
" Kasihan," ucap Si Abang mengiba dan perkataannya sangat pelan.
__ADS_1
" Kenapa bang," ucapku yang merasa tidak mendengar perkataan si Abang.
" Gak apa-apa Mbak, saya pun mau jadi pasangan Mbak sementara dan rela Mbak pancing," ucap Si Abang bercanda.
" Iiihh..., Abangnya mau..., Sayanya ogah..., dasar tukang pancing gatel," ucapku mengejek tukang pancing itu.
" Sini mana Pancingnya Bang!!!," ucapku yang sudah emosi.
" Mbak ini, galak banget," ucap Si Abang yang takut melihat aku marah.
" Abang pernah gak di gigit singa? tanyaku kepada si Abang.
" Gak Mbak, belum pernah," ucap tukang pancing yang polos.
" Sini biar saya gigit," ucapku dengan santainya.
" Eh...eh..., jangan Mbak, serem deh kalau si Mbaknya marah, coba tersenyum Mbak Pasti imut," ucap Abang tukang pancing bercanda dengan menempelkan kedua jarinya di pipi kiri dan kanan dengan senyuman mengembang.
" Imut...imut..., emangnya marmut,"ucapku mencela Ucapan Abang Pancing.
Entah kenapa moodku hari ini memburuk, kesal sekali aku hari ini. Entah mengapa seharian aku tukang ngomel, kayak lagi PMS.
Aku pun mencoba mencari taksi, tapi azan maghrib terdengar berkumandang. Ku batalkan niatku untuk pulang, dan menuju Mesjid yang berada di Taman Kota. Tenang hati ini mendengar lantuanan ayat suci Alqur'an dari Imam yang membawakan dengan suara merdunya. membuat hati ini tersentuh untuk selalu menghadapmu. Selesai shalat, aku teringat dengan apa aku pulang ke rumah dan hari juga sudah malam. Segera ku buka mukena dan melipatnya. Meninggalkan Mesjid dan mencari taksi untuk pulang. Aku teringat Kak Andre selalu mendampingi aku pergi. Ku cari nama Kak Andre di ponselku, tidak menunggu lama pun terhubung.
" Hallo Kak, Kakak di mana?,"
" Di jalan ada apa Dek? Bisa jemput Nisa Kak...,"
" Ya tunggu 5 menit,"
Ponsel pun mati, Aku bingung waktu 5 menit, cepat benar, apakah dari tadi Kak Andre sudah membuntutiku, sampai dia langsung siaga begitu ku panggil. Ah, terserah yang penting aku sampai di rumah, akan aku tanya nanti kalau sudah tiba.
Dan benar saja tidak sampai 5 menit, dia sudah berada di hadapanku. Kak.Andre.memberikan Jaketnya kepadaku, tanpa zadar tercium di hidungku. Wangi parfum dari tubuhnya sangat segar seperti pria yang ingin berkencan dengan pacarnya. Cerita pacar aku jadi kangen Kak Gilang. Aku naik ke motor Kak Andre, tapi dia belum juga menyalakan motornya.
" Ada apa Kak," tanyaku kepada Kak Andre yang belum menyalakan motornya.
iiihhh, ini batu atau tunggul sih, di tanya juga gak mau jawab.
" Kalau Kakak Gak mau jawab, Nisa turun nih," ancamku kepada Kak Andre.
__ADS_1
" Kamu pakai dulu jaketnya," ucap Kak Andre memerintah.
" He...he...iya, Nisa lupa," ucapku karena terlena dengan wangi parfum Kak Andre.
Motor pun melaju memebelah jalanan, di tengah perjalanan yang ramai, banyak pedagang kakai lima menjual makanan. Kak Andre menghentikan motornya. Dan menarik tanganku untuk masuk ke tempat makan.
Busyet ini orang main tarik aja, basa basi kek kalau ngajak makan. Dasar batu!
" Kamu mengumpat Kakak Ya," ucap Kak Andre yang langsung menebak isi hatiku yang mengumpat Kak Andre.
" Eng..gak Kak, siapa yang mengumpat Kakak, Kak Andre kan orangnya baik hati, mana mungkin Nisa mengumpat Kakak," ucapku yang pura-pura karena Kak Andre mendengar umpatan dariku, yang sudah seperti paranormal.
" Baguslah," ucap Kak andre dengan ketusnya.
" Ha, apa Kak," ucapku yang merasa samar-samar mendengar suaranya.
" Sejak kapan kamu tuli," ucap Kak Andre ketus dan dingin.
Ih ini orang hari ini dingin banget sih, kesalnya aku hari ini. Kenapa sih ada yang tega sama aku. Pasti dia balas dendam karena ku cubit tadi siang.
Kak Andre memesan makanan, aku disuruh memilih manu yang tersedia. Kupilih saja mie goreng seafood dan minumnya serahkan Kak Andre. Dalam beberapa menit makanan pun tersaji. Aku langsung melahap makanan yang tersedia di meja. Sungguh menggiurkan lidahku, begitu masuk ke mulutku. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa dan pedasnya, waw gila...
Kak, rasai deh mie Nisa, enak banget lho Kak?,"
ucapku kepada Kak Andre yang santai memakan nasi goreng sea foodnya.
" Satu detik, dua detik, Sampi 5 menit tidak ada respon.
Dasar manusia batu!
Kak Andre menatapku tajam, seakan dia tahu aku mengumpatnya kembali. Aku langsung tertunduk, takut nanti Kak Andre kan memakan tubuhku karena dia emosi denganku. Makaku pun selesai tanpa melihat karena ponselku, aku merasa santai seperti tidak terjadi apa-apa dengan mulutku.
Kak Andre yang melihat mulutku yang belepotan segera mengambil tisu dan menyapukannya ke mulutku. Aku terkejut dan merasa tersihir mendapat perlakuan dari Kak Andre. Ku pukul kepalaku, menolak perasaan yang mendarat di pikiranku.
" Ehemm", deheman Kak Andre mencairkan suasana antara kami yang saling canggung.
Aku mengajak Kak Andre segera pulang karena hari sudah malam, takut terkena marah Ibu, karena sudah malam belum tiba di rumah. Motor melaju jalan raya, dinginnya malam terasa menusuk kulit, walaupun sudah memakai jaket tetapi telapak tanganku terasa dingin.
Kak Andre merasakan aku yang terus bergerak di belakang badannya. Ditariknya tanganku untuk memeluk pinggangnya. Aku sadar dan menarik kembali tanganku. Aku masih sadar bahwa aku adalah tunangan orang, tidak pantas menurutku berpegangan dengan pemuda lain di saat begini. Kalau masih bisa di cegah, ya harus di cegah sebelum perbuatan dosa terjadi.
__ADS_1