Teman Palsu

Teman Palsu
Wanita Sombong


__ADS_3

"Ehemm," Mama Gilang keluar dari ruangannya mendengar keributan dari diluar membuat dia merasa terganggu. Akhirnya para karyawan bubar dan mengerjakan pekerjaan yang lain. Mama Gilang yakin para karyawannya lagi menggosipi putera dan calon menantunya.


Sedangkan di dalam ruangan pribadi aku dan Kak Gilang Duduk dalam diam, jantungku dak dik duk kala mata kami bertemu. Dengan santai Kak Gilang duduk mendekatiku. Jangan ditanya dengan jantungku yang sangat cepat detaknya. Sakit rasa menahannya. ku pegang dadaku yang sangat cepat temponya. Takut Kak Gilang mendengar detak jantungku yang sangat cepat. Kak Gilang menatap wajahku yang dengan sangat lembut.


"Dek..., Gak ada rencana mau jalan-jalan," tanya Kak Gilang kepadaku yang masih menutupi rasa gugupku.


" Mau kemana Kak?," tanyaku balik.


" Terserah kamulah, mana tau kamu kepengen jalan-jalan, biar kakak antar,"ucap Gilang mengemukakan pendapatnya sekalian alasan agar dia tetap dekat dengan calon istrinya.


" Nisa harus izin dulu kalau mau pergi," terangku kepada Kak Gilang karena tidak ingin Ibu menjadi khawatir.


" Kalau Kakak yang ajak, pasti Ibu akan memberi izin," ucap Gilang dengan percaya dirinya.


" Siapa bilang diizini, belum tentu juga di kasih izin," Ucapku yang meras heran akan kayakinanannya yang sangat tinggi.


" Dek," tangan Kak Gilang memegang tanganku yang mulai dingin. walaupun dia laki-laki, tetapi telapak tangannya sangat halus dan lebih lembut dibanding dengan telapak tanganku. Aku jadi minder.


"Kamu gugup ya Dek, jangan takut, kakak gak akan ngapa-ngapai kamu kok," ucap Gilang dengan jujur tapi lain di hati lain kenyataannya. Sedangkan tangannya saja sudah bergerilya memegang tangan calon istri yang belum halal baginya.


Aku mengganggukkan kepalaku, kemudian menundukkan pandanganku untuk mengurangi kegugupan. Lama aku menunduk, tapi tangan Kak Gilang memegang daguku dan menatap mataku dengan sendu.


" Kalau kita cepatkan pernikahannya bagaimana Sa..., aku ingin cepat menjadikan kamu sebagai milikku," ucap Kak Gilang mengungkapkan niatnya.


" Ha.., apa maksud Kakak," tanyaku heran.


" Kita cepatkan saja ijab kabulnya, biar kita sah menjadi suami istri jadi orang tua kita tidak ada perasaan takut bila kita berbuat dosa," ucap Kak Gilang menjelaskan kepadaku yang susah menyambung perkataannya.


" Kak 2 bulan saja membuat aku stress, apalagi sampai di percepat, kakak mau aku gak bisa tidur setiap malam mikiri hari pernikahan kita," ucapku menjelaskan kepada Kak Andre tentang niat baiknya.


" Kakak juga gak bisa tidur tiap malam Sa...karena terus mikiri kamu, lama sekali kamu jadi milik kakak, Kakak sudah gak sabar menjadikan milik Kakak, Sa...," ucap Kak Gilang yang tidak sabaran menginginkan diriku secepatnya menjadi istrinya.


" Masa Iya kakak gak bisa tidur karena mikiri Nisa, pasti kakak bohongkan..?," tanyaku kepada Kak Gilang yang masih menatapku.


" Iya suer, beneran Sa..., Kakak gak bohong" jawab Gilang mengacungkan dua jarinya menandakan dia berkata jujur.


" Gak percaya tuh," ucapku ketus.


"Lihat kakak Sa..., apakah mata kakak menunjukkan kalau kakak pria yang suka berbohong???" Tanya Gilang kepada diriku yang membuatku semakin gugup.


Ku tatap wajah Kak Gilang dan mata kami saling bertemu. Ku lihat kedua matanya tidak ada kebohongan dan hanya kejujuran di dalamnya. Tanganku sudah berkeringat mendapat tatapan lembut dari Kak Gilang. Entah siapa dulu yang mulai. Semakin lama wajahku dan wajah Kak Gilang semakin dekat. Aku gugup ketika wajah kami hanya berjarak 1 centi saja.


Ku remas jari-jariku yang sudah berkeringat. Jantungku semakin kencang seperti mau lepas dari tempatnya. Gugup itulah yang kurasakan sekarang.


Wangi Mint dari tubuh Kak Gilang sungguh membius indra penciumanku, farpumnya sangat harum sampai diriku terlena berada dekat wajahnya. Mataku terpejam kala kak Gilang semakin mendekatkan bibirnya dengan bibirku. Seperkian detik Kak Gilang ingin mencium bibirku.


