Teman Palsu

Teman Palsu
Kejutan Terindah


__ADS_3

Aku kembali menyalakan mobil, sepeninggalku Pak Satpam masih memandangi mobil yang ku gunakan. Perilaku Geleng-geleng kepalanya dan suara decakan dari mulutnya ketika melihat model dan warna mengkilau dari mobilku menyatakan bahwa dia sangat takjub. Mungkin menyesal dia mengusir aku tadi, di kiranya aku pelamar pencari lowongan kerja yang datangnya dengan jalan kaki. Makanya jangan menilai orang dari cara berpakaiannya, walaupun pakaianku sederhana, tapi dompet gue tebal.


Perasaan aneh beberapa kali ku rasakan hari ini. Kalau dipikir-pikir yang punya tokokan aku, yang memegang keuangan juga aku. Kok aku bisa dikerjai begini ya. Pantasnya aku duduk manis di kursi bos, menunggu pesanan datang dan menghitung uang recehan. Mau di bilang apa lagi, terima sajalah dan pasrah saja. Gak mungkinkan aku harus melawan Ibu, bisa berdosa. Semangat pejuang Dolar!


Mobilku lajukan agar tidak telat sampai ketujuan, bukan mau ngebut tapi jam sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, bisa rugi aku kalau sampai tidak dibayar.


Mengingat alamat yang baru dikirim ibu, aku harus putar balik, karena jalan yang ku lalui tadi berlawanan. Syukurnya bensinku penuh, tidak takut kantongku jebol lagi. Menghemat untuk memperkaya diri. He..he..., capek dianggap remeh terus. Sekarang kita sudah bangkit, jadi harus di jaga kesuksesannya jangan sampai terpuruk. Kita bisa menghasilkan uang bukan berarti harus di habiskan, dipikir untuk ke depannya.


Tapi jangan pelit-pelit juga kali, di dalam rezeki kita juga ada rezeki orang lain, intinya kita harus berbagi.


30 menit kemudian, mobil telah sampai di depan gerbang Panti Asuhan Mutiara. Waktu sudah sangat siang. Tadi pagi gerimis, sekarang cuaca sangat panas, mendukung banget suasana perjalananku hari ini. Di depan pintu ada Pak Amin yang sudah membukakan gerbang, aku langsung menyalakan mobil dan memasuki halaman.


Aku segera keluar dari mobil dan menutup pintunya kembali. Terasa sepi bagai tiada penghuni seperti kuburan. Setahuku kalau hari minggu begini sangat ramai anak-anak main kejar-kejaran. Ramai suara anak-anak berteriak memanggil namaku dan mengajakku untuk bermain.


"Mang, pada kemana ya Mang, kok sepi...," ucapku kepada Mang Amin yang berdiri di sampingku.


" Ada di dalam Neng, lagi makan siang," jawab Mang Amin yang selalu ramah bila di tanya.


"O...," oh iya ini sudah tengah hari aku aja sampai lupa belum makan siang. Ada tidak ya menawari aku makan. Biasanya Kak Andre yang rajin meneraktir. Ini batang hidungnya saja tidak kelihatan.


" Mang, apa ada yang pesan kue di sini ya Mang, ibu minta Nisa ngantar kuenya ke mari," tanya ku kepada Mang Amin.


" Iya neng, orang yang memesan ada di dalam sedang makan bersama anak-anak," ucap Mang Amin menjelaskan.


" Bantui Nisa bawanya ya Mang, soalnya banyak bungkusannya," ucapKu mengajak Mang Amin mengangkat bungkusan di bawa ke ruang Bu Lastri.


" Iya Neng, Siap Mang bantui...," ucap Mang Iman melangkah mengambil bungkusan dan langsung membawanya. Pak Amin terlihat mondar mandir dengan rajinnya.


Bungkusan demi bungkusan kami angkat, banyak banget sampai pegal tangan ini membawanya. Ketika menuju ruangan Bu Lastri, tidak sengaja aku melihat hiasan Balon di luar yang menandakan ada yang berulang tahun di Panti Asuhan ini.


" Ada yang ulang tahun di sini ya mang, pasti mewah sekali pestanya nya, bagus sih di rayakan di sini, anak-anak jadi ikut merasakan kegembiraan," ucapku memikirkan nasib para anak-anak di Panti ini.


"Mang..., BU Lastri ada tidak Mang???, tanyaku pada Mang Amin.


" O...lagi pergi Neng, bentar lagi juga pulang, tunggu aja ya Neng," jawab Mang Amin yang masih menemaniku mengangkat kue kotak yang tinggal sedikit lagi tersisa di mobil.


