Teman Palsu

Teman Palsu
Kejujuran Gilang Prayuda


__ADS_3

Perutku terasa lapar karena dari pagi hanya sarapan bubur ayam yang tidak bisa mempertahankan kenyang perutku sampai siang. Ku lirik menu di atas meja, canggung rasanya untuk mengambil nasi, sedangkan orang yang di sampingku asik memainkan ponselnya. Hening, tidak ada yang memulai pembicaraan, tiba-tiba suara cacing di perutku terdengar lagi.


Krukk


Krukk


Malu rasanya ketahuan Kelaparan, wajahku sudah memerah seperti semerah tomat. Kak Gilang menoleh dengan tertawa, ditariknya sebuah piring dan diisinya dengan nasi, lauk dan sayur. Perhatian yang tiada aku sangka, merasa tersanjung di perhatikan dengan seorang pemuda.


Ku ambil piring yang telah di sediakan Kak Gilang, dan langsung kulahap. Ketika Asiknya makan, Kak Gilang terus saja melirik ke arahku. Tiba-tiba sebuah tisu melekat didaguku membersihkan sisa nasi yang tertinggal di bawah bibirku, Aku terkejut melihat Kak Gilang bersifat romantis kepadaku membuat diriku tersipu malu.


Tante Dewi yang keluar dari kamar nenek memandangi kami berdua dengan perasaan yang tidak dapat diartikan. Terlihat bahagia di wajahnya, berharap akan secepatnya kebahagiaan selalu hadir di rumahnya ini.


Waktu shalat zuhur telah tiba, Kak Gilang mengajakku shalat bersama di ruangan shalat yang tersedia di rumahnya. Kak Gilang menjadi imamku waktu shalat, suara merdu dilantunkan ketika membaca surah pendek dalam shalat sungguh menyentuh orang yang mendengarnya. Sungguh pria idaman wanita.


Selesai shalat terasa badanku berkeringat ingin rasanya mandi mencebur tubuhku ke kolam renang. Ribet sekali memakai gaun ini membuat ku gerah dan terasa gatal. Andai ini di rumahku sendiri mungkin aku sudah ganti baju. Sepatu high heels yang kupakai membuat kakiku sakit. Ku luruskan kakiku setelah shalat. Sungguh capek sepatu seperti ini bikin kakiku encok. Terlalu lama aku mengurut kakiku, tanpa kusadari Kak Gilang tidak ada di tempatnya. Ku cari-cari ke ruangan tamu tapi tidak ku temukan. Rumah besar tapi terasa sepi. Ku coba memberanikan diri berjalan ke arah dapur menjumpai pelayan yang bisa di tanya kemana keberadaan Kak Gilang berada.


Sampai di dapur kulihat Kak gilang duduk di meja makan menikmati segelas jus jeruk yang di ambilnya dari lemari pendingin. Dengan keberanian kudekati Kak Gilang untuk mengajaknya pulang ke rumah karena banyak persiapan yang harus diselesaikan. Besok aku sudah menghadapi ujian nasional.


inilah ujian penentu aku lulus nanti.


Kak Gilang menawarkanku minum tanpa menunggu persetujuan dariku. Sebuah jus yang menggiurkan lidahku telah tersaji di gelas. Langsungku minum sampai kandas dan tenggorokan terasa segar.

__ADS_1


Ditarik tanganku mengikuti langkahnya menuju ke taman rumahnya yang letaknya di belakang rumah. Aku terpana melihat keindahan tamannya. Sungguh indah di sudut taman terdapat ayunan dan kumpulan bunga mawar berwarna-warni . Di sebelahnya terdapat kolam ikan yang ramai dengan ikan hiasnya.


Aku merasa senang inilah sifat kewanitaanku yang selama ini tidak ku sadari. Pemandangan yang di suguhkan ini memberikanku semangat kalau aku harus berubah sebagai wanita yang seutuhnya, bukan wanita jadi-jadian. Semua pekerjaan wanita jika di kerjakan itu terasa indah. Yah, taman yang membuatku takjub ini adalah hasil tanaman Tante Dewi. Dengan kesibukannya Tante dewi masih menyempatkan waktu untuk menata taman seindah mungkin.


