
"Assalamualaikum" ucapku mengucapkan salam ketika di depan pintu rumahku sendiri. terlihat tidak ada Ibu yang menyambut kepulanganku.
"Wa'alaikum Salam," jawab ibuku yang langsung menoleh sedang asik duduk di depan televisi menonton drama kesayangannya di TV swasta yang berlogo ikan terbang. Terlihat wajah sedih Ibu yang habis menangis karena mengahayati sinetron yang menjadi siaran favoritnya.
Sankin seriusnya menonton, Ibu tidak menyadari kalau aku bersama tamu yang sudah beberapa minggu tidak bertemu dan tamu itu langsung masuk mengikuti diriku.
"Assalamu'alaikum Jeng....," sapa Mama Gilang yang langsung masuk tanpa di sambut oleh calon besannya.
"Wa ....Wa'alaikum salam," Ibu gugup Mendengar suara yang tidak asing ditelinganya dan segera berdiri menyambut tamu yang sudah masuk tanpa di persilahkan.
"Maaf Jeng.. saya langsung masuk tanpa di persilahkan dulu, terlalu semangat sih," ucap Mama Gilang yang sangat malu, ketika baru sadar dirinya kurang baik dalam bertamu.
"He..he..gak apa-apa Mbakyu.., anggap saja rumah sendiri, silahkan duduk Mbakyu" ucap Ibuku yang tidak ambil pusing. Memang juga kesalahannya yang terlalu asik menonton, sampai tidak tahu ada tamu.
" Iya terima kasih. Maaf, saya ganggu malam-malam, kok sepi..., di mana yang lain Jeng...," tanya Mama Gilang yang memperhatikan suasana sepi, padahal baru jam 08.30. Sedangkan Gilang duduk disamping Mamanya yang diam, pandangannya selalu memperhatikan diriku.
" O... Ayah Nisa lagi keluar, ada tetangga yang sedang syukuran, kalau Raga lagi keluar main sama teman-temannya," ucap Ibuku menjelaskan.
"Begini Jeng, kedatangan saya kesini mau minta izin agar saya diizinkan membawa Annisa ke London bersama saya. Besok Gilang akan Wisuda Masternya Jeng. Papa Gilang tidak bisa mendampingi. Kalau di izinkan, Annisa kami bawa agar dapat mendampingi Gilang ketika wisuda nanti," ucap Mama Gilang menjelaskan kepada Ibu Annisa.
" Bukan saya tidak mengizinkan, Mbakyu kan tau sendiri, pernikahan mereka tinggal satu minggu lagi. Saya takut terjadi apa-apa MbakYu..., Dara manis kata orang tua dulu," Ibu yang sedikit keberatan dengan permohonan Mama Kak Gilang.
" Iya Jeng, saya tau, habis Wisuda kami langsung pulang, hanya Gilang yang akan tinggal karena ia akan mengurus berkas-berkasnya dahulu. Begitu mau akad Nikah, dia langsung pulang," ucap Mam Gilang menimpali.
" Baiklah, tapi jaga Puteri saya satu-satunya ya Mbakyu..., Saya tidak mau terjadi apa-apa dengannya," ucap Ibuku yang mengajukan permohonan.
"Tentu akan saya jaga, Annisa sudah saya anggap anak saya sendiri Jeng, jadi saya akan menjaganya," jawab Mama Gilang menyanggupi permintaan calon besannya.
" Annisa Bawa sebagian bajumu nak, malam ini kita akan menginap di rumah Mama, kalau baju di sana sudah Mama persiapkan jauh-jauh hari," ucap Mama Gilang memberitahukan mendadak yang membuat Ibuku terkejut mendengarnya.
" Ha...Mengapa harus malam ini Nisa dibawa?," tanya Ibuku yang terkejut. "Apa sebaiknya besok saja Jeng?," tanya Mama Gilang yang kembali bertanya.
" Mulanya saya berpikiran begitu, tetapi dipikir-pikir, saya takut kalau pagi jalanan sangat macet kalau harus jemput Nisa besok lagi Jeng. Jadi sekalian malam ini saja kami bawa," ucap Mama Gilang menjelaskan dengan alasan yang masuk diakal.
