
Aku berada di bawah tempat tidur yang sedang tertelungkup seperti buaya. Mencium lantai kamar berharap jatuh di taman malah jatuh dari tempat tidur. Mimpi jatuh yang menjadi kenyataan hanya dalam waktu sekejap.
Pantas Kak Gilang tidak mengulurkan tangannya. Baru senang-senangnya mimpi yang indah. Sudah derita yang kurasa. Memang mungkin aku tidak boleh bermimpi. Semua itu harus nyata.
Aku mencoba duduk dengan menyandarkan punggungku pada tiang tempat tidur. Terlihat lutut membiru dan kening yang sakit. mengelus pelan lalu mengunyelnya dengan rambutku. Kata orang kalau kepala kejedut, digosok pakai rambut, Agar tidak cepat membiru.
Aku berusaha bangun dan menatap kecermin, Rambut acakan-acakan dan kerak iler masih menempel di sudut bibirku. Satu yang mencari pusat perhatianku. Sebuah tato di keningku yang sedikit terlihat akibat dari jatuh tadi. Syukur di kening tatonya kalau di hidung, pasti jadi pinokio.
Kulirik jam di dinding sudah masuk waktu zuhur. Ternyata lama juga diriku ketiduran. Kayaknya baru sebentarlah aku bermimpi. Ku lihat bantal yang ku pakai, biasanya kalau aku terlalu pulas tidur, itu ada tanda pulau jawa, pulau sumatera atau pulau kalimantan terlihat di bantal itu. Ku raba-raba dan ku teliti. Yah ternyata yang terlihat malah pulau Papua. Kenapa pulau Papua? karena ilernya panjang sampai kebawah bantal. Is...joroknya..., mau nikah masih ngiler. Bau jigong lagi.
Aku tersenyum sendiri memikirkan diriku yang tidak ada anggun-anggunnya ketika tidur. Melihat bantalnya saja sudah jijik. Ku tarik seprai dan ingin ku ganti dengan yang baru. Membuka lemari dan mengeluarkan seprai bersih dan memasangnya kembali. Seprai Doraemon, gambar kesukaanku yang seperti motif seprai laki-laki.
Bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan memakai sabun aroma terapi. Agar tercium wangi dan merasa segar. Segera melaksanakan shalat zuhur dan bergegas makan siang. Aku nanti bisa maluin diriku sendiri kalau sampai perutku berbunyi sewaktu di ajak Kak Gilang ke butik.
Aku berjalan ke dapur ingin minta izin kepada Ibu untuk pergi nanti habis Zuhur. Yah, dapur sepi dan kamar Ibu juga kosong. Ibu ternyata sudah ke toko kue. Mungkin tadi waktu mau pergi, Ibu melihat aku ketiduran. Jadinya gak mau banguni. Akhirnya disinilah diriku duduk sendiri di meja makan menyantap makan siangku sendirian. Mau minta temani ayah, ayah juga tidak ada. Ayah nemani ibu juga ke toko. Ku lihat menu siang hari ini. Tumis kangkung dan goreng ikan kembung.
Sederhana tapi aku sangat suka. Karena sayur kangkungnya di campur udang basah yang lumayan banyak. Mantap...
Habis dua piring, baru terasa kenyang perutku. Ketika ingin minum, kudengar bel di luar berbunyi berulang kali.
Aku melihat dari jendela, siapa gerangan orang yang menekan bel berulang kali. Tidak sabaran banget sih. Yah, kulihat Kak Gilang yang sangat tampan dengan pakaian kasualnya, baju kaus yang sangat pas dengan tubuhnya, hingga terlihat tubuh kotak-kotaknya karena rajin berolah raga. Kaus berwarna putih dan celana jeansnya berwarna biru.
Cklek
Kak Gilang melihatku terperangah, aku berpikir apa gak salah dia yang terperangah. Seharusnya kan aku yang terkagum-kagum melihat dirinya. Bukan dirinya yang terkagum padaku. Wajahnya yang begitu tampan membuatku sangat terpesona.
Ku goyangkan tanganku ke depan wajahnya. Terlihat dia menyadari sikapnya dan menggaruk tengkuknya.
"Kakak Lihati apa...," tanyaku yang merasa keheranan karena Kak Gilang sampai bengong.
__ADS_1
"Ehemm, Cantik sekali kamu Dek, kenapa gak pakai jilbab?," ucap Kak Gilang menegur diriku.
Spontan Ku pegang kepalaku.
"Astaghfirullahaladjim,"
Aku langsung bersembunyi di balik gorden dekat pintu masuk. Jantungku berdebar kencang. Kulihat Kak Gilang dari kain gorden yang tidak terlalu tebal, tersenyum dengan tingkahku yang seperti anak kecil. Ku pegang dadaku dan mengeluarkan napas perlahan.
