Teman Palsu

Teman Palsu
Menerima lamaran


__ADS_3

Hari menjelang siang, aku sudah selesai melaksanakan shalat zuhur dan segera bersiap. Berdandan yang rapi untuk bertemu dengan Gilang sang pemuda yang Sudah menggoyahkan hatiku.


Aku sengaja berdandan agar Gilang tidak kecewa ketika datang ke rumahku melihat gadis pujaan hatinya lusuh dan bau. Apa kata dunia melihat primadona kampus bagian otomotif lecek dan kucel. Di poles sedikit supaya terlihat segar dan bercahaya.


Ayah, Ibu ,Tante dan Om Yudi yang sudah selesai makan siang segera berbincang di ruang tamu membahas Toko kue di dekat kampus yang sudah siap di kerjakan.


Beberapa menit kemudian, Deru mobil terdengar di halaman rumah. Aku menebak pasti yang datang Kak Gilang, Tetapi kenapa dua mobil. Mobil siapakah yang satunya lagi ya? Ayah melihat dan menyambut tamu yang datang. Ternyata Kak Gilang bersama dengan orang tuanya.


" Assalamu'alaikum," ucap Pak Yuda bersama istrinya.


" Wa'alaikum salam," jawab semangat Pak Iwan sekeluarga.


" Apa kabar Pak Iwan?," ucap Pak yuda yang bahagia dapat bersilaturrahmi ke rumahku.


" Alhamdulillah sehat Pak," jawab Ayahku.


"Maaf Pak kami agak terlambat, maklum macet di jalan. Ngomong-ngomong, apakah sudah lama orang bapak menunggu kami?," ucap Pak Yuda.


" Oh... tidak Pak..., kami pun sedang bersantai membahas toko kue Annisa, yang sudah siap di kerjakan," ucap Pak Iwan.


" Oh ya..., buka cabang di mana Pak? ucap Pak Iwan merasa penasaran.


" Dekat kampus Annisa, Silahkan duduk Pak Yuda," ucap Ayah.


" Iya Pak" ucap Pak yuda segera duduk.


Aku datang ke depan membawa nampan berisi minuman dan kue untuk mereka. Setelah kupersilahkan, aku pun kembali ke dapur. Suara bicara dari ruang tamu terdengar sangat ramai.


" Nisa," teriak Ayah memanggilku.


" Iya Yah," ucapku berjalan menuju ruang tamu kembali. Aku pun datang menemui ayah, orang yang di ruang tamu menatap kearah diriku, terutama Gilang terus saja menatapku tanpa berkedip sekali pun matanya.


" Ehmm...," deheman Mama Gilang mengalihkan kembali pandangan Gilang kepada Mamanya.


" Annisa, coba kamu katakan jawabanmu kepada Ayah dan orang-orang yang ada di ruangan ini, kami akan mendengarkan apapun keputusanmu,"ucap Ayah mengingatkan diriku.


"Iya Yah,"ucapku mengambil tempat duduk di depan mereka semua.


"Ayah, ibu, dan Kak Gilang, sesuai dengan janji Nisa yang akan menjawab lamaran Kak Gilang tempo hari. Setelah Annisa memberikan waktu satu minggu dan tepatnya di hari ini, hari ini Nisa akan mengutarakan jawaban itu. Annisa telah melaksanakan shalat istikharah dan telah mendapatkan jawabannya Yah. Bismillahirrahmanirrahim, lamaran Kak Gilang..., Annisa terima," ucapku memecah keheningan dan riuh terdengar mengucapkan Alhamdulillah.


Kak Gilang terlihat bahagia, dan memeluk Mamanya. Mamanya juga Antusias mengucapkan syukur kepada Allah karena impiannya terkabul.


Mama Gilang sudah sangat menginginkan mempunyai menantu. Dia melangkah, memelukku, dan mencium pipiku dengan gemasnya. Impiannya mempunyai anak perempuan sudah sedari dulu, tetapi Allah hanya memberikan rezeki 1 anak laki-laki saja kepada mereka, dikarenakan kandungan Mama Gilang yang lemah.

__ADS_1


"Pak Iwan, kapan kabar bahagia ini kita laksanakan, saya sudah tidak sabar ingin segera melamar puteri Pak Iwan kalau perlu langsung menikah dengan Gilang juga Tidak apa-apa, " ucap Pak Yuda antusias.


" Maaf Om, Annisa ingin tunangan saja dahulu, setelah Kak Gilang menyelesaikan kuliah S2 nya baru Annisa akan menikah dengan Kak Gilang,"ucap Annisa menengahi.


" Tapi Sa, kamu harus menunggu Kakak 3 tahun lagi sampai Kakak menyelesaikan kuliah Kakak, bagaimana Kakak bisa menjagamu?ucap Gilang dengan wajah sedihnya.


" Tenang Lang, Papa akan menyiapkan anak buah Papa untuk menjaga Annisa. Pak Iwan, kapan hari Pertunangannya akan di adakan?


ucap Papa Gilang.


" Saya terserah mereka saja Pak," ucap Ayahku.


" Bagaimana sebelum Gilang wisuda Pa, tepatnya 3 hari lagi Gilang akan melamar Annisa," ucap Gilang kepada semua orang yang ada di ruangan itu.


" Bagaimana Annisa???," tanya Mamanya Gilang dan aku yang di tanya menganggukkan kepalaku.


" Acaranya sederhana saja Yah, tidak usah terlalu mewah yang penting kumpul keluarga," ucap ku kepada Ayah.


