Teman Palsu

Teman Palsu
Lebay


__ADS_3

Gayaku udik, ternyata itu yang mereka suka. Berarti mata kalian pada katarak. Di luaran sana banyak tuh wanita bergaya seperti Syahrini, Krisdayanti, Zaskia gotik, Ayu Ting-Ting, Agnes Mo, Cinta Laura dan banyaklah pokoknya dengan cara pakaian mereka yang ikut trend dan seksi. Tidak seperti aku yang tidak punya banyak baju. Kemana-kemana selalu pakai celana bahan atau jeans, itupun murahan. Bisa beli baju mahal itupun selama berhubungan dengan Kak Gilang.


Nasib-nasib...., tapi aku tetap bersyukur dengan hidupku karena hidup sederhana itu lebih menyenangkan dari pada hidup berlebihan.


Mataku sudah sayu seperti lampu kurang baterai, sedikit meredup. Tidak bisa terbuka lebar, pembicaraan mereka pun ku dengar seperti suara lebah. Tidak tahu isi dan tujuannya apa. Maklum pembicaraan orang tua. Kalau bicara sama orang tua bawanya mengingat hari tua aja. Ujung-ujungnya malah ngingat mati. Ah, amalku masih cetek, perlu banyak di kumpuli biar bisa mencapai surgamu. Amin...


Ku lihat jam di ponsel pukul 09.00 malam, aku berulang kali menguap. Sedangkan Kak Bima yang dekat denganku bisa nyambung pembicaraan Papanya dengan orang tuaku, paham tua berarti dia. Pembicaraan ngalor ngidul tidak tau kemana arahnya. Terakhirnya ujung-ujungnya kena ke aku. Dibilang mereka sudah tidak tahanlah, kecepatan nikahlah..., ada-ada saja mereka, kalau mau nyeritai aku, mbok tunggu aku tidur dulu Bu..., ini nyeritai kok didepan orangnya langsung. Ah capeklah gak berfaedah juga kumpul dengan mereka.


Aku bangun dari dudukku, dan ingin melangkah, tiba-tiba terdengar suara Sopran Ibu dengan melotot matanya melihat aku yang akan pergi dan tidak menghormati tamu. Mulutnya sudah merot-merot, mengupat karena punya anak gadis tidak punya adab.


"Mau kemana Sa..., jam segini kok sudah mau tidur? temani dulu ibu di sini," ucap Ibu menepuk tempat duduk di sampingnya.


" Aduh Bu..., Nisa ngantuk banget, kan ada Ayah," ucapku yang sudah tidak semangat karena kelelahan.


" Ih, ini dibilangi gak ada sopannya," ucap Ibu yang sudah emosi sambil menggutil bagian pahaku.


"Aduh Bu!! Sakit...," jeritku yang diberi cubitan kecil dipahaku.


" Udah gak apa-apa Nin..., Nisa mungkin ngantuk beneran, biar aja dia istirahat," ucap Pak Dosen yang membuat aku bersorak kesenangan. Kalau tidak malu aku udah lompat-lompat dan berguling-guling di tanah. Aku ingin menjaili dosen killer yang memuakkan. Andai ini di lapangan aku udah muter-muter tari tik tok kan.


Pak Dosen sok manis-manis mulut tapi besok Menyindir diriku di kampus, sudah bosan. Hapal aku kearah mana pembicaraanmu. Hari ini lembut, besok pasti menyeramkan. Apalagi kalau pas ada kelas mata kuliah Pak Dosen, yang jadi langganan maju ke depan itu aku-aku aja, apa aku ini sebagai manusia uji coba.


Kalau mau bunuh pelan-pelan gak gitu juga kali Pak..., aku juga manusia punya rasa kesal dan marah. Ada yang bilang kalau Dosen menyuruh kita-kita aja yang maju, itu tandanya Dosen itu sayang pada kita. Salah....itu bagiku. Itu namanya pembodohan. Kapan giliran yang lain. Emangnya aku saja yang mau pintar.


" Nisa... ," suara Kak Bima terdengar memanggil diriku, aku berbalik badan dan melihat Kak Bima yang berjalan mendekati.


" Iya Kak," ucapku yang seakan heran dengan sikapnya.


" Selamat ulang tahun ya, ini kado dari Kakak, semoga panjang umur dan tetap sehat selalu," ucap Kak Bima dengan senyumnya yang tulus mengeluarkan sebuah Kotak kecil berwarna hitam. Berhias pita di atasnya dan unik bentuknya.


" Terima kasih kak, semoga Kak Bima makin di murahkan rezekinya dan cepat dapat jodoh, oouah...maaf ya Kak Nisa ngantuk banget, oouah...Nisa tinggal ya kak..,"aku menguap-nguap di depan Kak Bima.


Sebenarnya itu aktingku biar aku bisa menghindari mereka. Kalau tidak dengan cara itu, Ibu pasti kan terus menahanku.