Aku melihat ada keraguan di mata ibu, untuk melepasku pergi. Aku mendekati ibu dan duduk disampingnya.
" Bu.., apakah Nisa di izinkan ikut dengan Mama Kak Gilang?," tanyaku kepada Ibu agar aku bisa memutuskan sesuatu yang membuatku harus merelakan jika memang itu yang terbaik.
" Ya sudah sana, siapkanlah pakaianmu," ucap Ibu tersenyum, seakan dia rela melepasku.
Aku melangkah menuju kamar, bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku sebentar karena terasa lengket. Berpakaian ala simple dan memakai jilbab yang senada. Dengan hati bahagia langsung mempersiapkan barang-barang yang akan ku bawa malam ini. Cukup beberapa pakaian saja, onderdil dan alat kosmetik yang seadanya. Tidak berapa lama aku keluar menggeret sebuah koper, mendekati ibu dan langsung memeluknya.
__ADS_1
" Jaga dirimu baik-baik Nak..., jangan pecicilan, ingat kamu dara manis," ucap Ibu memberikan aku wejangan.
" Emmuahh...Siap Bu, perintah ibu akan saya laksanakan," cium pipi Ibu dan langsung menghormat seperti anak buah yang menghormati komandannya.
" Bocah edan!!!," ucap Ibu yang tersenyum melihat tingkahku.
" Edan, edan gini tapi ngangeni Bu...," ucapku yang memeluk ibu kembali.
"Ingat pesan ibu," Ibu ku sedikit mengingatkan. Menatap tajam wajahku yang cengengesan.
"Oke... Bu, Nisa janji akan jaga diri, emmuah...," aku mencium pipi kiri dan kanan ibu sekali lagi.
terlihat Mama Gilang Tersenyum melihat tingkahku yang nyeleneh. Seperti bayi yang tidak bisa di tinggal jauh. Dan akan pergi begitu lamanya.
" Kalau begitu kami permisi ya Jeng...," ucap Mama Gilang berpamitan.
" Saya pamit bu, saya kan jaga Nisa dan Saya pastikan Nisa pulang dengan keadaan baik-baik saja," pamit Gilang kepada Ibu Annisa yang mengucapkan janji akan selalu menjaga calon istrinya.
" Pegang janjimu Lang," ucap Ibu dengan penegasan dan terlihat serius di wajahnya.
" Iya Bu..., ayo Nisa," ajak Gilang dan membawakan koperku.
"Bagaimana dengan ayah, Bu..., Nisa belum pamit sama Ayah," tanyaku kepada Ibu, yang membuat ibu tersenyum melihat sikapku yang sangat khawatir.
" Sudah nanti ibu sampaikan sama ayah, kamu tenang saja, sudah pergilah," ucap ibu menenangkan dan mengusap kepalaku yang di lapisi jilbab.
" Nisa pamit ya bu..," aku menyalim tangan Ibu dan melangkah pergi menuju mobil Kak Gilang. Ibu melambaikan tangan dan semakin jauh tidak terlihat barulah dia masuk kedalam rumah.
Rumah terasa sepi padahal sebentar lagi rumah ini akan ribut dengan keramaian warga yang sibuk mengurus persiapan pesta.
Di dalam mobil aku mengantuk dan langsung tertidur tanpa memikirkan ada calon mertuaku di sampingku. Kak Gilang yang melihat dari kaca di atas kemudinya tersenyum melihat wajahku yang cantik ketika tidur.
Jalan yang dilalui terasa ramai. Maklum hari weekend banyak muda -mudi yang ingin. jalan-jalan melepaskan penat.
Mobil sampai di rumah mewah bertingkat dua. Pintu gerbang terbuka dan beberapa pelayan berdiri di depan pintu menyambut kedatangan kami. Mama Gilang melihat diriku tertidur dengan lelap dan tidak ingin mengganggu.
" Lang, sebaiknya kamu gendong Nisa ke kamar," ucap Mama Gilang mengingatkan dan keluar dari mobil.
" Iya Ma...," jawab Gilang dan menggendong Nisa menuju ke kamar yang sudah di siapkan. koper Nisa dia dibawakan pelayan dan ikut membawanya ke kamar.
