Teman Palsu

Teman Palsu
Kejailan Tante Devi


__ADS_3

" Kamu semalam kemana Dek?," tanya Gilang menghentikan permainan Game onlinenya dan meletakkan ponselnya di atas meja.


" Jalan-jalan Kak," Ucapku dengan santai sambil mengotak-atik ponsel calon Ibu Mertua yang banyak terdapat foto Kak Gilang didalamnya.


" Jalan-jalan kok sampai membuat orang khawatir, ponsel kamu juga gak aktif. Asal kamu tahu ya, si Arif sampai pulang larut malam hanya untuk mencari kamu," ucap Kak Gilang menjelaskan kepadaku dan wajahnya terlihat serius.


" Ah, yang bener Kak, terus Kakak ikut nyari juga gak?," tanyaku kepada Kak Andre, karena setahuku, Kak Andre orangnya paling perduli daripada Arif.


" Ehemm..., ya ikutlah, tapi Kakak gak kepikiran kalau kamu kesitu, kakak nyari kamu cuma di kampus dan di bengkel aja," ucap Andre berbohong.


Sebenarnya Andre sudah tahu kalau Nisa pergi ke pedesaan itu dengan alat pelacak yang pernah di sadapnya sewaktu peneroran itu terjadi. Andre bisa melacak keberadaan Nisa dan mengintai Nisa di malam itu dari jarak jauh


Sesungguhnya para pemuda yang mondar-mandir di depan rumah Pak Surya pada malam minggu itu adalah Andre dan anak buahnya. Mereka sedang menyamar menjadi orang desa yang udik dan memakai kereta Butut sewaan. Andre dan anak buahnya pada malam itu menjadi bahan tertawaan Nisa, karena tingkah mereka sangat konyol sehingga sempat menjadi pusat perhatian Rangga, anak dari Pak Surya.


Syukurnya di malam Itu, Rangga sang tentara yang duduk di teras bersama Nisa, tidak sedikit pun menaruh curiga kepada Andre dan teman-temannya yang sedang menyamar. Padahal anak buah Andre ada yang sempat masuk ke Got, karena keasikan melihat Nisa tertawa melihat aksi mereka. Memang kemahiran aksi mereka, bisa mendapatkan Indonesia Movie Actors Award karena sankin pintarnya berakting.


"Beneran Kak?, berarti Nisa Sudah membuat semua orang khawatir ya...," ucapku yang merasa bersalah karena membuat semua orang khawatir.


" Iya benar, tanya aja nanti sama si arif kalau kamu gak percaya" ucap Andre yang mencoba menyakinkan Annisa.


"Maaf deh, Nisa ngaku salah. Ehem, Kakak masih ingat gak, pantai yang pernah kita datangi tepatnya satu tahun yang lalu," ucapku menjelaskan kepada Kak Andre.


" Iya, kenapa emangnya," tanya Andre kepada diriku.


" Nisa kesasar ke sana Kak," ucapku memberitahu Kak Andre.


" Dek, itu jauh banget lho, Kamu kenapa nekat ke sana???," tanya Andre yang mencoba menginterogasiku.


" Iya, tapi Nisa merasa gak capek kesana, dan Nisa rasa itu tempatnya terasa dekat, karena Nisa naik motornya pakai emosi," ucapku menjelaskan.


" Kamu marahan sama siapa?," tanya Andre kembali yang merasa penasaran.


" Gak marah sih, tapi kesal, Kakak mau tahu gak kekesalan Nisa itu kayak apa? tanyaku mencoba menjaili Andre.


" Memang kayak apa?," tanya Kak Andre kembali.


" iiiiihhh...," ku cubit lengan Kak andre dengan kuat, tetapi Kak Andre malah menjerit sekencangnya.


" Aduh!!!, sakit Dek.....," teriak Kak Andre kuat karena kesakitan mendapat cubitan di lengannya.


" Tapi katanya mau tahu seberapa kesalnya Nisa, ya Nisa lampiaskan ke Kakak, supaya nanti Kakak bisa menceritakannya kepada Kak Gilang. Supaya Kak Gilang tahu seberapa kesalnya Nisa kalau Nisa sudah marah,"ucapku dengan santai kepada Kak Andre.


