
" Aduh," Aku terjatuh ke aspal bersama dengan jatuhnya motorku, lututku terasa sakit. Mungkin saja lututku terluka. Aku tidak tahu siapa sebenarnya orang ini. Sementara hari sudah hampir gelap, aku tidak bisa mengenali wajahnya di balik helm balapnya.
Pria di depanku sengaja menabrakkan motornya ke sepeda motorku. Aku berusaha berdiri dengan kaki yang sedikit terkilir, sekuat tenaga agar bisa menopang tubuhku yang terasa lemas. Pengejar turun dari motornya dan berdiri di depanku, dengan tinggi tubuhnya yang lebih tinggi dari tubuhku membuatku sedikit waspada.
Tiba-tiba dia menyerang bagian kakiku yang terluka, Aku meringis merasakan tendangan kaki pria itu. Mencoba melihat serangan kaki pria itu berikutnya, melalui cahaya remang-remang dari pengendara yang lewat. Dan beruntungnya aku masih bisa menangkisnya. Perkelahian kami pun terjadi.
Ternyata dia lebih tangguh dariku. Kepalan tangannya menghantam ke mulutku dan sedikit mengeluarkan darah. Aku harus kuat agar bisa bertahan. Kepalaku terasa pusing.
Dari jauh sebuah mobil menyorot perkelahian kami yang saling baku hantam.
Suara perkelahian menambah keributan di jalan raya. Para pengendara tidak ada yang berani berhenti, mereka pura-pura tidak perduli. Mereka takut nantinya menjadi saksi. Apakah manusia disini tidak mempunyai hati nurani, membiarkan manusia sepertiku yang sudah lemah harus merasakan siksaan dan membiarku sampai tidak berdaya?.
Badanku sudah tidak bertenaga, aku sudah lama tidak latihan dan tidak sanggup untuk membalas serangannya yang beruntun di berikan kepadaku. Mobil itu berhenti tepat dua meter di depan kami. Aku pasrah jika orang yang didalam mobil itu adalah teman-temannya. Jeritan seseorang memanggil namaku, orang itu berlari turun dari mobil. Aku yang mendengar ada yang memanggil tidak fokus dan berpaling ingin melihat siapa orang yang memanggil namaku. Tiba-tiba dari arah samping, wajahku mendapat satu hantaman lagi dan aku ambruk ke tanah.
Sosok itu menyerang pengejar dengan brutal dan dapat dilumpuhkannya. Tubuh pengejar sudah terkapar ditanah dengan bersimbah darah, dengan mudah helmnya dibuka dan terlihat dari cahaya mobil, orang yang tidak dikenal dan akan segera diselidiki. Sosok yang melumpuhkan itu adalah Andre. Dia menyesal datang terlambat ke tempat kejadian, setengah harian dia melacak ponsel Nisa, tetapi tidak ada jaringan. Mungkin sewaktu Nisa di kampung itu, jaringan sedikit sulit. Sehingga Andre tidak dapat melacak keberadaan Nisa.
Andre segera menghubungi Arif dan Ragil untuk mengambil motor Gilang yang di tinggalkan di tempat kejadian dan menyelidiki pengejar yang menghajar Nisa. Dengan cepat Andre membawa Nisa ke rumah sakit terdekat. Kekhawatiran muncul di benak Andre seperti seorang kekasih yang panik karena pacarnya sedang terluka parah.
Tidak butuh lama mobil sampai di rumah sakit. Andre segera membopong tubuh Nisa ke brangkar rumah sakit. Perawat yang melihat pasien penuh luka segera membawanya ke ruang UGD. Andre terus mondar-mandir di depan ruangan unit gawat darurat, dia sampai lupa menghubungi keluarga Nisa.
Pintu terbuka, Dokter keluar dengan memakai seragam berwarna hijau. Jantung Andre berpacu cepat, apakah Annisa mengalami cedera yang begitu dalam? Andre langsung mengejar Dokter yang baru saja menutup pintu kembali.
" Bagaimana Pasien yang ada didalam Dokter?,"ucap Andre yang gelisah menanyakan keadaan Nisa.
" Pasien tidak apa-apa, lukanya juga tidak terlalu serius, hanya ada beberapa jahitan di keningnya karena lukanya sedikit lebar, tetapi beberapa hari diobati akan kering lukanya," ucap Dokter menjelaskan.
" Alhamdulillah, apakah dia sudah Sadar Dokter?," tanya Andre kepada Dokter yang menangani Nisa.
