Teman Palsu

Teman Palsu
Manusia tidak tahu malu


__ADS_3

"Ya siapa juga yang nolak di beri uang, iya kan Min...," ujar Gita yang juga mata duitan.


"Diam!!!!" teriak Mama Gilang yang sudah berkacak pinggang melihat karyawannya beradu mulut.


"Pergi kalian, jangan pernah menampakkan wajah kalian di butik saya lagi, kalian sudah saya pecat! " ujar Mama Gilang dengan emosi mengingat perbuatan mereka kepada calon menantu dan butik yang dia miliki.


"Bu...maafkan saya Bu... saya harus kerja di mana, ibu saya sakit di kampung Bu...," ucap Mimin yang sedikit mengiba dengan mengeluarkan airmata kesedihannya.


"Jangan pecat saya Bu, anak saya masih minum susu, kalau saya tidak kerja bagaimana dengan susu anak saya Bu..., suami saya sudah lama meninggalkan saya" ucap Gita dengan sama mengiba dan mengharapkan belas kasihan.


" Saya tidak perduli, mau anak kamu minum susu, mau ibu kamu sakit, saya sudah tidak perduli. Saya sudah memberikan gaji kepada kalian yang cukup lumayan. Kenapa kalian serakah, demi uang kalian harus menghalalkan segalanya. Apakah uang haram itu yang akan kalian berikan kepada keluarga kalian???," ucap Mama Gilang menjelaskan kepada karyawannya. Yang dalam perkataan sangat mengena di hati ketiga karyawannya.


"Dan kau Noni, kalau memang menjadi karyawan saya kamu rasa gajimu tidak cukup, kenapa tidak menjadi wanita malam saja sekalian di luaran sana, kenapa harus kamu lakukan di butik saya? gara-gara kamu saya harus ikut mempertanggung jawabkan perbuatanmu kepada Tuhan, karena tempat ini adalah milik saya. Kalau hobbymu memang melakukan hal itu, cari tempat di luaran sana, jangan di butik saya. Kau tidak perlu capek-capek kerja di tempat saya ini dari pagi sampai malam kalau memang gaji di sini kamu rasa sangat kecil. Jangan mementingkan dirimu sendiri, tapi orang lain akan terkena imbasnya. Kau masih muda Noni.., masa depanmu masih panjang. Carilah perkerjaan yang halal. Hargailah dirimu sendiri, kalau kamu tidak tidak bisa menghargai dirimu, bagaimana orang lain akan menghargai kamu??. Carilah pasangan yang mau menikahi dan menerimamu apa adanya. Jangan mencari pasangan dari segi hartanya. Kalau kamu memandang harta maka ujung-ujungnya kamu akan menjadi simpanannya. Karena harta hanya titipan, siapa yang bisa menggunakannya kejalan yang baik. Dia orang yang sangat beruntung, dan jika di gunakan ke jalan yang sesat maka orang itu akan celaka,"ucap Mama Gilang menasehati.


"Bu kami minta maaf Bu, kami berjanji tidak akan mengulangi lagi Bu...," ucap Mimin yang sangat menyesal.


" Siapa yang akan menjamin kalian, kalau kalian tidak akan mengulangi perbuatan kalian lagi, tidak ada kan???, " tanya Mama Gilang menyela ucapan karyawannya.


" Tapi Bu..., tolong saya Bu..., saya sangat butuh kerja di sini, ibu saya benar-benar masuk rumah sakit kemarin malam," ucap Mimin mengiba agar majikannya masih mau memperkerjakannya.


" Apa karena ibumu sakit, lantas kau bisa seenaknya menjelekkan calon menantuku???," Mama Gilang mendekatkan wajahnya ke arah Mimin dan membuat Mimin sangat takut dengan emosi Majikannya.


Glek


Mimin menunduk merasa malu, Dia ingat begitu semangatnya menggosipi Annisa yang sudah resmi menjadi calon menantu majikannya dan sebentar lagi akan menjadi istri dari putera simata wayangnya. Ternyata kelakuannya selama ini telah di ketahui majikannya.


