
Mobil Kak Gilang sampai di depan gerbang kampus, Suasana yang sepi membuatku tidak karuan. Tanpa di bukakan Kak Gilang, aku langsung turun dan menutup pintu mobil kembali. Aku berlari keluar, tanpa terasa sudah jauh aku meninggalkan Kak Gilang di dalam Mobil, tetapi mengapa perasaan hatiku tidak enak ya...? Aduh gawat, aku lupa mengucapkan terima kasih kepada Kak Gilang, Pasti dia marah. Ah, Sudahlah pasti Kak Gilang mengerti.
Aku menuju ke kelasku yang di ujung, kelas yang paling jauh. Aku terus berlari sampai perutku terasa lapar lagi. Ya Allah, gini amat ya jadi mahasiswa baik budi, baru terlambat sebentar aja, sudah kelimpungan. Langkahku berhenti mendekati pintu masuk, berjalan mengendap-endap seperti pencuri yang takut ketahuan yang punya rumah.
Kreek...
Ku buka pintu kelas pelan-pelan dengan mata terpejam. Bismillahirrahmanirrahim, itulah kalimat yang ku ucapkan di depan pintu ketika akan masuk.
Aku buka mataku, melihat ke depan. Ya Allah ke mana orangnya, kenapa tidak ada satu pun mahasiswanya, dan kenapa cuma pak Dosen yang ada di dalam, aduh mati aku.
Enyak..., Babe... tolong Nisa....
Aku ingin berbalik berlari dari tempat itu, tetapi dehemannya langsung terdengar.
Ehem...
Mata Pak Dosen sudah melotot akan keluar dari sarangnya. Dahi lebarnya mengkilau membuat mataku silau melihatnya. Kumis tebalnya seperti Pak Raden dalam cerita si Unyil. Ketukan jari tangannya seperti irama jantungku yang terus berpacu. Aku menunduk, memikirkan kenapa semua mahasiswa hari ini tidak ada yang masuk? tahu gini aku tadi bolos, ajak Kak Gilang kencan, puter-puter komplek naik mobil lamborghini baru. Apa kata dunia si Nisa naik mobil mewah. Wow, bisa jadi berita hot satu komplek perumahan ini, sudah seperti jadi artis aku jadinya keluar dari mobil lamborghini di kejar para reporter.
Ehem...
Deheman Pak Dosen mengejutkan diriku yan sedang melamun dan terasa sesak di dada. Jari telunjuknya bergerak memintaku menghadapi dirinya. Ingin rasanya aku kabur atau menghilang, tapi bagaimana caranya?. Ku langkahkan kakiku perlahan mendekati Pak Dosen. Sedikit Was-was apakah aku akan kena hukuman atau kena marah, terserahlah...yang penting aku harus tegar menghadapi cobaan walaupun badai menghadang. Ha...ha...kayak pejuang tangguh aku ini.
Dengan jari telunjuknya dia memintaku duduk di depannya. Aneh, Pak Dosen ini latihan bisu apa bagaimana ya..., dari tadi pakai bahasa isyarat saja. Aku melangkah ke tempat duduk dengan gemetaran di hadapan Pak Dosen yang sudah setengah abad ini.
Perasaanku merasa tidak enak melihat tempat duduknya, Kok kotor banget sih, tapi mata Pak Dosen sudah akan menelan mangsanya. Bagaimana aku bisa menolak permintaannya.
Ku coba mendudukkan bokongku. Ketika sudah sampai di tempat duduk, tiba-tiba...
Gubrak!
__ADS_1
Kursinya roboh, dan aku terhempas ke lantai. ketika aku kesakitan, punggungku terasa nyeri. Malu juga aku jatuh di depan Pak Dosen. Ingin rasanya aku menghilang dari hadapannya. PAK Dosen terlihat marah dan merasa geram.
"Apa kamu gak bisa duduk yang benar!," ucap Pak Dosen memasang wajah marahnya.
"Maaf Pak, kursinya yang salah, bukan saya...," ucap diriku menolak di salahkan.
"Kursi yang kamu salahkan, tadi sewaktu kamu belum duduk ini kursi biasa saja" ucap Pak dosen dengan suara kasar.
" Iya pak maaf," ucapku menyesali kesalahanku.
" Sekarang kamu perbaiki kursi itu, cepat!,"
ucap Pak Dosen yang membentak
Aku masih bingung akan kejadian hari ini kenapa semuanya tiba-tiba. Aku berdiri dengan menahan sakit di pinggangku mencoba mengambil kursi yang roboh, tapi tiba-tiba terdengar suara tertawa dari temanku satu kelas, mereka masuk dengan riuhnya sambil bertepuk tangan.
Selamat ulang tahun kami ucapkan
Selamat sejahtera sehat sentosa,
Selamat panjang umur dan bahagia.
