
Gilang yang mengetahui tingkah Annisa ketika makan bersama seakan terhibur. Annisa pun terus menatap Gilang yang ada di depannya seakan masih bermimpi.
Mulutnya yang menganga sudah tertutup kembali. Nisa yang belum selesai makan langsung terasa kenyang akibat pemandangan wajah tampan nan rupawan yang ada di hadapannya.
Tante Dewi pun memandangi Mereka berdua, dan Tatapan Mama Gilang yang mengarah kedua muda mudi yang lagi baperan itu, juga dilihat oleh sang Papa Gilang.
"Ehmm, " dehemen Papa Gilang seakan mencairkan suasana hati Gilang dan Annisa yang sama-sama lagi berbunga-bunga. Gilang yang sudah menyelesaikan makannya lalu beranjak dari duduknya mengambil sebuket bunga yang di letakkan di atas sofa.
Annisa yang Melihat Gilang berjalan kearahnya membawa sebuket bunga merasa tersanjung.
Mukanya sudah merah semerah lipstik tetangga.
Aduh Kak...meleleh hati Adek...
Annisa sudah tersenyum merekah seperti bunga yang mekar di pagi hari. Jantung Annisa terasa mau copot. Di depan orang tuanya dan orang tua Annisa seorang pemuda berperilaku Romantis. Suara sepatu kaki Gilang melangkah seperti degupan jantung Nisa yang bertalu-talu menunggu sebuket bunga datang kepadanya.
Ketika Gilang sudah berdiri di hadapan Annisa, Jantung Annisa semakin cepat berdebar-debar. Nerves itulah yang dirasakan Annisa sekarang. Tangannya basah dengan keringat, ternyata bunga yang di tangan Gilang justru di serahkan kepada calon ibu mertuanya yang duduk di samping Annisa, siapa lagi kalau bukan ibu Nina. Ibu Nina yang mendapat sebuket bunga yang indah dari Gilang mendapat lirikan dari Pak Iwan. Mata Pak Iwan menatap lebih tajam dari pada silet. Ternyata Pak Iwan juga panas...
Annisa malu karena sudah mengulurkan tangannya tapi sia-sia dan menarik tangannya kembali. Gilang yang melihat wajah Annisa cemberut segera mengambil sesuatu dari Sakunya. Sebuah kotak berwarna merah yang membuat hati seseorang klepek-klepek menerimanya
Gilang sudah menyiapkan sebuah kalung liontin yang sudah di pesannya jauh-jauh hari sebelum bertemu dengan Annisa kembali. Kalung tanda permintaan maaf Gilang karena sudah membawa Annisa ke Hotel miliknya sehingga peristiwa yang tidak diinginkan pun terjadi.
Annisa yang mendapat hadiah sebuah kotak berwarna merah segera membuka, di hadapan orangtuanya Annisa terkejut liontin yang sangat indah. Gilang pun mendekat dan mengucapkan permintaan maaf kepada Annisa, Pak Iwan Dan Ibu Nina. Nisa yang mendengar permintaan maafnya segera menganggukkan kepalanya dan menyuruh Gilang memakaikan kalungnya. So sweet...
Orang tua Gilang dan orang tua Annisa yang melihat ke romantisan anaknya merasa baper dan teringat masa muda mereka. Mereka pun memberikan kesempatan kepada anaknya untuk berbicara empat mata. Sepeninggal orang tuanya ke ruang keluarga untuk berbincang, hening terasa tiada yang memulai pembicaraan. Akhirnya Gilang permisi kepada Pak Iwan dan Ibu Nina untuk mengajak Annisa ke Taman.
Gilang yang mendapat lampu hijau oleh orang tua Annisa, segera mengajak annisa menuju ke Taman. Sedangkan Papa dan Mama Gilang segera pamit pulang karena hari sudah malam.
__ADS_1
Dari jauh ada sepasang mata yang terus memantau kejadian di halaman, wajahnya merasa kesal karena wanita yang ingin di jumpainya sudah jalan dengan pemuda lain. Dia pun kembali ke rumah untuk Mengambil sepeda motor yang baru di belinya karena merasa gregetan dengan kejadian tadi sore mengejar motor yang ugal-ugalan.
Gilang menuju taman dengan motor besar terbarunya dan membonceng Annisa dengan perasaan yang tidak dapat di utarakan. Gilang sangat bahagia tidak pernah terpikirkan olehnya akan secepat ini berjumpa dengan gadis pujaan hatinya.
Annisa merasa jantungnya terus berpacu seperti genderang mau perang. Annisa nerves berdekatan dengan Gilang, dadanya terasa sesak. Udara yang di hirupnya merasa sempit. Seakan butuh banyak pasokan oksigen lagi.
