
Dua hari kemudian Annisa sudah di perbolehkan pulang. Di malam hari sebelum tidur dia terlebih dahulu melaksanakan shalat istikaharoh, kemudian baru annisa pergi beristirahat. Di dalam mimpinya Annisa melihat sebuah cahaya bersinar terang, diantara cahaya itu Annisa melihat seorang pemuda.
Pemuda yang gagah tapi wajahnya tidak jelas. Pemuda itu pun mendekati Annisa. Annisa ingin menyapa nya, tapi hari keburu pagi, Ibu sudah menggoyang-goyang badan Annisa menyuruh bangun.
Annisa terjaga dan merasa kesal karena mimpinya belum juga selesai, ibunya sudah sibuk membangunkan. Annisa segera bangun, dia ingin melakukan misinya agar terbebas dari masalah yang selama ini menghantuinya.
Gilang sudah berulang kali mengingatkan agar Nisa beristirahat terlebih dahulu tapi Annisa tetap ngotot untuk ikut bersama rombongan Gilang ingin menangkap orang misterius itu.
Annisa sengaja mengenderai sepeda motornya sendirian menuju kampus, sepeda motor bebek pemberian dari Gilang. Gilang tidak mau calon isterinya terus-terusan ugal-ugalan di jalan raya dengan menggunakan motor balap. Jadi dia membelikan sebuah motor bebek yang tidak bisa untuk balapan hanya modelnya saja yang keren.
Awalnya Annisa menolak, karena kurang pas baginya tapi Gilang mengajukan pilihan, menerima motor pemberian Gilang atau harus diantar Gilang setiap hari. Annisa mau tidak mau menerima pemberian motor dari Gilang karena dia tidak mau dia antar jeput setiap hari, Takut merepotkan.
Dengan semangat Nisa melajukan motor bebeknya.
" Keren juga" itulah kata yang keluar dari mulut Annisa.
Annisa terus melajukan motornya membelah jalan raya dengan kecepatan rata-rata, tanpa di sadarinya dari arah belakang empat pengendara sepeda motor mengejar motor Annisa. Annisa segera mengambil ponsel yang sudah di stelnya dengan panggilan darurat yang langsung tersambung ke ponsel Gilang.
Gilang dan Rombongan Bima langsung bergerak mengikuti GPS ponsel Annisa.
Motor Annisa terus melaju membelah jalanan yang Ramai, tidak diperdulikan Annisa banyak kendaraan roda empat yang memadati jalan raya, dia terus menyelip dan hampir saja menabrak seorang pejalan kaki yang melintas.
Jantung Annisa terasa mau copot melihat pejalan kaki yang melintas tiba-tiba. Annisa takut hal yang sama kembali seperti yang di alami Arif. Annisa kembali melajukan motornya, di depan lampu lalu lintas sedang berwarna hijau. Annisa segera melajukan motornya dengan kecepatan penuh sebelum Lampu berganti merah kembali.
Dengan kecepatan penuh akhirnya Annisa melewati Lampu hijau, dalam beberapa detik kemudian lampu berganti merah, para pengendara yang mengejar terpaksa berhenti karena lampu merah dan mereka kehilangan jejak.
__ADS_1
Annisa merasa senang karena merasa berhasil lepas dari kejaran mereka. Ternyata tanpa sepengatahuan Annisa satu motor tidak berhenti, dia menabrak aturan lalu lintas dan merapat motor Annisa. Hal yang tidak di sangka dari arah samping ada yang menendang sepeda motor Annisa. Annisa yang tidak waspada oleng,
Gubrak
Annisa dan motornya terjatuh di pinggir jalan, darah mengucur dari lututnya. Annisa sulit untuk bergerak. Pengendara yang menendang motor annisa kembali menendang tubuh Annisa yang tergelatak di aspal. Akibat tendangan itu tubuh Annisa luka-luka.
Saksi mata yang melihat tidak ada yang berani menolong Annisa, mereka takut terkena imbasnya. Dua pengejar lainnya ingin menabrak Annisa tetapi rombongan Gilang segera mendekat.
Dor
Dor
Dor
Suara tembakan terdengar di lesatkan oleh Bima, peluru mengenai kaki dan tangan mereka membuat dua pengendara terjatuh dan seorang lagi rubuh karena kedua kakinya yang di pakai untuk menendang Annisa sudah di lumpuhkan oleh peluru anak buah Bima. Bima segera meringkus tiga ppengendara misterius dan mencari dalang dari kejadian ini.
Annisa dengan keadaan sadar dapat melihat kekhawatiran di wajah Gilang dan Andre. Annisa merasa bersyukur, diantara orang yang tidak menyikainya masih banyak orang lagi yang lebih sayang padanya.
