Teman Palsu

Teman Palsu
Mimin VS Gita


__ADS_3

Gilang yang sibuk memainkan ponselnya gelisah menunggu diriku yang tidak keluar-keluar dari ruang ganti. Matanya berulang kali melihat ke pintu ruang ganti, tetapi orang yang di tunggu tidak juga muncul.


Suara hentakan sepatu heels terdengar menggema di ruangan ganti menuju keluar. Gilang menunggu seseorang yang menggetarkan hatinya segera keluar. Detak jantung Gilang temponya seperti suara langkah sepatu seseorang yang menggunakan Heels dan suara itu semakin mendekat.


Ceklek!


Suara pintu terbuka membuat hati berdebar, Gilang berdiri menunggu seseorang keluar dari balik pintu. Satu detik, dua detik sampai beberapa menit akhirnya orang ditunggu keluar.


Gilang terkejut melihat Annisa masih memakai baju yang sama seperti baju yang tadi ketika berangkat ke butik. Pemikirannya salah, gadis yang di khayalkannya memakai gaun seperti bidadari, eh ternyata bidadari yang diharapkan malah tidak berganti baju.


" Dek, kenapa enggak di ganti bajunya?," ucap Gilang yang penasaran.


"Nanti saja Kak, buat kejutan di hari spesialnya," ucapku yang ingin membuat kejutan kepada Gilang.


"Oh, kamu mau buat kejutan untuk kakak ya," ucap Gilang tersenyum.


" Iya, sebelum Kakak pergi, Nisa ingin berpenampilan yang cantik agar Kak Gilang di di sana ingat terus dengan Annisa," ucap Annisa yang posesif melihat Gilang masih diperhatiin pekerja Mamanya.


" Ih, gemes deh, sampai kapan pun kakak akan terus ingat sama kamu, percaya deh," ucap Gilang mencubit hidung Annisa karena gemesnya.


" Sakit Kak..., Kak Gilang Bohong," ucap Annisa cemberut.


" Kalau tidak percaya, belahlah dada Kakak ini," ucap Gilang menjaili Annisa, dan kemesraan mereka di perhatikan oleh pekerja Butik Mama Gilang.


"Enaknya ya jadi pacarnya Tuan Gilang, sudah dapat pemuda tampan, perhatian, tajir lagi.


Masih ada gak ya ditempat lain yang seperti Tuan Gilang? kalau ada, aku mau...," ucap si Mimin.


" Ngaca loe, ngaca... jangan berharap deh. Loe cantik juga gak, body loe juga pendek kulit loe hitam, apa coba yang dinilai dari loe? ucap si Gita si mulut cerewet yang selalu cemburu kalau Mimin berangan-angan.


"Ada yang di nilai dari aku, mau tahu???," ucap Mimin menantang Gita.


" Apa coba!," ucap Gita penasaran dengan suaranya yang keras.


" Ini berat badan aku, berat badanku kan seperti artis, gak kayak badan kamu, timbangan sampai takut lihat badan kamu," ucap Mimin yang sudah membuat emosi Gita naik.


"Kamu bilang apa, kamu menghina! kamu belum tahu siapa aku!," ucap Gita langsung menarik rambut Mimin dan Mimin gantian menarik rambut Gita. Mereka akhirnya saling tarik menarik rambut dan terjadilah perkelahian Mimin VS Gita.


Keributan pun terjadi, seorang pekerja yang senior menengahi perkelahian mereka, akhirnya mereka di bubarkan dan di beri peringatan, jika terulang kembali maka akan di pecat keduanya.

__ADS_1


Gilang dan diriku yang mendengar keributan itu hanya geleng kepala dan segera pergi dari sana.


Kak Gilang mengajak aku pergi makan ke restoran yang dekat dengan butik Tante Dewi. Hanya dengan jalan kaki sebentar kami sudah sampai. Aku dan Kak Gilang mengambil kursi di pojokan, tempatnya romantis untuk berdua.


Dari jauh terlihat ada sepasang mata memperhatikan kami, dia memakai kacamata hitam, baju hoodie dan sedang membaca koran.


Gilang memesan menu makanan dan minum kepada pelayan dan tidak beberapa lama makanan dan minuman yang di pesan terhidang di meja. Dengan hidangan yang menggiurkan dan super pedas. Kami pun makan sambil berbincang.


" Kak nama restorannya kok seperti nama Mama Kakak, Restoran Dewi Puspita Padang," ucapku yang penasaran.


" Iya ini memang restoran Mama, karena mama hoby menikmati masakan padang, jadinya Mama membuat restoran makanan khas padang," ucap Gilang menjelaskan.


" Benar itu kak, berarti mama jago masak dong,"ucap Annisa Antusias.


" Iya, Adek mau belajar," ucap Gilang kepada Annisa.


" Iya Kak, apakah Tante Dewi mau mengajari Annisa memasak," tanya Annisa yang ragu-ragu.


" Tentu, apa yang tidak untuk kamu," ucap Gilang mencubit pipiku yang tembem.