" Pasien belum sadar karena masih pengaruh obat bius, mungkin sebentar lagi siuman. Pasien akan kami pindahkan ke ruang inap, " ucap Dokter kepada Andre.
" Iya dokter, terima kasih,"
kalau tidak ada yang di tanyakan lagi, saya permisi," Ucap Dokter dan mencoba melangkah pergi.
" Terima kasih Dokter," ucap Andre yang masih dapat di dengar Dokter.
Dokter berbalik dan menganggukkan kepalanya.
Andre sudah tenang dia duduk di kursi tunggu dan mengambil ponsel untuk menghubungi keluarga Annisa. Jam menunjukkan Pukul 08.30 malam, Andre takut jikalau keluarga Nisa akan murka dan dia akan terkena amukan dari ayah Nisa.
__ADS_1
45 menit kemudian, keluarga Nisa datang dengan keadaan tergopoh-gopoh ingin mengetahui keadaan puteri mereka. Ibu Annisa menangis berada dipelukan Tante Devi. Tante Devi dengan segera melihat keadaan Nisa yang sudah di pindahkan ke ruang Inap. Mereka merasa tenang ketika melihat Nisa sudah di tangani Dokter dan dalam keadaan baik-baik saja.
Nisa sedang berbaring di ranjang dengan Selang inpus di tangannya. Terlihat keningnya di perban. Sudut mata dan sudut bibirnya membiru sedangakan Pipinya sedikit membengkak. Ibu mengambil air hangat untuk mengompres luka membiru pada wajah Annisa.
Sentuhan Ibu membuat Nisa tersadar dan terus memanggil Ibunya.
" Ibu...," panggilku ketika baru siuman.
" Iya nak, ibu di sini,"ucap Ibu membelai kepalaku.
" Maafin Nisa bu, Nisa gak izin sama Ibu waktu pergi," ucapku dengan tulus meminta kepada ibu.
" Iya ibu sudah maafin kamu, asal jangan di buat lagi, kalau pergi harus minta izin dulu, kamu tahu, ibu sangat khawatir, anak ibu cuma dua, ibu gak mau sampai terjadi apa-apa sama puteri ibu,"
" Iya Bu," ucapku kepada Ibu.
" Siapa yang nolong Nisa Bu," tanyaku penasaran karena setahu orang di sana tidak ada yang perduli dengan kejadian malam tadi.
" Nak Andre," jawab ibu yang tidak melihat keadaan
"Mana Kak Andrenya Bu..." tanyaku yang tidak melihat Kak Andre di ruangan itu.
" Dia ada di luar Nak," jawab ibu yang hanya sendirian menemaniku diruangan.
"Ayah tadi datang tapi gak lama, ayah mau menginap tapi di larang Andre. Ayah diantar pulang Raga, karena besok pagi ayah harus menyiapkan anak SMP ujian. Besok siang sudah siap ujian, ayah kemari lagi," ucap ibu menjelaskan.
Ibu membantuku duduk, dan menyandarkan punggungku ke sandaran ranjang rumah sakit. Ibu segera menyuapiku makan yang disediakan pihak rumah sakit dengan telaten sampai habis. Kemudian memberiku obat agar luka-lukaku cepat kering.
Dua jam kemudian, Aku yang sudah sadar sepenuhnya tidak mengantuk sedikit pun, sambil melihat acara yang di tayang di TV yang ada di ruang inapku. Ibu yang tadi bersama menonton bersamaku, ternyata ketiduran di sofa dan gantian TV yang jadinya menonton ibu.
Hari semakin malam, aku tidak bisa memejamkan mata, mataku sudah kenyang tidur beberapa jam. Sedangkan Ibu sudah tertidur dengan nyenyaknya. Tidak tahu apakah Kak Andre masih di luar atau tidak.
TV yang masih menyala segera ku matikan. Kulihat ponselku yang terletak di meja, dengan susah payah aku mengulurkan tanganku, akhir tergapai juga. Ku buka ponsel yang tinggal sedikit lagi dayanya. Terlihat banyak chat di muncul ketika aku mambuka ponsel. Tetapi ada satu chat yang menarik perhatianku. Satu chat atas nama Uge.
"Assalamu'alaikum Nisa, sedang apa?"
Setelah 30 menit mengirim chat, tetapi Nisa tidak jug membalas, akhirnya Uge memutuskan mengirim chat kembali.
