Teman Palsu

Teman Palsu
Rasa Pedas


__ADS_3

Sudah 15 menit ujian berlangsung. Seorang pemuda datang terlambat dengan sudut bibirnya memar dan matanya yang terlihat bengkak, cara berjalannya juga sedikit pincang.


Dosen yang melihat ia terlambat dengan kondisi memprihatinkan tidak tega untuk memarahi. Ia pun berjalan menelisik bangku yang masih kosong. Matanya melirik melihat diriku, ketika melewati kursi tempat dudukku. Arif segera mengambilkan soal dan lembar jawaban untuk Candra. Tatapan tajam di tujukan Arif kepada Candra, seperti orang yang bermusuhan. Ada apa dengan mereka? Mengapa wajah mereka terlihat dendam?


Waktu 60 menit menghadapi soal ujian Material Teknik, membuatku sedikit pusing. Ini adalah ujian matakuliah yang pertama, dan satu jam kedepan berganti mata kuliah yang lain. Arif terlihat santai dalam mengerjakan soalnya. Aku tidak mengerti apakah dia sangat mengerti jawabannya atau tidak tahu sama sekali.


Ku regangkan jari-jariku untuk mencari ide. Tetapi kulihat kesamping kepala kananku tidak ada bayangan lampu neon muncul, dan ide pun padam. Aduh ini gara-gara tadi malam tidak belajar dan gara-gara Bang Raga yang udah meninggalkan aku di Taman.


Aduh, nyesal aku gak belajar, ku lirik lusi yang terlihat kebingungan. Sedangkan temanku yang di samping kiriku lembarannya juga masih kosong. Satu demi satu kukerjakan, dengan pengetahuan sedikit yang ku ketahui. Tiba selesai ku kerjakan di nomor 10, waktu sangat pas, ketika Pak Dosen memerintahkan kami mengumpulkan lembar jawaban.


Ah, Lega satu matakuliah sudah selesai. Aku keluar dari kelas menuju belakang kampus, ingin melihat bukuku yang belum sempat ku baca untuk ujian matakuliah yang ke dua. Duduk di bawah pohon yang rindang, sejuk terasa duduk di bawahnya.


Satu tepukan di pundakku mengagetkanku yang sedang serius membaca. Terlihat si muka lebam datang untuk mengganggu. Aku tidak perduli dan membelakanginya dan terus membolak-balik bukuku. Berharap yang ku baca ini nanti ada dalam soal.


" Nisa...," Suara Candra terdengar memanggil namaku.


" Hemm," sahutku mendengar panggilannya yang masih fokus membaca buku.


" Kamu masih marah padaku Sa...," tanya Candra kepadaku dengan nada lembut.


"Enggak," ucapku dengan ketus.


" Terus kenapa kamu kenapa diam saja setiap ketemu aku?,"tanya Candra kembali merasa tidak puas dengan jawabanku.


Aku tidak menjawab pertanyaannya, karena aku merasa buang-buang energi. Untuk apa di ladeni, karena ujung-ujungnya juga nanti kita kena getahnya.


Aku masih fokus belajar. Suara Arif terdengar di belakangku menyapa si Candra.


" Loe gak lihat Nisa lagi belajar," ucap Arif dengan nada naik satu oktaf.


" Iya, gue lihat, terus apa urusan sama loe," ujar Candra kepada Arif yang setahu Candra Arif juga tidak ada hubungan saudara dengan Arif.


" Ada dong..., diakan calon kakak sepupu gue, gue di minta untuk menjaganya," ucap Arif membanggakan dirinya menjadi pengawal pribadiku.


" Yang pasti Nisa bukan milik loe kan..., kenapa loe yang sewot," ucap Candra kepada Arif yang sudah sedikit keras.

__ADS_1


" Gak kapok-kapok juga kamu ya dekati Nisa, apa perlu gue tambahi lagi di muka loe!," ucap Arif dengan geram.


Eh, Tunggu!, apa kata si Arif tadi, mau menambahi luka ke wajah si Candra. Apakah yang memukul wajah Candra adalah Arif? Kenapa di pukul Arif, apa masalahnya?


Si Candra terlihat kikuk, dia pun membalikkan badannya dan berjalan dengan sedikit pincang menjauhi kami berdua.


" Rif, apa maksud omonganmu dengan Candra tadi? apakah kamu yang melukai Candra? ucap


" Ti...dak," ucap Arif yang gugup dan Arif terlihat salah tingkah.


"Jangan bohong Rif!," teriakku karena sikap Si arif sangat mencurigakan.


" Enggak Sa...," ucap Arif yang menutupi kebenarannya. " Udah yuk masuk, ujian ke dua mau di mulai," ucap Arif yang melangkah tanpa melihat aku ke belakang.


Aku melangkah mengikuti Arif menuju kelas. Kelas kembali ramai. Bangku kosong tinggal di bagian depan. Mau tidak mau aku dan Arif harus duduk di depan. Ku dudukkan Punggungku di kursi. Terlihat Pak Dosen tampan yang mengawas ujian Fisika Teknik dengan membawa soal dan lembar jawaban di tangannya.


Biasanya Arif yang di minta untuk membagikan lembaran soal, tetapi ini Dosen itu seperti ingin mencari perhatian dari mahasiswi yang ada di kelas. Siapa juga yang mau naksir sama Pak Dosen? aku saja sudah punya tunangan. Tunanganku juga tampan, kaya lagi.


