Teman Palsu

Teman Palsu
Seperti Bidadari


__ADS_3

"Namaku Nandini, aku saudara kembar Uge," ucap Wanita itu memperkenalkan dirinya. Mungkin dia berpikiran bahwa aku adalah pacar Uge. Jadi dia berterus terang tentang siapa dirinya sebenarnya supaya aku tidak cemburu.


Aku melangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Uge dengan cepat mengikutiku dari belakang. Dan sebelum aku keluar melewati pintu, Uge mengatakan sesuatu dengan pelan di dekat telingaku. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan mengeluarkan ponselku yang tidak menggunakan kata sandi.


Kuberikan kepadanya dan dia langsung mengambil ponselku dengan cepat. Ketika membuka ponselku, terlihat walpaperku bersama Kak Gilang berfoto berdua di saat hari wisudanya. Uge tidak mau banyak bicara, dia langsung mengetikkan sesuatu di ponselku dan seketika ponsel Uge berdering. Terlihat nomor ponselku di layar ponselnya.


" Terima kasih ya," ucapnya dengan tersenyum ceria memperhatikan gigi putihnya.


" Iya," ucapku kembali dan membalas dengan senyuman.


" Kapan-kapan kemari lagi," ucap Uge yang terasa berat melepasku.


" InsyaAllah," ucapku dengan lembut. "Aku pulang ya," ucapku kepadanya.


" Hati-hati di jalan, jangan ngebut" ucap Uge memberi pesan ketika aku mau berangkat.


" Iya, Assalamu'alaikum," ucapku dan melangkah menuju motorku.


" Wa ...Wa'alaikum Salam," ucap Uge yang gugup mendengar salamku.


Aku naik ke motorku, memakai masker dan helm balapku kemudian langsung menyalakan motor. Keluar dari halaman rumah Uge yang sangat luas. Lambaian tangan Uge berhenti ketika pandangannya sudah tidak melihat Nisa dari jauh. Dengan menunduk, Uge masuk ke dalam rumah. Teman-teman Uge menjaili dan tersenyum melihat wajah Uge yang sendu.


" Kenapa Ge..., sedih di tinggal Nisa," ucap Dodi yang suka menjaili Uge.


" Datangi aja ke rumahnya," ucap Bayu asal bicara.


" Gak tahu rumahnya," ucap Uge jujur.


" Kasihan...," ucap Nandini ikut nimbrung menjaili Saudara kembarnya.


" Gampang Ge, kamukan udah minta nomornya kan?tinggal telpon, kapan-kapan kita datangi rumahnya pakai mobil Pak Kades," ucap Ifan yang keceplosan, tidak menyadari kalau Ibu Uge masih menonton TV di dekat mereka.


" Ehemm," deheman ibu mendengar ucapan Ifan yang menyinggung mobil suaminya.


" He...he..., maaf bu," ucap Ifan cengegesan.


" Iya, jangan-jangan Nisa udah punya pacar," ucap Uge yang langsung menyerah.


" Sok tahu kamu Ge!," ucap Rudi si pendiam, yang akhirnya bersuara juga.


" Ya taulah, tadi di layar ponselnya ada foto dia sama seorang cowok,"ucap Uge menjelaskan.


" Ganteng Gak," tanya Dodi yang penasaran, karena wajah Uge juga terlihat tampan seperti Wajah Dilan.

__ADS_1


" Gak," ucap Uge dengan ketus dan duduk di samping Bayu.


" Berarti masih gantengan kamu dong Ge???," ucap Rudi yang tersenyum karena perkiraannya cowok yang ada di foto lebih jelek dari Uge.


" Iya, tapi sedikit. Gantengnya banyakan sana," ucap Uge dengan sendu kembali.


"Edan kamu Ge," ucap Bayu kepada Uge dan menonyorkan kepalanya, dan Uge yang di tonyor pasrah dan membiarkan dirinya bersandar di sandaran kursi dengan menatap langit-langit ruang keluarga.


