
Andre pun mengajak Gilang pulang, dia enek melihat wajah Citra yang terus menjaili dirinya. Andre tidak tahu kalau Citra sebenarnya seorang wanita. Cara berpakaiannya yang seperti laki-laki membuat dia di kenal sebagai laki-laki. Andre pun berpamitan kepada Annisa dan Ibunya, tapi jangan harap Andre akan berpamitan dengan Citra.
Annisa juga kembali ke rumahnya, hari yang sudah hampir maghrib di sempatkannya membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum shalat maghrib. Udara yang dingin membuat Annisa tidak ingin berlama-lama mandi. Annisa takut tubuhnya akan membeku.
Annisa merasa hari ini kurang enak badan, dia berulang kali bersin-bersin. Ketika di rumah sakit Gilang sudah menyarankan agar Annisa sekalian periksa supaya di beri obat. Tetapi Annisa menolak, dia lebih suka minum obat herbal daripada obat kimia.
Sehabis mandi menunggu Azan Maghrib tiba, Annisa merebahkan tubuhnya yang lelah setengah harian di rumah sakit terasa seperti orang sakit. Ibu mengetuk pintu kamar Annisa tetapi tidak ada sahutan dari dalam kamar.
Akhirnya Ibu membuka pintu tanpa menunggu orang yang di dalam membukanya, Ibu melihat Annisa tertidur padahal Azan Maghrib sudah berkumandang.
Annisa segera di bangunkan, tetapi ketika Ibu menyentuh badan dan tangan Annisa suhu badan Annisa terasa panas, Annisa demam.
Ibu panik dan segera membangunkan Annisa.
Tapi Annisa tidak juga bangun, Ayah yang mendengar suara keras Ibu dari dalam kamar Annisa, segera berlari dan memanggil Raga yang hendak mengerjakan shalat.
Raga berulang kali membangunkan Annisa tapi Annisa tak kunjung bangun, akhirnya Raga keluar dari rumah mendatangi rumah Tante Devi. Tante yang mendengar teriakan dari luar segera membuka pintu dan melihat Raga yang panik.
Tante Devi segera berlari ke rumah Abangnya, ingin melihat keadaan keponakannya. Badan Annisa sudah pucat, bibirnya sudah membiru. Suami Tante Devi segera mengeluarkan mobil dan mengajak Raga agar menggendong Adiknya masuk ke mobil agar dibawa ke rumah sakit.
Tante Devi segera mendatangi rumah Bima, Tante berharap Bima ada di rumah. Karena selain Gilang cuma Bima yang bisa melindungi Annisa dari incaran yang ingin mencelakai Annisa.
Bima yang selesai shalat maghrib mendengar pintu rumahnya di ketuk seseorang segera membukanya. Bima terkejut melihat
__ADS_1
Tante Devi dengan wajah paniknya dan pipinya yang sudah basah dengan airmata.
Tante Devi meminta pertolongan kepada Bima agar mengawal Mobil suaminya membawa Annisa ke rumah sakit. Bima yang mendengar keadaan Annisa terkejut dan langsung mengganti pakaiannya. Dikeluarkannya motornya dan segera mengikuti mobil Om Yudi.
Jalan yang ramai dengan kendaraan, membuat perjalanan terasa lambat. Bima menelepon temannya untuk mengamankan lalu lintas agar Mobil Om Yudi cepat sampai ke rumah sakit.
Gilang yang berada di rumah merasa tidak tenang, entah mengapa sejak pulang dari Coffee shop Tante Devi, Gilang selalu teringat kepada Annisa. Selesai shalat maghrib Gilang mencoba menghubungi ponsel Annisa tapi selalu tidak ada jawaban.
Akhirnya Gilang menghubungi ponsel Raga. Entah sudah berapa kali Gilang menghubungi Raga tapi hal yang sama di rasakan Gilang. Hingga dipanggilan terakhir, Raga dengan keadaan paniknya masih di dalam mobil menenangkan ibunya yang terus menangis terpaksa mengangkat panggilan dari Gilang.
Raga melihat layar ponselnya atas nama Gilang, langsung menekan tombol hijau dan tanpa basa-basi langsung menyuruh Gilang menyusul ke rumah sakit.
Gilang yang mendengar berita bahwa Annisa di bawa ke rumah sakit, segera mengeluarkan motornya kemudian tancap gas sehingga tidak dipikirkan lagi keselamatannya. Gilang terus melajukan motornya agar sampai di rumah sakit.
Mobil Om Yudi sempat mendapat Hambatan karena tiga pengendara motor mencoba menghalangi dengan menyerempet Mobil Om Yudi ketika akan kerumah sakit. Tapi Bima dan temannya berhasil menembak ban motor pengejar tersebut akhirnya pengejar itu kabur dengan meninggalkan sepeda motor mereka.