Mereka pun tiba di Taman kota yang tidak jauh dari tempat tinggal Annisa. Sebenarnya ini adalah pertama kalinya Gilang datang Ketempat itu. Dia melihatnya ketika sore hari saat melintas menuju rumah Annisa. Taman yang indah banyak terdapat tanaman bunga, sayangnya ketika datang hari sudah malam.
Dibawah sinar rembulan dan bintang-bintang seperti orang yang lagi berkencan, Gilang mengajak Annisa duduk di kursi Taman. Gilang yang merasa sudah tenang mencoba mencairkan suasana,
" Ka...," ucap dua orang bersamaan karena keduanya ingin memulai pembicaraan dengan kata yang sama.
" Sudah kamu duluan" ucap Gilang kepada Annisa.
"Kakak aja duluan," jawab Annisa yang merasa malu.
" Bagaimana kabar Adek, Kakak dengar adek waktu itu trauma akan kejadian itu, kakak merasa beralah Dek,"ucap Gilang menjelaskan.
" Nisa sudah sehat kak, Nisa juga berterima kasih kepada kakak, berkat kakak rahasia Rini terungkap juga," ucap Annisa.
" Iya, Kakak memang niat untuk menyelidikinya, kakak sedih melihat mama menangis terus setiap malam memikirkan keadaan Papa kerena menurut Mama, Papa juga gak bersalah. Dan kakak merasa bersalah kepadamu, jadi untuk menebus rasa bersalah Kakak, kakak hanya bisa mengungkapkan kejadian itu di depan orang banyak," ucap Gilang menjelaskan.
" Iya Kak, Tapi Nisa merasa sedih, Nisa gak tahu kenapa Rini melakukan kejadian itu tanpa memikirkan dahulu resikonya. Apa tujuan Rini sebetulnya...," ucap Annisa penasaran.
" Udah ah, gak usah diingat lagi yang lalu, ngomong-ngomong adek sudah besar ya sekarang ..." ucap Gilang melihat gaya Annisa seperti anak Dewasa.
"Iyalah, masa kecil terus? tanya Annisa
"Oh ya..., berarti memang sudah besar, bisalah Kakak lamar ya Dek ," ucap Gilang jail.
__ADS_1
" Ogah, " jawab Nisa asal.
" Serius..., nanti kalau ditinggal nangis.... kalau yang kakak lamar orang lain gimana..." jawab Gilang jail.
Annisa yang mendengar ucapan Gilang merasa tersentil hatinya. Hati yang tidak bisa di bohongi kalau dia juga suka dengan orang yang ada di sampingnya. Tapi untuk mengungkapkannya dia masih malu. Takut di bilang cewek agresif yang menyatakan perasaan duluan.
"Emm,... jangan dulu ya Kak, Adek masih kuliah, Nanti saja kalau sudah lulus.
" Iya, Kakak sabar menunggu Adek kok asal Adek jaga hati adek untuk Kakak seorang" ucap Gilang.
" Apaan sih, gombal," ucap Annisa tersenyum.
Seorang pemuda mendekati mereka berdua, dan berdiri dihadapan Annisa dan Gilang. Annisa yang sudah lama tidak berjumpa dengan Bima merasa terkejut. Bima pun tanpa basa-basi langsung menyapa Annisa dan mendapat lirikan tajam dari Gilang.
" Nisa, apa kabar,..." tanya Bima kepada Nisa.
"Kabar baik Kak," ucap Annisa karena baru pertama kalinya dia memanggil Bima dengan panggilan Kakak, Bima juga terkejut ternyata Annisa sudah sembuh.
"Kenalkan nama saya Bima, saya calon pacar Annisa dan sebentar lagi saya akan menjadi pacarnya" ucap Bima dengan percaya dirinya kepada Gilang dan mengulurkan tangannya.
" Gilang Prayuda, panggil saja dengan panggilan Gilang, calon suami Annisa," ucap Gilang langsung pada intinya dengan percaya diri melebihi Bima.
Bima terkejut dan memandangi Annisa yang tertunduk merasa bingung harus menjawab apa. Hawa di Taman sudah terasa panas, dua orang pemuda sudah saling bersetegang mengatakan status dirinya dengan percaya dirinya yang terlalu tinggi.
Annisa Melirik sepeda motor baru Bima, sepeda motor seperti Ragil. Tapi tidak jauh keren dengan sepeda motor yang dimiliki Kak Gilang.
Gilang merasa menang satu kosong dengan jawaban yang asal keluar. Wajahnya terlihat berbinar, dan ingin menunjukkan pada dunia bahwa gadis di depannya adalah calon isterinya.
Tidak berapa lama suara ponsel Bima berdering dan Bima segera mengangkatnya. Tidak butuh lama berbicara dengan orang di seberang sana dan Bima langsung pamit pada Annisa tapi jangan harap Bima akan berpamitan dengan Gilang, malah dia memberikan tatapan tajam sebelum pergi dengan sepeda motornya.
__ADS_1