Kemesraan Gilang dan diriku ada yang tidak senang, seorang pemuda terlihat kesal dan menendang kaki meja sehingga membuat keributan.


Gilang memperhatikan asal suara, tetapi pemuda yang menendang meja tersebut telah lebih dulu pergi sebelum Gilang membalikkan badannya untuk mengetahui asal suara itu.


"Kak kita pulang yuk soalnya sudah sore, nanti ibu nyariin Nisa," ucapku kepada Kak Gilang.


" Iya, ayo," ucap Gilang langsung menggandeng tanganku menuju ke mobil dan Kak Gilang dengan sigap membukakan pintu seperti pangeran ke pasar mengantar Permaisurinya berbelanja cabe, bawang, dan jengkol sekeranjang.


Hening di mobil tiada suara, Kak Gilang sibuk dengan stirnya karena jalanan ramai dan macet. Membuat Kak Gilang harus Fokus, dia tidak ingin sampai celaka. Karena hari pertunangannya sebentar lagi.


" Dek, besok kita beli cincin untuk pertunangan kita ya," ucap Gilang kepadaku, aku tidak mendengar karena sudah bobok manis di dengan terkantuk-kantuk di bangku mobil.


" Yah..., sudah tidur," Ucap Gilang yang melihat diriku dengan tersenyum.


Hujan turun dengan derasnya diikuti petir membuat jalanan semakin macet. Kendaraan masing-masing sibuk berlomba cepat. Sedangkan aku masih asik dengan mimpi indah.


Jalanan yang padat dan hujan yang deras membuat Kak Gilang kesusahan untuk mempercepat laju mobil. Mau tidak mau Kak Gilang menjalankan mobil dengan lambat. Tidak berapa lama Mobil Kak Gilang sampai di halaman rumah, hujan yang masih turun membuat Kak Gilang harus tega membangunkanku, karena tidak mungkin cuaca hujan dia membopongku ke dalam rumah.


" Dek, bangun dek, kita sudah sampai," ucap Gilang kepada Annisa sambil menepuk pelan pipinya.

__ADS_1


Ketika Gilang membangunkanku, petir di luar menggelegar dengan kuatnya, membuat tubuhku terlonjak dan refleks memeluk Gilang. Kak Gilang yang ku peluk terkesiap dan berdehem agar diriku melepaskan pelukanku.


"Maaf Kak, gak sengaja," ucapku kepada Kak Gilang.


" Ya, ayo kita keluar Dek, ini ada payung," ucap Gilang membuka pintu mobil dan segera keluar menggunakan payung. Kak Gilang segera memayungi aku yang membawa paperbag, agar tidak terkena hujan. Kami berlari menuju ke teras rumah yang di sambut langsung oleh Ibu dan Ayah.


" Nak Gilang..., hujannya deras jangan pulang dulu, baju Nak Gilang basah sebaiknya pakai baju Raga saja,"ucap Ibuku yang membawakan handuk untuk di berikan kepada Gilang.


"Iya Bu, terima kasih, bentar lagi juga reda,"ucap Gilang yang mempertahankan dengan baju basahnya.


Terdengar suara azan maghrib berkumandang dengan merdu. Aku membawa baju ganti Punya Bang Raga untuk Kak Gilang agar Kak Gilang mengganti baju basahnya. Kak Gilang pun menerimanya segera ke kamar mandi dan berwudu.


Kami segera shalat maghrib berjamaah dan Ayah yang menjadi Imamnya. Selesai Shalat Ibu menyiapkan makan malam, kami berkumpul di meja makan dengan hening tanpa ada pembicaraan. Hanya dentingan sendok yang terdengar.


Kak Gilang curi-curi pandang melihat diriku yang makan dihadapannya. Aku yang ditatap merasa malu, syukurnya nasi yang ku sendok, suapannya tepat masuk ke mulut. Akibat grogi hampir saja masuk ke hidung karena kege-eran dilihati terus oleh Kak Gilang.


Hujan pun telah reda Kak Gilang segera berpamitan dan melajukan mobilnya menuju rumahnya. Sampai Di Rumah Gilang menelepon gadis pujaan hatinya.


'"Hallo Assalamualaikum...,


sayang lagi apa?"


"Wa'alaikum salam, lagi rebahan Kak, Nisa lelah jadi mau istirahat, ada pa Kak?"


"Besok kita beli cincin pertunangan ya?"


"kenapa Annisa harus ikut, Kakak aja deh Kak, apa yang Kakak belikan, Nisa akan suka"


"Tetapi Kakak tidak tahu ukuran Jarimu Dek"


"Ya sudah deh, besok ya Kak habis zuhur kita berangkat, soalnya pagi hari Nisa mau ke kampus dulu Kak,"


"Iya, besok Kakak jemput, dandan yang cantik ya,"


" Nisa sudah cantik Kak dari lahir,"


" Iya Dek, Kakak tahu, ya sudah Selamat tidur, Assalamualaikum...,"


" Wa'alaikum Salam,"

__ADS_1


__ADS_2