Teman Palsu

Teman Palsu
Teman wanita


__ADS_3

Ku ambil ponsel yang ada dalam tas, ingin mencoba menghubungi Calon Imamku. Berulang kali aku memanggil, tetapi tidak di angkat. Sampai panggilan terakhir terasa menyambung dan aku bingung mendengar suara seseorang yang menjawab dengan mengatakan kata "Hello". Dengan segera ku letakkan Ponsel di atas meja karena merasa kebingungan dan seakan tidak percaya. Sedang kan orang yang di seberang sana terus bersuara.


Aku merasa gelisah, berdiri berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Ku coba menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali, agar hatiku merasa tenang. Mencoba berpikir positif tetapi hati ini selalu menolak.


Ku dekatkan kembali ponsel di telingaku ingin menjawab seseorang yang di seberang sana dengan bahasa inggris yang sedikit-sedikit aku bisa.


" Hello..." jawab seorang wanita yang di seberang sana dengan lemah lembut dengan menggunakan bahasa inggrisnya.


Ku buang jauh-jauh perasaan itu, mengapa wanita yang menjawab? hatiku berdebar sedangkan perasaanku sudah tidak karuan.


" Ya hello, With Who is this?," [ Dengan siapakah ini?]


" I'm Sherly," [ Saya Sherly]


" What your relationship with Gilang," [ Apa hubunganmu dengan Gilang?]


" I'm his girlfriend," [ Saya adalah teman wanitanya]


" I want to talk to brother Gilang," [ saya ingin berbicara dengan saudara Gilang]


" Oh sorry, Gilang is still in the bathroom," [ oh maaf, Gilang sedang di kamar mandi]


Deg


Jantungku seakan mau copot, aku langsung mematikan panggilan dan menyandarkan tubuhku ke dinding. Tanpa sadar air mataku jatuh terus mengalir di pipi. Apakah ini sebabnya Kak Gilang jarang menghubungiku? Apakah Kak Gilang sudah punya yang baru? kalau benar dia sudah punya yang baru, apa yang mereka lakukan berdua di dalam ruangan yang sama? Pikiranku terus berkecamuk membayangkan yang tidak-tidak tentang mereka.


Ku kemasi barang-barangku dan berganti baju kembali. Ingin rasanya cepat meninggalkan tempat ini. Setelah selesai berganti baju, Aku langsung keluar dengan mata terus menangis. Ragil dan Arif yang sedang istirahat sehabis makan, merasa heran melihat diriku berderai air mata keluar dari kantor.


Mereka mencoba menghampiri tetapi terdengar suara keributan seorang wanita di depan bengkel. Ku langkahkan kakiku ke depan ingin cepat pergi meninggalkan tempat ini. Ketika sampai di depan, seorang wanita berpakaian seksi yang kurang bahan berjalan dengan lantangnya mencoba menghadang diriku dan mendorong tubuhku ke belakang. Syukurnya badanku yang tegap dapat menahan dorongan tangannya itu.


" Oh, ternyata ini ya wanita yang suka mengambil pacar orang ," ucap wanita yang tidak aku kenal berkata kasar dengan wajahnya yang sinis, menunjuk-nunjuk wajahku dengan jari telunjuknya.


" Siapa yang Anda maksud?," tanyaku kepada wanita yang tidak aku kenal itu.


"Ya kamu, siapa lagi," ucap Wanita itu dengan membabi buta.


" Aku..., Anda apa tidak salah menuduh saya," ucapku yang merasa lucu dituduh mencuri pacar orang sedangkan tunanganku sendiri saja tidak bisa ku jaga.


" Iya, kamu, siapa lagi, emang ada wanita lain selain kamu di sini," ucap Wanita itu dengan emosi.

__ADS_1


" Emang siapa yang saya ambil? tanyaku kepadanya.


" Candra itu pacar saya, Dia gak pernah datang lagi kepada saya dan Dia mengaku sudah punya pacar yang baru, orangnya bekerja di bengkel sini," ucap Wanita yang mengaku pacar Candra.


" Candra ya..., ha..ha.., gak salah kamu nuduh saya," ucapku yang tidak senang di tuduh dan dengan cepat menghapus airmataku dan merasa lucu akan perkataan wanita itu.


" Anda salah orang, saya bukan pacar baru candra, tapi mantannya," ucapku berkata jujur di depan wanita yang rasa percaya dirinya tingkat dewa.


" Bohong kamu, ini buktinya Candra mengirimkan foto kamu kepada Saya," ucap Wanita itu dengan menunjukkan ponselnya.


Ku pandangi Candra dengan emosi, aku benci orang yang mengaku-ngaku pacarku. sudsh cukup dia menyakiti hatiku srlama berpacarannya dengannya. Tanganku mengepal menahan amarah, ingin rasanya aku menhhajar Candra hari ini juga. Sikap geramku kepada Candra mendapat tatapan tajam dari Kak Ragil yang langsung menghampiri Candra dengan menarik kerah bajunya. Candra yang yanh di hampiri Kak Ragil merasa ketakutan.


" Asal anda tahu saya sudah bertunangan, tapi bukan dengan Candra," ucapku didepan Candra, supaya Candra tahu bahwa aku sudah bertunangan dan Candra terlihat terkejut mendengar kalau aku sudah bertunangan.