"Mimin..., mau cantik atau jelek rupa seseorang, haruslah kita hargai. Seharusnya ketika Ibumu sakit begini, kamu semakin baik kepada orang lain. Supaya orang ikut mendoakan penyakit Ibumu agar cepat sembuh,"


"Maaf Bu...," ucap Mimin masih menunduk dan menyesali kesalahannya dengan keadaan menangis.


Mama Gilang yang emosi tidak bisa membohongi perasaannya bahwa dia sangat tidak tega melihat Mimin yang sangat bersedih. Dia sudah lama memperkerjakan mimin dan Gita. Walaupun karyawannya sedikit usil tapi masih mempunyai sisi baik. Begitupun dengan Gita, dia seorang janda yang ditinggal suaminya yang tidak mau bertanggung jawab. Untuk memenuhi kebutuhan anaknya, dia harus rela bekerja dan menitipkan anaknya kepada orang tuanya. Mama Gilang merasa bahwa Mimin dan Gita sangat tulus meminta maaf. Lain halnya dengan Noni yang sinis dan penuh kepalsuan.


" Ini ada sedikit dari saya untuk Ibumu Mimin dan untuk beli susu anakmu Gita... , anggap saja ini hadiah untuk kalian karena kalian sudah lama bekerja pada saya,"ucap Mama Gilang memberikan satu amplop kepada Mimin dan satu buah lagi kepada Gita

__ADS_1


Mimin dan Gita menerima amplop itu dengan hati yang tidak bisa di katakan.


" Terima kasih Bu," ucap Mimin mencium tangan Mama Gilang dan memeluknya.


" Terima kasih Bu..., maafkan saya Bu...," ucap Gita yang sangat malu kepada majikannya. belum sempat Mama Gilang emnjawab ucapan Gita. Terdengar suara cempreng dari mulut Noni.


" Untuk saya mana Bu???," tanya Noni dengan entengnya dan benar -benar tidak ada malunya. Mungkin urat malunya sudah putus.


" Untukmu tidak ada, perbuatanmu sudah tidak dapat diampuni. Setelah sembuh pacarmu. sebagai hadiah dari saya kamu harus menikah dengan pemuda itu. Jangan di pikirkan urusan semuanya. Saya yang akan mengurusnya yang penting kalian menikah dan tidak berbuat Zina," ucap Mama Gilang menyela ucapan Noni.


" Dasar manusia tidak adil.., kenapa yang lain di beri uang saya tidak Bu...," ucap Noni yang tidak terima akan sikap Mantan majikannya.


" Eh, Jaga ucapanmu!!!, tidak adil kamu bilang?, saya sudah mau berbaik kepadamu dan tidak melaporkan kamu kepada pihak yang berwajib, itu saja sudah syukur dan kenapa kamu bilang saya tidak adil?? dan saya bersedia membiayai pernikahanmu dengan pacarmu, dasar manusia tidak tahu malu, sudah dikasih hati minta jantung" ucap Mama Gilang yang merasa heran kepada karyawannya yang tidak tahu malu dan masih mementingkan uang dari pada harga diri.


" Apa Ibu Bilang..., Ibu bilang saya tidak tau malu, ya saya memang tidak tau malu, buat apa punya malu tapi tetap susah. Ingat Bu, roda itu berputar. Saya akan ingat kata-kata ibu yang sudah menjelekkkan saya. Saya tidak akan tinggal diam Bu, tunggu pembalasan dari saya!!!," ucap Noni yang keras kepala dan menantang mantan majikannya.


"Diam kamu Noni, pergi kami dari tempat ini sebelum habis kesabaran saya, ingat suami saya memiliki kekuasaan, kalau kalian macam-macam dengan butik ini dan keluarga saya. Jangan salahkan saya, jika kalian akan mendapatkan nasib yang lebih parah lagi" ujar Mama Gilang menambahkan.


"Andre!!!, bawa mereka keluar," teriak Tante yang sudah murka.


Mimin dan Gita terpaksa keluar dari Butik dengan wajah yang sedih, lain halnya dengan Noni. Wajahnya sangat emosi. Mulutnya masih mengomel dan menyumpah serapah majikannya. Anak buah Andre yang sudah tau apa yang harus mereka lakukan, segera bertindak kepada Noni. Entah apa yang dilakukan sampai Noni bisa diam tidak berkutik.