Aku menangis di depan mereka, airmata yang tiada berhenti, keluar terus mengalir dipipiku. Ku bayangkan begitu tega mereka demi memberikan kejutan harus membuatku menderita. kenapa mengerjain segitu banget ya. Ku lihat di antara mereka berdiri Kak Andre dan Bang Raga. Pak Dosen juga ikut serta menyanyikan lagi ulang tahun dan membawa kue ulang tahun yang terdapat lilin sudah menyala ke hadapanku. Aku tidak menyangka di balik kejamnya Pak Dosen ternyata memiliki hati yang baik.
" Selamat ulang Tahun Nisa..., semoga panjang umur, sehat selalu dan menjadi anak soleha, amin..., ayo tiup lilinnya, tapi sebelumnya berdoa dulu," ucap Pak Dosen menyerahkan kue ulang tahun kepadaku.
Teman-temanku menyanyikan lagu ulang tahun bersama ketika aku akan meniup lilin dan mulai dengan melafazkan doa dalam hati. ketika sudah selesai tiup lilin, terlihat dua orang pemuda berdiri didepan pintu, salah satu memakai baju perwira dan yang satu lagi memakai kemeja. Kak Gilang dan Kak Bima datang bersamaan di hari ini. Mereka seperti opa-opa korea.
Suasana di luar kelasku terasa sesak melihat kehadiran dua pemuda yang baru datang. Gadis-gadis jomblo dari lain jurusan terlihat saling rebutan ingin masuk ke kelasku tanpa sadar ada Dosen yang memperhatikan tingkah laku mereka.
__ADS_1
Kak Gilang berjalan mendekatiku, memberikan buket bunga dan sebuah kado, aku tidak tahu apa isinya tapi yang pasti ini pasti barang berharga. Begitu juga Kak Bima juga tidak mau kalah memberikan aku hadiah yang aneh bentuknya tapi ringan kadonya.
Ku goyang-goyangkan kado dari Kak Bima, dan membuat semua orang tersenyum dan tertawa melihat tingkahku.
"Gak Sabaran ya Nisa mau lihat isinya..," ucap Lusi yang mulutnya asal keluar.
"He...he...iya...," ucapku yang malu.
" Sa, nanti dirumah aja, sekarang kita semua di traktir Kak Gilang, Di kafe depan Kampus, kita makan gratisan...," ucap Yudi anak Otomotif sekelas denganku.
"Oke, ayo semua," Ucap kak Gilang yang sudah menarik tanganku menuju kafe depan kampus.
Sampai di kafe, ku lihat Pak Dosen killer ikut juga makan bareng kami. Apa gak kenal umur orang tua satu ini, Ini kan acara anak muda. Pak Dosen bersama dengan Kak Bima duduk bersama. Aku heran, apasih hubungannya Pak Dosen dengan Kak Bima, mana Kak Bima nempel terus lagi.
Aku duduk dengan Kak Gilang yang sudah memesan makanan dan minumnya. Semua teman-temanku terlihat bahagia. Aku penasaran, sebenarnya ide siapa yang mengerjai aku di kelas.
"Kak, aku mau tanya, sebetulnya ide siapa yang ngerjain Nisa tadi," ucapku yang menyelidiki siapa yang punya ide menjaili aku.
"Kamu marah ya Dek...," ucap Kak Gilang yang tidak enak hati.
"Bukan marah kak, tapi aku tadi sempat spot jantung, mana pakai jatuh lagi, malu kak, malu...," ucapku yang membuat Kak Gilang tersenyum.
"Sakit tadi Dek? ucap Gilang manjaili.
"Sakitlah..., Kakak mau nyoba? ucapku manantang Kak Gilang.
" Maaf Dek, tapi ini bukan ide kakak, ini ide orang yang sudah berkorban untuk kamu," ucap Kak Gilang membuat diriku bertanya-tanya.
" Siapa Kak," ucapku dengan penasaran.
__ADS_1
" Lihat ke depan sana...," ucap Kak Gilang menunjukkan seseorang yang membuatku bingung.
Ku lihat seorang pemuda memakai topi, hodie dan memakai kacamata hitam, wajahnya juga di tutupi masker. Berdiri menyandar di depan pintu masuk dan tersenyum kepada ku. Senyumnya manisnya sangat manis, semanis gula tebu, gula aren dan gula-gula semuanya. Bisa membuat aku diabetes kalau terus di senyumi begini. Kenapa diriku selalu di kelilingi pemuda tampan? dan juga kemana wanita-wanita cantik yang mengejar mereka? semua Pemuda pada gak normal kali ya..., berteman suka dengan diriku yang tomboi. Aku juga asli wanita, kalau di suguhi pemuda tampan pasti ngiler juga.