Teman Palsu

Teman Palsu
Hancurnya masa Depan Rini


__ADS_3

"Iya Pak, ya udah bapak-bapak kita harus ke sana sebelum masalahnya semakin panjang," ucap Pak Lurah yang langsung mengikuti Warga yang sudah ramai ingin menggerebek Villa tersebut.


Di dalam kamar sepasang dua insan yang terlelap tidur masih bergelung di bawah selimut karena kelelahan sehabis bertempur di ranjang panasnya. Hari yang sudah menggelap membuat kedua insan ini semakin terlelap. menikmati empuknya tempat tidur yang terkenal mahal di Villa itu. Mereka tertidur saling berpelukan, mencari kehangatan dari dinginnya cuaca malam.


Warga yang sudah sampai di depan Villa segera menemui penjaga Villa yang selama ini mereka kenal baik dan ramah. Mang Udin adalah penjaga Villa Dirga yang sudah lam mengurus Villa tersebut yang letakknya tidak jauh dari rumah warga. Beliau selalu berkumpul dengan warga bila sedang melaksanakan ronda malam.


" Ada apa Babak-bapak ramai datang ke Villa ini, setahu saya di sini tidak ada hajatan Pak..," Ucap Mang Udin penasaran melihat keramaian para warga datang ke Villa majikannya yang beberapa orang ada yang membawa senjata tajam.


" Emangnya suka hajatan kami baru datang," ucap Salah satu warga yang sudah mantap ingin masuk menerobos pagar Villa tersebut.


"He..he...Maaf deh, gak biasanya bapak-bapak datang ke sini. Eh, ada Pak Lu...rah," ucap Mang Udin cengegesan.


Pak Lurah maju ke depan menghampiri mang Udin yang terlihat kebingungan melihat warga yang sudah emosi dilihat dari raut wajahnya. Wajah emosi warga yang semangat ingin mengusir seseorang dari kampung mereka karena bukan sekali ini Dirga datang ke kampung mereka membawa seorang perempuan yang masih muda.


" Mang Udin..., saya mau tanya," ucap Pak Lurah kepada Mang Udin.


"Tanya apa Pak Lurah, moga bisa saya jawab," ucap Mang Udin dengan ramahnya.


" Siapa yang baru datang tadi Mang???," tanya Pak Lurah dengan lembut agar Mang Udin tidak merasa gugup untuk menjawabnya.


" Oh, itu majikan saya Pak Lurah," ucap Mang Udin menjelaskan kepada Pak Lurah.


" Apakah yang bersamanya itu adalah istrinya," ucap Pak Lurah seakan menyelidiki majikan Mang Udin.


" Bu...bukan Pak Lurah," ucap Mang Udin dengan jelasp dan terdengar gugup.


"Ha! kan benar Pak Lurah gak salah lagi, pasti mereka melakukan yang tidak -tidak di dalam sana," ucap Salah satu warga yang sudah emosi dan terasa panas mendengar perkataan Mang Udin.


Dirga yang dilihat mereka sudah beberapa kali datang ke Villa itu dalam satu bulan ini sering sekali membawa seorang wanita dan selalu membawa teman-temannya.


" Mang Udin kami ingin bertemu dengan majikan Mang Udin...," ucap Pak Lurah kepada Mang Udin.


" Maafkan Saya Pak Lurah, majikan saya berpesan, beliau tidak ingin di ganggu," ucap Mang udin kepada Pak Lurah


"Ini untuk kebaikan kampung kita Mang Udin, jika mereka berzina makan kita akan ikut menanggung dosa mereka," Ucap Pak Lurah kepada


" Tolong mang Udin, kalau tidak kami bisa masuk ke dalam, karena warga di sini sudah resah,"

__ADS_1


" Baiklah, sebentar ya Pak, saya coba panggilkan dulu," ucap Mang Udin segera masuk ke dalam. Mang Udin terlihat Gugup.ketika mengetuk pintar kamar Majikannya.


Para warga dan Pak Lurah menunggu di luar dan setelah 30 menit mereka tidak juga keluar. Mereka terlihat murka. Mang Udin yang sudah mondar mandir di depan pintu merasa gelisah karena pintu yang di ketuk tidak juga kunjung di buka. Sedangkan warga sudah ribut untuk masuk k dalam ruangan.


Warga yang sudah lama menunggu dan sudah tidak sabar ingin masuk. Salah satu warga ada yang menerobos masuk, dan menuju kamar keberadaan Dirga dan Rini berada.


Mang Udin yang melihat kemarahan wajah mereka merasa takut dan tidak bisa berkutik. Hanya bisa memperhatikan apa yang mereka lakukan. Beberapa warga masuk kerumah majikannya secara kasar. Mang Udin merasa terkejut dan sebenarnya tidak terima. Namun mau bagaimana lagi, ini demi kedepannya nasib kampung mereka Agar tidak terkena azab.


Brakk!!!


Pintu didobrak, alangkah terkejutnya mereka. Pemandangan yang seharusnya tidak dilihat dan membuat orang malu melihatnya.


