Teman Palsu

Teman Palsu
Rangga Dwi Putra


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan waktu maghrib, ibu memberikanku sebuah mukena, untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Pak Surya yang menjadi Imamnya. Terdengar lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an yang di bawakan Pak Surya membuat tubuh ini merinding mendengarnya.


Selesai shalat, ibu bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam yang hanya menghangatkannya saja, kemudian di hidangkan diatas meja makan. Walaupun terlihat makanan biasa, tetapi sungguh menggugah selera. Nasi putih, gulai daun singkong, ikan asin dan sambal terasi serta peyek Ebi menambah perutku semakin lapar di hujan- hujan begini.


Kami pun menyantap makan malam bersama, keheningan di ruang makan terasa bagaikan rumah tidak berpenghuni. Makan menggunakan tangan, sehingga tidak ada terdengar dentingan sendok di ruangan itu. Enak..., itulah kata yang pantas untuk ibu, karena pandai menyediakan hidangan seenak ini.


Ketika asik makan, terdengar ketukan pintu di luar, Pak Surya terkejut sekaligus kesal. Beliau mengatakan siapakah hujan-hujan begini datang bertamu.


Ibu membukakan pintu melihat siapa tamu yang datang. Sedangkan aku dan ayah tetap makan dan menikmati masakan ibu. Terjadi kecanggungan di meja makan. Terdengar suara bahagia ibu dari depan. Ayah segera mencuci tangannya dan menyusul ibu kedepan.


Begitu juga dengan diriku yang segera menuntaskan makan malamku.


Terlihat Ibu dan Ayah bahagia menyambut puteranya yang memakai pakaian tentara yang baru saja pulang bertugas setelah sekian lama tidak kembali ke rumah. Putera Ibu wati mempunyai postur tubuh tinggi tegap dan berkulit hitam, sedang membelakangi diriku yang memeluk kedua orang tuanya. Aku dari jauh terpaku melihat kebahagiaan mereka dan merasakan kehangatan di dalam keluarga ini. Ibu membawa anaknya duduk di ruang tamu. Aku terus terpaku melihat mereka dan tanpa sadar Ibu terus memandangi diriku.


Dalam keterdiamanku, aku terkejut ketika Ibu memanggil namaku. Putera ibu Wati langsung berpaling melihat diriku yang terasa aneh didengarnya. Karena sepengetahuan dirinya tidak ada penghuni rumah ini yang bernama Annisa.


"Nisa, kenalkan ini putera Ibu Nak," ucap ibu memanggil diriku untuk berkenalan.


" Iya Buk," aku melangkah mendekati ibu dan mengulurkan tanganku kepada puteranya Ibu Wati. Tangan putera ibu juga terulur berjabat tangan .


" Nisa," ucapku mengenalkan namaku.


" Rangga," ucap putera Bu Wati.


Ayah mengajak kami kembali untuk kemeja makan, melanjutkan makan malam kembali. Rangga pamit ingin membersihkan dulu tubuhnya. Tidak butuh lama Rangga keluar menggunakan baju kaos yang pas di badannya , sehingga menunjukkan lekuk dada bidangnya dan perut kotak-kotaknya.


Rangga menuju meja makan tepatnya duduk di sampingku. Dengan percaya dirinya melahap makanan dan pakai acara tambah nasi segala. Sungguh manusia aneh, ada cewek cantik di sampingnya pun gak ada malunya. Makannya saja setinggi gunung. Kunyahannya saja cepat minta ampun, cara mengunyahnya seperti Gilingan mesin. Aku menggeleng melihat cara makan puteranya Ibu Wati. Mungkin karena mereka biasa cepat dalam segala hal bertugas, sehingga melakukan sesuatu pun harus cepat, termasuk dalam hal makan.


Ibu membereskan meja dan aku ikut serta membantu sekalian mencuci piringnya. Selepas itu ibu bergabung bersama ayah dan puteranya di ruang keluarga.


Kulihat ponselku yang baru di carger membuat aku bosan menunggunya penuh, karena tidak ada yang bisa aku lakukan berada di rumah ini. Akhirnya aku keluar menuju teras, melihat suasana malam yang dingin, hujan pun juga sudah berhenti. Ternyata jika malam minggu begini, di desa ini terasa ramai. Muda-mudi pada malam mingguan


Walaupun gaya mereka jadul tetapi solidaritas sesama kawan masih ada. Motor mereka juga masih butut. Iring-iringan motor butut menderu melintas berulang kali di depan rumah Pak Surya, ingin melihat diriku yang berada di teras rumah. Entah karena ingin cari perhatian atau apa, sebagian pemuda terlihat curi-curi pandang ketika melewati rumah dan aneh-aneh tingkah mereka.


Ada yang sengaja menghentikan motornya kemudian menuntunnya. Dan ada yang mondar-mandor seperti setrikaan sambil menatap wajahku terus-menerus tanpa melihat jalan ke depan, akhirnya masuk ke got.

__ADS_1


Aku merasa terhibur akan tingkah mereka mungkin mereka gak pernah lihat cewek cantik kali ya... , sampai segitunya seperti udik.


"Ehemm," deheman Rangga membuatku terjaga dari lamunanku.


" Lagi mandangi apa Dek...,"ucap Rangga yang berjalan mengambil kursi di hadapanku.


" Itu Mas, Lucu lihat tingkah mereka," ucapku yang membuat Orang yang di hadapanku salah tingkah.


" Ehemm, Mas ya, seperti udah punya calon istri dipanggil Mas," ucap Rangga yang kesel-sem karwna panggilan dariku.