Senyum Kak gilang tak henti-hentinya terlihat di wajahnya. Tatapannya membuatku terus menunduk, malu, itulah yang ku rasakan. Banyak yang harus ku perbaiki untuk menjadi wanita yang diidamkan dan semua itu aku belum sepenuhnya punya. Aku harus belajar lagi memperbaiki cara jalanku, cara dandanku, belajar memasak ,Ah... masih banyak kekurangan yang ku miliki, darimana kuawali memperbaikinya, pusing...,


" Dek, mulai besok jangan pakai baju seperti laki-laki lagi ya di depan Kakak," ucap Kak


Gilang di depanku.


" Kenapa Kak," jawabku merasa heran.


" Sini duduk dulu Dek, sebentar lagi kita pulang menunggu nenek bangun dari tidur siangnya," ucap Kak Gilang.


" Iya Kak, tapi Adek gak punya banyak baju wanita" jawabku dan mendekat duduk di samping Kak Gilang.


" Tenang, nnti kita beli ya" ucap Kak Gilang santai.


" Dek suatu saat nanti Kakak berharap kita duduk di sini kembali sebagai pasangan yang sudah sah. mungkin kamu menganggap Kakak berkhayal tapi asal Adek tahu, Kakak serius dengan Adek. Kakak sabar menunggu sampai Adek menyelesaikan sekolah dan sabar menunggu sampai kamu siap membuka hatimu untuk Kakak," ucap Kak Gilang dengan serius memandang wajahku terlihat dari matanya ada kejujuran di sana.


" Kak, jangan terlalu berharap Kak, Adek takut Kakak kecewa," ucapku menatap wajah Kak Gilang.

__ADS_1


"Tidak, hati Kakak mengatakan kalau Adek akan menemani hidup kakak suatu saat nanti," ucap Kak Gilang memegang tanganku.


" Kak ,maaf kak, tapi masih banyak gadis yang cantik dan sempurna daripada Adek," ucapku sambil melepaskan genggaman tangan kak Gilang.


"Gak, cuma adek yang Kakak mau," ucap kak Gilang masih menatap mataku


" Kak, bisakah adek pulang, hari sudah semakin sore, Adek Tidak enak sama Tante Dewi," ucapku ke arah pintu karena dari jauh ada seseorang yang datang.


" Tidak apa-apa, mama tidak akan marah. Baru pertama kali ini Kakak membawa gadis ke rumah ini, sudah lama mama mengharapkan hadirnya anak perempuan, mungkin mama akan sayang denganmu," ucap Kak Gilang Melihat arah pandangan mataku.


Nenek dan Tante Dewi datang mendekat untuk berbincang dengan diriku dan Kak Gilang. Nenek menawarkan kepadaku agar menginap di rumah ini, tapi aku menolak dan beralasan karena besok aku akan berhadapan dengan Ujian Nasional.


Aku pamit kepada Nenek dan Tante Dewi untuk pulang ke rumah. Aku mengikuti langkah Kak Gilang menuju parkiran. Hari sudah sore, cuaca juga mendung. Aku masuk ke dalam mobil yang telah di bukakan pintunya oleh Kak Gilang, berasa tuan puteri aku hari ini. Beberapa menit didalam mobil tiada pembicaraan yang kami ucapkan.


Aku Lelah sampai tertidur dikursi mobil. Senyum terlihat di wajah Kak Gilang melihatku tertidur. Dengkuran kecil terdengar dari mulutku. Dengan keisengan Kak Gilang langsung merekam wajahku yang lagi tertidur.


Tiga puluh menit kemudian sampailah kami di depan rumah, tetangga yang sibuk ngegosip di hebohkan tentang kedatangan mobil di depan rumahku dan bertambah panjang mulut mereka menggosipi.


Tanpa membangunkan, aku yang tertidur langsung di angkat Kak Gilang menuju teras rumah. Direbahkannya tubuhku di kursi bambu. Ternyata dari jauh ada seseorang yang mengabadikan fotoku yang digendong oleh Kak Gilang. Ditepuknya pipiku agar aku segera bangun, aku merasa malu karena sempat tertidur di Hadapan Kak Gilang.


Ku buka mataku terasa seperti mimpi kalau di depanku ada seorang pemuda tampan yang lagi dekat dengan wajahku. kucubit pipi sebelah kiri, terasa sakit. Ternyata bukan mimpi, ini nyata. Kenapa aku sudah disini, setahuku tadi masih di mobil. Deheman dari mulut Kak gilang mencairkan suasana, kuelap mukaku dengan baju, mana tahu ada iler yang menempel di wajahku.

__ADS_1


__ADS_2