..

__ADS_1


..


..


..


" Ehemm...," deheman suara Mama Kak Gilang mengejutkan kami berdua. Aku langsung membuka mataku. Kulihat Kak Gilang langsung berpindah tempat sedikit menjauh dari tempat dudukku dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung harus bagaimana nanti jika diinterogasi oleh Mamanya.


Rasanya sangat malu, hampir saja Kak Gilang mencium bibirku yang masih suci ini. Ingin rasanya aku bersembunyi di lubang semut untuk menghindari calon Ibu mertuaku yang sudah melotot melihat kami berdua sangat berdekatan.


" No!!!, jangan dulu kalian berciuman, kalian belum halal, Mama gak ingin kalian terlalu jauh bertindak, Ibu gak ingin menantu Mama hamil duluan,"ucap Mama Gilang mengingatkan


" Gak Ma..., itu tadi enggak yang seperti yang Mama pikirkan," ucap Gilang menjelaskan tentang kejadian tadi.


" Apanya yang enggak, tapi sudah hampirkan...," ucap Mama Menyela perkataan Gilang, yang dia tidak bisa berkutik karena mendengar kata sindiran dari Mamanya.


" Iya sih, Gilang hampir khilaf, tapi gak jadi kok Ma..," Gilang merasa bersalah tapi ada rasa kesal di hatinya, hanya sedikit lagi dia akan merasai bibir berwarna pink yang sangat menggoda milik calon istrinya itu tetapi gagal karena Mamanya.


" Ayo Nisa ikut Mama," Mama Gilang menarik tanganku untuk menemui pelanggan yang sedang menunggu di ruang tamu butik tersebut.


Ketika keluar dari ruang pribadi, Mama Gilang memberi wejangan kepada diriku yang sangat polos tentang percintaan.


" Kamu ini hampir aja tadi dicium Gilang, Gilang itu main sosor aja. Dengar Sa...malam pertama yang indah itu adalah malam di mana kamu bisa menyerahkan semua yang kamu miliki hanya untuk suami kamu. Dan malam itu baru pertama kalinya suami kamu menjamah kamu. Jaga aset berhargamu itu," ucap Mama Gilang kepada diriku yang sedikit ada penekanan pada kata-katanya.


" Iya Ma...," ucapku gugup yang seperti disidang di kantor pengadilan sebagai tersangka kasus pencurian. Aku sebenarnya adalah korban dan tersangkanya seharusnya Kak Gilang yang tadi ingin mencuri ciumanku.


" Kamu jangan takut sama Mama, nanti Mama yang akan memarahi Gilang karena mama yakin dia yang mulai duluan," ucap Mama gilang berpesan kepadaku untuk tetap bersabar.


Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Mama kakak gilang.


* * * * *


Di ruang pribadi, Gilang terus merutuki kesalahannya tentang kejadian tadi. Dia hampir saja khilaf karena hampir mencium Annisa di ruang Mamanya. Dan Annisa entah mengapa hampir terbuai akan sikap Gilang. Gilang menbasuh mukanya agar pikirannya segera jernih dan membuang jauh-jauh pikiran kotornya. Gilang kemudian menyusul Mamanya yang membawa Calon istrinya tanpa seizin dirinya.


* * * * *


Sampai di ruang tamu, Aku dan Mama Kak Gilang melihat dari jauh sepasang Suami istri yang duduk membelakangi kami berdua. Kami mendekati sepasang suami istri itu. Wanita yang bergelayut manja kepada suaminya membuat mataku sangat sakit.


Dandanannya saja seperti wanita murahan dan bajunya kurang bahan, memakai perhiasan yang sangat norak. Di leher belakangnya banyak tanda cupangan yang sengaja di pamerkan. Aku penasaran siapa sih wanita ini, suaminya malah sudah sangat dewasa. Mama Gilang menyapa tamunya itu dan betapa terkejutnya aku ketika tamunya itu menoleh.


" Rini!!!," jeritku histeris menyapa sahabatku yang sudah lama tidak bertemu.


Rini terkejut melihatku ada di hadapannya, tapi dia tidak mau menyapaku, hanya tersenyum sinis menatapku dan membuang wajah ke arah lain.


" Rini apa kabar kamu?, kamu makin cantik ya Rin... dan makin berisi,"ucapku dengan penuh kegembiraan akhirnya bisa bersama kembali.


" Kalian sudah saling mengenal ya....," tanya Mama Kak Gilang kepada diriku.

__ADS_1


" Dia sahabatku Ma...," ucapku Kepada Mama Kak Gilang dan membuat Mama kak Gilang makin terkejut. Ketika dia ingin menjawab, ponselnya berdering.