Aku tanpa sadar mengeratkan pelukanku pada tubuh Kak Gilang. Senyum terpancar di wajah Gilang ketika aku mengeratkan pelukanku. Aku bermimpi bisa terbang bagai kupu-kupu, tubuhku terasa sangat ringan. Dalam Mimpi itu aku takut jatuh sehingga berpegangan tangan dengan orang yang membawaku terbang. Tapi orang itu tidak tahu siapa. Wajahnya sangat tampan.
__ADS_1
Sampailah kami di taman yang indah. Dengan suasana yang adem dan penuh bunga-bunga bermekaran. Ternyata taman yang ku mimpiku itu adalah kamar mewah yang di sulap sangat indah.
Tanganku masih memeluk Kak Gilang begitu erat. Sampai Kak Gilang sedikit kesulitan melepaskan pelukan tanganku. Wajahnya berkeringat karena terasa lelah menggendongku yang lumayan berat.
Cup
Kak Gilang mencium keningku dan menyelimutiku dengan selimut tebal.
Aku menggeliat dan merasa nyaman tidur di kasur yang begitu empuk. Memeluk Guling yang berada di sampingku begitu erat.
Gilang yang memperhatikan diriku terlelap memeluk guling, begitu gemas. Apalagi melihat bibirku yang berwarna pink. Otaknya sudah kemana-mana memikirkan yang aneh-aneh tentang calon istrinya. Dia berharap, guling yang di peluk Annisa sekarang adalah dirinya. Gilang merasa tidak sabar ingin segera mempersunting Annisa secepatnya.
Gilang keluar dari kamar sebelum dia khilaf dan menuju ruang kerja ayahnya. Dia ingin membicarakan rencana resepsi dan perkembangan usahanya yang baru di rintisnya.
Beberapa jam kemudian
Aku terbangun kala tenggorokanku terasa kering. Ku lihat jam di dinding menunjukkan pukul 11.00 malam. Dengan memiliki sedikit keberanian, ku coba keluar menuju dapur. Yang ku ingat sewaktu aku pernah ke rumah ini, letak dapur tidak jauh dari ruang makan.
Aku melangkah ingin mengambil air minum. Suasana ruangan yang temaram membuatku harus ekstra hati-hati karena takut tersandung akan membuat kegaduhan dan membangunkan seisi rumah. Aku berjalan mengendap-endap seperti maling yang ingin mencuri sesuatu.
Ketika sampai di dapur, ku lihat lemari pendingin yang begitu besar dan terpaksa memutar otak bagaimana cara membukanya. Karena kulkas yang di rumahku tidak seperti ini bentuknya. Ku ambil gelas dan ingin menuangnya segera.
"Ehemm," suara deheman mengejutkanku dan seketika gelas yang ku pegang terjatuh.
Tarr!!!
Pecahan gelas berserakan dan serpihannya mengenai kakiku.
"Astaghfirullahaladzim," jantungku mau copot mendengar suara deheman itu. Memegang dadaku yang terasa jantungan. Tubuhku terasa menegang ada perasaan takut dan terkejut. Aku tidak berani menoleh ke belakang.
Ya Allah apakah hantu datang di jam segini? kalau benaran datang, matilah aku. Aku belum menikah, aku gak mau mati muda. Bagaimana dengan Kak Gilang nanti. Ya Allah lindungi aku ya Allah....
Mulutku komat-kamit membaca apa yang terlintas dalam pikiranku. Suara langkah kaki terdengar mendekati. Semakin lama semakin mendekat. Jantungku semakin bertalu cepat. Aku sudah membayangnya sosok putih yang bergelantungan di belakangku.
Eh ,tunggu dulu, hantu kok bisa melangkah. Setahuku kan tidak memijak tanah. Perasaanku semakin tidak karuan. Malam ini diriku yang tomboy menjadi seorang yang penakut. Mata ku pejamkan erat, takut jika aku buka, bayangan yang menakutkan akan membuatku semakin takut dan hantunya semakin mendekat. Seketika terasa perih menjalar di kakiku. Aku merasakan Kakiku tertusuk serpihan kaca. Aduh..., bagaimana aku melangkah, hantunya akan segera mencengkikku. Kak Gilang tolong Nisa....
Ctek
*******
Jangan lupa Like, komentar, Vote dan Hadiahnya ya..
__ADS_1