Mobil pun sampai di rumah sakit, Gilang segera menggendong Annisa membawa ke ruangan agar segera diperiksa lukanya. Gilang yang posesif tidak membiarkan Annisa di periksa oleh laki-laki. Dia tidak ingin calon isterinya di pegang-pegang oleh orang lain.
Annisa tersenyum melihat keposesipan Gilang. Luka Annisa sudah selesai diobati. Hanya dibagian lututnya yang di beri perban. Annisa di dorong menggunakan kursi roda oleh Kak Andre menuju ke mobil. Nisa kesulitan masuk ke mobil dengan sigap Gilang menggendong Annisa masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju ke rumah Annisa. Ayah, ibu dan Tante Devi menunggu ke pulangan Annisa. Ibu mengejar Annisa dan memeluknya. Mencurah kan segala kegelisahannya. Annisa merasa ibu sangat mencemaskan dirinya.
Nisa di gendong ke dalam kamar dan dibaringkan diranjang oleh Gilang, Annisa merasa malu. Tidak berapa lama orang tua Gilang datang, ingin melihat keadaan Annisa. Mama Gilang Menangis melihat keadaan Annisa yang luka-luka.
" Sudah Lang, kau jadikan isteri saja Annisa supaya ada yang selalu melindunginya,"ucap Tante Dewi yang berharap cepat punya mantu.
__ADS_1
"Masih menunggu jawaban dari Annisa,"ucap Gilang.
"Jangan lama-lama nanti gilang diambil orang,"ucap Tante Dewi melirik Annisa.
"Kalau Gilang di suruh nikah hari ini, Gilang mau kok,"ucap Hilang mendapat cubitan dari Annisa.
"Sakit Dek...,"ucap Gilang yang merasa kesakitan.
Dret...dret...dret...
Gilang mengangkat ponselnya dan segera keluar bersama Andre langsung menghidupkan mobil dan pergi tidak tahu mau kemana. Keluarga Annisa dan Orang tua Gilang merasa bingung melihat Gilang pergi tergesa-gesa.
Di sebuah Rumah seorang pria paruh baya terlihat gelisah mengemasi barang-barangnya. Karena dirinya sedang dicari-cari Oknum, dengan kelihaiannya dia menyuruh anak buah nya untuk segera mengganti semua identitasnya.
Isterinya yang tidak tahu permasalahannya merasa kebingungan mengapa mereka harus pindah ke luar negeri. Sementara puterinya ada dalam sel tahanan, siapa nanti yang akan menjenguknya.
Rudi Nugraha segera membawa barang-barang berharganya, ketika akan keluar rumahnya ternyata sudah di kepung oleh oknum. Rudi merasa panik, dia keluar dari belakang tanpa memperdulikan isterinya. Dia berusaha kabur dan ingin memanjat pagar, tetapi oknum terpaksa melumpuhkan kakinya dengan timah panas. Akhirnya dalang dari pengejaran itu dapat tertangkap.
Gilang sudah sampai di tempat lokasi. Merasa terkejut, karena orang yabg di tangkap.adalah ayah dari sahabat Annisa. Apa maksud apa ayahnya ingin mencelakai Annisa. Gilang geram melihat ayah Annisa. Tidak ayah tidak anak sama saja, sama-sam bejat hatinya. tidak bisa melihat orang senang.
Bima merasa sudah melaksanakan tugasnya dan menghadapkan tersangka kepada Gilang, sebelum di bawa ke tahanan. Gilang mencari informasi modus apa sebenarnya yang membuat ayah Rini ingin mencelakai Annisa.
Dengan berbagai cara menginterogasinya akhirnya ayah Rini buka Suara juga. Ternyata ayah Rini dendam karena Puterinya harus mendekam dalam jeruji besi akibat dia ingin memiliki Candra sepenuhnya. Tetapi Candra lebih menyukai Annisa.
Beberapa jam kemudian Gilang sudah kembali ke rumah, dia ingin membersihkan diri dan dandan yang rapi. Hati kecilnya selalu rindu dengan Annisa, Gilang ingin bertemu dengan pujaan hatinya dan menceritakan berita yang di dapatnya sore tadi.
Papa dan Mama yang ada di meja makan melihat Gilang merasa heran. Gilang yang mempunyai sifat dingin, hari ini wajahnya cerah, terlihat senyum di wajahnya. Gilang asik melahap makanannya tanpa bicara, langsung menghabiskan makanan di piringnya kemudian berpamitan kepada Papa dan Mamanya.
__ADS_1
Rumah yang dituju adalah rumah Annisa, Annisa yang duduk di teras merasa terkejut kedatangan sosok pemuda di malam hari. Pemuda yang tampan yang sudah menolongnya berulang kali.