
"Kak, apakah besok kita jadi jalan-jalan? ucapku yang menanti jawabannya.
"Oh, iya Dek, hampir... aja kakak lupa," ucap kak Gilang yang lupa akan jadwal jalan-jalan mereka.
" Ih..., Kakak kok bisa lupa sih," ucapku dengan manjanya.
"Kalau menurut Adek, kita harus berangkat apa tidak? ucap Gilang yang seakan berat akan pergi, karena banyak yang harus persiapkan ingin pergi ke luar negeri.
"Nisa tergantung Kakak, kalau kakak pergi Nisa juga pergi," ucapku yang tidak ingin pergi sendiri dan lebih nyaman pergi dengan calon suami.
" Cuit, cuit...yang maunya nempel terus sama Kakak ya, ih... jadi gemes ama calon istri Kakak ini," ucap Gilang mencandai diriku dengan tangannya yang menarik kedua pipi tembemku.
" Sakit Kak..., He...he..,iya Nisa mau terus sama Kakak sebelum kakak pergi," ucapku yang keceplosan berbicara dan akhirnya tersipu malu.
"Kakak berat ninggalkan kamu Dek," ucap Kak Gilang dengan wajah sendunya.
"Iya kak, Nisa juga berat di tinggal Kakak," ucapku yang menatap wajah Kak Gilang, dan Kak Gilang terkejut mendengar perkataanku.
"Dek, bagaimana kalu kita nikah aja dulu, kakak ingin terus bersama kamu Dek," ucap Kak Gilang yang sudah jauh pemikirannya.
"Kak Gilang ini, kita kan sudah janji 3 tahun lagi," ucapku menjelaskan kepadanya.
"Habisnya, lama banget waktu 3 tahun itu Dek," ucap Gilang yang sudah tidak sabar.
" Iyakan lagi Kakak juga bisa pulang beberapa kali ke Indonesia, kalau sudah dapat tambatan hati di sana mungkin baru gak pulang-pulang," ucapku yang entah mengapa aku bisa salah bicara dan membuat aku bersalah sudah mengucapkannya.
"Eh Adek..., kok ngomongnya gitu, perkataan itu doa lho Dek," Ucapkan Gilang membantah perkataanku.
"Kak, jangan buat Adek nangis..." Ucapku yang mendengar perkataan Kak Gilang seakan tersentil.
Gilang memeluk diriku dan aku tersedu di dada bidangnya sampai membasahi baju kemeja putihnya. Hangat dalam pelukannya membuatku nyaman mencium parpumnya. Dan lama-lama mataku terpejam.
__ADS_1
" Dek, dek," Kak Gilang mencoba membangunkan Annisa, tetapi Annisa tertidur dalam pelukannya.
Ya Allah Dua hari lagi aku akan pergi meninggalkan kamu Dek..., apakah tahan diriku tanpa kamu, kamu adalah penyemangat diri Kakak, Dek..., Sesak dada ini bila mengingat akan meninggalkankan kamu Sayang...
Annisa yang tertidur merasa nyaman dan bersandar di dada Gilang. Gilang merasa tidak tega melihat tubuh Annisa yang tidur dalam keadaan duduk, akhirnya Gilang membawa Annisa diruangan khusus yang disediakan Mamanya untuk beristirat disebelah Ruang shalat itu. Gilang membaringkan Annisa di sana dan menyelimuti dengan Baju Jasnya.
Gilang mengirim chat kepada Mamanya agar Mamanya pulang duluan, karena dia pulang terlambat.
Gilang mencari ide agar dia bisa sering bertemu dengan Annisa nanti sewaktu kuliah di luar negeri tapi bagaimana caranya? Gilang yang duduk di sofa menunggu Annisa terbangun, tanpa terasa mengantuk, dan memejamkan matanya. Tubuh Gilang juga lelah, sedari tadi pagi dia sudah sibuk mempersiapkan di Acara Wisudanya.
Satu jam kemudian
Aku terbangun, melihat keliling ruangan yang tidak aku kenali, ku lihat Kak Hilang tertidur di sofa, wajah tenangnya ketika tidur seakan membuat hati terasa tentram bila memandangnya. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 sore. Ku lihat ponselku yang ku silent, panggilan dari Bang Raga sebanyak 5 panggilan tidak terjawab. Ku hubungi kembali, tidak ada sahutan. ku kirim chat kepadanya, perihal mengapa Bang Raga berulang kali menghubungiku.
Ting
Ku terima balasan dari Bang Raga
'Dek, kamu dimana?, jangan terlalu lama pulang, gak baik kalian terus berduaan'
Ku bangunkan Kak Gilang yang sedang tertidur, dia merasa terusik karena tidur lelapnya tertanggu.
"Iya Dek..., Kakak masih ngantuk, " ucap Kak Gilang yang masih susah membuka matanya.
"Kak, pulang yuk, Ibu sudah mencari Nisa," ucapku kepada Kak Gilang, membuat Kak Gilang terkejut dan langsung membuka matanya.
" Iya Dek, maaf Kakak tadi ketiduran nunggui kamu bangun," ucap Kak Gilang menormalkan kembali kesadarannya.
" Iya Kak, Nisa tadi juga ketiduran, terima kasih ya Kak sudah membawa Nisa ke ruangan ini," ucapku yang merasa tidak enak karena sudah merepotkan Kak Gilang.
Gilang mengganggukkan kepalanya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Tetes-tetes air dari wajahnya semakin memperlihatkan ketampanan Kak Gilang.
__ADS_1
" Ayo," ucap Kak Gilang menggandeng tanganku menuju pintu keluar dan ingin menyetop taksi. Tanpa menunggu lama, taksi pun datang dan kami berdua segera naik.