" Iya, Ayah setuju," ucap Ayahku


" Yah, Gilang mau mengajak Nisa ke kolam ikan yang ada di belakang Yah, ada yang ingin Gilang sampaikan pada Nisa," ucap Gilang berpamitan.


" Pergilah,"ucap Ayahku


" Dek, Kakak mendapat beasiswa ke Australia Dek," ucap Kak Gilang kepadaku, dan aku terkejut mendengar perkataannya.


" Bukankah Kakak akan melanjutkan kuliah S2 Kakak di sini? ucap annisa penasaran.


" Mulanya iya, tapi Kakak mendapat kesempatan mendapat Beasiswa melanjutkan kuliah di sana, sekalian ingin mengelola perusahaan papa yang berada di sana, ini untuk masa depan kita Dek, Kakak akan pergi setelah Kakak wisuda nanti, tepatnya satu minggu ke depan"ucap Gilang menjelaskan.


" Ha...secepat itu kak, apa tidak bisa di undur Kak," ucapku yang merasa terkejut.


" Kenapa, apakah kamu tidak setuju? kalau kamu tidak setuju, kakak tidak akan berangkat," ucap Gilang kepada Annisa.


"Tidak Kak, Nisa tidak keberatan hanya saja, itu terlalu cepat," ucap Annisa kepada Gilang menatap wajahnya.


" Maunya kakak, satu bulan lagi Kakak baru berangkat, Kakak ingin memuaskan dulu berdua denganmu, Kakak takut gak bisa jauh darimu Dek," ucap Gilang menggombal, wajahku yang di gombal sudah seperti kepiting rebus.


" Satu yang Annisa pinta, jaga hati Kakak untuk Nisa," ucapku mengingatkannya.


" Iya, tenang saja... hati Kakak tidak akan berpindah kelain hati, di hati Kakak hanya Adek seorang"ucap Gilang yang seperti tukang rayu.


" Gombal," ucapku menyela perkataan kak Gilang.

__ADS_1


" Beneran, tunggu Kakak pulang ya Dek,?ucap Gilang memohon.


" InsyaAllah, Annisa akan menunggu Kakak sampai Kakak kembali," ucapku kepada Gilang walaupun hati ini berat.


" Apakah Annisa tidak takut Kakak jatuh cinta kepada yang lain," ucap Gilang memegang tanganku.


" Nisa berserah kepada Allah Kak, kalau memang kita di jodohkan kita akan menikah pada waktunya dan di takdir bersama," ucapku pada Gilang.


" Ya, solehahnya calon istriku, memang tidak salah Kakak memilihmu,"ucap Gilang kepada Annisa.


"Sa, kita keluar yuk ,cari baju untuk pertunangan kita, sekalian menghabiskan waktu berdua," ucap Gilang dengan kejailannya.


" Nisa segan dengan Papa dan Mama Kakak, mereka masih fi rumah, masa kita tinggal," ucapku kepada Kak Gilang.


" Tidak apa-apa mereka kan pernah muda, mau ya...,"ucap Gilang dengan kebucinannya tingkat dewa. Aku pun menganggukkan kepalaku dan Kak Gilang segera menggandeng tanganku.


Aku dan Kak gilang berpamitan kepada ibu dan ayah serta orang tua Kak Gilang. Mereka tersenyum melihat kebersamaan kami yang sebentar lagi akan mempunyai ikatan.


Kak Gilang membukakan pintu mobil, seperti pangeran yang mempersilahkan permaisurinya masuk kedalam kereta kencana. Aku merasa tersanjung. Tiba-tiba wajah Kak Gilang mendekat, mataku refleks terpejam. Dugaanku Kak Gilang tanpa permisi ingin menciumku, aduh jangan dulu deh...


Jantungku rasanya mau copot. Satu detik dua detik, sampai beberapa menit tidak ada kelanjutannya. Mataku kembali ku buka. Kurasakan dia memegang sabuk pengaman di pinggangku, leganya perasaan ini, mana pikiranku sudah aneh-aneh.


" Mikirin apa Dek, pingin di cium," ucap Kak Gilang menggoda.


" He...he...he...gak Kak, habis Kakak gak permisi mau masangi ini," ucapku menunjuk sabuk pengaman di pinggangku.


Mobil pun terus melaju sampai menuju Butik Mama Kak Gilang. sampi di butiknya, Kak Gilang menggandengku masuk, semua pekerja memandang kagum wajah Kak Gilang.


Aku kok merasa cemburu ya. Ih ganjen bener mata mereka kayak gak pernah lihat orang tampan saja. Ingin rasanya nyolok mata mereka. Sabar...sabar... jangan emosi, Nisa jangan tunjukkan kalau kamu tomboy di sini. Sedikitlah peminim supaya Kak Gilang tidak malu.


" Mimin, tolong carikan Satu stel gaun yang sangat indah untuk calon istri saya, ingat jangan yang terbuka," Ucap Kak Gilang kepada pekerja Mamanya.


" Iya Tuan," ucap si Mimin menunduk.


Aku dan Gilang menunggu mereka memilihkan sebuah gaun yang indah, beberapa menit kemudian, satu gaun di bawa si Mimin sangat indah.


" Apakah nona suka dengan dengan gaun ini," ucap Mimin menunjukkan sebuah gaun yang indah.


" Iya saya suka," ucapku merasa terpukau akan keindahannya.


" Kalau Nona suka, kita akan mencobanya, ayo ikut saya Nona," ucap Mimin.


" Iya ,baiklah," ucapku kepadanya.

__ADS_1


Aku pun mengikuti Mimin dan memakainya di ruang ganti yang di tunjukkannya. Setelah beberapa menit menunggu, keluarlah diriku dari ruang ganti.


__ADS_2