
Suara alarm ponsel berdering nyaring berulang kali, membuat mataku langsung terbuka. Alhamdulillah, pagi ini kepalaku tidak pusing lagi dan tubuhku terasa segar. Hari ini aku hampir kesiangan. Azan subuh sudah berkumandang beberapa menit yang lalu. Segera aku ke kamar mandi, membersihkan tubuhku dan langsung berwudu. Mengerjakan kewajiban seperti biasa.
Hati tenang bila sudah mengerjakan kewajiban. Ketika sudah membuka mukena, terdengar deringan dari calon Imamku, segera ku pakai jilbab instanku dan ku tekan Tombol berwarna hijau tanpa menunggu deringan berikutnya. Panggilan di buat VC, memperlihatkan wajah Kak Gilang yang ada di dalam kamarnya dengan hari yang sudah hampir siang.
" Hallo Sayang..., Assalamu alaikum Calon istriku..."
" Wa'alaikum Salam Calon Imamku"
" Lagi apa Sayang...,"
" Baru selesai shalat Kak...,"
" Alhamdulillah...Calon istri Kakak baru selesai shalat. Ehemm, gimana kabarnya Yang, sehatkan Calon istri Kakak ini...,"
"Alhamdulillah sudah mendingan kak...,"
"Mendingan, maksudnya kamu sakit Yang...,"
" Iya kak, tadi malam pulang dari jalan-jalan, Nisa kurang enak badan,"
" Udah minum obat Yang...,"
" Sudah Kak,"
" Gimana jalan-jalannya, enak gak?"
" Enak Kak, nanti kalau Kakak sudah pulang kita ke sana lagi ya kak?,"
" InsyaAllah, Kamu kalau kemana-mana nanti di antar Andre atau Arif ya Sayang. Jangan pergi sendirian. Andre juga sudah Kakak beri tugas untuk mengajari kamu menyetir,"
" Kenapa gak Mang Amir saja Kak,"
" Mang Amir kan udah tua, takutnya kamu seganmibtaa ajari sama yang lebih tua. Kalau Andre kan, sudah kamu anggap sebagai Abang sendiri,"
" Kak, boleh gak Nisa pakai motor aja,"
" Kalau mau pakai motor, pakai aja motor Kakak, di rumah juga gak ada yang pakai. Eh..eh.. tunggu dulu, kenapa kamu mau pakai motor?,"
" Nisa ngerasa gak bebas kak, gerak Nisa merasa di batasi, terus Nisa kan mulai hari ini buka toko, kalau kak Andre antar jemput Nisa, Nisa merasa ngerepoti Kak Andre,"
" Gak Apa-apa Yang..., Andre juga sudah Kakak bayar untuk antar jemput Kamu,"
" Tapi kak, sekali-kali Nisa boleh pakai motor kan?,"
" Boleh..., apa sih yang gak untuk kamu Cantik...,"
" Gombal,"
" Beneran kamu memang cantik..."
" Apaan sih,"
" Yang, kakak rindu lho, ingin... rasanya meluk kamu. tapi kamu jauh, kalau dekat pasti sudah kakak dekap dan gak akan Kakak lepas,".
" Gombal lagi..., kenapa baru ngubungi sekarang Kak?."
__ADS_1
" Maaf ya kalau kakak baru ngubungi kamu. Semalam begitu Kakak sampai, langsung Kakak mengurus keperluan kuliah kakak, jadi gak sempat nelpon kamu Yang..."
" Hari ini kakak gak masuk?,"
" Masuk 30 menit lagi Yang..., mungkin kakak akan jarang menghubungi kamu Dek, Kakak harap kamu jangan marah ya..,"
" Iya kak, gak apa-apa,"
" I Love you Sayang, Tunggu Kakak pulang ya Sayang...,"
" Iya kak, pasti,"
" Jangan di lepas cincinnya ya sayang, tetap di pakai, jangan di pindah-pindahkan tetap di tangan kanan, Kakak takut nanti kamu di taksir orang,"
" Ada-ada saj Kakak ini, Iya kak akan tetap Nisa pakai,"
" Sudah ya Yang, kakak mau bersiap-siap ingin pergi ke kampus,"
" Iya Kak,"
" Assalamualaikum"
" Wa'alaikum Salam,"
Ku hempaskan punggungku di kasur, dengan senyum bahagia di wajahku, akhirnya rindu terbayar sudah. Melihat wajahnya di layar saja, sudah puas rasa hatiku. Jam menunjukkan pukul 06.00. Aku segera pergi ke dapur, ingin membantu ibu untuk membuat sarapan pagi. Hari ini adalah hari pertama aku membuka Toko Kue.
