Teman Palsu

Teman Palsu
Hari Pertunangan


__ADS_3

Deru mobil memasuki halaman rumahku, Tiga mobil iring-iringan terlihat terparkir di halaman. Mereka turun dari mobil di sambut oleh Ayah, Ibu ,Tante Devi dan Om Yudi. Keluarga Kak Gilang terlihat bahagia masuk ke rumahku. Begitupun dengan Kak Gilang yang gagah dengan baju batiknya. Pertunangan yang dilaksanakan hanya mengumpulkan sanak keluarga saja. Citra dan Tante memberi mereka minum dan kue yang sudah di persiapkan dari tadi malam.


Acara pertunangan pun di mulai, aku di minta Ibu keluar dari dalam kamar memakai gaun yang di belikan Kak Gilang tempo hari. Gaun yang indah menambah keanggunan diriku, seperti wanita dewasa. Aku keluar dengan pandangan menunduk, jangan di tanya dengan jantungku, rasanya mau lompat keluar.


Tatapan Kak Gilang, nenek dan Mama kak Gilang tidak berhenti menatapku membuat hatiku tidak menentu. Gilang terlihat terpesona melihat dandanan diriku yang sangat menawan, begitu juga keluarganya, mereka sangat terpukau melihat riasan wajahku di hari ini.


Perbincangan dalam keluarga pun terjadi, Gilang diminta untuk menyematkan cincin di jari manisku, bergantian dengan aku yang menyematkan cincin di jari manisnya. Senyum terbit di wajah orangtuaku dan orangtua Kak


Gilang. Akhirnya kami resmi bertunangan. Selesai acara kami sempat berfoto untuk mengabadikan acara ini. Kak Gilang seperti anak yang takut kehilangan induknya. Kemana aku pergi selalu menempel. Orang tuaku dan orang tuanya geleng kepala melihat tingkah Gilang yang tidak mau jauh.


"Gilang, jangan Kau ikuti terus Calon istrimu, dia gak akan kemana-mana?ucap Mama Gilang yang heran melihat kelakuan anaknya.


" Iya Ma, tapi dia sibuk melulu, sampai lupa bicara padaku," ucap Gilang yang posesif.


"Ih, anak ini seperti anak kecil, sana jauh, wus...," ucap Mama Gilang menajili Gilang, Gilang yang di jaili tidak perduli. Dia malah menarik tangan ku dan membawaku pergi dari acara itu.


"Mas, kita mau kemana? ucapku kepada Kak Gilang yang berlari mengikuti langkah lebarnya.


" Aku akan berdua denganmu, karena 5 hari lagi Kakak akan pergi ke luar negeri," ucap gilang dengan senyum merekahnya.


"Tapi Kak, kita belum pamit kepada Orangtuaku," ucapku yang merasa tidak enak hati takut ayah dan ibu akan marah.


" Sudah gak apa-apa, sebelumnya Kakak dudah pamit duluan sama Ayah sewaktu kamu sibuk mengurusi mereka," ucap Gilang.


Gilang membawaku naik motor bang Raga yang sudah lebih dulu di pinjamnya melalui telepon genggamnya.


"Pegangan Dek," ucap Gilang memberi perintah.


"Iya kak," ucap ku yang canggung memegang pinggangnya.


"Dek, jangan panggil Kakak dong, kan sebentar lagi, Kakak akan jadi suami kamu," ucap Gilang yang manja.


"Ih apaan sih, 3 tahun lagi Kak, bukan sebentar lagi. Nanti aja kalau kita sudah resmi menjadi suami istri," ucapku memberi pengertian kepada Kak Gilang.


Adek aja yang minta 3 tahun, kakak di suruh sekarang nikah sama kamu juga mau," uca Gilang sudah ngebet kepingin menikah.

__ADS_1


" Kakak ini banyak maunya," ucapku menyentil perasaannya.


" Iya, kakak akan sabar menunggumu, tapi jaga hatimu untuk kakak ya," uca Gilang kepada diriku yang tidak mau kehilangan.


" Iya, percaya deh sama Nisa,"ucapku menyakinkan dirinya.


Ksk Gilang dan diriku telah sampai di pinggir danau dengan pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Kak Gilang memesan minuman es kelapa muda dan snack untuk menemani waktu berduaku dengan Kak Gilang.


"Dek, boleh gak Kak cium Kamu," ucap Gilang yang banyak maunya.


" Jangan, no jangan dulu," ucapku yang membantu perkataannya karena takut dosa.


" Ih pelit," ucap Gilang yang cemberut.


"Biarin, kakak kenapa sih???," tanyaku yang merasa heran akan sikapnya hari ini.


"Gak Dek, Kakak hanya mau menguji kamu saja, kan ada wanita yang nyosor duluan, tapi kamu kan gak kayak gitu tipenya," ucap Gilang menjelaskan.