Pemandangan yang membuat jijik dan sangat tabu untuk dilihat. Dirga yang masih tertidur nyanyi merasa terganggu dengan suara dobrakan pintu dan dan terkesiap melihat warga yang sedang memandangi Dirga dan seorang wanita di tempat tidur. Dirga segera memakai pakaiannya dan mendapatkan warga yang ada di depan pintu.


" Ada urusan apa Bapak-bapak ini ke tempat saya, mengganggu saja kalian," ucap Dirga yang sudah murka dan tanpa bersalahnya membentak para warga.


" Kamu sudah berbuat Zina di kampung kami, sebaiknya nikahan saja mereka berdua Pak," ucap Salah satu kepada Pak Lurah.


" Iya benar itu Pak, nikahan saja mereka berdua," ucap Warga yang lain.


" Iya permalukan mereka, arak keliling kampung, agar merek jera dan menyesali perbuatan mereka.


Rini yang mendengar keributan segera terbangun, dia merasa masih pusing mencoba menormalkan pandangannya melihat sekeliling kamar yang sangat ramai.


Dia terkejut melihat tubuhnya yang masih polos dan bertanya-tanya mengapa tubuhnya bisa polos dan selangkangannya terasa sakit sekali.


Rini menangis menatap Dirga yang sudah dikerubungi warga 15 menit lalu. Selintas ingatannya kembali kepada beberapa jam yang lalu, tentang apa yang terakhir dilakukannya bersama Dirga.


Hancur sudah harapannya untuk menjaga kesuciannya yang akan di berikannya nanti kepada orang yang paling dicintainya. Tangisannya sangat memilukan. Tubuh Rini dengan berbalut selimut mengutipi pakaiannya dan menuju ke kamar mandi.


Tangisannya pecah di kamar mandi mengingat dirinya yang sudah kotor dan tidak suci lagi. Rini menyesal karena yang dipikirkannya untuk menjadi pendamping Dirga setelah menikah, ternyata sebelum emnikah sudah di renggut kesuciannya oleh Dirga. Manusia brengsek!!!


Warga yang sudah menahan Dirga agar jangan kabur mengikat kedua tangan dan kakinya. Karena Dirga berulang kali ingin melarikan diri. Warga kampung segera menginterogasi Dirga tanpa dengan kekerasan.


" Apakah bapak sudah mempunyai istri?," tanya salah seorang warga yang menanyai Dirga. Wajah Dirga begitu tenang seperti tidak ada masalah sama sekali.


" Iya, saya sudah punya istri," Jawab Dirga dengan santai.

__ADS_1


" Apakah perempuan tadi itu istri Bapak?," Ucap


Pak Lurah yang ikut menanyai Dirga.


" Bu...bukan, tetapi dia akan saya jadikan istri sebentar lagi," ucap Dirga yang gugup merasa bahwa perbuatannya salah.


"Apa! jadi kalian belum menikah," ucao Pak Lurah yang segera meminta salah seorang warganya untuk memanggil tuan Kali agar menikahkan Dirga Dan Rini sekarang Juga.


Ceklek!


Rini keluar dari kamar mandi dengan mata yang bengkak dan Wajah yang sembab.


Seorang warga wanita mendekati Rini dan di minta duduk di sebelah Dirga.


Kalian akan saya Nikahkan karena perbuatan kalian sudah tidak bermoral dan sudah mencemari kampung kami.


Jangan Pak, saya tidak mau," .


" Maaf Mbak, kami terpaksa menikahkan Anda


dengan Bapak ini, kalau tidak kami akan melaporkan Bapak ke pihak berwajib atas kasus pemerkosaan," ucap warga yang lain.


" Udah tenang Pak, saya siap menikahinya," ucap Dirga dengan santainya.


" Apakah istri pertama anda sudah tahu


sudah Pak, karena istri pertama saya tidak bisa memberikan saya anak sampai sekarang," ucap Dirga dengan lantang bebrbicar kepada Pak Lurah tanpa memikirkan dulu perasaan istri pertamanya.


Tidak berapa lama penghulu datang, ditemani dua orang yang bertugas Saksi.


Rini yang memakai kebaya yang di pinjam Dari tetangga dirias apa adanya. Tidak ada senyum sedikit pun di wajah Rini. Dia bingung bagaimana cara menghadapi kehidupannya kedepan nantinya. Apakah dia akan bahagia?


Dia memang memimpikan menikah, tetapi tidak seperti ini kejadiannya di permalukan di depan umum sungguh sangat hancur hatinya. Pirasatnya mengatakan kalau semua ini adalah rencana Pak Dirga agar dia bisa secapatnya menikahkan Rini.


" Dek, Apakah terlebih dahulu sebaiknya adek menghubungi orang tua Adek sebelum Ijab Qabul dimulai?," tanya Pak Lurah kepada Rini.


Rini terlihat mengerti akan perkataan Pak Lurah dia pun langsung menghubungi Papanya. Papa Rini ketika dihubungi, mendengar dia akan menikah dengan Dirga bukan malah terkejut, Eh, malah bahagia. Dia minta dia beri waktu untuk menunda ijab Kabul, karena Papanya masih dalam perjalanan menuju ke Puncak ingin menikahkan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2