Semoga Hari ini membawa diriku kepada ke tingkat kesuksesan. Amiin
Ibu di dapur dengan cekatan memasak beberapa masakan. Aku hanya membantu merajang dan membuat teh manis. Ayah sudah duduk manis di meja makan sambil membaca koran dan meminum secangkir teh manis. kemudian kami sarapan bersama. Keheningan saat makan sangat di utamakan Ayah. Ayah selalu menekankan kepada anggota keluarga jangan berbicara sewaktu makan.
Terlihat Kak Andre keluar dari mobil dan Arif yang turun dari motor. Sepeda motor Kak Gilang yang di antarkan untuk diriku sudah sampai di halaman rumah.
" Nisa jam berapa toko kuenya di resmikan Sa" ucap Kak Andre kepada diriku.
" Nanti Kak jam 9," jawabku melihat Andre berjalan menyusul Kakaknya.
" Semua persiapan bagaimana? tanya Arif yang khawatir kalau ada yang belum beres.
" Sudah beres rif, Ayo sarapan bareng yuk Rif, kak Andre...," ajakku kepada mereka berdua dan mempersilahkan masuk.
" Rezeki anak soleh, pagi-pagi dikasih sarapan, bilang dong dari tadi," canda Arif yangnlangsung masuk menuju meja makan.
Arif dan Kak Andre ikut makan bersama, terlihat Bang raga memperhatikan gerak-gerik Andre yang matanya selalu melirik diriku. Bang Raga ada pirasat yang lain terhadap Andre, yang selalu curi-curi pandang ketika makan.
Beberapa Jam kemudian
Annisa ZS Bakery adalah nama Toko kue ku yang resmi telah di buka, pemotongan pita dan berjalan lancar pembangunan usaha ini, membuatku bersyukur kepada Allah, di usiaku yang semuda ini aku sudah bisa mempunyai usaha sendiri. Ibu turut serta membantu untuk mengembangkan usaha ini. Lelah terbayar sudah, Toko kue sudah bisa beroperasi, tinggal mengembangkannya menjadi lebih maju lagi.
Hari pertama karyawannya hanya diriku, ibu dan juga Citra. Dengan semangat kami membuat kue kering dan kue basah. Harum menyeruak memenuhi ruangan toko. Membuat yang mencium Aroma menjadi lapar. Beberapa kue sudah tersaji di etalase. Pembeli dari kalangan Mahasiswa dan masyarakat biasa mulai berdatangan. Para pegawai kantor juga banyak yang suka akan kue yang dengan suka rela kami bagikan sebagai diskon di hari pertama peresmian toko kueku. Ya Allah terima kasih, engkau telah memberi begitu banyak rezeki di hari ini.
Seharian berjibaku dengan alat masakan tanpa menyadari hari sudah menjelang sore. Kesibukan dengan pembeli membuat diriku lupa dengan kekasihku yang baru pergi. Hari demi hari,.dan minggunjuga berganti dengan bulan. Setiap harinya bergelut dengan urusan kuliah otomotif dan membuat kue, seakan membuat diriku semakin sibuk. Aku kadang sampai lupa bila sudah bertunangan.
Terlalu sering Kak Andre menemani diriku ketika mengantar pesanan. Membuat kami semakin Akrab. Terkadang selalu diisengi oleh pelanggan yang mengatakan kami seperti sepasang Kekasih yang lagi menjalin hubungan dan doa mereka mengatakan semoga kami cepat menikah. Tetapi ada yang aneh menurutku, bila kami diisengi, Kak Andre selalu menjawab dengan "Doakan saja Bu, Pak ". Apakah maksud dari jawaban Kak Andre? Apakah diam-diam dia menganggapku lebih dari seorang Adik. Ah tidak mungkin. Mungkin pirasatku saja, buang jauh-jauh pirasat itu.