Ibu yang melihat keadaannya anaknya semakin memucat semakin panik, Om Yuda lebih melajukan lagi mobilny agar cepat tiba sampai tujuan. Tidak berapa lama mobil pun sampai, Annisa langsung di gendong Raga ke dalam rumah sakit, perawat yang melihat segera membawa ranjang dorong dan segera di bawa ke ruang UGD.
Ibu dan Ayah terus memohon kepada Allah semoga Annisa cepat sadar. Pengurusan Administrasi di selesaikan oleh Om Yudi. Beberapa menit kemudian Gilang sampai di rumah sakit. Melihat wajah Ibu yang menangis, membuat Gilang menebak bahwa keadaan Annisa tidak baik-baik saja. Raga yang ikut menunggu di depan pintu segera menceritakan kenapa Annisa sampai akhirnya dibawa ke rumah sakit.
Tiba-tiba pintu terbuka, Dokter yang membuka pintu ruangan segera dikerumuni keluarga Annisa. Dokter menerangkan bahwa Annisa mengalami syok, beban pikiran yang terlalu berat membuat dia stres sehingga membuat tekanan darahnya menurun.
Dokter mengingatkan agar pasien jangan di bebani masalah terlebih dahulu. Karena pasien pernah mangalami trauma dan rentan baginya traumanya akan kambuh kembali.
__ADS_1
Sering-seringlah menghibur pasien atau ajak dia refresing agar beban pikiran yang di kepalanya berkurang.
Gilang merasa bersalah karena sore tadi sebelum pulang dari rumah sakit, dia meminta Annisa agar menjadi target untuk penangkapan pengejar misterius itu. Para pengejar itu selalu memakai topeng sehingga sulit untuk mengenali mereka.
Annisa sudah dipindahkan ke ruang inap yang serupa dengan ruangan ketika Arif di rawat. Gilang yang meminta agar para perawat menyediakan ruangan yang terbaik untuk calon isterinya.
Rumah sakit yang kepemilikannya atas nama Papa Gilang membuat Gilang menjadi berang jika salah satu orang terdekatnya mendapatkan pelayanan yang tidak memuaskan.
Bima yang menyusul masuk kerumah sakit dengan pakaian biasa tidak membedakan dia dengan keluarga yang lain. Gilang yang melihat segera mendekati dan meminta agar Bima dapat menyelesaikan masalah ini.
Menurut penyelidikan anak buah Gilang, orang yang di curigai akan segera melakukan penculikan kepada Annisa. Salah satu teman Bima telah menangkap komplotan mereka yang sering mengintip rumah Annisa.
Polisi dengan pakaian biasanya menyamar pelanggan ojek online. Karena salah satu komplotan itu juga menyamar menjadi Gojek yang mangkal di depan rumah Annisa. Dengan kecerdikan teman Bima akhirnya salah satu komplotan itu tertangkap dan buka suara juga.
Keesokan harinya Annisa mengerjakan matanya melihat sekeliling ruangan yang dilihatnya sangat asing. Seingat Annisa dia semalam tidur di kamar. Annisa melihat tangannya di infus, Ibu dan ayahnya sedang melaksanakan shalat subuh berjamaah, sedangkan Raga dan Gilang tidur di sofa.
Ayah memanjatkan doa untuk Annisa agar cepat sembuh dan di jauhkan dari segala bahaya.
Annisa merasa terharu mendengar doa ayahnya dan mencoba untuk bersandar pada Ranjang rumah sakit. Tetapi kepalanya terasa pusing, akhir dia mengeluhkarena tidak sepenuhnya bisa duduk. suara eluhan Nisa terdengar oleh Ibu dan Ayah.
"Adek, apa yang sakit Nak,"
" Enggak ada Buk, Nisa ingin bersandar, Nisa capek tiduran saja," Ucapku dan di bantu Ibu untuk bersandar.
__ADS_1
Gilang bangun dari tidurnya mendengar orang berbicara dan memperhatikan Annisa yang sudah sadar. Gilang tersenyum melihat Annisa sudah mulai pulih kembali walaupun keadaannya masih lemah. Gilang segera pergi ke kamar mandi ingin membasuh wajahnya dan melangkah keluar ingin membeli sarapan untuk mereka.
Ayah dan Ibu merasa bahagia, puyerinybdinkelilingi dengan orang yang menyayanginya. Gilang di mata ayah adalah sosok pemuda yang bertanggung jawab dan perhatian. Ayah sudah jatuh hati kepada calon mantunya itu tinggal menunggu kepastian dari Annisa.