
Hari menjelang malam, setelah selesai melaksanakan shalat maghrib aku segera menuju ke meja makan. Ketika makan malam aku sengaja menceritakan kabar keberangkatan Kakak Gilang esok hari dan permintaannya untuk menginap ke rumahnya malam ini kepada Ayah dan Ibu.
Mulanya ibu merasa ragu untuk mengizinkan, tetapi ayah mewanti-wanti diriku agar bisa jaga diri dan menasehati diriku. Kalau di bukukan nasehatnya mungkin sampai satu buku. Sampai penuh memori di kepalaku. Akhirnya ibu dengan rela mengizinkan diriku menginap di rumahnya Kak Gilang hanya satu malam.
Selesai makan malam kami berkumpul di ruang keluarga menunggu kedatangan Kak Gilang sambil menyeruput secangkir teh manis.
Jam menunjukkan pukul 08.00 malam, aku gelisah kenapa sudah jam segitu, tetapi Kak Gilang belum juga datang. Terdengar suara deru mobil di halaman rumahku. Ku buka pintu dan terlihat Kak Gilang datang bersama Mamanya. Membawa oleh-oleh yang begitu banyak. Aku tidak tahu apa yang mereka bawa.
" Assalamualaikum," ucap Mama Gilang yang mengucapkan salam dan mengulurkan tangannya kepadaku.
" Wa'alaikum Salam," ucapku dan menyalam tangan Tante Dewi dan mempersilahkan masuk.
" Nisa, ini buat kamu," ucap Mama Gilang membawakan dua kantong plastik besar yang berisikan kue lapis legit dan cemilan kripik kentang yang baru di belinya di Swalayan.
"Apa ini Tante... banyak sekali," ucapku yang merasa heran akan oleh-oleh tante seperti membawakan oleh-oleh untuk anak kecil.
" Tadi Gilang membelikan buat kamu, kamu kan doyan ngemil, jadi supaya gak kesepian ditinggal Gilang, nanti di kamar waktu belajar, sambil makan cemilan itu katanya," ucap Mama Gilang yang melirik putranya yang cemberut, karena Mamanya sudah mangatas namakan dirinya untuk membeli oleh-oleh sebanyak itu, padahal yang punya ide adalah Mamanya.
" Nanti Nisa bisa gemuk Tante," ucapku yang memangbakaubtahi walaupun aku makan banyak, gak akan bisa gemuk.
" Iya gak apa-apa Nisa..., yang penting anak tante tetap suka," ucap Gilang yang sudah salah tingkah di tatap Mamanya.
" Silahkan duduk Mbak Ayu," ucap Ibuku yang ramah dan tersenyum ceria.
" Iya terima kasih Jeng," ucap Mama Gilang yang sudah duduk di kursi berdekatan dengan Ibu.
Aku ke belakang membuatkan minum dan tidak butuh waktu lama, minum sudah ku suguhkan di atas meja.
" Silahkan Minum Tante, Kak," ucapku mempersilahkan kepada mereka minum.
" Iya terima Kasih Nisa..," ucap Mama dan Kak Gilang bersamaan
" Tumben malam-malam datang Mbak Ayu," ucap Ibu yang suka memanggil Mama Gilang dengan panggilan itu karena wajahnya yang masih terlihat cantik dan umurnya yang dua tahun lebih tua dari ibunya Annisa.
" Begini jeng, besok pagi Gilang akan berangkat ke Australia, saya ingin Nisa menginap di sana untuk ikut mengantar Gilang ke bandara besok pagi, bolehkan Jeng," ucap Mama Gilang mencoba meminta izin akan membawa diriku.
" Bagaimana ya Mbak Ayu, saya takut mereka tidak ingat batasan," ucap Ibu Annisa yang merasa khawatir melepaskan anak gadisnya di rumah orang karena belum ada ikatan pernikahan .
"Ada saya jeng, biar saya sunat Gilang kalau berani macam-macam," ucap Mama Gilang yang sudah melirik Gilang, sedangkan orang yang di lirik menelan salivanya mendengar ancaman Mamanya.
" Iya saya ngerti, tolong jaga anak gadis saya Mbak Ayu," ucap Ibu Annisa yang sudah menyerahkan amanat kepada Mama Gilang.
