Teman Palsu

Teman Palsu
Gaun Yang Sangat Indah


__ADS_3

"Eh lihat-lihat, itu cewek yang di gandeng Tuan Gilang waktu itukan..., perasaan biasa aja gayanya, kok bisa ya jadi calon istrinya Tuan Gilang, sakit mata kali ya Tuan Gilangnya," ucap Si Mimin yang bermulut Pedas lebih pedas dari lada dan cabai rawit kepada teman karyawan lainnya.


"Kalau gak salah, itu gadis yang dihina tempo hari ya.., kok masih bermuka ya kemari," ucap karyawan Butik yang bernama Gita dengan tubuh gemuk pendek dan berkulit hitam. Sudah jelek tapi suka menggosipi orang, tidak pernah bercermin kali ya, atau di rumahnya tidak ada cermin.


" Gayanya biasa saja tuh. Apa coba yang lebih darinya, cantikan juga Aku," ucap si Noni, gadis tinggi semampai berkulit putih dan berwajah manis dengan baju bagian atasnya yang dibiarkan terbuka dan salah satu asetnya yang besar ingin muntah. Dia sengaja mempamerkan asetnya agar pemuda yang melihatnya akan tertarik padanya.


"Udah jangan gosipi orang, nanti kamu gak dapet gaji lho...," ucap Siti mencoba menasehati ketiga temannya.


"Yang kita ucapkan, kan sesuai fakta," ucap Noni dengan gaya angkuh dan melenggak-lenggokkan tubuh body gitarnya.


" Iya tapi jangan sampai menyingung perasaan calon menantu Bu Dewi, gak takut kamu kena pecat," ucap Siti kembali memperingatkan.


"Mana berani Bu Dewi memecat saya, secara gitu lho..., saya paling cantik dan paling ramah dibutik ini, gak kayak kalian...," ucap Noni dengan gaya pongahnya.


"Yakin gak takut???," ucap Siti menakuti.


"Enggak, aku gak takut tuh," ucap Noni kembali.


"Tapi di sini banyak CCTV itu lho... Pirasat aku, Bu Dewi udah mantau tuh, siap-siap aja kamu dipecat," ucap Siti menerangkan dan meninggalkan mereka yang sudah ketakutan.


"Sialan, kenapa kamu gak kasih tau dari tadi Siti...," ucap Noni yang sudah ketakutan dan terlihat gusar.


" Ha..ha...ha.., rasai..," ucap Siti yang tertawa dan suaranya terdengar di telinga Asisten Bu Dewi.


" Udah bosan kalian kerja!, kalau sudah bosan, buat surat pengunduran diri," ucap Assisten Bu Dewi dengan emosi. Sedangkan para karyawan yang bergosip bubar dan berlari menjauh menemui pelanggan yang masih memilih gaun yang ingin mereka beli.


Sepasang insan duduk di ruang tamu dengan perasaan yang sangat bahagia. Gilang masih menggenggam tangan Annisa dan seperti takut kehilangan. Senyumnya menatap wajah Annisa dengan lembut.


"Bentar ya..., Mama bentar lagi keluar, kata Mbak Siti, Mama masih shalat," ucap Gilang kepadaku untuk terus bersabar.


Aku mengganggukkan kepalaku tanda mengerti. Kuambil tabloid yang ada di meja, memperlihatkan model-model gaun yang sangat indah. Semua foto merasa membuatku tertarik.


" Ini hasil rancangan Mama semua...,"? tanyaku kepada Kak Gilang.


" Iya," jawab kak Gilang dengan tersenyum.


" Wow, cantik-cantik sekali," ucapku yang kagum dengan hasil desain gaun Mama Kak Gilang.


" Punya kamu nanti pasti lebih cantik," ucap Gilang kepadaku.


Tap..tap...tap...