" Mang boleh gak, Nisa mau jumpa sama yang pesan kue ini, soalnya kan Nisa mau minta kekurangan uangnya," ucapku langsung kepada Mang Amin.


" Tu...tunggu ya Neng, orangnya lagi makan, Mang segan memanggilnya," ucap Mang Amin yang terlihat gugup seperti telah menyembunyikan sesuatu.


" Kak Nisa...," panggilan Rini membuatku mencari suara melihat keberadaannya.


" Eh puteri, sini Put..., dekat kakak," pintaku pada puteri.


" Kakak sama siapa datangnya??," tanya Puteri kepadaku.


" Sendirian, kenapa Dek...," ucapku yang penasaran.


" Gak apa-apa sih Kak," jawab Nisa yang serius melihat kesamping kiri dan Kanan Panti Tersebut.


" Kak, main-main yuk, main petak umpet," Ajak Puteri kepadaku.

__ADS_1


"Ayo..., siapa takut...," ucapku semangat.


" Kakak yang jaga ya, tapi matanya di tutup dulu pakai sapu tangan ini, jangan dibuka ya, kalau di buka, Kak Nisa nanti jaga lagi," ucap Puteri yang memberikan sapu tangan dan membuat peraturan permainan.


" Gelap dong, Kakak gak bisa lihat jalan Dek," ucapku yang sudah meresa gelap dan hanya mengandalkan pendengaran.


" Kakak mau main atau tidak, kalau gak mau main, ya udah," ucap Puteri yang ngambek.


" I..ya, iya deh jangan ngambek, Ayo cepetan tutup mata kakak," ucapku yang meminta ditutup puteri mataku dengan sapu tangan dan mulai diikatnya.


" Udah selesai, nanti kalau Puteri panggil Kak, jalannya ke arah suara Puteri ya...," ucap Puteri mengingatkan.


" Iya Dek, Kakak mulai hitung ya, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,10, udah Dek...," ucapku yang bingung tidak mendengar suara puteri dan ragu untuk melangkahkan kemana arah jalanku dengan kondisi gelap terasa malam, tiada terlihat di celah sapu tangan ini.


" Puteri....," jeritku agar aku mendengar kemana arah suaranya.


" Iya kak, Puteri di sini," teriak puteri. Ku coba memasang telinga agar aku bisa mengikuti kemana arah jalannya.


" Aduh gelap banget Put...," ucapku yang sudah kebingungan, syukur ini siang kalau malam, entah apa jadinya. Aku takut hantu.


Sebenarnya sih gue bisa mengintip, tapi nanti gue jaga lagi. Kasihan ama puteri ,bakal kecewa nanti dia, udah deh biar aja mataku tertutup.


" Kak Nisa...," panggilan puteri membuatku menoleh kearah mana suaranya.


"Iya...," aku mengikuti lagi arah suara itu, entah sudah berapa jauh aku berjalan, aku tidak tahu tempat apa yang ku lewati. Terkadang kepalaku kepentok tiang.


" Kak Nisa...," panggil puteri kembali dan terasa dekat suaranya.


Aku berjalan lagi sambil meraba, seperti orang buta yang tidak bisa melihat. Sudah beberapa aku menabrak tiang, dan mendapat tertawaan dari puteri.


" Kak jalan terus bentar lagi sampai, ayo tangkap puteri kak," ucap Puteri yang terus memintaku mengejar dirinya.


Aku pun berjalan cepat dengan tetap lurus ke depan. Tidak emmeikirkan atentang rintangan yang ku hadapi bila aku salah jalan. Yang penting puteri sudah menjadi kemudi ketika aku berjalan.


Jeder!!!!


Suara pintu tertutup begitu kuat, membuat jantungku mau copot.


" Astaghfirullahaladzim, apa itu Put...," aku merasa merinding berada di tempat itu.


" Puteri, kamu di mana???," jeritku tetapi puteri tidak menyahut.


Aku bingung kenapa putri tidak menjawab panggilanku, puteri seakan menghilang. kubuka penutup mataku, terasa gelap, padahal penutup mata sudah ku buka. Ku kucek-kucek mataku berulang kali, hasilnya tetap sama. Apakah aku buta, tidak ada sinar sedikit pun. di mana jalan keluarnya?


Gubrak!!! suara benda jatuh.


" Siapa di situ???," tanyaku yang sudah merinding, di tengah gelap ada suara-suara kuat yang menakutkan.


" Hii....hii...., hii....hii....", sosok putih bergelantungan di atas, terbang kesana kemari, wajahnya sangat menyeramkan.


"Au!!!, Hantu....ya Allah, ampuni hamba ya Allah, jangan bunuh hamba," jeritku menutup mukaku yang sudah ketakutan.

