
Sesampainya Pak Rudi dan istrinya di Villa, terlihat penduduk sudah di depan Dirga menunggu kehadiran Pak Rudi. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, warga tetap sabar menunggu Orang tua Rini untuk menikahkan anaknya. Dengan gagahnya dia memasuki Villa yang hanya beberapa orang warga saja ingin melihat ijab kabul dadakan itu, yang tidak ada sama sekali resepsi pernikahan. Bermimpi bagi Rini menikah dengan resepsi pernikahan yang sangat megah. Dirinya yang sudah hancur, di nikahi saja sudah beruntung.
Rini merasa sedih, nasibnya seperti kejadian hari ini bagaikan sebuah kaset yang diulang pada dua tahun yang lalu. Dimana dia telah menjebak Annisa dengan Seorang Ceo perusahaan. Jika waktu bisa di putar kembali, Rini tidak akan melakukan hal yang merugikan Annisa. Kejadian yang membuat trauma bagi Nisa, sehingga membuat keluarga Nisa harus pindah dan menjual rumahnya hanya untuk menghindari omongan jelek dari tetangga dan media sosial.
Tetapi dari kejadian itu masih ada perbedaan. Perbedaannya kejadian dulu dengan yang sekarang, ketika Annisa di jebak oleh Rini, dia tetaplah masih perawan. Sedangkan Rini dijebak Dirga, dia sudah kehilangan keperawanannya bahkan dipaksa warga harus segera menikah. Karma itu berlaku bagi dirinya. Allah itu tidak pernah tidur, setiap apa yang dikerjakan pasti akan mendapat balasan.
Hal yang sudah lama Rini lupakan, ternyata teringat kembali. Rini menitikan air mata mengingat kecurangannya terhadap sahabatnya, sahabat yang menemani dari merek kecil. Niat hati ingin menghancurkan sahabatnya, sekarang malah dia yang hancur.
Kegundahan Rini bertambah karena orang tuanya belum juga sampai. Sehingga dirinya memutuskan untuk tetap berada di kamar menunggu Papa dan Mamanya menyusul ke kamar menemuinya. Dengan tergesa-gesa orang tua Rini menuju ke kamar. Papa dan Mama Rini sebelumnya sudah meminta izin kepada Pak Lurah untuk menemui puterinya twrlebih dahulu sebelum ijab kabul dimulai.
Setelah puas Mama Rini memeluk puterinya dan memberikan wejangan kepada puterinya tentang indahnya berumah tangga. Dengan menahan air mata, Mama Rini mengajak mempelai wanita keluar dari kamar. Karena mempelai pria dan penghulu sudah menunggu terlalu lama di luar.
Ijab Kabul pun di mulai, Papa Rini menjadi Walinya. Dengan gagahnya menjabat tangan Dirga, menantu yang umurnya sama, hanya wajah Dirga terlihat lebih muda. Suara Lantang dari mulut Dirga mengucapkan akad.
Saya terima nikah dan kawinnya Rini sakira Nugraha binti Rudi Nugraha dengan mahar satu buah Villa, satu buah mobil dan uang sepuluh juta rupiah di bayar tunai.
Satu detik, dua detik , tiga detik terasa hening tiada yang menjawab. Dirga sudah berkeringat Dingin, menoleh ke sana kemari, tidak ada jawaban dari warga. Ternyata dalam hitungan menit terdengar lah kata,
Sah
Sah
Sah
__ADS_1
Warga terdiam karena mendengar mahar yang lumayan fantastis nilai uangnya. mereka terkejut mendengar mahar begitu banyaknya. Uang sepuluh juta itu diberikan Dirga karena cuma itu uang kas yang ada dalam dompetnya. Dia tidak membawa persediaan uang banyak. warga terdengar berkusik-kusik membicarakan maharnya.
Rini menerima uluran tangan Dirga dan Dirga mencium kening Rini. Sekarang mereka sudah Sah menjadi suami istri. Acara di tutup dengan doa dan acara minum teh dan makan nasi yang sempat dipesan Dirga dari warung sekitar Villa.
Satu jam kemudian, Villa sudah kembali sepi. warga sudah berpulangan, yang tertinggal hanyalah Orang tua Rini dan pasangan pengantin baru. Papa Rini melangkah menuju ruang tamu di mana Dirga dan Rini masih membisu sesudah acara selesai. Rudi duduk di depan Dirga.
" Sekarang kau sudah menjadi menantuku Dirga," ucap Rudi kepada Dirga.
" Apakah aku harus memanggilmu Papa seperti Rini?," tanya Dirga dengan ketus.
" Ha...ha..Lucu sekali kita ini, mulanya status kita adalah sahabat sekarang menjadi mertua dan menantu," ucap Rudi yang terus tertawa mengingat status mereka sekarang.
" Kau mengejekku, bukankah kau yang menawarkan puterimu padaku, dan tawaran itu sangat menyenangkanku. Sebagai menantu yang baik, sekarang aku harus memanggilmu apa?" ucap Dirga dengan senyum liciknya.
