
Suara azan Ashar terdengar berkumandang, ku renggangkan pelukan ayah dan berniat melaksanakan shalat. Kak Gilang mengajakku untuk shalat di Musholla rumah sakit tetapi terlebih dahulu kami pamit kepada ayah dan ibu. Kami bertiga pun pergi menuju Musholla. Di Sujud terakhir, ku panjatkan doa memohon kepada Allah untuk kesehatan ayah dan ibuku.
Setelah selesai mengerjakan shalat, Kak Gilang dan Bang Raga menungguku di depan, Kemudian mengajakku makan bakso di warung depan rumah sakit. Bakso Jumbo Spesial Pak Joko namanya. Aku pun menyetujuinya, siapa juga yang tidak mau dibelikan bakso, mana gratis lagi.
Kami memilih bangku di pojokan yang tidak mengarah ke pasar. Ku lihat banyak muda-muda yang membeli bakso di warung ini. Kak gilang memesan tiga mangkuk bakso Jumbo. Dalam waktu lima belas menit hidangan pun tersedia di meja. Terasa menggiurkan di lidahku. Wanginya semerbak membuat perutku lapar. Langsung ku tarik bakso yang ada di hadapanku. Dan ku sendok kuahnya, "enak " kataku.
Senyum terukir diwajah orang yang mentraktirku. Tanpa sepengetahuanku ketika aku makan, Kak Gilang selalu tersenyum melihat cara makanku. Hening terasa ketika kami makan bersama hanya suara sendok yang terdengar.
Perutku pun terasa kenyang menghabiskan semangkuk Bakso Jumbo Spesial Pak Joko. Mantap betul... rasanya, tanpa ku sadari aku bersendawa. Langsung ku tutup mulutku. Aku malu karena ada sepasang mata yang melirikku. Wajahku sudah memerah ditatap terus sama orang ganteng. Lain halnya dengan Bang Raga, dia tidak perduli karena dia sudah biasa mendengar aku bersendawa.
"Maaf Kak" ucap ku tersipu malu.
Kak gilang hanya menanggapi dengan senyuman. Senyuman Kak Gilang membuatku klepek-klepek. Aduh, bisa rontok jantungku kalau sering-sering di tebar senyuman seperti ini. Ternyata aku seperti gadis lainnya, normal gak bisa tenang kalau lihat senyuman orang ganteng.
Sekelebat ingatanku kembali bahwa aku masih ada Candra yang setia di sampingku. ku geleng-gelengkan kepalaku. Ah, mikiri apa aku ini, kenapa juga terpesona melihat wajah tampan orang lain, malah bukan mengagumi pacar sendiri. Tapi dadaku terasa dak dik duk bila dekat Kak gilang sementara dua bulan dekat dengan Candra gak seperti ini jantungku.
Eh, ngomong-ngomong apa kabar Candra ya, udah sore gini gak ada kabarnya, mending aku chatting aja ya, batinku.
"Lagi apa Can..." ku beri emoji love-love. Ku tunggu lima menit. Yah... gak ada balasan masih juga centang satu, Coba ku chat lagi.
" Kok gak balas Can..., ayahku sudah mulai membaik lho, kamu tadi mau minta bantuan apa? maaf ya aku baru bisa respon". Yah centang satu lagi, kamu lagi apa si Can... kok gak bisa balas. batinku lagi, wajahku sudah murung.
" Lagi chat ama siapa Dek " ucap Bang Raga.
" Ama temen Bang " ucapku masih melihat ke ponsel menunggu balasan dari Candra.
" Temen apa temen " ucap Kak Gilang.
" Iya temen," ucapku kembali masih menatap layar ponsel.
" Dek, Kakak mau tanya, Tapi kamu jangan marah ya..." ucap Kak Gilang memandang wajahku.
" Kakak Mau tanya apa Kak? " ucapku beralih menatap Kak gilang.
__ADS_1
" Kamu masih pacaran ama Candra tidak dek ?" tanya Kak Gilang kepadaku.
" Ehmm, masih Kak, " jawabku dengan melirik Bang Raga takut mendengarkan pembicaraan kami.
"Kakak kemarin lihat Candra makan dengan temen ceweknya di Cafe Dek, "ucap Gilang hati-hati.