" Alah, wanita munafik kamu," ucap Wanita itu sembarangan.


" Eh, jaga mulut kamu, yang munafik itu kamu," ucapku yang sudah sangat emosi dengan perkataannya yang sudah merendahkan orang lain.


" Alah banyak omong kamu," ucap wanita yang sudah menaikkan tangannya ingin menampar pipiku.


Ku pegang tangannya dan ku pelintir kebelakang, wanita itu merasa kesakitan dan menjerit minta ampun. Wajah wanita itu memerah menahan sakit di tangannya.


" Kalau aku tidak ingin melepaskan bagaimana?," ucapku yang merasa mengancamnya.


" Tolong lepaskan tanganku sakit, aku janji tidak akan mengganggumu lagi," ucap Wanita itu yang meringis kesakitan.


" Kamu tahu, apa akibatnya mengganggu singa betina, tanganmu ini bisa patah aku buat," ucapku memelintir tangannya lebih kuat lagi.


" Ja...jangan, tolong... jangan lakukan ini padaku, aku minta maaf," ucap Wanita itu terus meringis.


" Asal kamu tahu aku bukan pacar baru candra dan aku menyesal karena pernah berpacaran dengan sampah seperti itu," ucapku menunjuk wajah Candra yang memandangi pertikaian kami dan masih dalam pengawasan Kak Ragil.


Aku hempaskan tangan wanita itu, dan dia tersungkur ke lantai. Ku langkahkan kakiku, pergi meninggalkan tempat itu dan Arif segera mengejar diriku yang sudah mendekati motor.


" Sa ,kamu mau kemana Sa...," ucap Arif melihat diriku yang kusut.


" Aku mau pulang Rif," jawabku sambil menangis.


" Sa, kamu kenapa Sa, cerita sama aku Sa," tanya Arif kepadaku. sedangkan Ragil sudah mengurus Candra yang membuat masalah dan menyuruhnya membawa pergi wanita yang tidak mempunyai adab dan sopan santun itu.

__ADS_1


" Aku ingin menyendiri dulu Rif, Aku belum bisa cerita sama kamu," ucapku dengan sedih menatap Arif dengan wajah yang penuh tanda tanya.


" Sa, ada apa Sa, jawab Sa," ucap Arif ingin mencari tahu apa yang terjadi pada diriku.


" Tanya saja sama sepupu kamu itu," ucapku melangkah menghampiri motor.


Aku naik ke motor dan menyalakannya. menarik gas kencang dan melajukan kendaraan yang entah kemana akan membawa diriku supaya merasa tenang. Arif merasa ada yang tidak beres, dia pun segera pergi ke kantor dan melihat CCTV yang terpasang. Segera di buka komputer dan melihat kejadian apa yang terjadi di hari ini di dalam kantor.


Sial, apa yang sudah kamu lakukan pada Nisa Bang. Alamat Nisa marah besar.


Arif mngambil ponselnya dan menghubungi Gilangbyang berada di seberang sana dengan setunpuk tugas-tugasnya.


" Hallo Bang, apa yang Abang lakukan pada Nisa?,"


" Emang apa yang Abang perbuat, tidak ada Rif, aku rela tidak menghubunginya, agar aku tidak semakin rindu padanya dan bisa cepat menyelesaikan kuliahku di sini,"


" Apa maksud Abang? coba lihat ponsel Abang, ada atau tidak panggilan masuk dari Nisa,"


" Tunggu bentar, iya benar ada panggilan dari Nisa, tapi Abang hari ini tidak ada bicara dengannya. Bangsat..., pasti ini ulah si sherly, keponakan Mama itu,"


" Abang ceroboh meletakkan ponsel sembarangan. Terserah abang sekarang, yang penting Arif sudah berusaha menjaga Nisa 1 tahun ini,"


" Astaghfirullah bagaimana ini, Nisa salah paham Rif, kalau aku pulang maka beasiswaku akan gugur,"


" Terserah, Urus diri Abang sendiri,"


Arif mematikan ponselnya dan keluar dari kantor. Mengambil helmnya dan melangkah menuju motornya.


" Rif, kau mau kemana," ucap Ragil yang melihat Arif bergegas ingin menaiki motornya.


" Aku pergi dulu Gil, mau nyusul Nisa, aku khawatir sama Nisa," ucap Arif yang sudah memakai helm dan menaiki motor besarnya.


" Emang Nisa kenapa Rif? tanya Ragil yang penasaran.


" Nanti aku ceritakan, tolong jaga bengkel dulu Gil, dan urus dulu motor-motornya," ucap Arif memberi pesan kepada Ragil dan menyalakan motornya.


" Iya, hati-hati," ucap Ragil melihat kepergian Arif.


Nisa, Nisa..., sungguh engkau wanita yang setia, andai kamu pisah dengan Kak Gilang, aku rela menemanimu sampai hari tuamu.

__ADS_1


Ragil segera menemui teman-temannya dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Doni yang mempunyai motor yang sedang dikerjai Arif dan belum selesai merasa prustasi. Karena motor yang sudah di mimpi-mimpinya akan dipakainya cepat, malah mimpinya ambyar.


__ADS_2