Suara sepatu terdengar semakin mendekat mengusik pendengaranku. Terlihat Tante Dewi berjalan ke arah kami berdua. Sungguh wajahnya sangat berseri-seri melihat kedatangan kami.


"Annisa..." Sapa Mama Kak Gilang berhambur ingin memeluk diriku .

__ADS_1


" Iya Ma...," Aku begitu senang menyambut pelukannya dan memeluknya begitu erat.


" Mama Kangen Sa...," ucap Mama Gilang tersenyum.menatap wajahku.


" Nisa juga Ma...," jawabku kepada Mama Kak Gilang.


"Kamu nanti malam nginap di rumah Mama ya...," ucap Mama Gilang dengan bahagia.


" Em...," aku ragu untuk menjawabnya.


" Besok Gilang mau pergi ke London, kita akan pergi ikut ke sana," ucap Mama Gilang menjelaskan.


" Ha...," kulepas pelukan Tante Dewi. Aku merasa terkejut mendengar bahwa aku akan pergi bersama kak Gilang. Sebelumnya dia tidak ada menceritakan keinginannya mengajakku untuk ikut dengannya ke London. Apakah ini adalah rencananya untuk memberiku kejutan.


Aku menatap Kak Gilang untuk meminta penjelasan, sedangkan yang ditatap hanya menganggukkan kepala dan tersenyum dengan lebar.


" Lusa Gilang akan wisuda Masternya, kamu mau kan melihat Gilang wisuda?," ucap Mama Gilang kepadaku, aku hanya menanggapi dengan wajah bingung.


Aku mengganggukkan kepalaku tanpa ada suara yang keluar dari mulutku. Aku bingung perasaan campur aduk, tidak ada angin tidak ada hujan, Kak Gilang menginginkanku ikut. Mana belum ada persiapan memperlancar kosa kata bahasa inggrisku.


"Apakah Gilang tidak memberitahumu Nisa..,"


ucap Mama Kak Gilang kepadaku yang masih terpaksa akan ajakan pergi tadi.


" Gilang..., kamu tidak memberitahu Nisa....," tanya Mama Kak Gilang kepada puteranya dan mendapat senyuman dari Gilang dan melangkah memeluk Mamanya.


" Mau surprise Ma...," ucap Gilang menatap wajahku.


Aku merasa Kak Gilang tidak berterus terang kepadaku langsung. Kenapa harus Mama Kak Gilang yang mengatakannya.


" Ehemm..., Sekarang kamu kan sudah tahu Sa.... Jadi sepulang dari sini nanti, Mama akan ikut kamu untuk minta izin sama ibumu," ucap Mama Kak Gilang menerangkan.


Aku hanya mengganggukkan kepalaku, terlihat seperti gadis desa yang sangat lugu.


" Ayo kita lihat dulu gaunnya, Mama harap gaun pernikahan yang Mama buat ini akan sangat cocok saat kamu pakai nanti," mama Kak Gilang menarik tanganku.


" Mimin..., ambil gaun yang semalam, yang sudah kita persiapkan," ucap Tante Dewi kepada karyawannya.


" Ba..., baik Bu....," ucap Mimin yang ketakutan mengingat perihal bergosip tadi, dia yang memulai bergosip tadi sehingga membuat kemarahan asisten Bu Dewi.


Tidak butuh lama Mimin membawa 2 buah gaun dan 1 kebayak yang sangat indah. Masing-masing warna memiliki keistimewaan tersendiri.


"Min.. kemari, perlihatkan yang warna hitam itu, kepada calon menantu Ibu..." ucap Mama Gilang meminta Mimin untuk memberikan gaun yang diinginkan.


Mimin menunjukkan yang berwarna Hitam, sungguh elegan dan sangat mewah kesannya. Dengan batu Swarovsky yang sangat mengkilau sehingga memperindah gaun pesta yang di buat tertutup, agar tidak menunjukkan aurat yang memakainya.