Dirga menaikkan alisnya, berpikir apa yang tepat untuk memanggil Orang yang sekarang meledeknya. Dia bisa membaca pikiran Rudi yang memiliki niat tidak tulus di balik kebaikannya. Dirga mencurigai perihal lain yang direncanakan Rudi kedepannya dan puterinya dibuatnya menjadi umpan.
" Apakah kau tidak ada rencana mengadakan resepsi pernikahanmu?," tanya Rudi kepada Dirga.
"Entahlah aku bingung, jika aku membuat resepsi maka wartawan akan meliput beritanya sehingga akan mempengaruhi sahamku," ucap Dirga yang masih memikirkan karirnya.
" Bagaimana kalau istri pertamamu kau ceraikan saja, bila kalian sudah bercerai bukankah semakin gampang kau akan merencanakan resepsi pernikahan, bukankah selama ini kau lihat istrimu sering keluar bersama teman-temannya di Club," ucap Rudi menghasut Dirga.
" Iya kau benar, istri pertamaku juga sekarang susah di atur dan terlalu sering pulang malam. Aku heran apa yang dikerjakannya di luaran sana samapi pulang tengah malam. Akan aku pikirkan secepatnya menceraikan istri pertamaku. Jika puterimu dapat mengandung anakku secepatnya, maka resepsi pernikahan akan ku buat secara besar-besaran," ucap Dirga dengan senyumnya membayangkan bila istri keduanya akan mengandung benihnya dan mempunyai anak yang banyak kedepannya.
__ADS_1
" Yakin punyamu unggul???," tanya Rudi seperti ingin meledek Dirga.
" Apa maksudmu?, kau bilang punyaku tidak berfungsi..., kita lihat saja nanti," ucap Dirga terlihat menantang Rudi, ayah mertuanya.
" Sana kau pulang, aku ingin berdua dengan istriku ingin mencetak banyak anak. Agar Villa ini nantinya ramai," ucap Dirga melangkah mendekati Rini dan menggenggam tangannya di depan Rudi.
" Dasar menantu kurang ajar, mengusir mertuannya, bukannya di suruh menginap eh malah di usir, Menantu edan!," ucap Rudi mengatai Dirga tetapi Dirga dengan santai menggandeng tangan Rini.
Dirga meninggalkan Rudi dan merangkul Rini menuju kamar mereka. Sesampainya Rini segera merapikan risaannya. Dirga memandangi Rini yang duduk di depan cermin, sudah berhasrat langsung memeluk erat pinggang Rini, dan menggendong Rini ke tempat tidur king size mereka. Dengan sekali rengkuh Dirga dapat menguasai dan akhirnya terjadi lagi deh malam panas mereka.
Suara-suara terdengar dari kamar Dirga terasa menggelikan bagi yang mendengarnya. Papa Rini yang ingin menginap, segera menuju kamar tamu. Arah kamar yang harus melewati kamar Dirga terasa lelah ketika menaiki tangga. Tetapi ketika tepat melewati di depan Kamar Dirga, Suara aneh terdengar meremang dan mengganggu pendengaran Rudi.
Rudi yang mendengar suara-suara aneh itu pun segera menarik istrinya segera kekamar dan mengajak cepat tidur agar mereka bisa mencetak adik lagi untuk Rini. Mungkin dari tepung kali ya bisa mudah dicetak. Ya mertua dan menantu ternyata sama sablengnya.
* * * * * *
Suara hewan malam terdengar samar di telingaku. Melalui kaca jendela ku lihat langit yang cerah dengan bertabur bintang dan sebuah bulan yang bersinar terang di langit malam. Ingin rasanya aku keluar malam ini untuk melihat langsung dari taman yang ada di belakang rumahku. Sungguh cpifaan Allah yang sangat sempurna. Andai hatiku saat ini seindah dan secerah malam ini sungguh aku termasuk orang yang beruntung.
Aku berdiri tepat di depan jendela kamar dan di sebelah meja belajar yang terpajang kalender meja dan fotoku berdua dengan Rini. Ku ambil bingkai foto kami berdua, sekilas ingatanku kembali pada masa lalu. Dikala waktu itu kami berdua selalu makan bersama dan jalan-jalan ketika di akhir pekan. Sungguh persahabatan yang sangat indah.
Akankah kami berdua akan kembali menghabiskan waktu bersama? Sedang apakah kau di sana Rini? Rindukan kau pada diriku?
Kulirik kalender yang sudah ku lingkari dengan tinta berwarna Biru. Tanggal yang sangat spesial bagiku dan akan ku rayakan satu tahun sekali. Tepatnya mengingat aku dilahirkan dan sekarang usiaku terus bertambah. Mengingat aku ada Janji dengan Rini tiga tahun yang lalu ketika masih duduk di bangku SMK. Jika suatu saat nanti, aku sudah mempunyai penghasilan sendiri, aku kan meneraktir dirinya di restoran terkenal. Selama bersahabat dengannya, hanya dirinya yang selalu meneraktirku ketika makan.
__ADS_1