__ADS_1
" Iya, tenang aja jeng, Gilang tidak akan Macam-macam," ucap Mama
" Maaf jeng kami gk bisa lama-lama, Gilang harus istirahat," ucap Mama Gilang yang ingin berpamitan mencari alasan yang lain, karena Mama Gilang ingin membuat acara barbeque di pekarangan rumahnya bersama anak sepupunya sebelum Gilang pergi melanjutkan kuliahnya Australia.
Aku pun pergi ke kamar berganti pakaian dan ingin mengambil tas Ransel yang sudah ku persiapkan dari sore hari. Setelah ku rasa dandananku sudah rapi dan perlengkapanku sudah masuk semua ke dalam tas, segera ku langkahkn kakiku menuju ruangan di mana keluargaku berada.
Kak gilang memandangi diriku yang terus berjalan menuju ke arah mereka. Aku yang di tatap merasa dak dik duk, rasanya jantungku ingin lompat. Aku berpamitan kepada ayah dan ibu, di susul oleh Kak gilang dan Tante Dewi yang juga ikut berpamitan. Kami keluar menuju mobil dan aku diajak Mama Kak Gilang segera masuk, duduk di bangku belakang bersamanya. Sedangkan yang mengemudi adalah Kak Gilang.
Suasana malam hari membuatku canggung berada satu mobil bersama Mamanya Kak Gilang. Walaupun Tante Dewi selalu mengajakku ngobrol seputar tentang Gilang dan masa mudanya, tetapi aku bingung mau jawab apa.
Tidak terasa kami sampai di halaman rumah mewah, rumah di bagian kawasan elit dan rumah Kak Gilang adalah rumah yang paling elit dan yang paling bagus di antara perumahan lainnya.
Pak Satpam membukakan gerbang dan pelayan langsung menjemput kami di depan teras. Terlihat para pelayan menundukkan kepalanya, memberi hormat kepada majikannya yang baru datang. Aku berjalan mengikuti Mamanya Kak Gilang ke kamar yang ada di dekat ruang tamu. Kamar yang begitu besar dan indah. Tatanan sangat rapi dan barang-barang di dalamnya juga barang yang mahal. Mama Kak Gilang meninggalkanku di ruangan itu seorang diri.
Ah, mimpi apa aku kemarin-kemarin bisa menginap di rumah semewah ini. Ku letakkan tas ranselku dan memandang ke arah luar jendela, memandang bintang -bintang yang bertaburan di langit malam.
Tok
Tok
Ku dengar suara pintu dari luar, segera ku buka pintu dan betapa terkejut nya diriku ketika kubuka Kak Gilang berdiri di depan pintuntersenyum dan membawakan sebuah jaket. Tanpa aba-aba manarik tanganku ke luar dari kamar.
" Kita mau ke belakang, Andre dan Arif sudah barbeque di belakang bersama Mama, papa dan Mang Amir. Hanya tinggal menunggu kita berdua Sayang...," ucap Kak Gilang berkata lembut membuatku terpesona akan tutur bahasanya.
" Barbeque Kak, enak itu Kak," ucapku yang semangat mendengar kata makanan yang enak.
" Makanya ayo kita ke sana ,"ucap Kak Gilang merangkul pinggangku dan berjalan agak cepat.
" Kak, kakak janji jangan macam-macam," ucapku yang memberi peringatan dan melepaskan tangannya dari pinggangku.
"Iya , Kakak Lupa," ucap Kak Gilang yang cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ketika sampai di tangga akan turun ke taman belakang, Aku terlalu semangat mengikuti langkah kaki Kak Gilang yang membuatku, terpeleset dan hampir jatuh terjerembab di kolam renang. Lantainya agak basah dan licin membuat tubuhku tidak seimbang. Syukurnya Kak Gilang yang berada di sampingku dengan sigap dia menarik lenganku dan merangkul tubuhku.