" Beneran Kak ". ucap Annisa penasaran.
" Iya Dek " jawab Kak Gilang.
"Kakak lihat kemarin sebelum Papa Kakak nelpon ketika ayah kamu kecelakaan, sebenarnya ingin
Kakak samperin mereka berdua. Tapi keburu Papa Kakak nelpon minta bantuan kakak, gak jadi kakak Samperin. Kakak pikir kabar dari Papa Kakak lebih penting dari pada mengurusi mereka, " ucap Gilang kepada Annisa.
" Sejak kapan kamu pacaran Dek, masih kecil udah pacaran "ucap Bang Raga.
" Sudah besar Adek ini Bang... " ucapku merasa kesal dengan jawaban Kak Gilang.
" Ayo bang balik ke tempat ayah, ini kita udah terlalu lama " ucapku dengan cemberut dan meninggalkan mereka berdua.
" Memang kamu beneran lihat pacar adekku di cafe Lang? " tanya Raga.
" Beneran Iya, aku gak salah lihat kok, aku gak tega kalau Nisa di bohongi. Mana waktu itu si cowok nembaknya di depan aku lagi latihan Ga, " ucap Gilang.
"Jadi kamu cemburu gitu, " jawab Raga.
" Gak lah..." ucap Gilang santai.
" Aku itu sayang ama adek mu Raga, Annisa itu udah aku anggap seperti adekku sendiri " ucap gilang sambil berjalan menuju ke kasir membayar bakso mereka.
" Ehmm, sayang atau sayang..." ucap Raga menggoda Gilang.
" Emang kamu mau nerima aku jadi adik ipar mu Ga..." ucap Gilang dengan tersenyum.
__ADS_1
" Ogah punya ipar kaya loe " jawab Raga dengan langkah cepat.
" Gini-gini aku setia lho Ga, tampan lagi," jawab Gilang mengejar langkah Raga.
" Wih narsis, " ucap Raga sambil melempar bekas minuman gelas dan berlari.
" Brengsek lho Ga, dasar calon ipar gak ada akhlak, " jawab Gilang mengejar Raga.
Ting, satu chat dari Papa. "Lang, ayah tidak jadi ke rumah sakit. Nenekmu juga lagi sakit , Papa dan ibumu harus jenguk nenek di rumahnya. Mungkin besok Papa baru bisa jenguk ayahnya Raga, titip salam Papa kepada keluarga Raga ya ".
" Assalamualaikum " ucap gilang sambil membuka pintu kamar inap ayah Raga.
" Wa'alaikum salam " ucap ibu, Raga dan Annisa. "
" Bu, titip salam Papa bu, Papa belum bisa datang jenguk ayah, karena nenek juga sakit, mungkin besok papa akan kemari ". ucap Gilang menjelaskan.
" Iya, gak apa- apa Lang, ayah pun sudah agak baikan, tinggal lukanya belum kering " ucap ibu.
" Bu ,gilang mau pamit pulang Bu, " jawab gilang sambil menyalami ibu sedangkan ayah sudah istirahat.
" Iya nak hati-hati dijalan, jangan ngebut ".
" Dek, ikut Gilang pulang aja dek, harinya sudah hampir gelap, sebentar lagi maghrib. Kasian Abang lihat kamu dek kalau tidur disini, biar Abang ama Ibu saja yang menjaga ayah. Kamu diantar Gilang aja pulang. Sepeda motormu tinggal aja di rumah sakit ya. Besok pagi sepeda motormu Abang yang pakai untuk pulang, tadi Abang kemari naik taksi soalnya sepeda motor Abang tadi bocor bannya waktu di jalan. Lang, Anterin adek ku sampai rumah ya..., awas jangan macam-macam !" ucap Raga kepada Gilang.
" Iya Ga, aman itu , ayo dek keburu maghrib ini " mengajak annisa.
" Adek pulang dulu ya buk " pamitku kepada ibu dan menyalam tangan ibu.
" Iya, hati-hati dijalan, ibu titip Nisa ya Lang " ucap ibu kepada gilang.
" Iya buk, Assalamualaikum " ucap Gilang.
" Wa'alaikum salam" ucap ibu.
__ADS_1