Teman Palsu

Teman Palsu
Cemburu


__ADS_3

Panggilan berakhir, membuat Gilang kesal. Dia menyimpan ponselnya dalam sakunya dan langsung menunggu di lobby hotel. Waktu begitu lama berlalu, tetapi Calon istri dan orang tuanya belum juga kembali. Dia ingin segera meminta maaf, timbul sedikit penyesalan karena tidak memperdulikan Annisa di cara Wisuda tadi. Sedikit menunggu tidak apalah yang penting perjuangannya. Cinta itu memang perlu perjuangan, untuk mencapai sesuatu tidak ada jalan yang mulus.


Mobil yang membawaku sudah sampai di depan hotel, aku langsung terbangun mendengar Mama Kak Gilang yang membangunkanku begitu lembut. Kulihat Pak Yuda sudah membuka pintu mobil untuk istrinya. Aku pun keluar membuka pintu sendiri. Rasa kantuk yang masih mendera kepalaku seketika hilang dengan munculnya wajah pemuda yang tidak asing dan tidak memperdulikanku hari ini. Bangun tidur bukan merasa segar malah timbul rasa kesal. Dengan tidak tahu malu Gilang berlari langsung menyosor memelukku. Sudah kayak angsa tetangga yang suka mengejar dan menyosor dengan suaranya yang khas.


" Maafin Kakak, Dek...," Gilang memelukku begitu erat.


"Lepasin Kak..., malu Kak ini didepan umum, apa kata mereka, lihat kita begini" aku sangat risih akan kelakuan Kak Gilang yang terus memelukku.


"Mereka tidak akan perduli dan Kakak gak akan lepasi kamu sebelum kamu maafin Kakak," Gilang mengesampingkan omongan orang dengan terus memeluk diriku begitu erat. Mata para tamu hotel begitu tajam mengira kami mengumbar kemesraan di depan umum.


" Ma, anakmu terlalu bucin," Pak Yuda memperhatikan sikap anaknya yang begitu cinta dengan Annisa dan tidak ingin kehilangan.


" Itu persis seperti kamu Pa..., udah ayo kita ke kamar aja Pa..., Mama sangat lelah. Lebih baik kita jangan ganggu mereka, biar Gilang menyelesaikan masalahnya sendiri," Mama Gilang sedikit memberi ruang kepada anaknya agar bisa membujuk gadis yang di cintainya.


" Maksa banget untuk di maafi," jawabku yang masih kesal.


" Iya dong Sayang...," ucap Gilang dengan cepat.


" Kakak ingat gak tadi siang, Kakak itu udah ngecewakan Nisa. Nisa seperti gak dianggap, tau gini Nisa gak usah ikut aja Kak. Jauh-jauh Nisa datang kemari harus jadi tukang foto, terus cewek-cewek bule itu nyuruh Nisa minggir lagi takut ngerusak suasana. Segitunya ya jadi cowok di sukai banyak cewek cantik. Sakit hati Nisa Kak...," ucapku cemberut dan menunduk menutupi kesedihanku.


" Dek maafin Kakak ya.., teman-teman Kakak terlalu berambisi untuk berfoto dengan Kakak," Gilang memegang tanganku dan mencium kedua tanganku begitu mesra. Ciuman dari bibir Kak Gilang mengenai kulitku, membuatku berdesir seperti kesetrum listrik.


"Kepedean..., mata mereka itu yang katarak semua, begitu banyak di sini cowok yang tampan kok masih nyosor ngambil milik orang," ucapku yang emosi mengingat kelakuan Gilang tadi siang. Sedangkan Gilang sudah bahagia dengan sikapku.


"Kamu cemburu ya Yang...," Gilang menggoda diriku, dengan mengedip-ngedipkan matanya dengan senyumnya yang manis, semanis jual jawa.


"Enggak," aku seakan tidak terpengaruh dengan sikapnya.


Sudah tahu cemburu masih nanya lagi. Apa gak bisa baca perasaan orang.


Aku terus berjalan meninggalkan Gilang jauh di belakang. Tanpa menghiraukannya, aku terus berlari menuju kamar dan langsung membuka pintu kamarku.


Ceklek

__ADS_1


" Tunggu Yang...," Gilang mengejar diriku yang berjalan terburu-buru. Dia menahan pintu agar aku tidak langsung masuk ke kamar.


" Apa lagi Kak???," ucapku berbalik menatapnya yang sudah kelelahan berlari mengejar dengan keringat yang bercucuran. Napasnya terlihat ngos-ngosan.


" Kamu tidak ingin jalan-jalan dengan Kakak dulu Dek..," Gilang sedikit mencairkan marahku yang ingin meledak.


