
Sudah dua hari aku berada di rumah sakit, dan membuatku sangat bosan. Calon Ibu mertuaku pagi tadi sudah datang menjengukku dan membawakan sekeranjang buah-buahan yang baik untuk lambungku. Mama Kak Gilang berpesan jika aku pulang nanti, dia akan mengajak diriku agar mau tinggal bersamanya beberapa hari selama nenek di rumah. Aku yang baru sembuh dari sakit, sudah pasti di larang ibu. Ibu meminta agar aku harus pulih terlebih dahulu baru bisa main ke rumah Mama Kak Gilang. Keegoisan dalam diri mereka tiba-tiba muncul untuk memperebutkan diriku.
Perbedaan pendapat keduanya membuatku pusing dan bingung untuk memilih, aku juga takut kalau mama Kak Gilang akan tersinggung. Akhirnya aku yang menentukan pilihan dan berharap tidak ada yang membantah. Aku akan tetap datang ke rumah Mama Kak Gilang, tetapi hanya siang hari saja, itupun hanya selama selama nenek di sana dan ketika malam aku harus tidur di rumah. Mereka berdua setuju, dan itu membuatku sangat lega.
Hari ini aku minta pulang dari rumah sakit, Dokter tidak begitu saja membiarkanku pulang. Aku harus melewati pemeriksaan yang akurat agar diriku benar-benar sudah di katakan pulih dan baik-baik saja, kalau sudah di periksa ternyata keadaanku baik, baru Dokter membolehkanku untuk pulang ke rumah. Karena Dokter Rianti tidak mau sembarangan membiarkanku pulang, dia takut kalau keluarga Yuda akan memberikan sanksi bahkan akan memberhentikan dirinya di rumah sakit tersebut, bila aku sewaktu-waktu kambuh kembali.
Dokter selesai memeriksa keadaanku, aku bisa pulang dengan syarat aku harus rajin chek up. Ibu mengemasi barang-barangku, dan yang menjemput adalah Kak Andre, yang sudah stand by di depan dengan mobil pribadinya.
Senyum merekah di wajahnya kala melihatku keluar dari rumah sakit menuju mobilnya dengan wajah yang tidak pucat lagi.
Ketika akan masuk ke mobil, dengan siaga dia membukakan pintu, setelah aku dan Ibu masuk, Kak Andre menutupnya kembali. Perjalanan terasa hening karena didalam mobil tidak ada yang membuka pembicaraan. Mama Kak Gilang sudah pulang duluan dengan supir pribadinya. Di dalam mobil aku menyandarkan kepalaku sambil mendengarkan lagu yang di putar Kak andre dan lama kelamaan aku tertidur di bahu ibuku.
Satu jam kemudian kami pun sampai di rumah. Kak Andre langsung keluar membukakan pintu untukku dan Ibu. Aku yang baru terbangun merasa terbengong karena baru tersadar dari kantukku. Butuh waktu beberaoa emnit untuk menormalkan pandanganku. Ibu sampai terheran akan kesiagaan Andre yang sangat perduli melebihi seorang bodyguard. Tubuhku di papah ibu ketika masuk dalam rumah, terlihat ayah duduk di depan TV sedang mengerjakan perangkat sekolahnya. Dia terkejut melihatku pulang dan memeluk tubuhku yangbterlibat baik-baik saja.
Aku langsung ke kamar ingin beristirahat dan menenangkan pikiranku.Di depan jendela aku duduk memandangi taman yang bunganya bermekaran. Tatapanku ke depan melihat bunga-bunga yang indah bermekaran itu. Di pandang tetapi tidak indah bila di pegang, dia penuh duri. Apakah Jalan Cintaku seperti bunga mawar itu. Di lihat orang lain kami terlihat bahagia, dapat bertunangan dengan keluarga kaya, tetapi hatiku terus gelisah, apakah aku tidak ikhlas membiarkan Kak Gilang berada di sana? Apakah dia juga akan setia padaku?
Aku takut dia berubah, Dia akan membantu Papanya mengurus perusahaan, sudah pasti dia akan bertemu dengan wanita-wanita cantik. Ah, Andai aku tidak membiarkan Kak Gilang kuliah di sana, mungkin kami sekarang sering bersama.
Ku ambil Diary di atas meja yang selalu menemaniku di kala gundah gulana. Semua ku curahkan ke dalamnya sampai hatiku merasa tenang. Seketika aku teringat Desa tempat aku menenangkan diri. Kangen aku akan desa itu, desa yang masih asri dan masih sejuk, tidak banyak abu dan kebisingan dari kendaraan. Tetapi itu sangat jauh sekali, bisa kena marah aku sama ibu. Aku kelelahan menulis, dan akhirnya aku pun tertidur, diary yang kutulis sampai menutup wajahku.
Waktu zuhur sudah tiba, aku tidak dapat terbangun kala mendengar ketukan dari luar, badanku yang masih lemas seakan malas bangun dan mata rasanya seperti diberi lem perekat supaya mataku tidak dapat terbuka. Setan mengelem mata dan memegangi kaki dan tanganku agar tetap tidur menemaninya menjadi setan yang baru.