Tepat di hari weekend ini aku ingin bersantai melepaskan penat yang sudah terkuras selama ini. Sudah satu tahun kepergian Kak Gilang yang jarang memberikan aku kabar . Bisa dihitung dia mengabariku, itupun hanya 3 kali VC dan beberapa kali chattingan. Hatiku galau, gundah gulana. Bila nomornya dihubungi, juga sering tidak aktif ponselnya. Sedang apakah kau di sana Calon Imamku, Apakah kau sudah ada yang baru? Mengapa hatiku selalu bertanya-tanya dan selalu berprasangka buruk
__ADS_1
Ku langkahkan kakiku menuju meja rias, membuka laci yang di dalamnya tersimpan sebuah diary. Diary tempatku mencurahkan keluh kesahku beberapa bulan yang lalu. Sudah lama diary ini tidak aku sentuh dan terlihat berdebu. Dihari ini aku kembali menemuimu, ku tuliskan keluh kesahku di halamanmu.
Menantimu adalah keputusan terindah ketika jarak memisahkan kita. Walaupun kita jauh, tapi hati ini tetap terjaga untukmu kekasihku.
Sayang sedang apakah kau di sana. Mengapa sampai sekarang kau tidak memberi kabar?
Masih ingatkah Kakak dengan Calon Istrimu?.
Tok
Tok
Suara pintu kamarku terdengar ada yang mengetuk. Ku langkahkan kakiku ingin melihat siapakah yang mengetuk pintu, karena setahuku ibu sudah pergi ke toko kue.
Ceklek
Pintu kubuka, terlihat Citra dengan senyumnya, mengatakan kalau ada Arif didepan. Citra kembali melangkah meninggalkan diriku yang masih terpaku di depan pintu.
Aku menutup pintu dan berjalan menemui Arif di depan.
" Assalamu'alaikum Rif," ucap diriku yang melihat Arif berdiri membelakangi karena masih menelepon seseorang di seberang sana.
" Eh, Wa'alaikum Salam Sa, Maaf aku ganggu kamu gak Sa...," Ucap Arif berbalik menghadap diriku.
" Ada apa Rif?" tanyaku kepada Arif
" Aku mau mengajakmu ke bengkel Bang Gilang, Teman-temen sudah pada kumpul termasuk Ragil, mereka meminta kamu datang," ucap Arif kepadaku.
" Sebetulnya aku males Rif, gak semangat,"ucapku dengan wajah yang sendu.
" Kamu kenapa Sa, biasanya kamu selalu ceria,"Tanya Arif yang heran melihat diriku.
" Gak tahu akhir-akhir ini gak mood," ucapku yang sulit untuk di jelaskan.
"Apakah tentang Kak Gilang," Tanya Arif yang mencoba menebak isi hatiku, tapi tebakannya 100 persen benar.
Ku anggukkan kepalaku, terlihat Arif tersenyum melihat wajahku yang murung. Dia berjalan mengahampiriku dan menepuk pundakku pelan.
" Tenang Sa, dia baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan," ucap Arif menasehati diriku.
" Kenapa dia gak pernah lagi ngabari aku Rif, sesibuk itukah dia di sana, sampai-sampai tidak sempat meneleponku," ucapku yang sudah kesal kepada Calon Imamku.
"Nisa, waktu di sini berbeda dengan disana, kita di sini istirahat pada malam hari, disana sudah pagi. Saat kita sudah bangun, dia sudah sibuk dengan kuliahnya. Dia bingung menghubungimu," Ucap Arif menjelaskan.
" Banyak alasan, apa salahnya gak bisa nelpon, pakai SMS, Whatsapp atau apalah," ucapku yang sudah kesal
" Sabar Sa, kamu rindu banget ya," tanya Arif melihat kemurunganku.
" Iya Rif, rindu banget malah, Rindu itu berat Rif, aku takut gak bisa mengendalikan," ucapku menjelaskan kepada Arif dan hampir akan menangis.
" Ayo, kita jalan-jalan biar kamu terhibur," Ajak Arif kepadaku.
" Males ah, nanti apa kata orang kalau kita berboncengan," ucapku kepadanya yang tidak ingin ada bisik-bisik tetangga.
" Oh oke, kamu pakai motor Kak Gilang aja ya, aku pakai motorku sendiri, gimana, kamu mau," ucap Arif menjelaskan.
__ADS_1
" Oke, tunggu aku ganti baju dulu ya," ucapku berlari masuk ke dalam kamar.