Aku masuk ke dalam rumah, dan terlihat tumpukan kado di ruang tamu yang banyak. Kado yang baru sampai setelah waktu maghrib, diantar oleh anak buah Kak Andre. Bang Raga yang duduk di ruang keluarga sedang asik menonton TV, dia melirikku yang sedang melihat kado-kadoku. Ku hampiri kado-kado itu dan membuka sebuah kado unik dari Kak Bima yang baru kuterima. Bang raga ikut penasaran, tapi Kepo. Ku tarik pitanya dan langsung ku buka kotaknya.


" Ye... dapat jam tangan mahal, keluaran terbaru, tau aja Kak Bima kesukaan aku, ups...aku keceplosan, ku lihat kedepan takut kak Bima mendengar jeritanku yang sangat kuat. Soalnya kak Bima masih berada teras.


Ku ambil Kado yang lainnya dari Kak andre, ku buka Kotak berwarna biru. Apa isinya ya.. kok gak berat. Ku robek bungkusnya.


" Ye jam tangannya keren lagi, jam tangan baru ku ada dua," teriakku kuat sambil lompat-lompat, sampai Ibu melirik ku yang ada di ruang tamu.


" Woi berisik, dapat gituan aja bangga," jerit Raga karena dia juga gak betah dengar suara cemprengku.


" Bilang aja iri sama Nisa karena sampai sekarang gak ada yang ngasih Abang ulang tahun, wek...," ucapku yang menyindir Bang Raga dan memamerkan lidahku kepadanya.


" Bang bantuin dong, banyak banget ini kadonya,"ucapku meminta bantuannya.


" Dari Abang, udah Adek buka apa belum?," tanya Raga kepadaku.


" Belum..., emang yang mana kadonya, kok gak kelihatan sih," ucapku yang penasaran.


" Itu yang berwarna merah Dek...," ucap Raga yang menunjukan kotak kado berwarna merah besar.


" Ih....besar banget, apa ya isinya,"tanyaku menaruh curiga pada kado yang diberikan Bang Raga.


" Lihat aja Dek...,"jawab Raga dengan cueknya.


Berdebar jantung ku kala membuka Kado dari Bang Raga, eng.... i..eng....


Srek!

__ADS_1


Srek!


Suara sobekan sampul kado yang asal saja ku sobek. Tukang kadonya membungkus kadonya rapi kurang rapi. Sampai di pita-pitain. Udah di terima malah di hancur sampulnya. Gak pakai perasaan lagi bukanya. Kerjaan sia-sia.


" Ha!!!! Bantal, kok bantal Bang...." ucapku yang terheran.


" Iyalah, bantalmu itu sudah bau iler, jadi sudah waktunya di ganti," ucap Bang Raga yang meledeki diriku dengan senyumnya yang licik.


" Biar aja itu bantal keramat, jangan ikut campur sama bantal Nisa, kalau gak ada itu, aku gak bisa tidur, emang mau Bang Raga dengar aku merengek tengah malam, kalau aku nangis tengah malam nanti malah di katai orang ada suara kuntilanak, Kuntilanak cari bantal busuk. Apa gak takut tuh dengar suara nangis Nisa di tengah malam?," tanyaku yang mencoba mengancam Bang Raga untuk memikirkan resikonya.


" Ah, udah Dek... kamu nakuti aja," ujar Raga yang ketakutan.


Suara dering ponselku berbunyi, tertera di ponsel atas nama Calon suamiku.


" Ehemm," aku cepat berlari ke kamar meninggalkan Bang Raga dan tumpukan kado yang masih berserakan.


" Woi mau kemana Dek!!!, ini belum kelar udah main tinggal aja," teriak Raga yang kesal mau di bantui malah di tinggal.


" Sabar ya Kak..., calon suami calling," ucapku yang senyum semanis mungkin dan sudah sampai di depan pintu kamar.


Ceklek!


Dengan cepat menguncinya kembali agar tidak ada yang mengganggu, tepat panggilan dari Kak Gilang yang kedua kalinya, baru ku angkat.


" Hallo...Assalamualaikum Kak,"


" Wa'alaikum Salam Calon Istriku, kok lama Sayang angkat telponnya, lagi apa?,"


" Mau tau aja atau mau tamu banget?,"


" Ah udah main rahasia ya, Yang... Kakak Rindu lho...besok jumpa Yuk, Kakak besok datang ke rumah ya..,"


" Tapi Nisa besok ada kelas Kak...,"


"Dari jam 08.00 pagi sampai jam 11.00 siang,"


" Besok Kakak jemput ya Yang...,"


"Terserah,"


" Video dong Yang...., Kakak kangen lihat wajahmu, "


" Untuk apa Kak, besok kan kita jumpa,"


" Iya jumpa, tapi Kakak Rindu, sedetik saja gak jumpa rasa sehari apa lagi nunggu besok, please Yang....,hidupkan datanya Yang...,"


" Udah ah males, gak ada paket,"


"Ya Allah Yang....pelitnya, uang yang kakak transfer untuk beli toko ponselnya saja juga bisa. Ini beli paket aja kok gak mampu. Alesan ini pasti nih, Gitu ya... di bilangi calon suami gak mau nurut, awas besok, Kakak kasih hukuman kamu,"


"Ih...belum apa-apa udah ngasih hukuman, emang apa hukumannya?,"


" Ada deh, Yang...please hidupi datanya Yang...., nanti nangis aku ini,"


" Nangis aja...,"


"Gitu kamu ya Yang..., gak sayang sama Kakak,"


Dari jauh Mama Gilang mendengar sayup -sayup orang berbicara. Dia penasaran dengan siapa Gilang berbicara. Cara bicaranya sangat lembut dan sangat manja. Ternyata puteranya sangat bucin, Gilang dikantor sangat tegas seperti Papanya. Sama Calon istrinya malah lebay.