__ADS_1


Tanpa sadar keluar air dari celanaku. Terasa hangat, aku sudah tidak perduli. Bau pesing menyeruak tempat itu. Syukurnya aku tidak makan jengkol tadi dirumah. Kalau ku makan, pasti semakin parah baunya. Aku menggigil ketakutan. Menangis terus menyebut nama Allah. Air mataku jangan ditanya derasnya, ingus saja sudah meler kemana-mana.


" Hi...hii....hii....," suara itu terus terdengar dan sekelebat bayangan terus menghantui. Aku menangis semakin parah dan menjerit-jerit ketakutan.


" Ibu...bu!...bu!...tolong Nisa bu, ada hantu. Ya Allah..., apa aku hari ini akan mati di cekik hantu," teriakku dengan suaraku yang sudah serak.


" Jangan bunuh aku hantu..., ampun..., aku belum mau mati, aku belum menikah, jangan bunuh aku. Kalau aku mati, calon suamiku bisa menikah dengan wanita lain, kasihani aku hantu...," teriakku sampai suaraku semakin serak. Entah sudah berapa kali aku pipis dalam celana. Baunya semakin menyeruak.


" Ha...ha...ha...ha..." terdengar suara orang tertawa sangat kuat.


" Eh, suara siapa itu!!! ," aku menebak pasti ada orang di tempat ini.


Seperti suara si Arif, iya pasti ini Arif.


" Arif!!!, tolong aku Arif," teriakku memanggil Arif.


"Akulah raksasa, ha...ha...ha...," tertawa semakin kuat menggelegar.


" Raksasa kok gak kelihatan!," teriakku yang sok masih berani, padahal aku sudah sangat 100 kali lipat ketakutannya. Kalau aku tidak takut, tidak akan mungkin aku sampai bolak-balik ngompol.


"Ha...ha.. aku anakan, anak Raksasa, jadi tidak kelihatan, Kamu akan aku makan, Ha...ha...,"


" Jangan Raksasa..., kasihani aku, aku cantik jangan kau bunuh aku. Kue ku juga belum di bayar. Tunggu dulu nunggu di bayar ya, aku juga bau ompol," jawabku dengan sendu yang mencoba bernegoisasi dengan Raksasa dan disaat kalut aku masih teringat kue yang belum dibayar.


" Ha...ha....," Arif sudah tidak bisa menahan ketawanya mendengar ketakutan Annisa. sankin lucunya dia sampai terpingkal-pingkal dan memijak kaki seseorang. Sampai-sampai orang yang terpijak kakinya, menjerit sekuatnya.


" Aduh, sakit!!!," teriakan orang menjerit yang membuat diriku curiga, menandakan ada orang di tempat ini.


" Eh siapa di sana!!!," , aku mencoba meraba seperti orang buta. Mana tahu ada yang ingin menjatuhkan diriku


Seketika lampu bersinar terang, dan terdengar lagu selamat ulang tahun dan tepuk tangan. serempak.


Selamat ulang tahun kami ucapkan


Selamat panjang umur kita kan doakan


Selamat sejahtera sehat sentosa


Selamat panjang umur dan bahagia


Aku menangis melihat keluargaku dan anak-anak panti menyanyikan lagu ulang tahun, Ibu paling depan membawakan kue Tart yang kubayangkan tadi pagi. Ternyata kue yang di buat ibu adalah untuk diriku.


" Jahat kalian semua!!!," aku menangis bahagia dan terharu. Ternyata prasangkaku yang mengatakan mereka tidak ingat ulang tahunku adalah salah. Ternyata mereka sangat menyayangi aku, sampai membuat kejutan yang begitu kerennya dan ini adalah kejutan yang terindah. Ibu memeluk diriku dan membawa tisu untuk menghapus air mataku.


"Selamat ulang Tahun anak Ibu yang Cantik..., udah jangan nangis lagi, hari ini sambut kebahagiaanmu" bujuk ibu kepada diriku dengan tersenyum.


Kak Andre dan Arif tertawa terbahak-bahak melihat penampilanku yang sudah tidak karuan. Bau ompol, wajah kusut, jilbab pun sudah keriput dan mereng bentuknya.


" Selamat Ulang Tahun Nisa...," terdengar suara seseorang mengucapkan selamat padaku dan sangat ku kenal suara itu. Suara yang sudah lama tidak aku dengar. Aku berbalik dan terlihatlah orang yang mengucapkan berada tepat di depan pintu.


******

__ADS_1


Ayo, siapa yang ada di depan pintu..., tunggu kelanjutannya ya..., dan jangan lupa Votenya. Biar aku makin semangat menulisnya.


__ADS_2