" Dasar Adek Sableng," ucap Andre sambil meringis.


" Biarin, yang penting cantik," ucapku melangkah meninggalkan Kak andre di teras rumahku.


Busyet, sakitnya gak ketulungan, untung Cantik kamu Dek, kalau jelek sudah gantian Kakak cubit pipimu.


Aku melangkah menuju ke toko kue Tante Devi. ingin menemui Ibu dan Mama Kak Gilang. Terlihat di sana Mama Kak Gilang sedang makan Siang bersama Ibu dan Tante Devi. Aku melihat menunya langsung lapar, karena sedari pulang, juga belum makan.


Aku duduk di samping Mama Kak Gilang dan mengembalikan ponselnya. Kemudian mengambil piring dan segera mengambil nasi, lauk dan sayur Kangkung favoritku. Dalam diam, aku terus mengunyah makanan tanpa memperdulikan ada calon Ibu mertua di sampingku.


Ada 6 mata memandangiku, melihat cara makan seperti orang kesetanan dan tidak makan selama setahun. Aku merasa pipiku semakin tembem dan berat badanku sedikit naik. Aku menjadi kikuk melihat Tante Devi memfoto diriku yang makan sambil menyirup kuah dari piring makanku sendiri.

__ADS_1


" He...he...Tante jahat deh, masa Orang makan di foto," ucapku yang kesal.


" Ha...ha..., ternyata tahu malu juga kamu ya...," ucap Tante Devi sambil Mengotak-atik ponselnya.


" Ya tahu lah," ucapku yang masih santai makan.


" Tapi maaf, foto kamu sudah Tante kirimkan kepada Gilang, biar dia tahu calon istrinya sangat rakus," ucap Tante yang kejailannya seperti Citra. Mungkin Citra memiliki sifat jail dari Mamanya.


" Biarin, yang penting Kak Gilangnya suka," ucapku membanggakan diri.


" Ih...anak ini di depan calon mertua kok gak ada malunya," geram ibu melihatku yang tidak ada segannya kepada calon ibu mertua.


" Gak apa-apa Mbak Yu, saya lebih suka dengan gadis yang terbuka seperti Nisa begini, dari pada gadis yang pura-pura santun di depan kita, tapi di belakang malah menjelek-jelekkan kita Mbak Yu...," ucap Mama Kaka Gilang menjelaskan dan sedikit memuji diriku.


Aku yang mendengar pujian Mama Kak Gilang meleleh dan hampir saja mencair.


Makan siang pun selesai, aku memilih santai dengan memperhatikan Alat musik yang sudah lama tidak ku sentuh. Ingin rasanya diri ini memainkan alat musik kesayangan.


Ku langkahkan kakiku menuju podium, tempat menghibur pembeli dengan beberapa untaian lagu. Hari ini akan ku bawakan lagu dari Shae, berjudul " Sayang," , lagu lama yang menyinggung perasaanku selama di tinggal Kak Gilang.


Hu-uh-oh


He-he-yeah


Sayang, apa kabar denganmu?


Di sini ku merindukan kamu


Kuharap cintamu takkan berubah


Kar'na di sini ku tetap untukmu


Sayang, apa kabar denganmu?


Ku rindu dengar suara indahmu


Kar'na dirimulah semangat hidupku


Sayang, dengarlah permintaanku


Jangan ragukan cintaku


Sayang, percayalah apa kataku


Kar'na ku sayang kamu


Sayang, dengarlah permintaanku


Jaga hatimu untukku


Sayang, dengarlah bisikan hatiku


Kar'na ku sayang kamu, ah-ah

__ADS_1


Sayang, apa kabar denganmu?


Di sini ku merindukan kamu


Kuharap cintamu takkan berubah


Kar'na di sini ku tetap untukmu


Sayang, apa kabar denganmu?