Tanpa sadar bibir kami bersentuhan dengan keras. Mata kami berdua saling melotot. Satu detik, dua detik, dan tiga detik kami seperti tersihir. Mata kami saling bertatapan dan bibir kami masih bersentuhan. Aku pun segera tersadar dan melepaskan pelukannya. Kami berdua salah tingkah. Aku mencoba membuang muka betapa malunya diriku, hal yang tidak sengaja membuat aku merasa bersalah dan berdosa.
Aduh, ciuman pertamaku kenapa harus sekarang, berarti bibirku sudah ternoda.
Ku lihat bibir Kak Gilang mengeluarkan sedikit darah dan agak membengkak, begitu juga dengan bibirku yang jontor seperti kejedut dinding.
Kami berdua saling menatap dan berdiri berhadapan. Kecanggungan muncul diantara kami berdua.
__ADS_1
" Maafkan Kakak Dek.., Kakak tidak sengaja seharusnya ciuman itu kita lakukan di awal pernikahan kita," ucap Kak Gilang yang merasa bersalah, tapi hati kecilnya bahagia di saat di akan pergi tanpa sengaja dia mendapat ciuman yang tanpa di minta.
" Nisa juga minta maaf Kak, karena menolong Nisa, jadinya kita berbuat kesalahan," ucapku yang merasa Tidak enak kepada ibu, karena sudah berjanji tidak berbuat macam-macam.
" Dek..., Ayo kita ke sana, pasti mama sudah menunggu," ucap Kak Gilang yang masih merasa canggung setelah kejadian tadi.
" I..iya kak," ucapku gugup yang masih terngiang peristiwa tadi yang tidak di sengaja.
Kami sampai di taman belakang tempat barbeque. Mereka asik memakan makanan yang sudah di bakar menggunakan saos sambal dan mayones. Arif yang melihat diriku segera mendekat dan berbisik di telingaku.
" Itu kenapa bibir kamu Sa...," ucap Arif yang merasa curiga keterlambatan kami datang dan melihat bibirku yang aneh.
" Em..eng..gak apa-apa," ucapku Gugup yang tidak ingin meyebutkan kejujuran peristiwa tadi.
" Terus kenapa Jontor...," ucap Arif yang membuat aku kesulitan untuk menjawab, tapi keburu Kak Gilang datang menarik tanganku untuk diajak makan jagung bakar bersama Mamanya.
" Woi bang, bibir kalian kenapa?" ucap Arif yang berteriak ke arah kami dan hampir terdengar oleh Mama dan Papa Kak Gilang.
" Kepo..., mau tahu aja," ucap Kak Gilang yang sudah kesal akan ulah Arif.
" Jangan-jang...," ucap Arif yang sudah curiga 100 persen tapi belum siap dia bicara, mulutnya sudah di bungkam oleh Gilang.
" Shutt..., jangan berisik, nanti dengar Mama," ucap Gilang yang menenangkan si arif mulut ember.
" Berarti beneran kan...," ucap Arif yangb merasa tebakannya benar.
" Kami tidak sengaja melakukannya, tadi Annisa hampir saja jatuh ke kolam renang, untung cepat abang tangkap, kalau tidak Annisa bisa jatuh," ucap Gilang menjelaskan.
" Alah cari kesempatan Kak Gilang, ditolong pun jatuh juganya... tapi jatuh ke bibir...,ha...ha...," ucap Arif yang masih menjaili Kak Gilang, sedangkan diriku yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka merasa malu.
" Bangsat lho," ucap Gilang yang kesal di jaili Arif terus dan mengejar Arif.
" Abang tidak seperti yang kau pikirkan Rif, abang masih bisa nahan," ucap Gilang menjelaskan kepada Arif takut arif bicara yang tidak-tidak kepada Mamanya.
" Tapi senangkan sambil menyelam minum air, sambil nolong dapat hadiah kiss," ucap Arif lagi yang suka menjaili Gilang.
" Sialan lho, Kalau saja mulutmu itu BPKB, pasti sudah kugadaikan," ucap Gilang bergelut bersama Arif sambil bercanda ria.
" Ampun bang..., ampun!!!," ucap Arif yang sudah menyerah mendapat gelitikan dari Gilang.
Aku dan Mama Gilang yang melihat aksi mereka bergelut, merasa terhibur dan untuk sementara, aku dapat melupakan Kejadian tadi.
__ADS_1