" Iya, sejak jumpa dengan Nisa, aku jadi edan. aku cinta pada pandangan pertama," ucap Uge yang meraup wajahnya dan kembali bersandar di sandaran kursi.


" Kenapa cepat banget kamu jatuh cinta Ge, bukannya si Yetty yang ngejar-ngejar kamu juga cantik, tapi kamu gak pernah suka tuh" ucap Ifan si mulut bawel.


"Beh..., Yetty itu belum ada apa-apanya di banding Nisa, iya kan Ge," ucap Bayu yang mencoba mendukung si Uge.


" Nisa itu gadis beda Fan..., dia lembut, soleha, cantik, pintar dan lain-lain. Ah entahlah, semua ada pada dirinya," ucap Uge memuji Nisa dengan membayangkan wajahnya.


"Berarti Nisa seperti bidadari," ucap Rudi yang menebak jawaban Uge.


" Bukan? Dia datang gak kita jemput, dia pulang juga gak kita antar," ucap Dodi yang bicara asal.


" Emang dia jelangkung," ucap Ifan membantah ucapan Dodi.


" Jangan ngomong gituan ah, serem ini udah hampir maghrib," ucap Bayu yang penakut.


" Mau kemana Ge?," ucap Dodi yang terheran dengan makanan penuh di mulutnya.


" Mau ke Masjid, kalian mau ikut??," tanya Uge kepada teman-temannya.


" Gak Salah Ge, biasanya suruh shalat ogah, dimasukkan ke pesantren kamu Malah Kabur Ge,"ucap Rudi yang sangat tahu sifat Uge.


" Stop! jangan panggil aku Uge, Nama aku sekarang Nugi, bukan Uge lagi, Uge lama udah dibuang jauh-jauh," ucap Uge dengan percaya dirinya.


" Ya Allah, anak hamba sudah bertaubat, Alhamdulillah ya Allah, makan apa tadi kamu Nak?," sahut ibu yang mendengar perkataan puteranya dan merasa terkejut dengan berubahnya sifat anaknya.


" Ibu ini..., Ibu apa gak seneng lihat Uge berubah Bu," ucap Uge yang memeluk Ibunya.


"Iya seneng Nak, kalau Nisa ke sini lagi, ibu nikahkan kamu nanti sama Nisa, biar jadi ustad sekalian kamu," ucap Ibu mencandai Uge.


Dodi berjalan ke arah Uge. Meletakkan punggung tangannya ke kening Uge.


" Gak panas Ge, Kamu kesambet ya,"ucap Dodi yang menjaili Uge, dan Uge segera menghempaskan tangan Dodi yang menempel di keningnya.


" Apaan sih kalian, udah aku mau berangkat, Assalamu'alaikum," ucap Uge yang berjalan keluar menggunakan motornya menunggu mesjid.

__ADS_1


" Wa...Wa'alaikum Salam," jawab teman-teman Uge dengan gugup dan masih melihat kepergian Uge.


Ayah Uge yang baru pulang terheran melihat puteranya memakai pakaian muslim yang terlihat tampan. Dan berulang kali mengucek mata. Dengan perasaan, apakah salah lihat atau memang anaknya benaran yang memakai pakaian Koko itu. Ayah Uge berjalan cepat untuk menemui istrinya ingin meminta penjelasan, mengapa anaknya tiba-tiba berubah secepat itu.


" Assalamualaikum," ucap Ayah ketika masuk ke rumah.


" Wa'alaikum Salam," jawab ibu melihat Ayah Uge yang baru pulang.


" Bu..., Uge kenapa Bu? dia mau kemana?," ucap Pak Kades yang kebingungan melihat puteranya.


" Alhamdulillah, Uge sudah mau ke masjid Pak," ucap Ibu Uge menjelaskan.