" Ha...ha...habis, Nisa bingung mau manggil apa, panggil nama kan gak mungkin" ucapku menjelaskan kepada Rangga, syukurnya lampu teras terang, kalau gelap seperti bicara dengan arang, karena sankin hitamnya kulit Rangga.


" Ya gak papa-apa di panggil Mas, Mas pun suka kok," ucap Rangga salah tingkah.


" Gak kedinginan Dek...," tanya Rangga kepadaku yang memperhatikan diriku terus bersedekap merasakan dinginnya malam.


" Lumayan Mas," ucapku yang melihat tingkahnya ingin memberikan Jaket kepadaku.


" Ini pakai Jaketnya, nanti kamu masuk angin," ucap Rangga Memberikan Jaket yang baru di bawanya dari kamar dan masih rapi terlipat.


" Terima kasih Mas," ucapku kepada Rangga.


"Kamu sudah bertunangan ya Dek,"tanya Rangga kepada diriku.


" Iya Mas," ucapku dengan jujur.


" Sudah mau nikah berarti kamu ya..." ucap Rangga menginterogasi.


" Belum Mas, masih lama, masih 2 tahun lagi," ucapku menjelaskan.


" Lama betul kalian tunangannya Dek, gak takut Calon suamimu di gebet orang," ucap Rangga menjaili diriku.


" Ah, mas ini nakuti orang saja, calon suami Nisa kuliah di Australia, Nisa akan menunggu sampai kepulangannya," ucapku yang terdengar lesu.


" Jadi kenapa Nisa bisa nekat sampai kemari, kamu ada masalah ya sama tunanganmu," tanya Rangga penasaran karena seorang wanita bisa sebegitu jauhnya bepergian, sendiri lagi.

__ADS_1


" Gak tahu mas, apakah ini bisa di bilang masalah atau tidak, karena Nisa belum mendengar penjelasan darinya langsung," ucapku menjelaskan.


" Kenapa begitu?," tanya Rangga yang seperti pengacara.


Aku pun menceritakan kepada Mas Rangga, ku anggap dia lebih dewasa dalam mendengar suatu cerita. Pasti dia sudah pernah merasakan pahit manisnya berpacaran.


Kalau menurut Mas, jangan sampai bubar, tapi kalau bubar juga tidak apa-apa, Mas juga mau sama kamu.


" Mas ini..., Nisa serius malah di candai," ucap Ku yang merasa kesal di jaili terus.


"Mas juga serius, dua rius malah,


ehem..., alangkah baiknya kamu dengar dia dulu menjelaskan, baru kita bisa mengambil keputusan. Suatu hubungan harus memiliki kepercayaan, agar hubungan itu tetap langgeng,"


" Mas, sudah punya pacar?ucapku mencari tahu.


" Belum..., masih pendekatan," ucap Rangga dengan santai.


" Jadi kok bisa menasehati Nisa," ucapku yang merasa heran.


" Mas, dulu pernah bertunangan Dek, tapi gagal karena ketidakpercayaan diantar kita berdua, jadinya ya bubar. Mas jarang pulang dan jarang memberi kabar, tunangan Mas selingkuh dengan teman sekantornya. Mulanya dinyatakan selingkuh dia mengelak dan Mas juga tidak percaya. Tetapi suatu Ketika, dia kepergok oleh Abang Ipar Mas sendiri ketika cek in di hotel. Abang Ipar Mas waktu itu sedang rapat dengan teman-temannya di hotel yang sama. Mas yang baru saja pulang bertugas, langsung disuruh datang di hotel tersebut dan waktu itu Mas pulang tanpa sepengatahuan dirinya, pikir Mas ingin memberikan kejutan. Dengan Mata Mas sendiri melihat mereka melakukan hubungan suami istri di kamar hotel itu," ucap Rangga menjelaskan.


" Maaf Mas, Nisa gak bermaksud mengungkit masa lalu Mas Rangga,"ucapku yang merasa bersalah.


" Tidak apa-apa, mas Ingin kamu jangan mengalami hal seperti Mas nantinya, mulai daris ketang cari dulu kebenarannya, kalu memang dis selingkuh baru bisa kamu mengambil keputusan," ucap Rangga menasehati.


" Iya Mas, Nisa akan dengar nasehat Mas Rangga," ucapku terlihat tulus.


" Ya sudah sana tidur, sudah malam juga, bukankah yang Mas dengar dari Ibu, kalau kamu besok akan pulang pagi-pagi sekali?," tanya Rangga kepadaku.


" Iya Mas," ucapku mengganggukkan kepalaku.


" Mas berharap kita berjumpa Kembali setelah hari ini," ucap Rangga yang seakan berharap.


Aku mengangguk dan masuk ke dalam rumah, mengambil ponsel yang di carger tadi dan langsung masuk ke dalam kamar yang sudah di sediakan oleh Ibu Wati.

__ADS_1


Malam terasa panjang menginap di rumah ibu Wati. Aku tidak bisa tidur, bukan karena banyak nyamuk dan bukan karena perutku lapar, tetapi karena aku gak jumpa bantal kesayanganku yang ada pulau sumatera dan pulau jawanya. karena setiap Aku tidur harus meluk bantal itu.


Aduh bagaimana ini, kucoba melihat kelangit-langit kamar, memulai menghitung dari 1 sampai Seratus agar mata ini dapat terpejam. Akhirnya mata pun terpejam dan mimpi yang indah.


__ADS_2