"Kok kamu gak balas, kamu lagi sibuk ya"
__ADS_1
Waktu chat menunjukan pukul 09.00, sekarang sudah pukul 12.00. Ah, jam segini aku gak bisa tidur, kata orang kalau tengah malam masih chattingan, ibarat chattingan sama kuntilanak. Batinku merinding kala aku mengingat kata itu, mana aku lagi di rumah sakit. Sunyi lagi. Suara dengkuran ibu terdengar menyeramkan, aku ingin membangunkan ibu, melihat ibu pukas, membuat aku tidak tega. Mungkin ibu sangatnkelelahan seharian menjaga Toko bakeryku, tiba malam ini malah menjaga anaknya yang nakal di rumah sakit.
Aku sadar sering membuat khawatir ibu, sudah bolak balik masuk rumah sakit. Seperti sudah langganan tubuh ini mengalami sakit. Kenapa ya aku sering melakukan hak yanh ekstrim, balapan itu adalah bisa membahayakan Bayar, tetapi kenapa aku suka. Balapan seperti hiburan bagiku untuk menghilangkan bosanku.
Apa kabarmu Kak Gilang? akankah kau di sana mengingatku, seperti aku mengingatmu. Jarak yang begitu jauh membuat kita terpisah dalam jarak dan waktu. Hatiku sudah ku tutup rapat-rapat untuk orang lain walaupun hati ini terkadang tidak bisa melihat ketulusan dari pria baik seperti Kak Andre. Dirinya begitu baik dan perhatian padaku. Terkadang perhatiannya, bukanlah menunjukkan perhatian seorang abang kepada adiknya, tetapi perhatian pria kepada pacarnya. Aku tidak tahu dengan hatimu Kak Andre, apakah dia menganggapnaku adiknya atau menganggapku lebih.
Kak Gilang..., Nisa bingung disini begitu banyak pemuda yang ingin mendekati Nisa. Kakak yang sudah menjadi tunangan Nisa malah menjauh. Bagaimana Nisa menyikapi mereka Kak. Di hati Nisa cuma ada kakak. Aku rindu padamu Kak, apakah kau di sana merasakan kalau Kakak rindu padaku?
Ku buka ponsel yang masih tersisa dayanya. mencoba membalas chat Uge, untuk mengurangi kebosananku di tangah malam ini.
"Wa'alaikum Salam, kabarku kurang baik Ge, maaf aku baru balas, tadi aku kecelakaan,"
Ting
Suara ponsel Uge berbunyi, menandakan ada satu chat masuk. Uge yang belum tidur main Game dengan teman-temannya segera membuka Chat.
"Ha!!!,"uge terkejut kala membaca chat dari Nisa, di lihat jam mengirim jam 12.00 malam. Uge berpikir ini yang mengirim Chat Manusia atau hantu.
Dilemparkannya ponsel ke arah Ifan, dan sedikit mengenai pipinya dan Ifan emosi karena Tingkah Uge kambuh lagi kalau sudah melempar ponsel.
" Astaghfirullahaladzim, ada apa Ge?, sakit ini pipiku" ucap Ifan yang emosi karena temannya seenaknya saja melemparkan sesuatu.
" Baca Tuh, itu yang ngirim chat Nisa atau hantu," ucap Uge penasaran ,karena di tengah Malam ada yang balas chatnya.
"Ah, kamu Ge, preman takut hantu,"ucap Bayu yang suka menjaili Uge.
"Mana, sini aku baca," jawab Rudi bergaya sok pemberani. Lantas Rudi penasaran segera menghubungi kembali Nisa dengan Chat.
" Ini Nisa atau hantu???,"
Ting
Nisa yang masih memegang ponselnya menunggu Balasan dari Uge yang sambil Main game Online segera membuka chat dan membaca dengan tersenyum, dia pun segera menjaili Uge.
" Aku hantu,"
Rudi yang tidak takut dan penasaran segera menelpon Nisa menggunakan nomor Rudi dan si Nisa yang tidak mengenali nomor itu tidak mengangkatnya. T,etapi pada saat panggilan ke lima, Nisa malah penasaran, siapakah yang meneleponnya, apakah sangat penting? Akhirnya diangkat Nisa dengan ragu-ragu.
"Ha...hallo...," jawab Nisa dengan hati-hati, karena nomor di layar tidak dikenalinya, dia takut kalau orang yang menelepon adalah teman yang menghajarnya di jalan.
__ADS_1
" Apakah ini Nisa?," tanya Rudi kepada orang yang di seberang sana yang membuat kebingungan teman-teman Rudi yang sempat menguping.
" Iya saya Nisa," Rudi segera menyerahkan ponselnya kepada Uge, Uge yang mendapat kesempatan berbicara dengan Nisa sangat senang dan langsung merampas ponsel Rudi.