Ketukan kembali terdengar lagi, mataku seketika terbuka dan dan duduk di tepi ranjang.
"Masuk,"ucapku yang menyuruh orang diluar pintu masuk.
Ceklek!
__ADS_1
Ibu membuka pintu dan melihat keadaanku yang baru bangun dari tidurku.
" Dek, udah shalat?," tanya Ibu kepadaku yang di lihatnya aku baru bangun.
" Belum Bu," ucapku sambil menggelengkan kepala.
" Kamu mau shalat dulu atau makan dulu nak, kamu kan mau minum obat, harus makan teratur," ucap ibu mengingatkanku.
" Iya bu, Nisa mau shalat dulu aja buk,"ucapku dengan cepat
"Ya sudah, Ibu tunggu di meja makan ya," ucap ibu kepadaku.
"Iya buk," jawabku dan bersiap bangun untuk ke kamar mandi.
Ibu keluar menunggu dapur ingin menyiapkan menu makan siang bersama yang sangat jarang kami lakukan. Biasanya kami ketika siang, selalu makan siang diluar dan pada malam hari saja kami baru bisa berkumpul.
Aku bergegas ke kamar mandi dan berwudu kemudian melaksanakan shalat Zuhur di kamarku. Kupanjatkan doa kepada Allah, mohon perlindungan untuk keluargaku dan Kak Gilang. Semoga dia diberi kemudahan untuk menyelesaikan masalahnya dan pulang dalam keadaan selamat.
Sebuah tangan menepuk bahuku dan berjalan duduk di samping diriku. Aku terkejut, siapakah yang berani menepuk pundakku selain ayah dan ibu?
" Jangan melamun Dek?" ucap Kak Andre yang terlihat santai setelah menepuk pundakku dengan tiba-tiba.
Aku terbengong melihat Kak Andre datang ke taman untuk menemuiku seperti jelangkung yang datang tidak di undang.
"Apakah Nisa sudah tahu, kalau Gilang pergi ke London?," tanya Kak Andre kepadaku.
"Iya, sudah tahu," ucapku dengan ketus.
__ADS_1
" Terus kamu mengizinkannya," ucap Andre ingin mengetahui jawabanku.
" Iya,"jawabku langsung tanpa ada kegugupan.
" Kenapa?," tanya Kak Andre kepadaku lagi.
" Gak tahu," ucapku yang asal dengan pandangan tetap ke depan menatap bunga- bunga yang indah.
" Protes dong Nisa..., kamu kan tunangannya, apa kamu gak bosan di tinggal terus oleh Gilang? tanya Kak Andre menginterigasiku dan memancing kemarahanku.
"Bukankah waktu perjanjian antara aku dan kak Gilang belum berakhir, kami menjalaninya aja baru satu tahun lebih," ucapku menjelaskan kepadanya.
"Jadi kamu gak marah Dek,"ucap Andre kepadaku.
"Gak, selama dia membantu keluarga dan untuk kepentingan orang banyak, Nisa merelakan Kak Gilang pergi ke sana," ucapku yang berbicara untuk belajar ikhlas.
"Apakah kamu tidak takut kalau Gilang akan menduakanmu?," ucap Andre yang selalu bertanya dan aku merasa tersinggung dengan perkataannya.
"Apa yang ditakutkan Kak?, Bukankah Allah sudah menakdirkan segalanya, jika Kak Gilang jodoh Nisa, pasti kami akan bersatu kembali," ucapku mencoba tegar dan aku percaya kepada takdir Allah itu.," Tunggu dulu, apa urusan Kakak menginterogasi Nisa?," ucapku yang terheran melihat kekepoannya.
"Gak, cuma mau tau reaksi kamu aja," ujar Kak Andre mencari alasan.
" Ah masa, pertanyaan Kakak aja seperti wartawan yang ingin memburu berita," ucapku yang memaksa dia untuk berkata jujur.
"Gak ada, ka...kak cuma gak ingin kamu kesepian," jawab Andre dengan berbohong.
"O...Kakak mau menemani Nisa, tapi Nisa ogah. Kakak masih mau di sini kan..., Nisa masuk ya..," ucapku cuek dan masuk ke kamar dan membenamkan tubuhku di bawah selimut.
__ADS_1
Ku pejamkan mataku untuk membuang jauh-jauh pikiran buruk tentang Kak Gilang, tetapi Mataku susah untuk dipejamkan. ku tatap langit-langit kamar berharap terbayang wajah tampan pujaan hatiku. Capek menatap langit kamar, lantas aku beranjak dari tempat tidur membuka lemari pakaian, mengambil jaket dan hijab yang senada.
Ku kenakan jaket kulit, sepatu ket dan tas ranselku yang senantiasa ku bawa kemana-mana. Ku ambil kunci motor dan berjalan keluar menuju garasi. Terlihat motor dan mobil lamborghiniku mengkilap, siapa yang membersihkannya?