Teman Palsu

Teman Palsu
Mendekati Annisa


__ADS_3

Kak Gilang melajukan sepeda motornya dengan kecepatan penuh. Aku masuk ke kamar dan melihat wajahku di depan cermin. Sekelebat teringat kejadian di taman tadi, aku pun bersedih kembali.


Baru pertama kali aku merasakan jatuh cinta, dan itu butuh beberapa minggu untuk menumbuhkan rasa itu. Ketika rasa itu sudah tumbuh, malah dicampur dengan pengkhianatan seorang sahabat. Aku tidak tahu mengapa Rini tega melakukan itu kepadaku.


Aku rasa aku tidak pernah membuat masalah dengannya. Terakhir waktu aku di ajak ke acara di rumahnya, tapi tanpa disangka ayahku kecelakaan sehari dengan acara di rumah Rini sehingga aku gagal kerumahnya. Hanya alasan aku tidak bisa datang lantas Rini tega mengkhianatiku. Oh tidak, itu tidak mungkin. Ada apa denganmu Rini mengapa sifatmu berubah, Aku menginginkan Rini yang dahulu.


"Telah habis sudah cinta ini


Tak lagi tersisa untuk dunia


Karena telah kuhabiskan


Sisa cintaku hanya untukmu, "


Suara nada dering ponselku mengingatkanku kala sering berjalan berdua dengan Candra. Dia yang telah menyetel nada deringku mengisahkan kisah cintaku dan dirinya bak syair lagu itu. Niat hati ingin mengganti nada dering yang baru. Tapi kulihat layar ponsel ada panggilan atas nama Kak Gilang,


" Hallo, assalamu'alaikum Dek,"


" Wa'alaikum salam, ada apa Kak, "


" Gak ada , cuma mau ngabari Adek kalau Kakak sudah tiba di rumah. Menunggu Adek yang nelpon duluan, Adeknya gak nelpon-nelpon. Jadi inisiatif Kakak, biarlah Kakak yang nelpon duluan mana tau Adek kepikiran keadaan Kakak "


" Siapa juga yang mikiri Kakak, GR, kepedean"


" Ha...ha...ha...,udah tidur belum Dek?"


" Kalau sudah tidur, terus yang jawab ini siapa?"


" Ha..ha...bisa juga bercanda, lagi ngapai Dek,"


" Lagi megang ponsel karena malam ini ada yang ngajak ngobrol.

__ADS_1


" Siapa ?"


" Ya Kakaklah, siapa lagi, "


" Oh, pikir ada orang lain di situ,"


"Ih, jangan nakuti deh, ini Adek sendirian lho di rumah, Adek jadi merinding Kak, "


"Perlu Kakak temeni gak,"


" Gak boleh , kita bukan mahram, nanti di grebek warga. Kata Pak ustad kalau dua orang bukan mahram di dalam satu tempat dan tinggal bersama, maka orang ketiganya adalah setan, "


" Ya Bu Ustadzah..., ya udah besok Kakak halali, biar gak ada setannya?"


"Ogah, Udah ya Kak, Adek ngantuk ini ,"


"Iya, selamat tidur, mimpikan Kakak ya..., Assalamualaikum,"


Kututup panggilan dari Kak Gilang, tanpa sadar aku tersenyum-senyum sendiri. Ada apa dengan otakku mungkin sudah koslet juga kali ya, ketularan Kak gilang. Baru kena rayuan gombal aja udah klepek-klepek. Fokus... Fokus..., Hari senin sudah ujian. Gawat kalau sampai tidak lulus bisa-bisa malu ayah dan ibu.


Eh, apa kabar ayah ya, ku chat Bang Raga aja ya...


"Bang, Adek sudah tiba di rumah. Bagaimana keadaan ayah Bang. Besok pagi Adek datang ke rumah sakit di jemput Kak gilang," pesanku kirim. Kulihat langsung centang dua, berarti chatku sudah dibaca Bang Raga.


Ting


Satu chat masuk ke ponselku.


"Ayah sudah mulai membaik Dek, besok pagi bawakan baju ganti Kakak, Ibu dan Ayah ya. Jangan lupa bawa sarapan ya Dek... Bilang ama Gilang belikan calon mertua sama Kakak iparnya Bubur ayam. Udah cepat tidur jangan begadang terlalu malam,"


Ha?kakak ipar, calon mertua, ada-ada saja Bang Raga ini. Di pikir hati Adek ini buatan mesin, gampang kali nerima orang gitu aja. Masih sakit tau...

__ADS_1


Ku rebahkan tubuhku di tempat tidur. Sungguh lelah hari ini. Ku pandangi langit-langit kamarku, tidak butuh waktu lama mataku pun terpejam.


