
" Nisa, tolong kami Nisa, abang-abang ini serem,"
" Iya bentar, tunggu aja di situ,"
Ponsel segeraku matikan, Ibu yang masih di sampingku melihat sinetron pagi yang sangat serius, merasa terganggu karena ke seriusan telah ku usik. Aku menceritakan kepada ibu, bahwa ada temanku di luar untuk menjengukku pagi ini yang di halangi masuk sama anak buah Kak Andre.
Ibu yang merasa penasaran segera melihat keluar. Dilihat Ibu, pemuda lima orang dengan penampilan seperti pemain band.
Ibu berbicara kepada anak buah Andre dan terjadi sedikit perdebatan. Dengan sedikit pertimbangan akhirnya mereka mengizinkan masuk. Dengan syarat jangan buat keributan ketika di dalam.
Uge dan teman-temannya merasa senang dan akhirnya mereka dapat melewati pengawal dengan gembira.
"Assalamualaikum," ucap Uge ketika masuk.
"Wa'alaikum Salam,"ucap ku menjawab salam mereka yang masih berada di tempat tidur.
Rudi segera meletakkan buah tangan kiriman dari Ibu Uge yang sangat banyak di atas meja, sampai dia kesusahan membawanya. Dan tangannya sudah pegal karena terlalu lama menjinjing beberapa kantung plastik sewaktu di luar.
"Kenapa harus repot-repot bawa beginian?," ucap Ibu yang melihat satu kantung buah mangga, buah jeruk, durian dan sekotak kue bolu.
"Gak apa-apa Bu, itu kiriman Ibu Uge, hasil panen sendiri dan itu kuenya juga buatan ibu," ucap Uge dengan ramahnya menceritakan buah tangannya.
"Jadi merepotkan Nak..." ucap Ibunya tidak enak kepada Uge dengan bawaan teman-teman Nisa yang terlalu banyak.
" Ya Allah penampilan kalian..., mau konser di mana Ge?," ucapku yang terheran melihat gaya mereka yang sangat keren.
" He...he.. , ini ide Dodi pakai stelan kayak gini, eh malah kita di katai anak gak waras kali ya , makanya di tahan," ucap Ifan dengan polosnya.
"Bagus kok, siapa bilang kalian gak waras, cuma tempatnya aja yang kurang tepat, ini kan rumah sakit, agak aneh kalu kalian di sini pakai baju kayak gini, " ucapku menjelaskan kepada mereka.
" Iya bener, syukurnya kita gak di bilang lagi sakit jiwa" ucap Ifan yang suka menceplos kalau lagi ngomong.
" Duduk Nak," ucap Ibu meminta mereka duduk dan tersenyum melihat tingkah mereka. Walaupun mereka dandanannya seperti itu, tetapi masih terlihat kepolosan mereka.
" Iya Bu, terima kasih," ucap mereka bersama dan duduk di sofa dengan sopannya.
" Bu, ini teman-teman Nisa dari Desa Bu, " ucapku yang masih mendapat senyuman dari ibu memandangi mereka satu persatu.
__ADS_1
Mereka memperkenalkan nama mereka, seperti anak SD yang baru pertama kali masuk sekolah. Malu-malu kucing dan sangat menggemaskan.
" Udah lama di luar Ge?," ucapku menyapa Uge yang kalem.
" Belum, tapi sudah buat Aku kesal, ngapai kamu pakai dikawal segala Sa...?, seperti permaisuri yang di jaga ketat tidak boleh keluar dari kerajaan," ucap Uge dengan nada kesalnya.
" Gara-gara kecelakaan semalam, ada yang sengaja buat aku celaka, jadi Kak Andre yang nolong aku langsung waspada, takut mereka akan menyerangku lagi," ucapku kepada Uge dan membuat alis Uge terangkat mendengar penjelasanku.
"Kamu punya musuh Sa," ucap Bayu yang menyimak pembicaraanku dengan Uge.
" Enggak Yu..., cuma motif ini karena ada dendam di masa lalu," ucapku yang menerawang mengingat masalalu ketika Rini sahabatku, ingin melecehkan diriku.
Bayangan kisah itu seakan membuat aku trauma dan membuat ku takut akan terulang kembali. Uge yang melihatku melamun segera berjalan ke ranjangku dan menyadarkanku.
"Sa," ucap Uge menyenggol lenganku dan aku tersentak.
" I...iya Ge, maaf, aku teringat masa laluku, masa lalu yang membuat aku trauma," ucapku yang masih teringat masa lalu pahit yang sangat menyiksa hidupku.
"Maaf Sa, aku gak bermaksud menyinggung masa lalumu," ucap Uge yang merasa bersalah.
" Iyalah, itu malah oleh-olehnya dari ibuku, ibu titip salam sama kamu Sa..., kata ibu calon mantu Ibu jangan lasak-lasak, biar cepat dinikahkan sama aku," ucap Uge dengan mengerlingkan sebelah matanya kepada diriku dan sangat bahagia mengatakan hal itu.
"Ge, aku ingin kamu tidak terlalu berharap padaku, aku sudah bertunangan Ge. Tetapi tunanganku jauh sedang kuliah di luar negeri selama tiga tahun baru kembali," ucapku menjelaskan kepada Uge.