" Memangnya bebekain nyosor aja, aku ingin itu menjadi kado yang teristimewa untuk kita berdua nanti Kak," ucaku yang memberi semangat untuk dirinya.


"Lebay," ucapku yang memandang Gilang merengek. Gilang menyudahi rengekannya dan menatap penjual kelapa muda yang sudah membawa kelapa mudanya dengan baju seksinya. Mataku rasanya sakit melihat pakaiannya. Jalannya yang seperti model, melenggak-lenggokkan pinggulnya.


" Pantas Kakak suka ke tempat ini, rupanya mau cuci mata ya...," ucap ku yang sedikit cemburu.


" Gak Nisa, suer..., ini pertama kali Kakak kemari, Karena teman Kakak bilang ini tempatnya bagus. Eh, tempatnya Biasa aja tapi pelayannya yang bagus, ups..," ucap Gilang yang tidak disadarinya ketika berbicara.


*M*ampus gue keceplosan, alamat marah ini calon istri gue.


"Ha..., Dasar genit! sudah punya calon istri malah memuji orang lain di depan calon istrinya," ucapku yang merasa cemburu.


" Kamu cemburu ya Dek, berarti kamu cinta banget dong sama Kakak," ucap Gilang yang senang di cemburui calon istrinya.


"Enggak, siapa juga yang cemburu", ucapku mengelak perkataan Kak Gilang.


" Dek, Kakak minta kalau kakak pergi nanti jangan sekali-kali Adek lepas cincin ini ya," ucap Golangbyangbkhawatir Nisa akan melupakan dirinya.

__ADS_1


" Iya Kak," ucapku yang melihat ke khawatiran diwajahnya.


"Kak sudah sore, pulang yuk, nanti ibu khawatir," ucapku dan dengan cepat menghabiskan air kelapa mudaku.


"Ayo," Gilang mengajak ke parkiran dan melajukan kembali kendaraannya.


Berdua dengannya seakan tidak ingin waktu cepat berlalu. Inikah yang dinamakan cinta, terasa rindu bila semalam saja tidak bertemu. Terasa sakit bila yang kita cintai memuji orang lain. Tanpa Sadar tanganku terulur memegang pinggangnya. Ku peluk erat dari arah belakang. Wangi tubuhnya membuat aku terbuai dan merasa nyaman berada didekatnya.


Ya Allah, maafkan aku, tidak seharusnya aku memeluk dirinya yang belum menjadi suamiku, Ku lepaskan kembali peganganku dari pinggangnya. Kak Gilang terkejut disaat dia melajukan motornya aku melepaskan peganganku dan motor tiba-tiba berhenti.


"Ada apa Dek," ucap Gilang merasa keheranan.


" Gak kak, sudah lanjut aja kak," ucapku yang menetralkan detak jantungku yang tidak beraturan.


Kak Gilang melanjutkan kembali motornya dan tidak beberapa lama, motor pun sampai di halaman rumahku. Orang tua Gilang sudah pulang sedari siang selesai acara pertunangan. Orang tuaku yang melihat aku dan Kak Gilang baru pulang menatap dengan tajam.


"Dari mana lang!,"ucap Ibu yang sudah emosi karena kami kesorean pulangnya dan Kak Gilang main bawa kabur anak orang saja. Ayah yang sudah tahu dari Gilang kemana Kami pergi, hanya diam saja dan memandang Ibu.


" Sudah Bu, jangan Emosi," ucap Ayah yang menenangkan Ibu.


"Gak Bisa pak, iningak bisa dibiarkan, ini anak orang kok main bawa anak gadis kita aja," ucap Ibuku yang sudah kesal.


"Maaf bu, tadi Gilang ajak Nisa ke pinggir danau buatan di kampung sebelah bu, sebelumny Gilang sudah permisi dengan Ayah," ucap Gilang yang sedikit ketakutan.


Ayah menganggukkan kepalanya kepada ibu. Ibu pun kembali tenang.


" Bu, Lusa Gilang Wisuda, Gilang boleh ajak Nisa ke acara Wisuda Gilangkan Bu," ucap Gilang yang meminta izin kepada calon Ibu mertuanya.


"Iya, asal kamu jangan macam-macam dengan anak saya dan kalian bisa jaga diri, ingat pernikahan kalian 3 tahun lagi," ucap Ibu mengingatkan.


" Iya bu,"ucap Gilang yang sudah panas dingin memperhatikan kemarahan ibu.


"Dek, Kakak pulang dulu ya," ucap kak gilang yang berpamitan padaku.


" Bu, Ayah , Gilang pamit pulang ya Yah," ucap Gilang kepada Ayah Dan Ibu.

__ADS_1


"Iya, hati-hati di jalan Lang," ucap Ayah dengan ramahnya.


__ADS_2