" Eh, kok bisa Bu, obat apa yang di minum Uge," ucap Pak Kades yang bercanda membicarakan Uge.


" Gak minum apa-apa Pak,"ucap ibu kepada Pak Kades.


"Kok Uge bisa berubah Bu...,"ucap Pak kades yang masih kebingungan.


" Berubah jadi apa pak," ucap Ibu yang paham-paham maksud dari si bapak.


" Maksudnya jadi alim lho Bu," ucap Pak kades menjelaskan kepada istrinya.


" Oh, itu tadi pak, dia kedatangan tamu gadis cantik, soleha, pokoknya ayu tenan pak," ucap Ibu yanh semringah menceritakan gadis ayu yang membuat anaknya berubah.


" Oh, bagus itu, kita nikahkan aja sama Uge Bu, biar kita cepat punya mantu Bu," ucap Pak Kades yang semangat menceritakan gadis Yang datang bersamamu di rumah mereka.


Teman-teman Uge yang mendengar pada tercengang mendengar pembicaraan Orang tua Uge. Mereka juga gak tahu Nisa itu memang manusia benaran ataukah bidadari yang sengaja di turunkan Tuhan untuk merubah tingkah laku Uge yang berandalan.


Uge anaknya nakal luar biasa. Kenakalan bukan mabuk-mabuk atau pecandu narkoba. Tapi kenakalannya suka ugal-ugal di jalan dan menjaili sepeda motor orang. Sepeda motor milik penduduk terkadang di kotak-katiknya dan ditukar onderdilnya tanpa sepengetahuan yang punya kemudian menjualnya ke Kota.


Padahal dia bukan ahli dalam bengkel tetapi suka membengkeli motor sendiri. Sudah rusak si motor, eh malah tidak mau tanggung jawab dan di tinggalnya begitu saja. Para tetangga sudah sering melapor kelakuan Uge, syukurnya orang tua Uge adalah kepala Desa di kampung itu yang mau mengganti rugi akan.kelakuan Uge. Sehingga Penduduk tidak semena-mena memasakan si Uge yang bisa membuat malu Pak Kades.


* * * * * *


Sepeda motorku Melaju membelah jalanan desa dan berselisih dengan sebuah mobil yang melintas menuju rumah Uge. Mobil itu membunyikan klakson kepadaku. Ku anggukan kepalaku membalas sapaan orang yang ada di mobil itu dan terus melaju melewati rumah penduduk yang padat.


Tapi sayang, jalan Yang ku tuju tidak senyaman kampungnya, sedikit berlubang dan becek. Maklum di sini musim hujan, jalan-jalan penuh digenangi air yang membuat motorku menjadi kotor. Akhirnya sampailah aku di persimpangan jalan. Meninggalkan kampung dan teman yang baru jumpa sesaat.


Sebuah motor besar yang membuntutiku ternyata mengintai diriku dari jauh. Dia sudah menunggu di persimpangan ingin melihat diriku kembali ke jalan besar apa tidak. Aku kebingungan, siapakah ini orang?


Aku yang menyadari kembali di buntuti segera melajukan lebih kencang lagi motorku. Kejar-kejaran pun terjadi di jalan raya. Banyak kendaraan minggir untuk menyelamatkan nyawa mereka daripada terkena imbas dari ugal-ugalan motor kami.


Suara klakson memenuhi sepanjang jalan, ku tariik gas motor dengan kecepatan penuh. Aku hampir menabrak pejalan kaki yang sedang menyeberang, syukurnya pejalan kaki langsung mengelak, kalau tidak, Ya Allah entah apa yang terjadi. Aku segera menepi untuk menormalkan jantungku yang mau lompat dari sarangnya. Karena keegoisanku dalam mengenderai motor, membuat aku lupa memikirkan keselamatan orang lain. Tetapi dari depan, pengejar itu langsung menghadang motorku.

__ADS_1


Brakk!!!


__ADS_2