" Ogah, yang ada nanti Kakak ketemu penggemar Kakak, aku malah di cueki, mana aku gak tahu jalan pulang lagi, bisa-bisa Nisa nyasar, kalau nyasar puas deh yang baru ," ucapku yang masih kesal akan sikapnya.


" Bagus dong kamu gak tau jalan pulang, jadi kamu gak bisa kabur dari Kakak," Gilang mendekat menatap wajahku dan wajahnya semakin mendekat.


CUP


" Udah jangan ngambek lagi, kamu jelek kalau ngambek," kecupan darinya di bibirku membuatku terkejut.


CUP


" Dandan yang cantik ya Sayang...., nanti malam kita keluar untuk makan malam, Kakak akan ajak kamu ke tempat yang paling... romantis," ucap Gilang yang masih menatap wajahku dengan tatapan yang penuh cinta dan mengusap kepalaku yang berlapis jilbab begitu lembut.


" Nyogok nih ceritanya," Aku sedikit menjailinya, ingin mengetahui kelanjutan perkataannya.


CUP


Tamu hotel yang hilir mudik menatap kami dengan tatapan terkagum melihat kelakuan Gilang yang sangat romantis. So sweet.


Aku hanya menganggukkan kepalaku. Menerima pernyataannya yang sangat manis membuat wajhku merona. Serasa melihat Kupu-kupu beterbangan warna-warni diatas kepalaku seakan tahu hatiku lagi bahagia.


" Sudah Kak berdiri..., malu di lihat orang," Aku memegang pundaknya agar segera bangun. Gilang berdiri kembali dengan tersenyum.


" Berarti Kamu udah maafin kakak kan Dek," Gilang merasa senang.


" Iya," jawabku singkat.


" Yess, akhirnya aku jadi nikah," ucap Gilang spontan yang membuat diriku terkejut akan ucapannya.

__ADS_1


" Apa maksud Kakak???," tanyaku penasaran.


" Kata mama, karena kamu marah, kamu akan batali pernikahan kita Dek..," Ujar Gilang sekan tidak rela ditinggalkan.


"Gak akan Kak, mau dietak mana wajah Nisa kalau itu sampai terjadi, Naudzubillahimin dzalik, Jangan sampai terjadi Kak..., kita berdoa saja semoga rencana kita di lancarkan tiada halangan sesuatu apa pun," Ucapku yang sangat mengharapkan kebaikan dan akan terkabul kebaikan juga.


" Amin....," Gilang menjawab doaku.


" Besok Nisa pulang ya kak,"


" kamu pulangnya sama Mama kan Yang...,"


" Iya kak,"


" Udahlah istirahatlah, nanti malam kakak jemput kamu," Gilang memegang pipiku dan tanpa di sangka mengecup keningku begitu lembut.


" O...oke," ucapku gugup mendapat perilaku romantis darinya.


Aku menutup pintu kamarku dan bersandar di balik pintu. Memegang bibirku yang berulang kali di cium Kak Gilang tanpa permisi. Dan kata-kata romantis itu sungguh membuatku bahagia. Aku seperti ABG yang baru jatuh cinta, ingin rasanya waktu cepat berlalu. Menantikan malam yang hanya beberapa menit lagi.


Waktu maghrib telah tiba. Terlebih dahulu aku membersihkn tubuhku dan berwudu untuk melaksanakan kewajibanku sebagai umat muslim. Ku panjatkan doa memohon pada yang kuasa agar di mudahkan segala urusanku dan dilancarkan semuanya sampai hari bahagia tiba.


Selesai sholat aku teringat kepada Ibuku yang sama sekali belum ku hubungi. Ku cari nama Bang Raga, agar mudah aku bicara dengan ibu karena ibu paling anti dengan telepon genggam, katanya tidak bisa pakai ponsel jadi sampai sekarang ibu tidak memiliki ponsel. Panggilan terhubung tapi belum juga diangkat. Ku coba mengulang kembali. Beberapa kali aku panggil, barulah diangkat.


"Siapa sih tengah malam begini mengganggu. Kayak gak ada waktu lain aja," dengan kesel Raga menerima panggilannya dengan mata masih terpejam.


" Hallo..," suara serak Raga yang masih mengantuk, dia enggan untuk mengeluarkan suaranya.


" Bang Raga, ini Nisa,"


Spontan Raga membuka matanya sampai melotot. Dia tidak menyangka adik tomboinya menghubunginya. Di lihatnya jam di dinding menunjukkan jam 02.00 dini hari.


********

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan hadiahnya ya...


__ADS_2