Ku rindu dengar suara indahmu


Kar'na dirimulah semangat hidupku


Sayang, dengarlah permintaanku


Jangan ragukan cintaku


Sayang, percayalah apa kataku


Kar'na ku sayang kamu


Sayang, dengarlah permintaanku


Jaga hatimu untukku


Sayang, dengarlah bisikan hatiku


Kar'na ku sayang kamu


Semua mata memandang dan bertepuk tangan setelah suara gitar berhenti ku mainkan. Mama Gilang tersenyum melihat calon menantunya yang baru mencurahkan isi hatinya selama ini. Iya bisa mengetahui bahwa selama ini aku juga sangat rindu kepada puteranya. Tanpa sadar ketika aku bernyanyi tadi, Mama Gilang merekam diriku dan dikirimnya kepada puteranya.


Ku letakkan gitar ke tempat semula, ingin melaksanakan shalat Zuhur yang sudah hampir lewat karena keasyikan bersantai. Ku langkahkan kakiku ke ruang shalat di toko kue Tante Devi, ingin mencurahkan rasa hatiku yang memenuhi dada.


Mama Gilang berpamitan dan melangkahkan kakinya kembali menuju rumah Annisa, disana dia melihat Andre yang tertidur di kursi dengan kepalanya yang mantuk-mantuk. Seperti ayam yang sedang makan dan dengkuran halus dari mulutnya.


Mama Kak Gilang membangunkan Andre, terkesiap Kak Andre dari tidurnya. Sungguh malunya melihat Kak Andre yang gelagapan dari bangun tidurnya. Bagaimana dia tidak mengantuk, semalaman berjaga di luar rumah Pak Surya, mengintai keadaan Annisa yang dipercaya baik-baik saja.


Aku menyusul Mama Gilang yang akan masuk ke mobil, di kiranya aku menantu yang tidak sopan, calon Ibu mertua mau pulang malah gak di salam. Ku ulurkan tanganku menjabat tangan lembutnya. Ah, ternyata diumurku yang masih muda sudah punya calon mertua, bagaimana bayanginya kalau sempat satu rumah dengan mertua mungkin mertuaku akan ngomel melulu melihat tingkahku.


Kulambaikan tangan kepada Mama Kak Gilang yang sudah di dalam mobil. Kak Andre dengan senyum lebarnya menatap diriku yang masih melambaikan tangan kepada mereka. Sepeninggal mereka, emak-emak tukang gosip memantau rumahku yang baru kedatangan tamu menjadi bahan gosipan. Tiada hari tanpa menggosipi orang, dirinya mereka seperti benar semua.


Ah, kapan diriku jadi mantumu Tan, aku sudah gak sabar, ingin di nikahi oleh puteramu.


biar tahu rasa emak-emak disini biar makin doer bibirnya. tinggal dikucir deh...


Aku menuju garasi mobil yang telah di bangun ayah setahun yang lalu. Ku elus mobil mengkilat pemberian Kak Gilang yang jarang kupakai. Aku sudah mulai mahir mengenderai mobil ini, hanya saja ketika aku keluar memakai mobil itu, mata emak-emak rempong terasa mau keluar dari sarangnya. Semua mata juga sinis melihatku. Aku jadi risih memakai sesuatu yang bukan dari hasil jerih payahku.


Apakah aku seperti cewek matre atau cewek yang tukang memanfaatkan kekayaan orang lain.


Semua prasangka tertuju kapadaku. Memang ku akui, beberapa pria sering mengawasi kemana pun aku pergi. Termasuk Arif, Andre dan Kak Bima juga ikut andil. Aku bukan meminta mereka menemaniku, itu adalah kuasa keluarga Gilang yang bisa membayar orang-orang untuk mengawasiku. Aku juga gak ingin terlalu di awasi, membuat diriku tidak bebas. Tapi bukan berarti aku cewek gampangan yang seperti di pikiran mereka.


Ibu sering mengelus dada jika berkumpul dengan ibu-ibu bila sedang pengajian. Sebagian ada yang jadi kompor dan ada yang tidak perduli dengan urusan orang lain. Pengajian seharusnya cari amal, eh malah jadi tempat gunjingan.

__ADS_1


__ADS_2