__ADS_1


" Annisa, kita coba dulu dengan gaun ini ya..., Siti ...antarkan dulu Annisa untuk mencoba gaunnya," ucap Mama Gilang meminta Karyawannnya mengantarkan Calon menantunya untuk mencoba gaunnya.


Siti dengan senang hati membawa gaun yang dipilih dan mengantar Nisa ke ruang pas untuk mencoba gaunnya.


Sepuluh menit kemudian, keluarlah diriku yang sudah memakai gaun yang sangat indah dengan dipadukan jilbab berwarna hitam. Sungguh terlihat sangat mewah.


" Wow, kamu cantik sekali Nisa...,"ucap Mama Gilang denga kuat dan terakhir-kagum dengan kecantikan calon menantunya. Diapun mengambil ponselnya dan mengabadikan foto menantunya yang sangat cantik.


Sosok pemuda yang asik dengan ponsel mahalnya, duduk di kursi menunggu pujaan hatinya mencoba gaun yang akan di pakainya di hari pernikahan nanti. Tiba-tiba, keasikkannya merasa terganggu dengan suara Mamanya yang sangat kencang.


Matanya melotot melihat pujaan hatinya begitu cantik dengan gaun yang melekat ditubuhnya dan bibir merahnya sangat mempercantik wajahnya. Ingin rasanya dia mencicipi bibir indah itu seperti buah strawberry berwarna merah menggoda. Matanya tidak berkedip sedikit pun tetap menatap gadis di depannya. Dan sikap Gilang menjadi pusat perhatian Mamanya.


" Cantikan Lang...," ucap Mama Gilang memuji calon menantunya.


" I....iya Ma...," ucap Gilang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


" Kamu terpesona ya..., sampai gugup mengatakannya," ucap Mamanya kembali.


Gilang malu sendiri dan salah tingkah tapi hatinya tidak dapat di bohongi bahwa gadisnya memanglah sangat cantik. Ingin rasanya segera membawa gadis pergi jauh dan segera memeluknya begitu erat.


" Sekarang kita coba yang merah ya Sa...," ucap Mama Kak Gilang menunjukkan gaun berwarna merah yanh masih di pegang Mimin.


Perasaan ribet banget bajunya dan berat lagi. Siti membantu diriku mengangkat gaun yang menjulur panjang, sampai beberapa meter. Beratnya saja sudah hampir setengah ton. Memasuki ruang Pas kembali dengan di temani Siti.


Aku berganti dengan gaun berwarna merah. Model Simpel tetapi kesannya sangat mewah. Hati kecilku berkata bahwa warnanya seperti wanita penggoda, merah membahana. Ku padukan dengan jilbab berwarna merah juga.


"Wow, cantiknya Nona...,pasti Tuan Gilang akan lebih terpesona,"


" He..he..., kamu bisa aja Siti...," ucapku yang tersipu malu.


" Benar Nona..., coba lihat deh di cermin," ucap Siti yang ramah dan berkata jujur.


Ku lihat diriku di cermin yang setinggi diriku, sungguh menunjukkan diriku seperti wanita yang berkelas. Aku tidak menyanggka gadis kampung yang sebentar lagi menjadi stri seorang Gilang Prayuda, satu-satunya Pewaris perusahaan GP.


" Ayo kita keluar Siti...," ucapku mengajak Siti keluar.


Aku berjalan di depan dan terlihat Mama Kak Gilang lebih terkagum menatapku. Begitupun Kak Gilang, mulutmu menganga dan matanya tidak berkedip menatapku.


Tanpa Sadar Gilang melangkah dan mendekat ke arahku. Menatap wajahku begitu lama. semakin lama wajahnya semakin dekat. Aku bingung dan mencoba mundur, tapi Gilang terus melangkah maju dan memegang daguku. Wajahnya semakin dekat hingga tinggal beberapa centi saja.


*******


Jangan lupa like, komen dan Vote ya...


Beri hadiah yang banyak....

__ADS_1


__ADS_2