Deg
Jantung Uge berpacu cepat, musnahlah sudah harapannya dan harapan kedua orang tuanya yang ingin segera memiliki seorang mantu. Wajahnya kelihatan bersedih dan tubuhnya terasa lemas mendengar gadis yang dapat menaklukkan hatinya ternyata sudah menjadi milik orang lain.
"Ge...," panggilku pelan tetapi orang yang dipanggil tetap diam tidak menjawab. Mungkin dia syok mendengar aku sudah bertunangan.
"Ge...," panggilku sekali lagi dan membuat yang lain menoleh ke arah kami memperhatikan kami berdua dalam kecanggungan.
" Iya, ada apa Sa," ucap Uge yang tersentak karena terlalu sedih sehingga tidak sadar kalau Gadis di depannya sedang memanggilnya.
" Kamu melamun ya Ge. Ge, banyak gadis yang lebih baik dariku, lebih cantik dan lebih soleha pastinya, aku takut kau dekat denganku akan bertambah masalah," ucapku kepada Uge agar Uge dapat mengerti keadaanku.
"Gak, Sa, aku akan berusaha menjagamu" Uge menghapus air matanya yang hampir menetes, dan mencoba tersenyum menatap diriku.
__ADS_1
"Gak Ge, aku sudah milik orang, yang selalu di kawal kemana aku pergi," ucapku mengingatkan kembali kepada Uge, bahwa orang yang diharapkannya takkan pernah dimiliki.
Uge meraup wajahnya dengan kasar dan meremas rambut ikalnya. Kesal tak sudah, dia mendengar perkataan Nisa yang tidak mempunyai harapan untuk mendekati gadis yang disukainya.
"Maaf, belum bisa menjadi yang kamu mau, aku harap Kamu menemukan gadis yang lebih baik dari aku," ucapku Dengan ssendu dan mendukung Ige agar semangat menghadapi hari kedepannya.
" Sa, aku permisi ya, mobil mau di pakai ayah dinas, cepat sembuh dan istirahat yang banyak," ucap Uge menutupinkesedihannha, semakin lama mengahdapi Annisa, semakin pedih hatinya. Uge melangkahkan kakinya menemui teman-temannya.
"Bayu, Dodi kita pulang yuk sudah siang ,nanti ayahku nunggu mobilnya," ucap Uge kepada Teman-temannya yang masih serius memperhatikan pembicaraan antara Uge dan Annisa. Mereka bengong melihat Uge yang dingin dan terlihat tidak bersemangat.
"Kita jalan-jalan dulu habis dari sini ya Ge..." ucap Ifan yang seperti anak kecil selalu banyak permintaannya.
"Bu, Uge pulang ya Bu..." ucap Uge kepada Ibu dengan menyalam tangannya.
" Ya hati-hati ya Nak, jangan bersedih, banyak gadis yang lebih cantik dari anak ibu, ibu doakan kamu mendapat gadis yang lebih baik dari anak Ibu suatu hari nanti," ucap Ibu
Uge menganggukkan kepalanya menatap Nisa dan berlalu pergi keluar. Menahan pedih hatinya yang tidak berjodoh dengan Annisa. Teman-teman Uge heran. Ada apa dengan diri Uge yang meninggalkan mereka dan terlihat sangat diam? Apakah Nisa menyakiti hatinya atau menolak diri Uge menjadi kekasihnya.
Mereka berpamitan kepada Ibu dan Nisa, kemudian mengejar Uge sampai parkiran. Di parkiran, Uge langsung masuk ke mobil dan menyalakan mesinnya.
" Ge kamu, kenapa Ge," ucap Bayu merasa heran dengan tingkah Uge yang sangat pendiam semenjak berbicara dengan Nisa.
Uge tetap diam membisu, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sedangkan Rudi yang mengerti sifat Uge langsung menepuk pundak Uge.
"Sabar Ge..., kalau kamu suka dengan Nisa harus diperjuangi cinta kamu Ge, jangan menyerah. Semangat!!! Bantu Nisa memecahkan masalahnya dan menghalau musuhnya. Nisa itu seperti punya masalah yang berat. Kamu gak lihat dia tadi melamun. Dia sedang memikirkan sesuatu Ge...," ucap Rudi menjelaskan kepada Uge.
"Kok kamu tahu," ucap Uge menaikkan alisnya merasa heran karena Rudi dapat membaca raut wajah seseorang.
" Ya tahulah, makanya kalau ngomong itu diperhatikan gerak-gerik orangnya," ucap Rudi yang sangat serius membahas Tentang sikap Nisa sewaktu berbicara dengan Uge.
" Kamu benar Rud, gak sia-sia aku berteman dengan kamu," ucap Uge yang sangat bangga memiliki teman seperti Rudi dapat menenangkan jiwanya.
"Perasaan Aku lebih tenang sekarang. Oke akan aku perjuangkan walaupun itu penuh rintangan," ujar Uge yang sudah bersemangat dan tersenyum ceria, teman-temannya sangat lega karena Uge yang biasa selalu ceria kembali lagi tersenyum.
" Sekarang kemana Ge?,"tanya Ifan yang penasaran dengan suasana hati Uge yang sudah kembali ceria. Apakah tidak ada rencana jalan-jalan menghabiskan bensin mobil bapaknya?
" Jalan-jalan yuk, mumpung di kota," ucap Uge dengan semangat dan segera menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan parkiran.
__ADS_1