" Dek...dek...,"

__ADS_1


" Iya Kak, apa sih, Kak Gilang manja banget,"


Ketika asik-asiknya berbicara dengan Nisa, Mama Gilang menghampiri Gilang yang ada di Taman. Mamanya bermaksud untuk mengganggu anaknya.


" Ehemm, Siapa itu Lang..., kok mesra banget ya anak Mama ini,"


" Gak Ma..., Mama ikut campur aja, ini calon istriku Lho Ma...,"


" Oh itu Nisa, pikir ada cewek lain, kalau ada Mama Suruh Nisa cari pemuda yang lebih tampan dari kamu,"


Aku yang mendengar pembicaraan Kak Gilang dengan mamanya merasa terusik. Apa Iya Kak Gilang punya pacar lagi. Tapi syukurlah mamanya lebih membela diriku.


"Ih mama ini, pasti dengar ini Nisa, salah paham deh nanti dia, dikirain aku punya cewek lain, kalau dia merajuk bagaimana Gilang bujuknya ma..


" Sini ponsel kamu, Mama mau bicara sama calon mantu Mama,"


"Ih, Mama Ini ganggu Gilang aja Ma..,"


Dengan cepat Mama Gilang mengambil ponsel Gilang yang masih di tangan.


" Hallo Nisa..,"


" Iya Tan..Eh Ma...,"


"Besok Siang mama Jemput ya sama Gilang, Mama mau ngajak kamu ke Butik Mama


Nanti sekalian Mama mau ngajari kamu mengelola Butik Mama,"


"InsyaAllah Ma...,"


" Udah istirahatlah, besok kamukan harus kuliah, Mama matii ponselnya ya Sa..., ***..,"


Gilang langsung menyambar ponsel yang masih dipegang mamanya yang ingin menutup pembicaraannya dengan Nisa.


" Ma, jangan di tutup Ma, Gilang belum puas bicara sama Nisa," rengek Gilang kepada Mamanya.


" Ah, kamu ini besok kan bertemu dengan Nisa,". ucap Mama Gilang yang sangat heran dengan kelakuan anaknya.


"Ih, mama ini kayak gak pernah muda aja, gangguin orang aja, sana gangguin Papa aja Ma...,"


" Papa kamu sibuk," ucap Mama Gilang yang ketus, dari nada bicaranya Mama Gilang seperti ingin di perhatikan Papanya.


" Hallo..., hallo....Nisa...," yah mati ponselnya Ini gara-gara Mama ini...ih sebel," Gilang mengomel karena disaat rindunya belum terbalas, baterai ponselnya ternyata habis.


Ponsel Gilang kehabisan Daya karena lupa mencarger. Akhirnya dia merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Tapi sampai tengah malam matanya juga tidak mau terpejam. Gilang uring-uringan Di kamar, Dengan ide liciknya, ingin mengganggu mama Dan Papanya yang kerap dilakukannya.


Tok!


Tok!


" Ma buka Ma," panggilan Gilang sambil mengetuk pintu kamar Mamanya.


" Iya ada apa Lang....," jawab Papa Gilang yang baru saja merebahkan tubuhnya disamping istrinya. Dengan terpaksanya harus membukakan pintu untuk puteranya.


Cklek!


Gilang dengan cepat masuk ke kamar Papa dan Mamanya. Dia Langsung merebahkan dirinya di tengah-tengah Mama Dan Papanya sambil memeluk Mamanya yang sudah terlelap membelakanginya.


" O..bocah edan, ganggu orang tidur aja, sudah mau punya istri pun masih minta kelon sama mamanya, gagal deh minta jatahnya," Ucap Papa Gilang yang Kesal akan tingkah laku anaknya.


Sementara Gilang yang sudah masuk ke dalam selimut Papanya tersenyum lebar dan berpura-pura tidur. Gilang merasa menang karena sudah mengerjai Papanya, akhirnya Papanya mengalah tidur di sofa. Papanya mengerti kalau Gilang begitu, pasti dia tidak bisa tidur di dalam kamarnya. Kelakuannya sudah sering dilakukannya selama di London, hal itu dirasakannya apabila dia sudah sangat rindu dengan Calon istrinya, sehingga membuatnya susah tidur.

__ADS_1


*****


Jangan lupa Like, Vote dan hadiahnya ya...


__ADS_2