Akhirnya Noni dapat menutup mulutnya dan menurut diminta keluar. Anak buah Andre yang berbadan besar mengantar mereka sampai pintu keluar, dipastikan mereka bertiga tidak akan kembali lagi ketempat itu lagi.


Candra yang masih terkapar di lantai segera di bawa anak buah Andre ke rumah sakit. Semua yang berhubungan dengan gosip tentang butik sudah dapat di bereskan oleh Andre. Dan nama baik butik kembali seperti sedia kala.


Aku dan Gilang berada di ruang kerja Mamanya. Memberikan Kak Gilang minum dan membiarkannya menenangkan diri sejenak. Aku ingin pergi melihat keadaan mamanya, apakah baik-baik saja? tetapi ketika ingin berdiri, kak Gilang menarik tanganku.


" Di sini saja Dek..., temani Kakak," Gilang berbicara dengan sendu seolah dia tidak ingin di tinggalkan.


" Ta...tapi Mama Gak ada temannya di luar Kak," ucap Ku yang sangat khawatir dengan keadaan Ibu mertuaku.


" Please temani Kakak sebentar saja Dek...," ucap Kak Gilang mengiba.

__ADS_1


Aku menganggukkan kepalaku, menemani Kak Gilang yang sedang menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Aku duduk di sampingnya dalam suasana yang sangat hening. Kak Gilang memejamkan matanya dan tanpa menunggu persetujuanku, dia langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuanku.


Deg


Jantungku bertalu mendapat perlakuan mendadak dari Kak Gilang. Tanganku refleks ingin mengelus kepalanya, tetapi takut akan mengganggunya. sehingga hanya mengawang di udara dan kembali ku turunkan tanganku. Napasnya terdengar teratur. Mungkin dia sangat kelelahan hingga langsung tertidur dalam waktu sebentar saja.


Mama Gilang melihat kami berdua seperti pasangan yang mesra. Dia merasa malu ingin masuk ke ruang kerjanya. Akhirnya keluar kembali untuk menemui Siti dan dua orang karyawan lainnya yang masih melayani pembeli.


Sudah satu jam Kak Gilang tertidur, hari sudah hampir semakin menggelap. Pahaku terasa kram karena terlalu lama tidak di gerakkan. Aku sedikit menggeser kakiku.


Srek


"Aduh," tanpa sadar aku mengeluh dengan suara yang pelan tapi masih dapat terdengar di telinga Gilang. Kak Gilang terjaga, dan langsung bangun kala aku menggeser kakiku yang kram dan melihat wajahku yang tampa ku sadari, aku juga sedang menatap wajahnya. Aku sedikit serba salah karena ketahuan memandangi wajahnya.


"Eh, Kakak ketiduran ya Dek..., maaf ya... kakimu jadinya kram begini karena kakak kan...," ucap Gilang yang merasa bersalah.


" Gak apa-apa Kak," ucapku kepada Kak Gilang.


" Mau Kakak pijat??," tanya Gilang yang tersenyum semanis buah.


Aku menggelengkan kepalaku yang terpaku mendengar kata pijat dari mulutnya. Gilang mengetahui kalau aku berpikiran aneh dan langsung mengalihkan pembicaraan.


" Udah gelap Dek..., Sebaiknya kita pulang," ucap Gilang yang memperhatikan dari kaca jendela.


" Tunggu kak, kita shalat maghrib di sini saja dulu," ucapku yang mengingat waktu shalat maghrib akan tiba.


" Mama mana Dek...? Tanya Gilang kepadaku. Aku bingung mau menjawab apa.


Aku menggelengkan kepalaku lagi. Apa dia tidak tahu satu jam aku memangku kepalanya. Kenapa aku yang malah ditanya.


Melihat aku yang menggeleng, Gilang berinisiatif mencari Mamanya. Ketika Gilang akan melihat Mamanya, ternyata sang mama muncul dengan wajah yang ceria.


" Udah bangun Lang???

__ADS_1


* * * * * *


Jangan lupa Like, komentar, Vote dan hadiahnya ya...


__ADS_2