* * * *


Pov Gilang


Ketika mendengar kabar dari ayah Raga kecelakaan aku merasa sedih. Ayah Raga sudah ku anggap ayah angkat bagiku. Ayah Raga sangat sayang kepadaku, kehangatan di keluarga Raga tidak serring ku dapatkan dari keluargaku. Walaupun kami terkadang berkumpul di rumah bersama Papa dan Mama, tapi bagiku mereka terlalu sibuk sehingga sering keluar kota. Aku lebih dekat dengan nenekku.


Keluarga Raga seperti sempurna di mataku, walaupun sederhana mereka membebaskan anaknya meraih mimpinya sesuai hobby yang mereka miliki. Papaku termasuk papa yang baik walaupun tidak memaksakan kehendakku untuk meneruskan usahanya tapi Papa sosok yang tegas kalau soal masa depanku.


Papa merasa bersalah telah menabrak ayah Raga, karena ayah Raga adalah temannya sewaktu di SMA dulu. Kata Papa sewaktu disekolah ayah Raga memang pintar dalam belajar dan rajin menolong sesama temannya.


Semenjak lulus dari SMA, Papa tidak pernah bertemu dengan Ayah Raga. ketika tragedi kecelakaan tersebut, Papa merasa terkejut sahabatnya sewaktu SMA di pertemukan dengan cara tragis begini.Syukurnya ayah Raga tidak terluka parah, Papa gugup karena warga sudah mengelilingi Papa, dan memaksa Papa bertanggung jawab. Sebenarnya tanpa di desak warga pun Papa akan bertanggung jawab.


Dengan perintah Papa aku menjenguk ayah di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit ku lihat gadis pujaan hati sedang terpesona melihatku datang dengan setelan kaos dan celana jeans. Tak salah langkah aku datang ke rumah sakit. Ibarat pepatah, Sambil menyelam minum air, sambil menjenguk ayahnya dekati anaknya, eya....eya...


Di beri kesempatan dekat dengan gadis pujaan hati, ibarat dapat durian runtuh. Ibu dan Raga juga tidak melarang Adiknya dekat denganku. Mungkin aman kali ya.


Ketika ku ajak shalat dan makan bakso si gadis ikut bersama. Pengaruh wajah tampan kali ya, makanya sigadis tak menolak. Gadis yang unik, tidak ada gengsi ketika makan bersama laki-laki, walaupun makannya kuat tapi aku suka. Ya, melihat dia makan banyak membuat aku tersenyum.


Bisa-bisanya seorang cewek makan bakso jumbo dapat menghabiskannya dalam waktu lima belas menit, dengan sambal dan saos yang sebegitu banyak. Isi bakso jumbonya aja cabai mercon. Wih gila bener geleng-geleng kepala aku melihatnya.


Baru ini aku melihat seorang cewek di depan pemuda seperti orang kelaparan. Entah mengapa kalau bersama Gadis kecil ini bawaannya mau tertawa aja, lucu. Sudah kekenyangan malah bersendawa pula lagi. Astaghfirullahaladjim...


Kulihat wajahnya malu merona, ketahuan bersendawa di depan para laki-laki. Aku pikir dia bakal kabur setelah menahan rasa malu. Oh, gadisku pujaan hatiku, ternyata gelagatku bisa di baca calon Kakak Iparku, siapa lagi kalau bukan Raga. walaupun respon sederhana tapi lumayanlah sudah ada lampu hijau dibolehkan mendekati Adiknya.


Hari sudah sore aku pamitan kepada ibu Raga. Niat hati ingin pulang sendiri karena ingin singgah ke rumah nenek sekalian menginap di rumahnya, karena besok hari minggu libur tidak ada jadwal. Eh, Raganya malah nawarin bawa Adiknya, pucuk di cinta ulam pun tiba. Tanpa disangka bisa juga boncengan dengan si pujaan hati.


Kulihat Annisa berjalan asik melihat ponsel saja, dari jauh kulihat Annisa akan memijak lubang, dengan berlari ku kejar Nisa yang akan terjatuh. Syukurlah dapat ku pegang tangannya dan tanpa sengaja ku rangkul pinggangnya. kami pun bertatapan cukup lama.


Ya Allah, sungguh cantiknya makhluk ciptaanmu di hadapanku ini. Matanya indah, wajahnya mulus dan bibirnya merah menggoda. tapi seperkian menit aku tersadar, akhirnya kulepaskan tanganku dari pinggang Annisa. Ya Allah ampuni aku. Aku sudah berpikir yang macam-macam.

__ADS_1


__ADS_2