Pak supir melihat kami berdua senyum-senyum. Aku yang melihat gelagat Bang supir selalu melirik kami dari kaca kemudinya merasa bingung dan curiga kenapa Bang supir selalu melirik ke kami berdua. Aku berpikir apa yang salah pada diriku dan apa ada yang aneh. Kak Gilang yang melihat kebingungan dari wajahku langsung bertanya.
" Ada apa Dek," ucap Kak Gilang melihat wajahku yang bingung.
" Itu Bang Supir senyum-senyum melulu gak tau apa yang di senyumi," ucapku yang kesel lihat supirnya yang seumuran dengan Kak Gilang.
"Maaf Mbak, saya senyum-senyum dari tadi lihati Mas dan Mbaknya sangat serasi sekali karena melihat Mbak dan Mas ini seperti pengantin baru, bukan maksud saya untuk menjelek-jelekkan Mbak dan Mas, sekali lagi maaf Mbak kalau Mbak marah," ucap Bang supir yang menjelaskan perihal sikapnya.
"Ha, pengantin baru, gak salah bang, kami aja belum nikah," ucap Kak gilang yang Menyela ucapan Bang Supir.
"He..he... saya pikir Mas dan Mbaknya baru selesai mengadakan resepsi pernikahan," ucap Bang supir yang salah menebak.
"Kami sudah bertunangan Bang dan Saya sudah ingin cepat menikah, tetapi calon istri saya belum mau. Dia menginginkan saya menyelesaikan kuliah saya dulu," ucap Kak Gilang menjelaskan kepada Pak Supir.
"Bagus Itu Mas, berarti calon istri Mas adalah wanita pengertian, jarang-jarang dapat wanita yang seperti itu," ucap Bang Supir yang membuat Gilang mengembangkan senyumnya dan memegang tanganku.
"Iya bang, saya beruntung mendapatkannya, langka wanita seperti ini Bang, 1001 kalau pun ada di dunia ini. Calon istri saya ini sangat unik dari pada wanita lainnya. Bayangkan saja Bang, Calon istri saya ini hampir bisa semuanya. Dia bisa ngebengkel motor, bisa masak, bisa bikin kue, jago main gitar, jago balapan dan jago bela diri Bang..., Tetapi ada yang dia gak bisa,"ucap Kak Gilang melirik diriku dan bang supir itu seperti penasaran.
" Apa yang gak Bisa Mas..," ucap Bang supir yang juga ikut menjaili diriku.
Mataku sudah melotot memandangi wajah Kak Gilang yang mengatakan semuanya tentang diriku, suka mempamerkan suatu hal kepada orang lain. Apakah itu suatu kebanggaan bagi seorang pria bila pasangannya bisa melakukan semuanya. Mungkin beberapa pria menganggap itu adalah suatu kebanggaan, sehingga pria itu menganggap Wanita itu sebagai multi peran, atau wonder woman.
Tapi sebaliknya ada beberapa pria lain menganggap wanita itu harus menekuni satu hobby atau pekerjaan saja dan bila menikah dia hanya mengurus rumah tangga agar dapat mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebenarnya aku juga kepengen menjadi wanita yang hanya duduk santai saja di rumah tapi ujung-ujungnya tidak punya uang, gak bisa beli jajan.
Kebanyakan wanita yang kerjanya di rumah saja merasa tertekan dan merasa di batasi ruang geraknya sewaktu sudah menikah. Hanya di jadikan suaminya sebagai pengurus rumah tangga dan di jadikan pembantu di rumah.
Para suami biasanya hanya bisa mengatur, tidak mau tahu urusan belanja, cukup atau tidak cukup uangnya yang mengatur adalah istri. Istri sampai rela menghemat dan memanipulasi harga barang kebutuhan di dapur. Bilang ini mahal, itu mahal, supaya bisa uang belanja ditambahkaan suami dan bersisa di ujung bulan. Bila Uang belanja kurang, suami hanya bisa marah-marah. Dia tidak mengerti susah senangnya mengurus rumah dan mendidik anak-anak. Yang dia tahu sepulang dari kerja, rumah sudah bersih, anak sudah mandi dan makanan sudah tersedia.
Apakah para pria itu tahu, begitu repotnya para wanita di rumah untuk membagi waktu mereka? Pagi-pagi harus cepat bangun, membuat sarapan, menyiapkan pakaian kerja suaminya, menunggui suaminya sarapan, ketika akan berangkat harus diantar kedepan, belum mengantar anak sekolah dan menjemput anak sekolah lagi. Ah, capeklah mikiri menjadi wanita bila sudah berumah tangga. Kebanyakan wanita itu sangat erat berkaitan dengan Jam. Setiap saat dia selalu melihat Jam. Kalau Jam di dinding tidak berputar, semua para emak-emak pada rempong. Jarang itu bapak-bapak yang rempong.
__ADS_1
Maka dari survei yang aku lihat, Wanita itu harus bisa menyerupai pria. Jangan hanya mengharapkan nafkah semua dari pria. Berusahalah hai wanita, biar kamu bisa beli bedak sendiri, beli baju sendiri dan bisa menabung untuk hari tuamu nanti. Kalau tugas kita memang harus mendidik anak-anak, maka hrus kita lakukan bekerjasama dengan para suami, supaya dia tahu perkembangan anak-anaknya.
Aku agak tersentil mendengar perkataan Kak Gilang dengan Bang supir. Apakah aku salah satu wanita multi peran. Hampir semua bidang aku bisa. Aku mahir dalam semua bidang, bukan aku ingin pamer, tetapi aku tidak ingin ada seseorang yang menganggapku lemah. Dan aku berharap kedepannya, aku bisa membantu perekonomian keluarga dan dapat melindungi suami dan anak-anakku kelak.