Kalau Si Lusi wanita jadi-jadian, KTPnya saja yang berjenis kelamin perempuan , nyatanya laki-laki. Si Raya cewek tomboy satunya lagi, yang biasa dipanggil Rey bila di kampus. Sifatnya malah lebih parah dari si Lusi bahkan sangat suka merokok. Sedangkan Si Noni sipemilik rambut gimbal, asal dari ambon dengan ngomongnya yang sangat kental ambonnya membuat kami mendekatinya saja segan, Karena susah mencerna bahasa daerahnya. Kulitnya yang hitam dan rambutnya yang Gimbal terasa menyeramkan bila melihat wajahnya dan dia terlihat sangat dekil. Bila praktek bungkar mesin, tubuhnya bercampur oli akan semakin parah dekilnya.


Terasa cemerlang otakku pada ujian mata kuliah ini. Mungkin Dosen yang mengawas membawa mood yang baik, sehingga ide-ide bermunculan seperti lampu neon yang bersinar terang. Waktu 1 jam sudah ku jalani dengan berjibaku dengan soal-soal yang hampir semua bisa ku jawab. Begitu juga dengan si Arif yang terlihat santai menjawab soal tanpa kasak kusuk dan gelisah.


Selesai sudah ujian hari ini, di lanjutkan lagi esok hari. Arif menarik tanganku dan membawaku menuju kantin. Dia langsung dua piring Somai dan dua botol teh botol pakai es. Baru terlihat dunia, setelah satu tegukkan air dingin melewati tenggorokanku.


Somai juga sudah terhidang, langsung ku santap dan pedasnya sangat luar biasa. Ini bumbu somai atau mercon. Pedasnya membuat lidahku mengeluarkan api. Aku merasa menyerah. Arif mau ngerjain aku tau bagaimana sih.


Sepasang mata melihat dari jauh dengan tersenyum puas melihat kami makan somai di kantin. Tapi sasarannya hanya kepada satu orang, yang selalu mengacaukan rencananya. Dan dia akan balas dendam. Memasukkan dua sendok merica bubuk dan dua sendok sambal Cabai Rawit. Tapi orang yang dendam ini ternyata salah sasaran. Sehingga membuat sakit perut gadis yang sangat di cintainya.


Wajah Arif terlihat biasa saja. Ku ambil satu sendok somay si Arif, biasa saja rasanya, tidak berasa pedas.


" Ada apa Sa?,"tanya arif melihat tingkahku yang bolak-balik mengambil minum.


" Enggak, cuma beda aja rasanya kok aneh," ucapku yang bingung mengatakan kepada Arif, saperti ada yang tidak beres ada somaiku.


Aku berulang kali minum sampai teh botol sampai habis dan tambah satu gelas air putih hangat untuk meredakan rasa pedas di lidahku. Arif penasaran dengan tingkahku, dia sudah mengenalku yang sangat tahan pedas. Tapi hari ini Arif merasa heran, sepedas-pedasnya pakai sambal, Aku tidak pernah sampai meringis seperti ini. Arif mengambil sendoknya dan mengambil somai yang masih tersisa dipiringku.

__ADS_1


" Huek!!!, arif memuntahkan makanan yang ada di mulutnya dan menghabiskan teh botolnya dengan cepat. Tapi tidak juga mengurangi rasa pedas di lidahnya. Arif mendatangi ibu kantin, meminta sebutir telur rebus sebagai penawar pedas. Akhirnya rasa pedasnya sedikit berkurang.


Airmata Arif sampai keluar dari mata Arif karena merasakan pedasnya bumbu dari somai milikku.


" Sa, gila ini somainya , ini mau membunuh atau bagaimana?," tanya Arif kepadaku yang menilai somaiku rasanya sangat aneh.


" Aku gak tahu, kan kamu yang pesan, aku pikir kamu sengaja ngerjain aku, biar aku sakit perut ya kan...," ucapku yang sudah suudzon kepada Arif.


"Aku gak setega itu Sa, aku tadi pesan rasa yang sama,"ucap Arif menjelaskan.


"Terus siapa memesan ini, mungkin tertukar dan ini pesanan orang," ucapku yang mempunyai feeling kalau kemungkinan somaiku tertukar dengan milik orang lain.


Arif mendatangi ibu kantin yang sangat sibuk meladeni mahasiswa yang lagi memesan makanan.


" Buk, somai teman saya kok bisa terlalu pedas buk," tanya Arif kepada Ibunpemilik kantin yang bernama Susi.


" Gak ah, semua rasanya sama, hanya saya beri sambal sedikit untuk yang suka pedas," ucap Ibu susi.


" Enggak buk , rasanya beda," ucap Arif menjelaskan kepada Ibu susi.


" Masa sih Mas?," tanya ibu yang penasaran.


" Beneran lho buk," ucap Arif meyakinkan Ibu Susi.


" Ayo buk, kalu ibu gak percaya, biar ibu tahu rasanya," ucap Arif menjelaskan dan menarik tangan Ibu susi yang umurnya seumuran mama Arif.


Ibu kantin mengambil Sendok Nisa dan memasukkan somai ke dalam mulutnya. Baru beberapa kunyahan, Ibu kantin sudah memuntahkan dan tersedak sampai menangis. Aku tidak bisa menolong ibu kantin, perutku saja sudah sangat mulas, dengan berlari cepat aku pergi ke Toilet Kampus.


Sepeninggal Annisa yang pergi ke Toilet. Ibu kantin seakan tidak percaya akan somai buatannya sendiri. Dia masih terbatuk-batuk dan sampai muntah-muntah mengeluarkan isi perutnya. Arif merasa ada yang sengaja memberikan sambal yang terlalu banyak kepada piring Nisa, tetapi apa salah Nisa, dan siapa yang sudah mengerjainya?


Ibu kantin tidak mengakui kalau dia sudah memberikan sambal yang lebih banyak.


* * * * * * * * * * *


Maaf ya, Authornya semalam tidak bisa Up, karena di rumah ada acara keluarga. Jangan lupa like, komen dan votenya.

__ADS_1


__ADS_2