"Oh baguslah Kalian ngobrol dulu ya, Tante tinggal sebentar angkat telpon dulu ya Rin..."ucap Mam gilang yang terburu-buru keluar karena ada hal penting dari Papa Gilang.


"Rini, kamu tau tidak, aku itu rindu banget sama kamu Rin," ku peluk Tubuh Rini karena aku sangat rindu padanya dan sebagai sahabat aku ingin kami sering bersama lagi seperti dulu.


"Maaf aku gak kenal sama kamu," ucap Rini dengan tegasnya dan melepaskan pelukanku, di hempaskan tanganku yang masih memegang bahunya. Aku terkejut mendengar perkataan Rini, dunia seakan runtuh. Sahabat yang sudah kuanggap sebagai saudara sendiri malah tidak kenal siapa diriku.


"Rin, coba deh ingat-ingat lagi aku Nisa Rin, dan kamu dulu sering memanggil ku dengan panggilan Zaki...,"ucapku menjelaskan kepada Rini, tanganku yang memegang bahunya kembali segera di kibaskannya seperti mengusir lalat, seolah tanganku mempunyai kuman yang membawa virus penyakit. Tanpa kusadari air mataku sudah deras membasahi pipiku melihat perlakuan Rini kepada diriku.


" Aku bilang gak kenal ya gak kenal, kamu tuli ya, pergi kamu, mana sih Pak Satpam? kok diberi izin sih orang begini masuk di dalam butik mewah ini," ucap Rini dengan sombongnya, perasaan dirinya yang paling kaya di kota ini, bisa mengusir orang sesuka hatinya.


" Maaf Nona, kamu jangan mengganggu istri saya," ucap Dirga, suami dari Rini si tua bangka yang perasaan masih muda.


" Istri..., jadi kamu sudah menikah Rin..., kamu tidak mengundang aku," ucapku yang tidak menyangka sikap Rini sudah jauh berubah dari pertama aku kenal dan aku masih sedih memikirkan sahabatku yang sangat tega kepada diriku.


" Untuk apa aku mengundang kamu, toh gak ada gunanya," ucap Rini dengan ketus dan menggandeng suaminya bergelayut manja.


" Jangan ganggu istri saya lagi, istri saya sedang mengandung, kalau terus kamu memaksa dia mengingat kamu dan membahayakan kandungannya maka kamu akan mendapatkan akibatnya, Pak Satpam!!!,"


jerit Dirga memanggil Security untuk mengusirku dari butik itu.


PakSatpam yang mendengar dirinya dipanggil, segera berlari mendekati kami yang sedang ribut.


" Usir orang ini Pak!!!," teriak Dirga kepada pak Satpam. Sedangkan Pak Satpam kebingungan dan tidak berani mengusir diriku. Karena pak Satpam sudah tahu kalau aku adalah tunangan Gilang.


" Nunggu apa lagi, usir Pak,"teriak Dirga kembali kepada security butik Mama Gilang.


Gilang mengangkat tangannya untuk mengisyaratkan kepada security agar kembali ke tempatnya.


Keributanku dan Rini terdengar oleh Gilang yang mencari diriku sedari tadi.


" Nisa...," Aku menoleh Kak Gilang yang memanggilku, aku berlari langsung memeluknya. Ku curahkan semua kesedihanku di dada Kak Gilang sampai baju kemejanya basah dengan air mataku.


" Ada apa ini kenapa kalian membuat Nisa menangis???," tanya Gilang kepada Pelanggan butik yang Gilang tidak bisa mengingat siapa wanita yang sudah menyakiti Calon istrinya.


" Gadis ini mengaku-ngaku kalau dia sahabat istri saya, dan istri saya mengatakan kalau istri saya tidak mengenalnya," ucap Dirga, suami Rini menerangkan.


Gilang baru mengingat sekarang siapa orang yang ada di hadapannya. Serigala berbulu domba. Rini sahabat Nisa yang hampir menghancurkan masa depan Annisa di masa lalunya.


Seketika Mama Gilang datang dan langsung mendekati dan memeluk diriku. Sebenarnya ketika menelepon tadi Mama Gilang sudah mendengar keributan di ruang tamu. Tapi dia ingin memantau dari jauh dulu, apa sih yang dilakukan pelanggannya kepada calon menantunya?


Dia ingin menonton dulu kelanjutan perbuatan pelanggannya yang masih merendahkan dan tega mengusir calon menantunya sehingga membuat Annisa menangis. Ternyata masih ada orang di dunia ini yang merendahkan orang dengan melihat penampilannya. Mama Gilang merasa bangga mempunyai Menantu seperti Nisa yang berpenampilan sederhana. Karena orang dikatakan baik bukan dari penampilan, tetapi dari kelakuan dan hatinya.


*******


Dengan kelakuan Rini seperti itu, sebaiknya kita apakan si Rini wanita sombong ini ya...

__ADS_1


Jangan lupa Kasih like, Vote , dan hadiahnya ya...


__ADS_2