" Maaf Kak, Nisa tadi habis shalat langsung makan, jadi lupa memakai jilbab," ucapku yang berbicara masih dibalik gorden.
" Udah jangan sembunyi lagi Dek...," ucap Kak Gilang menghadapi diriku yang masih dibalik gorden.
" Nisa malu Kak, kita belum halal," jawabku yang merasa sungkan untuk menunjukkan diriku dengan kepala terbuka dengan terang-terangan. Aku berpikir sebelum kami memiliki ikatan pernikahan, ingin kusembunyikan dulu auratku. Kuutarakan sesuatu agar aku bisa cepat berjilbab.
"kita pergi sekarang Kak..., biar Nisa sekalian ganti baju,"ucapku dari balik gorden pintu.
" Tunggu sebentar ya kak," ucapku yang sudah ancang- angcang ingin berlari kekamar.
Aku berlari sekuat tenaga menghindari Kak Gilang yang sudah terlanjur melihat diriku melepas hijabku.
Sampai di dalam kamar, ku pegang jantungku yang sudah mau lompat. Ku ambil minum yang ada di meja dan meminumnya langsung. Begini rasanya ya kalau tertangkap basah. Tertangkap basah tidak memakai jilbab saja rasanya bagai tertangkap basah mencuri barang tetangga. Malunya behhhh jangan ditanya. Kalau ada kolam tadi di depanku, bagus aku nyemplung kolam sekalian.
Lama Terpaku di kasur, baru tersadar dan teringat niat ke kamar terburu-buru, niat awalnya mau apa?.
ku ambil baju kemeja berwarna putih dan Celana Kain berwarna biru. Memakai jilbab segiempat berwarna wardah. Sederhana sajalah pakaiannya, anggap saja kami akan berkencan. Toh, memang mau nonton bioskop.
Aku sudah selesai bersiap, tanpa kusadari baju kami berdua sama persis warnanya. Sama-sama berwarna putih dan celana biru. Aku bukan merencanakan memakai warna baju yang sama. Ini hanya kebetulan. Aku segera mengunci pintu dan melangkah mendekati mobil Sport hitam milik Kak Gilang.
Dengan keperduliannya membukakan pintu mobil dan mempersilahkan aku masuk. Sungguh sangat cantik ruangan mobilnya. terlihat berkelas dan lebih canggih dari mobilku yang ada di rumah. Tanpa aba-aba Kak Gilang mendekat dan wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahku.
__ADS_1
" Kakak mau ngapai," tanyaku spontan kala wajahnya sangat mendekati wajahku.
Keningnya berkerut mendengar pertanyaanku.
Dengan segera melakukan apa yang ingin dikerjakannya.
Cklek
Bunyi sabuk pengaman terdengar, Kak Gilang kembali memundurkan wajahnya. Aku merasa berdepar berada di dekat dirinya. Jantungku berpacau seperti orang yang baru selesai meraton.
"Memangnya kamu berharap kakak mau ngapai?," tanya Kak Gilang balik kepadaku dan melelahkan jaring ke keningku. " Jangan aneh-aneh..," ucapny kembali.
"He...he...nggak sih," aku malu sudah berpikiran yang tidak-tidak.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Mataku melihat keluar jendela, aku canggung dengan Kak Gilang perihal tadi. Terjadi keheningan di dalam mobil tanpa ada yang memulai pembicaraan. Beberapa menit kemudian, mobilnya kami sampai di Butik milik Mama Kak Gilang. Butik yang sempat memberikan kenangan dan karena kenangan itu dapat memperkeruh keadaan.
Aku masih teringat di tempat ini aku mendapat penghinaan dan di rendahkan oleh sahabatku sendiri. Penghinaan yang sempat mempermalukan keluarga calon suamiku. Dan masih membekas di ingatanku.
Semoga dihari ini kejadian itu tidak akan terjadi kembali. Dan jika kejadian beberapa minggu yang lalu itu kembali lagi di hari ini. Kemungkinan Butik akan di tutup oleh Mama kak Gilang, agar tidak ada lagi manusia berwajah palsu di kota ini
Pintu mobil kembali di buka, membuat wajahku bersemu merah seperti kepiting rebus. Betapa tidak, perlakuan Kak Gilang membuatku merasa sangat di layani seperti permaisuri yang baru keluar dari istana. Permaisuri yang sangat dimanjakan dan di puja-puja oleh semua rakyat. Aku keluar dan Kak Gilang langsung menggenggam tanganku yang sedikit ragu untuk melangkah masuk.
" Kenapa?," tanya Kak Gilang heran.
" Takut Kak, masih ingat yang tempo hari," ucapku ragu.
"Tidak akan ada yang berani mengusikmu lagi," ucap Kak Gilang menjelaskan.
Dengan mengucap Bismillah, kekuatkan hatiku untuk bersikap santai dan membuang pikiran burukku yang berkecamuk di kepalaku.
__ADS_1